
Rasa rindu, cinta dan sendu itu menyatu. Keduanya saling memberikan jawaban irama cinta yang baru kali ini tersalurkan itu-pun karna paksaan gejolak hati yang tak rela.
Simob begitu tak bisa mengendalikan dirinya. Ciuman yang mereka lakukan ini seakan mewakili perasaan Simob yang tak mau kehilangan dan di tinggalkan.
Merasa dirinya mulai kehilangan kendali. Simob langsung melepaskan dengan nafas keduanya saling berbenturan hebat.
"Shutt!"
Batin Simob mengumpat dikala ia merasa sungguh tak tahan. sekuat tenaga ia menormalkan nafasnya yang mulai berat bersamaan dengan Delina yang menunduk diam.
Di remangan malam ini terasa dingin tapi fenomena ini dapat menghadirkan panas.
"K..kau pergilah ke dalam. udara mulai dingin." ucap Simob mengalihkan pandangan ke arah lain. .
Delina diam dengan raut wajah menimbang. Sudah 2 tahun lamanya mereka tak bertemu dan sungguh ia sangat merindukan pria ini.
"Pergilah!" ujar Simob lagi datar. Namun, tak ada jawaban dari Delina yang sungguh tak tahu harus bagaimana.
"Maaf!" satu kata terlempar juga. Simob menghela nafas menormalkan rasa sedih dan berat di hatinya.
"Tak usah di pikirkan. seperti ini saja sudah lebih dari cukup."
"Tapi. kau..."
Simob beralih menatap Delina hingga kalimat wanita itu terhenti. selama ini Simob membutakan diri dan pura-pura tak tahu tentang Delina hanya demi permintaan Delina yang belum siap di ketahui banyak orang.
"Kalau kau bahagia seperti ini. aku tak apa, aku akan terus menunggumu." ucap Simob mengusap kepala Delina. rambut pendek lurus ini sangat ia sukai dan selalu ada di benaknya.
Mungkin Simob memang pria bodoh yang terlalu jatuh cinta dan sangat na'if di hadapan orang lain. tapi, selama ini Simob menyibukkan diri dengan urusan Ketuanya yang tak pernah ikut campur sama sekali.
"Kejarlah apa yang ingin kau gapai. tapi, saat kita sudah menikah.. jangan harap kau bisa begini lagi." imbuh Simob menyelipkan nada ancaman yang menggelikan hanya untuk menghibur Delina yang sama sekali tak bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Menurutmu bagaimana dengan Anak Prince Rusel?" tanya Delina ingin tahu. Ia melihat jelas jika Simob sangat menjaga si kecil itu lebih dari sekedar tugas.
"Dia penerus Kerajaan Dezon dan putra tunggal Ketua-ku. aku sangat menghormatinya."
"Apa di umur sekarang kau ingin punya anak?"
Simob diam. ia menatap Delina rumit tapi Delina tahu jika Simob juga iri dengan keluarga kecil Adiknya.
"Aku hanya ingin punya anak denganmu." jawab Simob singkat dan tak berlebih. Delina sungguh menghangat mendengar ini semua.
"Sudahlah. aku tak mau mempersulit ini semua, lagi pula. bisa bertemu walau 1 tahun sekali itu sudah lebih dari cukup."
"Ayo punya anak!"
Degg...
Bagaikan di sambar petir Simob membeku di tempat. Mata kosongnya menatap Delina penuh tanya bahkan, ia benar-benar tak mengerti.
"M..Maksudmu?"
Delina menggenggam tangan Simob yang ada di bahunya. Ia melempar senyuman yang hanya keduanyalah yang saling menikmati momen aneh ini.
"Ayo menikah!"
"A..apa?"
Simob masih tak percaya. Wajah datar dan dingin yang biasa ia tunjukan seketika berubah seperti pria konyol di hadapan wanita ini.
"Ayo menikah. aku mau punya anak!"
"A.. .K..kau..."
