Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Aku mencintaimu!


__ADS_3

Acara syukuran Baby Ruslan itu berjalan dengan lancar. Media yang hadir sangat menikmati prosesi sakral yang di hadirkan pada siang tadi sampai pada malam ini apalagi Keluarga Kerajaan sudah sedari tadi tiba hingga duduk bersama mengaminkan do'a yang di lantunkan Ustadz Khoirul.


Walau berbeda keyakinan tapi Raja Mikes tampak santai dan tenang. ia dan Ratu Bellarosa tak sungkan duduk beralasan karpet bersama yang lainnya.


"Semoga Ruslan nantinya menjadi anak yang Soleh dan berguna bagi semua orang."


"Amin!"


"Jadikanlah anak kami Ruslan nantinya semakin taat beribadah dan menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana, ya Rob."


Ustadz Khoirul melantunkan do'a-do'a hikmat sampai pada amninan yang terakhir mereka saling bersalaman dengan Sandra dan Rusel yang memangku anak mereka.


Kecantikan Sandra yang di baluti Gamis elegan dan hijab moca itu menambah kesan feminim dan anggun. aura wajahnya begitu bersinar semakin memikat semua orang.


Tentu Rusel beberapa kali menghela nafas melihat tatapan penuh kagum itu di layangkan pada istrinya. terutama Ednan dan Daniel yang baru datang tadi bersama Anya. Gadis muda itu tampak tersenyum melihat Sandra.


"Selamat atas keselamatan dan anak kalian. hm?"


"Terimakasih. Bik!" jawab Sandra ikut bersalaman dengan Bibik Antika yang gemas melihat Baby Ruslan yang malah tertidur dengan damainya di dekapan kokoh Rusel.


"Dia pasti lelah karna sedari pagi di kelilingi banyak orang."


"Iya. Bik! lagi pula ini hanya sebentar lagi." jawab Sandra mengusap pipi gembul Baby Ruslan yang enggan membuka manik indahnya.


Paman Jo yang melihat itu hanya mengulum senyum. ia tadi membawa beberapa ramuan tradisional yang bisa meningkatkan kualitas Asi dan daya tahan tubuh si kecil ini.


"Kemaren aku meracik ramuan tradisional untuk anak dan istrimu. Ketua! itu sangat baik bagi kesehatan."


"Terimakasih." ucap Rusel tegas dengan wajah bersahabat. Ia tak menunjukan raut tak sukanya saat Danial dan Ednan seakan lupa waktu melihat wajah Sandra.


Setelah menyapa semua orang dan Nyonya Tantri mengurus para anak Panti itu. akhirnya Kediaman ini agak longgar. Media juga tak terlalu berisik karna di jaga ketat oleh Guren dan Panglima Oskar yang ikut kesini.


"Sel! ayo kita menghadap Ibumu."


"Hm."


"Sel!" gumam Sandra melemah saat Rusel masih enggan bicara. ia tahu ia salah tapi sudah seharian Rusel mengacuhkannya.


Tak mau berdebat dengan Sandra. Rusel memilih menggendong dengan satu tangan Baby Ruslan yang nyenyak di dalam bedongnya. Ia bak dewa menggendong ringan sang bayi yang sangat kecil di lengannya.


"Dia tidur?" Ratu Bellarosa menatap Rusel yang mengangguk mendekat ke arahnya. Disini sudah ada Tuan Hatomo, Tetua Herdan dan beberapa petinggi di Kantor Militer.


"Sepertinya dia sangat lelah."


"Hm. dia tak sempat melihatmu, Ibu." jawab Rusel duduk di hadapan Ratu Bellarosa yang mengusap pipi gembul itu dengan jari telunjuknya.


Raja Mikes menghangat melihat raut wajah istrinya sudah tak begitu dingin saat kesini. setidaknya ia bisa melihat walau sesaat.


"Dia mirip denganmu saat kecil. hidung, bentuk wajah. tak ada yang menuruni istrimu."


"Apa?" Sandra menyela cepat. ia duduk di samping Rusel seraya menatap wajah tampan Putranya. ia tak terima setiap orang hanya melukiskan ketampanan Rusel disini.


"Ibu! yang benar saja aku tak ada."


"Itu menurutku." jawab Ratu Bellarosa asik mengusap wajah lembut si mungil ini.


