Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Penyerangan


__ADS_3

Ledakan tiba-tiba itu menghantam bagian samping Istana meruntuhkan beton penghalang yang menguarkan kepulan asap hitam. nuansa putih dari hamparan serbuk salju yang tadi memenuhi rerumputan hijau itu seketika mencair akibat panas dari peledak yang telah dilempar dari luar.


"Beton samping runtuh. Panglima!" ucap para Penjaga Istana yang tengah mengintai di tempatnya masing-masing. Panglima Oskar belum memerintahkan Prajurit kerajaan menyerang.


"Mereka belum muncul. jangan gegabah."


"Kami siap!!" jawab mereka telah sedia membantai. Tak ada gelagat yang menunjukan musuh akan tiba. hanya ada asap-asap hitam yang terlihat semakin menyebar.


Panglima Oskar mengamati itu dengan baik. Ia terhubung dengan Rusel yang tengah dalam perjalanan kesini. Tentu saja mereka merasa tenang jika Prince-nya tak lepas tanggung jawab.


Namun. Panglima Oskar sadar jika ledakan itu adalah tabung asap beracun yang di lempar kesini.


"Pakai alat bantu kalian!"


Mereka memakainya bersamaan dengan kacamata ekstra yang selalu mereka pakai ketika bertugas. Semuanya terlihat jelas dari sini ada 10 pria berpakaian hitam bermasker masuk diantara kepulan asap dengan membawa senjatanya.


Panglima Oskar menahan pergerakan prajuritnya menunggu musuh mendekat. Saat mereka sudah menginjak garis hitam yang di buat di rumput barulah ia bicara.


"Sekarang!!"


Mereka langsung keluar menembak serentak hingga percikan api itu tercipta diantara udara dingin ini.


"Jangan sisakan satu-puun!!!"


"Siaaap!!"


Mereka mengepung dengan pola kuncian hingga dalam beberapa detik saja mereka sudah tumbang di tempat. Panglima Oskar puas akan hal itu tapi mereka belum bisa lega.


"Mereka datang!!"


"Siall!!" umpat Ketua pengawal Yodra yang tadi ada di belakang. nyatanya banyak kawanan yang masuk ke dalam lingkungan Istana. jadi 10 orang itu hanya pembuka dengan adengan tembakan isyarat pertama.


"Kami dataaaaang!!!" teriak seorang pria dewasa dengan kulit hitam dan kepala plontos menembak membabi buta membuat Pasukan penghadang juga melepaskan tembakan balasan di balik pilar Istana.


"Bidik kepala. jangan tanggung!!!" titahan Panglima Oskar juga ikut menembaki mereka satu persatu. Ia merasa Istana ini sudah di kepung dan belum lagi dari daerah depan juga mulai berdatangan.


"Mereka juga datang dari arah pelabuhan! Kepala Pengawal Ivan tengah menghadang disana. kita kekurangan orang." ucap Ketua Pengawal yang berjalan mendekati Panglima Oskar seraya terus menembaki sasaran.


Beberapa anggota musuh yang memanjat di atas Beton sana juga ikut di bidik oleh Pasukan Sneper Istana yang telah di posisikan dengan tepat.

__ADS_1


"Gergoe!!!" panggil seorang pria berkulit hitam itu pada sosok pria tinggi yang tampak bersenang-senang membunuh para prajurit yang bukan tandingannya.


"Cihh! Lemahhh!!!"


"Panglima!!!" teriak para Prajurit Istana yang sudah berusaha menghadang tapi mereka gagal mengepung kawanan sebanyak ini.


Panglima Oskar dan Ketua Pengawal Yodra terdiam melihat banyaknya pasukan musuh. mereka juga mendapat laporan jika pasukan dari Pelabuhan juga akan menyerang kesini.


"Mereka sangat licik. memecah kita agar kekurangan orang."


"Mereka sudah tahu cara kita menyerang. ini pasti ulah Tuan Lucas." umpat Ketua Yodra menimpali ucapan Panglima Oskar yang memperhatikan pergerakan musuh yang bak semut mengerumuni Istana.


Di antara ratusan orang ini bisa di pastikan ada beberapa kelompok yang punya tugas tertentu.


"Apa ada perintah dari . Prince?"