Simob tak bisa berkata-kata karna ini mustahil. Ia menepuk pipinya sendiri agar segera sadar jika ini memang mimpi tolong bangunkan ia segera.
Melihat respon Simob. Delina merasa teriris, nyatanya selama ini ia terlalu egois memikirkan diri sendiri.
"K..kau.."
"Menikah! ki..kita menikah?" tanya Simob beralih menangkup pipi Delina yang ntah kenapa bisa menjatuhkan air bening itu.
"K..kita menikah?"
Delina mengangguk tersenyum membiarkan tubuhnya di dekap erat Simob yang begitu bahagia dan sangat senang.
"Sayang! kita menikah? kita.."
"Hm. Maafkan aku! aku terlalu membuatmu menunggu."
"Kau..kau tak bercandakan?" tanya Simob benar-benar meyakinkan diri.
"Tidak! aku ingin segera menyusul Sandra. dia adik tapi sudah lebih dulu mengalahkan aku."
Simob benar-benar terasa mau berteriak hingga ia naik di atas bangku taman melepas jaketnya.
"Dia setuju!!! aku...aku akan menikah!!!" teriak Simob tak sadar lagi. Delina terkekeh melihat aksi konyol yang baru kali ini ia lihat.
Wajah Simob berseri dan sangat bahagia dengan kabar sederhana ini.
"Aku akan menikah!!!! Delina-ku setuju!!!"
"Selamat Eliiinn!!!"
__ADS_1
Sahutan di belakang sana mengagetkan Delina yang menatap kikuk Erina. wanita itu berdiri bersama Guren di dekat tiang pembatas area taman dan Kediaman.
"K..kalian.."
"Selamat!!!" teriak Erina mengacungkan kedua jempolnya. Guren juga menatap teman datarnya itu dengan pandangan senang.
Ia ikut bahagia akan pencapaian Simob yang sampai ke tingkat ini.
"Semoga mereka segera mengusul Ketua dan Nona Sandra." gumam Erina tersenyum melihat Delina berpelukan dengan Simob yang tak segan menunjukan kemesraan.
"Karna kau mobil-mobil Sandra rusak."
"Kenapa kau menyalahkan aku. jelas kau yang menyuruhku mengemudi, aku sudah bilang tak bisa. bukan?" sarkas Anya yang tengah adu mulut dengan Daniel yang sungguh geram dengan wanita ini.
"Kalau Sandra marah. kau yang harus menghadapinya."
"Aku tak mau. jelas kau si pecundang tak berguna."
"Kauu..."
Keduanya kembali main jambak membuat suasana menjadi ramai. semua mata tertuju padanya termasuk Simob yang hanya memandangnya datar.
"Mereka temannya Sandra-kan?"
"Yah. tapi selalu bertengkar." jawab Simob acuh. Ia beralih menatap balkon kamar Ketuanya yang gelap dan di pastikan sedang apa pria itu di atas sana.
"Ayo masuk."
"Kenapa?"
"Ketua bisa marah anaknya di ganggu." jawaban asal Simob membawa Delina masuk ke dalam.
Tapi. jawabannya tak melenceng sama sekali. tepat di atas sini sosok tampan itu di buat murka karna berisik yang terlempar dari luar sana.
Ia terpaksa menjeda permainan di kala Baby Ruslan terjaga hingga Sandra harus menyusuinya terlebih dahulu.
"Sudah?"
"Belum. Sel! dia masih haus." jawab Sandra seraya mengusap jemari mungil yang menggenggam jari telunjuknya.
Sandra tengah berbaring menyamping dengan teganya berpose nikmat begitu di tengah hantaman birahi sang suami.
Rusel terus menunggu diatas sofa sana menatap penuh dahaga ke tubuh polos jenjang Sandra yang seenaknya saja menghentikan permainan.
"Sel!"