Sandra melirik Raja Mikes yang sepertinya tak bisa mengawali pendekatan dengan Ratu Bella.


"Kalau menurut Ayah mertua. bagaimana?"


Mereka semua diam. dari tatapan semua orang sudah jelas merasa canggung karna mereka yakin Raja Mikes tak akan menjawab perbincangan ringan tak berarti bagi Kerajaan ini.


"Sandra!" lirih Tuan Hatomo menggeleng. tapi Sandra kekeh, ia tak mau jarak diantara Ibu dan Ayah mertuanya semakin melebar.


"Ayah Mertua! apa kau.."


"Bibirnya berbeda." sela Raja Mikes membuat mereka terdiam. Hening, tak ada yang bicara dan hanya saling menatap tak percaya.


Benarkah Raja Mikes menangapi itu? bahkan jawabannya sangatlah singkat namun perlu pemahaman Detail.


"Benarkah? memangnya bibir Rusel kecil bagaimana?" pancing Sandra beralih menatap bibir sensual Rusel yang begitu sempurna.

__ADS_1


"Kecil dan tipis."


"Ouhh. pantas saja kau setampan ini Sayang. nyatanya Ayah mertua selalu memperhatikanmu." kelakar Sandra membuat mereka semua tersenyum mendengarnya.


Raja Mikes hanya diam sedia dengan raut datar itu tapi Ratu Bellarosa tampak terkejut dengan semua ini.


Rusel-pun sama. ia hanya diam seakan biasa saja padahal ada rasa lain yang mengalir di hatinya mendengar jawaban pria ini.


"Ayah Mertua! seharusnya jangan hanya ada satu Rusel, aku tak akan bosan begini."


"Kau.." Rusel memplototi Sandra yang memelas mengerti rencananya.


Ratu Bella agak kikuk. keduanya masih tampak segar dan tegap, jadi bisa saja memberi adik tapi agak menggelikan membayangkan itu.


"Seandainya ada dua. maka aku akan nikahi keduanya."


"Sandra.."


"Aku bercanda. Pa!" jawab Sandra masih cengengesan pada Tuan Hatomo yang tak enak hati pada Raja Mikes dan Ratu Bella yang terlihat canggung.


"Sebaiknya bawa anak kalian ke atas. dia pasti ingin tidur dengan tenang." Ratu Bella mengalihkan pembicaraan.


Sandra menghela nafas. ia menatap Raja Mikes dengan pandangan yakin dan memberi semangat.


"Semoga Ayah Mertua jadi yang terbaik di hati Ibu."


"Ikut suamimu!" desak Tuan Hatomo karna Sandra yang terlalu berani.


Sandra menurut mengikuti Rusel untuk ke lantai atas menuju kamar mereka. ia masih melempar tatapan jailnya pada Raja Mikes yang hanya diam.


"Sel! pasti nanti mereka akan canggung."


Rusel hanya diam. terlihat jelas jika ia tengah menahan perasaan yang pastinya tak pernah muncul di hatinya.


Saat sudah sampai ke dalam kamar. Rusel segera meletakan Baby Ruslan diatas ranjang lalu beralih menarik lengan Sandra ke arah Balkon.


"S..Sel!"


"Kenapa kau lakukan ini?"


"Apanya?" tanya Sandra tak mengerti.


"Tadi. kau tak perlu berkata seperti itu."


"Sel!"


"Aku tahu Ibuku. dia tak akan perduli lagi dengan itu semua." sarkas Rusel tak mau jika Sandra kena imbasnya.


"Sel! aku tahu dia Ibumu, tapi aku juga wanita. aku tahu perasaanya. Sel!" jawab Sandra dengan tatapan yakin yang selalu tergambarkan.


Rusel menghela nafas kasar bertumpuan tangan ke pagar Balkon.


"Kalau bukan aku lalu siapa? tak ada yang mau mendekatkan mereka. aku tak ingin jika kedepannya mereka begini terus. mataku sakit melihatnya." imbuh Sandra menyelipkan nada kesal.


Rusel berusaha berfikir tenang agar ia tak salah menyikapi Sandra yang bisa saja tersinggung akan ucapannya barusan.