"Belum!" jawab Panglima Oskar mengeluarkan pisaunya menebas beberapa anggota musuh yang datang ke arahnya. Gerbang Istana di tutup rapat menuju jalur Istana Ustama.


Malam ini sangat ramai dan beku. darah-darah segar itu membuat rerumputan yang tadi memutih sekarang berubah merah segar dengan ronggokan tubuh manusia di atasnya.


"Tahaaan!!! demi Kerajaaan!!!"


"Kalian tak akan bisa mengalahkan kami!!! Aliansi baru!!!!" teriak Gergoe semakin bengis membantai para Prajurit disini. Ia yakin malam ini mereka akan bisa merebut pemerintahan Dezon.


"Panglima! ini tak akan bertahan. mereka tahu jalan masuk Istana!" ujar Ketua Yodra mulai kualahan.


"Jalankan saja titahan Prince! kita tak tahu jika sampai mereka menduduki Kerajaan. bahkan anakmu saja tak akan hidup."


"Kau benar!" mereka masih sempat berbincang dengan jipratan darah hampir membasahi wajah. Lesatan peluru dan sabitan senjata itu terdengar mengoyak kegelapan malam yang sudah berguncang karnanya.


Sementara di dalam sana. Dua pimpinan Kerajaan itu saling berhadapan. Suara riuh di luar menembus dinding tebal Istana tapi keadaan tak bisa di stabilkan kembali.


"Kau pilih. menjadi sekutuku atau aku akan memusnahkan Kerajaanmu." ujar Raja Mikes menatap tenang dan tegas Raja Wilson yang terlihat sudah menggeram marah. Istrinya kritis disini dan para prajuritnya sudah di kekang Istana Dezon.


"A..Ayah.." isak Putri Anatasnya yang tengah di tekan belati dari kepala pelayan Nouro. tentu saja keadaan sekarang sangat tak memungkinkan untuk melawan.


"Pilih!"


"Kau sangat licik. Mikess!!" geram Raja Wilson dengan kepalan tangan menguat dan darah mendidih. kobaran rasa marah itu tengah di lukiskan di wajahnya tapi Raja Mikes tak perduli. membunuh demi Kerajaan itu tak masalah.

__ADS_1


"Kau mengatakan jika dunia Politik itu kejam. rasakan sekarang hasilnya."


"Kau menipuku!!!" bentaknya kuat membuat tangisan Putri Anatasnya pecah melihat dan mendengar suara tembakan di luar sana.


"A..Ayah bantu saja mereka, atau kita akan mati disini."


"Diam kau!!!" bentakan itu membuat Putri Anastasya terperanjat bertambah takut. tak pernah Ayahnya membentaknya tapi sekarang semuanya begitu terguncang.


"Kalau kau tak mendesak ku untuk menikahkan-mu dengan Pria sialan itu maka kita tak akan begini!!!"


"Feliks itu cerdik dan tampan!! aku mencintainya. Ayah!!"


"Mati saja kau sialan!!" maki Raja Wilson sudah tak bisa menahan amukan. Raja Mikes menyeringai, ia tak salah lagi menebak watak pria ini.


"Cepat pilih!"


"Apa untungnya bagiku?"


Pertanyaan itu membuat kesabaran Raja Mikes hilang seketika. Tatapan netra kehijauan pria itu terlihat menajam membekukan suasana.


"Kau masih bertanya?!" ia mengepalkan tangannya kuat dengan tatapan tak biasa.


Nafas Raja Wilson terengah. ia tahu jika Raja Mikes merupakan pria misterius yang spesial. ia tak akan bisa menandingi pria ini.


"Kau punya kekuatan lebih. kau saja yang seharusnya turun tangan."


"Kau si dungu!" suara remeh dan berkuasa. Tentu semua ini rahasia penting Kerajaan,mereka sudah tahu cara mengatasinya bagaimana.


"Kau bisa membunuh tanpa menyentuh! lalu, ajak saja putramu itu membantai mereka."


"Kau orang yang rakus." geram Raja Mikes menguatkan kepalannya menimbulkan tekanan di leher mereka. Mau tak mau Raja Wilson menyanggupi itu karna rasa sakitnya semakin menekan ke jantung.


"B..Baiklah!"


"Cih!"


...........


Vote and Like Sayang.

__ADS_1


__ADS_2