"Hm." gumam Rusel berat. ia tak mengalihkan pandangan pada liukan Body seksi sang istri yang benar-benar membuat pusakanya berdenyut. bokong bulat kencang itu sangat membuatnya gemas apalagi mulusnya kulit Sandra seakan memancing cumbuan tangan pria itu.
"Sudah?"
Tak bisa bersabar lebih lama. Rusel akhirnya mendekat dengan tubuh tanpa sehelai benangpun, sangat kekar dan jantan membuat Sandra memerah melihatnya dari kaca meja riasnya.
"Kau mau apa?"
Rusel tak menjawab. Ia berbaring di belakang tubuh Sandra ikut menyamping mendekap erat tubuh kenyal Istrinya.
"S..Sel. ada Baby." gumam Sandra saat Rusel sengaja menjepitkan pusaka perkasa itu diantara belahan bokong bulat Sandra yang kenyal dan padat.
"Hanya seperti ini. sampai dia tidur." bisik Rusel serak melingkarkan satu tangannya ke perut datar agak berlemak Sandra. ia meraba bekas jahitan operasi kemaren dengan lembut.
"Ini masih sakit?"
"Hanya ngilu. Sel! mungkin masih belum kuat." jawab Sandra melihat ke bawah. Rusel terbiasa tidur mengusap perut besarnya dulu, bahkan. sekarang-pun Rusel tak bisa menepis kebiasaan itu.
"Sel!"
"Hm?" gumamnya dengan wajah terbenam ke puncak kepala sang istri.
"Kenapa kau punya taring?"
Rusel terdiam sejenak mencoba memilah kata agar Sandra tak salah memahami penjelasannya.
"Sel!"
"Kami punya garis keturunan yang dekat dengan sebangsa itu."
"Serigala?"
Rusel mengangguk dengan tangan terus mengelus bekas luka itu dengan lembut.
"Menurut cerita Ayahku. dulu Kakek kami sangat menyukai hewan liar salah satunya Serigala, ia pergi ke semua pegunungan dan hutan untuk mencari hewan yang paling bisa di ajak berteman."
"Lalu?" tanya Sandra tertarik mendengarkan.
"Di satu hutan gelap dan lembab. ia bertemu dengan Hewan melata seperti ular. tapi, dia tak menyukainya karna hewan itu hanya bernafsu membunuh, di suatu ketika. Kakek bertemu dengan Serigala besar yang tengah terjebak di dalam sebuah lembah yang gelap dan panas. Kakek menolongnya dan sampai dari itu keduanya berteman, hingga Kakek meninggal dia ikut ke kuburnya sampai ikut di makamkan di sana."
"Apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Sandra sama halnya dengan Baby Ruslan yang tertidur akan dongengan sang Dady.
"Dia menurunkan sumpah. jika keturunan Dezon akan mewarisi aliran mereka, tak ada permusuhan atau budak tetapi pertemanan. wilayah yang dulu di kunjungi Kakek adalah Kulfun."
"Itu karnanya kau menjaga tempat ini karna amanah Kakekmu. benar?"
Rusel mengangguk membuat Sandra lega. akhirnya ia tahu kenapa bisa Suaminya ini sangat aneh dan berbeda. nyatanya Spritual itu di dapat oleh kebaikan alam.
__ADS_1
Sandra menela'ah cerita Rusel barusan. ia tak sadar jika emutan Baby Ruslan sudah terlepas hingga Rusel mudah menangkup satu daging kental sekang ini.
"Jadi. kau itu.. "
Kalimat Sandra terhenti dkala Rusel sudah menggendongnya menuju Karpet di dekat sofa.
"Sel! ceritanya belum selesai."
"Aku tengah menyelesaikannya." jawab Rusel serak membaringkan Sandra ke atas karpet. ia meraih bantal diatas sofa untuk di jadikan alas ke kepala Sandra.
"Sel!"
Rusel sangat agresif. ia segera menyambar bibir Sandra untuk kembali memancing hawa panas yang tadi sempat redup dalam beberapa menit.