Melihat keraguan Rusel yang menimbang-nimbang. Sandra langsung menggenggam tangan kekar itu di pagar ini.


"Percayalah! aku masih melihat jika mereka saling mencintai, hm?"


"Aku hanya khawatir jika nanti kau terkena bahaya besar karna itu." jawab Rusel beralih menggenggam jemari lentik Sandra.


Keduanya menatap ke arah samping Kediaman dimana kehijauan taman itu terlihat di penuhi lampu.


Dahi Sandra menyeringit melihat seseorang di taman gemerlap lampu sana tengah duduk dengan sosok yang Sandra kenal.


"M..mereka lagi?"


"Siapa?"


"Lihat itu. Sel!" Sandra menunjuk ke arah bangku taman. mata tajam Rusel bisa melihat Simob dan Delina yang tampak bicara.

__ADS_1


"Mereka."


"Mereka? apa? kau tahu tentang mereka. bukan?" desak Sandra menghardik Rusel yang hanya diam setia dengan wajah tenangnya.


"Jawab! kau mau aku mencari tahu dengan Ednan?"


"Kauu.." geram Rusel mendidih. ia masih belum lupa pandangan semua pria tadi pada istrinya.


"Katakan! aku mau kau jujur." tekan Sandra menunggu.


"Itu urusan me.."


"Edn.." Sandra jengah ingin memanggil Ednan.


"Mereka kekasih lama!"


DARRR...


Sandra terkejut bukan main segera menatap ke arah sana. Ia terperangah hebat dikala melihat Simob berani berciuman dengan Delina yang dengan pasrah menerimanya.


"M..Mereka.."


"Simob dan Kakakmu satu angkatan Akademi. mungkin sejak masih remaja." jawab Rusel menatap datar ke arah taman. Ia menyimpan rahasia ini karna hanya ia yang tahu bersama Tuan Hatomo yang baru tahu beberapa hari ini. awalnya pria itu syok tapi lambat laun mulai mengerti.


"K..kenapa..? kenapa aku tak tahu. dan..dan sekarang.. ya Tuhan." Sandra lemas di pelukan Rusel saat melihat Delina nyatanya tak sekaku yang ia kira. wanita itu cukup aktif dalam berciuman.


"Mereka hanya bertemu satu kali setahun. itu-pun saat pertemuan Militer Kerajaan. Kakakmu belum siap menikah dan itu karnanya Simob menunggu."


"S..Sel! aku..aku seperti orang bodoh menguntit mereka." umpat Sandra memijat pelipisnya.


Namun. Rusel tak tertarik untuk melanjutkan pembahasan kisah orang lain ini. Ia lebih fokus lada wajah cantik Sandra yang bertambah mempesona dengan hijab ini.


"Kau cantik!"


"A..ha?" tanya Sandra tak begitu dengar. ia masih fokus melihat adengan di taman sana.


Rusel beralih menyentuh kepala Sandra dengan tangannya. tanpa membuang waktu banyak, Rusel menarik kepala Sandra yang terperanjat.


Cup...


Kecupan hangat melekat ke kening Sandra yang tertegun. kedua mata itu mengerijab mengadah menatap wajah lembut Suaminya.


"S..Sel!"


"Kau sangat cantik!" puji Rusel baru kali ini berkata semanis itu. Sandra sampai terperangah tak percaya akan kalimat yang selama ini sangat susah keluar dari mulut Rusel.


"K..kau..."


"Aku sangat mencintaimu!"


Apaaaa???? k..kalian..kalian dengar. dia..dia mencintaiku. dia..dia mengatakannya.


Batin Sandra berteriak kegirangan. sebagai seorang wanita biasa Sandra juga sangat ingin mendengar kalimat itu keluar dari mulut suami tercintanya.


"S..Sel!"


"Karna aku sudah mengatakannya. aku minta jatahku."


"A..apa?"


Gumam Sandra belum mengerti tapi ia terpekik tertahan saat tubuhnya sudah melayang ke gendongan Rusel yang tak bisa menahan lagi. Kali ini Sandra benar-benar memancing birahi hebatnya.


"Ku pastikan kau tak akan bisa keluar kamar."


"S..Sel!"


.....


Vote and Like Sayang..


Besok Up terakhir ya say.. 😍🤑🥰

__ADS_1


__ADS_2