Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Ada yang berniat buruk!


__ADS_3

Rombongan panitia penanggung jawab pelatihan sudah menyiapkan segala peralatan untuk pelatihan Berkuda hari ini. Tak hanya dari warga desa setempat tapi masyarakat Kulfun dari pesisir pantai-pun ikut datang untuk berpartisipasi.


Pelatihan ini di adakan karna ingin mempersiapkan lomba antar Asrama di wilayah yang sama. bedanya, hanya tempat dan orang-orang bagian dari Kulfun yang pasti akan saling menyaingi.


"Silahkan pada para murid Asrama dan Murid dari pesisir dan lembah Kulfun untuk masuk ke lapangan Latihan!!!"


Guru Bima menyerukan panggilan hingga pasukan masing-masing utusan daerah memasuki lapangan luas ini. Ada 9 orang murid laki-laki masing-masing mewakili tempatnya ada 3.


"Berikan salam hormat pada Guru, dan Tetua petinggi kita yang hadir saat ini!"


"Hormat kami Guru, Tetua!!"


Mereka membungkukkan setengah tubuh menyapa deretan petinggi di depan sana. Ada khusus tenda yang meneduhi mereka untuk menyaksikan langsung pelatihan disini.


Rusel hanya diam duduk tepat di samping pimpinan pelatihan dari Pesisir Kulfun. seorang pria paruh baya yang bertampang sangar itu terlihat meliriknya dengan tajam.


"Sepertinya kau sangat bekerja keras." ucap Guru Pahan menatap Rusel yang tak mdmandangnya. Netra bergradasi kehijauan itu tetap menatap satu objek di depannya.


"Bukan aku. tapi semuanya!" jawaban tegas keluar seperti biasa.


"Kau sangat rendah hati. sudah jelas selama ini hanya kau yang bekerja keras disini."


"Kalau tak tahu. sebaiknya diam."


Guru Pahan terbungkam. kedua tangan yang ada di pahanya mengepal kembali melihat anak-anak didiknya di depan sana.


Berbeda dengan Guru Pahan. Guru dari Lembah Kulfun justru terlihat senang berbincang dengan Tetua Herdan dan Mentri Kamir yang sangat menghormati pendidik satu ini.


"Begitu senang rasanya bisa kembali datang ke pusat pemukiman Kulfun. Tetua!" tutur Guru Marta tersenyum bahagia. Ia masih berumur 29 tahun hanya tua 1 tahun dari Rusel.


"Kami juga. kau lulusan Murid disini dan sekarang menjadi Guru yang hebat, kami bangga padamu." puji Tetua Herdan memang tahu jika Guru Marta murid yang ceria dan selalu suka hal unik.


"Pelatihan kali ini bertujuan mengeratkan hubungan antar warga masyarakat Kulfun, dan bisa saling menjaga. dengan segala hormat dari Tetua dan para Guru. saya ucapkan PELATIHAN BERKUDA INI RESMI DI BUKA...!!!"


Prokkk...Prokkk ..


Mereka bertepuk tangan mendengarnya. Para masyarakat juga hadir di tepi sana menyaksikan keahlian Berkuda masing-masing daerah.


"Dalam letusan peluru pertama. Kuda kalian harus berlari secepat mungkin melewati rintangan yang dibuat!"


"Baiiiik!" bersuara penuh semangat.


Ada palang-palang kayu di depan sana serta bara api yang di buat diatas tanah. Belum lagi senjata-senjata jebakan yang harus mereka kenali atau tidak Kuda mereka akan terpental keluar Arena.


"Bersedia....."


9 peserta itu menaiki Kudanya masing-masing di arena start. mata mereka langsung terfokus kesana menunggu atraksi berkuda yang selalu di pimpin Asrama dari Kulfun inti mereka.

__ADS_1


"Siapp...."


Peggangan mereka erat ke pelana Kuda yang juga memandang kearah lintasan pemacuan. Telinga itu di tajamkan menunggu letusan peluuru dari pistol yang di peggang Guru Bima.


"Sekarang.!!"


Dorrr....


Bak angin yang berderu kuat. suara tapakan kuda itu mulai bergejolak menubruk tanah yang bergetar olehnya. Mereka bersorak melihat lompatan tinggi dan keahlian mengendalikan yang begitu terlatih.


"Kalian memang selalu luar biasa!" puji Guru Marta melihat murid dari sini tak ada yang bisa di cari cela untuk menyalip. Semuanya pandai bermain sengat sangat teliti.


"Muridmu juga. mereka pandai membaca dimana saja jebakannya." timpal Mentri Kamir menyaksikan semuanya dengan pandangan persaudaraan. Berbeda dengan Guru Pahan yang begitu berambisi pada anak-anak dididiknya.


Ikana yang ada di kursi sudut sana tak berhenti melihat Rusel yang tetap pada pandangan fokusnya. Pria itu sama sekali tak bergeming atau berbuat hal konyol disini.