Belitan lidah basah ini membuat Sandra menggelinjang mencengkram lengan Rusel yang ada di kedua sisi kepalanya.
"Ehmm!" suara geraman halus dan lemah. hisapan pelepas dahaga itu sangat erotis membuat Sandra mengerang beberapa kali di buatnya.
Satu tangan kekar nakal itu bergerak halus menyusuri paha mulus Sandra yang menggeliat sampai ke bagian bokong wanita itu ia remas sensual.
"Enghh!" lenguhan terlempar keluar. bibir bawahnya ia gigit kecil dikala kecupan basah Rusel tengah menyusuri garis leher menjelajahi dengan seksi.
"Manis." gumam Rusel serak dengan pandangan berat melihat dua gudukan sintal itu terangkat dikala nafas hangat dan beratnya menerpa kulit putih ini.
"S..Ssseel!" erang Sandra terengah dikala puncak gudukan ranum itu di **** dengan sensual. Lidah basah dan hisapan erotis itu mampu menerbangkan batin Sandra kuat.
Ouhh. kenapa...kenapa aku selalu menginginkan ini.
Ia hilang akal dan sangat menanti aksi perkasa selanjutnya.
Begitu juga Rusel. ia seakan haus terus menegguk rasa hambar ini tapi ia suka, aksinya tak akan kalah dari sang putra.
"Ouss.. Seel!"
Desis Sandra mencengkram remang rambut pria ini. ia menikmati setiap hisapan dan permainan lidah basah sang putra mahkota.
"Kau siap?" tanya Rusel mengangkat wajahnya dari belahan padat ini. bibirnya basah karna air yang terus keluar membasahi kerongkongannya.
"A..aku.."
"Aku?" tanya Rusel menggoda Sandra. ia sengaja menggesekan benda keras itu ke liang basah sana membuat Sandra menggeliat tak tentu arah.
"S..Sel!"
"Hm?"
Wajah Sandra sudah merah. ia sangat ingin dan begitu mendamba pusaka mematikan itu.
"Ayolah. kau mau balas dendam. ha?" serak Sandra menekan-nekan pinggang kekar Rusel dengan belitan kakinya.
"Kau berjudi?"
"Ha?" tanya Sandra sayu menatap wajah tampan Rusel yang tahu segalanya. ia hanya ingin Sandra bicara padanya.
"Katakan! kau berjudi?"
"I..itu dulu. sekarang tidak lagi. ayolah." rengek Sandra sudah kepalang panas dan gelisah.
"Untuk apa menelfon pria itu?"
"Aku ingin dia menyembunyikan mobil-mobilku. Delina bisa menghancurkan kerja kerasku. Sayang."
Rusel menghela nafas. ia beralih menatap Sandra yang masih berusaha menyatukan tubuh mereka.
"Lepaskan saja mobil-mobil itu."
"Tidak bisa. aku..aku tak mau." bantah Sandra menekuk wajahnya.
"Aku akan belikan yang lebih banyak dari itu."
"Sel! itu hasil kerja keras dan.."
"Tidak ada. kau minta saja apa yang kau mau, tapi jalan berjudi lagi." tekan Rusel serius. ia sudah membelikan Mobil-mobil yang sama bahkan lebih mewah dari itu agar Sandra tak mempertahankan barang-barang itu lagi.
"Sel!"
"Aku serius."
"Tapi.. aku.."
Sandra terhenti bicara dengan mulut terngangak dan tubuhnya melenting hebat dikala Rusel memulai penyatuan dengan satu hentakan dahsyatnya.
"A.. kks.."
Rusel memejamkan matanya merasa sungguh lemah dengan hapitan diding lembab ini. ia menggeleng sungguh mengakui kehebatan duniawi menerbangkan batinnya.
Ia akan selalu tunduk pada wanita ini walau senakal dan seliar apapun Sandra, ia akan tetap mencintainya.
.......
Vote and Like Sayang..
Tamat ya say..
__ADS_1
Nanti Sinopsis cerita baru say🥰