"Ehm... aku ingin menyapa seseorang dulu." ucapnya pamit pada para Guru lain dan melangkah kebelakang kursi-kursi Petinggi.


Ia berdiri di belakang kursi Rusel yang menyadari itu tapi tak menoleh sama sekali.


"Hasil latihan darimu sungguh luar biasa. Ketua!" sanjung Ikana hanya dijawab anggukan Rusel yang tak mau merespon terlalu banyak sama hal dengan sifatnya selama ini.


"Dia tak mau di puji. kau terlalu menyanjung, Guru Ikana!" sahut Guru Pahan seperti meledek Ikana yang hanya membungkus senyuman kembali ke tempatnya.


"Aku harus tenang. ini baru langkah pertama." gumam Ikana kembali duduk di kursinya. Salah satu bawahan Rusel melesat masuk mendekati Rusel yang masih di tempat.


"Ketua!"


"Ponakan paman Jo ingin menemui anda di luar!"


Rusel terdiam. kenapa Anya datang kesini? apa terjadi sesuatu pada Sandra?


Tak bisa diam saja. Rusel langsung berdiri menatap Tetua Herdan yang mengerti mengangguki isyarat pamit Rusel. Pria itu melangkah pergi ke belakang dengan pandangan menajam Ikana yang heran.


Setibanya disana. Rusel langsung di hadang Anya yang tampak menangis menatapnya.


"Ketua!"


"Ada apa? dimana Sandra?" tanya Rusel melihat ke sekitar tak ada melihat wajah konyol itu lagi.


"S..Sandra tadi.."


"Kenapa? apa yang terjadi?" Rusel mulai jantungan.


"Tadi pagi aku ke rumahnya. didalam kamarnya begitu kotor dan berantakan, bahkan begitu menyeramkan banyak bangkai kumbang. lalu..."


"Lalu ternyata Sandra mengunci dirinya di kamar mandi. dia pingsan semalaman, hiks! sekarang dia ada di Rumah Paman!"

__ADS_1


Rusel langsung berlari kesana dengan jantung seakan mau melompat keluar. Bagaimana bisa ia kecolongan menjaga wanita itu?


"Ketua! acaranya masih belum selesai!!!" panggil bawahannya membuat Anya naik darah memukul bahu pria itu.


"Kauu..."


"Temanku lebih penting. dari acara-mu ini." ketus Anya lalu berlari mengikuti Rusel yang sudah menghilang dari depan sana.


Ia melewati jalan pintas ke arah Rumah Paman Jo. Rusel melalui beberapa warga yang tengah menjemur pakaian. Ia sesekali mengangguk di sapa penuh kehormatan sampai ke rumah Paman Jo yang terpelosok.


"Paman!!"


Panggil Rusel melangkah ke depan pintu. seorang wanita paruh baya membuka pintu itu menatap Rusel yang begitu cemas.


"Bik! dimana Paman Jo?"


"Di dalam. silahkan masuk, Ketua!" Bibik Antika membuka pintu lebar. Rusel langsung masuk dengan mata mencari pria itu.


"Paman!"


"Masuklah kesini!" suara Paman Jo di arah kamar satunya. Rusel segera melangkah sana menyibak tirai penutup kamar.


Mata Rusel terpaku kearah ranjang kecil yang hanya cukup bagi tubuh jenjang wanita itu. wajah yang kemaren terlihat bahagia dan berona merah terlihat pucat dengan handuk yang di kompres ke kekeningnya.


"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Rusel mendekat dan duduk di samping Sandra yang masih belum sadar. Mangkuk berisi lendir kehijauan dari dedaunan obat itu di tempelkan ke perut rata mulus Sandra yang dibiarkan terbuka.


"Dia kesulitan bernafas. bagian lengan dan pahanya juga dipenuhi memar, itu karna lama di tempat dingin. lambat sedikit saja Anya datang. aku tak tahu apa yang akan terjadi padanya dan janin kecil di dalam sana."


"Apa sekarang sudah baik-baik saja?"


Paman Jo menggeleng tak tahu. ia melihat keringat dingin di kening Sandra terus keluar, kemungkinan wanita itu ketakutan semalam.


"Sebaiknya tunggu sampai dia sadar. kalau untuk pemgobatan ini bisa untuk menguatkan janinnya."


Rusel langsung bungkam memeggang pipi Sandra yang panas. setiap dia ketakutan pasti akan berakhir demam tinggi seperti ini.


"Ketua! anda meninggalkan tempat Pelatihan besar, mereka akan curiga anda datang kesini."


"Aku tak perduli!" jawab Rusel dingin lalu mengganti handuk kompresan di kening Sandra. Pasti ada sesuatu yang menganggu wanita ini lagi sampai terjadi hal separah ini.


Lama ia memandangi wajah Sandra dan memar-memar di kulit sampai Rusel tak bisa menahan diri lagi.


"Kau jaga dia disini!" Rusel berdiri membuat Paman Jo terkejut tapi hanya mengangguk menurut saja.


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2