Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Mulai memanas!


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Langit diatas sana juga sudah gelap dengan rasa dingin yang membekukan. Cuaca tak menentu ini semakin memperparah rasa cemas Sandra yang sedari tadi tak bisa tidur karna Rusel belum kembali ke kamarnya.


Ia hanya bisa duduk di tepi ranjang menatap nanar pintu kamar. Biasanya pria itu sudah ada di sampingnya tapi sekarang, sekilat bayangan pria itu saja tak terlihat di netranya.


"Apa kau merasakannya juga?!" gumam Sandra mengusap perut besarnya. Ia sama sekali tak menyentuh makanan yang tadi di hantarkan Guren ke kamarnya.


Tak bisa menunggu bisu disini. Sandra bangkit dari ranjang lalu melangkah keluar pintu kamar. Suasana seperti biasa hening seakan tak berpenghuni.


Rasa gelisah dan tak tenang itu mendorong Sandra untuk segera pergi mencari Rusel yang masih belum tahu kabarnya bagaimana.


"Apa mereka benar-benar sekamar?!" gumam Sandra tak tahan membayangkannya. Ia dengan langkah pelannya keluar dari tirai-tirai lebar Istana yang membawa Sandra ke arah Kamar Tamu di Istana.


Namun. alangkah nyerinya hati Sandra melihat pemandangan di bawah sana. Para pelayan tengah memasang hiasan di dekat dinding dengan dekorasi yang mewah.


"Pasang semuanya dengan baik. jangan sampai acara nanti rusak hanya karna kalian!" teguran Staf Ilesa yang terlihat sibuk. keramaian di bawah sana terasa asing bagi Sandra yang hanya diam menatap dari sini.


"Kau iri?"


Suara ejekan dari arah samping. Sandra hanya diam menatap datar semua itu dengan hati panas tapi ia tak akan menunjukan kerapuhannya disini.


"Untuk apa kau masih disini. hm?" Ratu Christina berdiri di samping Sandra. ia tahu wanita ini sangat sulit di pengaruhi tapi ia akan membuat hal yang paling buruk terjadi.


"Kau hanya akan di permalukan!"


"Aku rasa kau salah. Nyonya." jawab Sandra berdiri dengan sangat angkuh dan wajah tak gentarnya. Ia seakan membantah semua persepsi yang di katakan Ratu Christina.


"Apa yang salah? kau memang tak di anggap disini."


"Benarkah?" tanya Sandra tak percaya itu. Ia tersenyum remeh menggambarkan rasa prihatinnya akan keadaan Ratu Christina.


"Kenapa kau tersenyum?"


"Aku kasihan padamu. Yang Mulia!"


Kepalan Ratu Christina menguat mendengar ucapan Sandra. ia selalu dongkol saat berbicara dengan wanita ini.


"Kau begitu menjual anakmu ke Kerajaan suamiku!"


"Kauu..."


"Bahkan. Putrimu membuktikan dirinya tidak terhormat menawarkan diri pada suami wanita lain!"


"Jaga bicaramu!!!" Ratu Christina ingin menampar wajah Sandra tapi tangannya langsung di tangkap Sandra dengan cengkraman yang kuat.


"Berani kau. ha???"


"Kau bisa menekan Kerajaan ini tapi tidak denganku." geram Sandra merapatkan giginya kuat menahan emosi. Dengan kasar Sandra mendorong Ratu Christina sampai terhuyung beberapa langkah ke belakang.

__ADS_1


"Kau pikir aku takut dengan Ratu murahan sepertimu. ha?"


"Berani kau bicara lancang padaku!! benar-benar tak bermoral!!" maki Ratu Christina tapi Sandra terus menunjukan keberaniannya dengan tersenyum mengejek melihat beberapa orang di bawah sana menatap mereka.


"Kau mengatakan jika aku tak bermoral. lalu bagaimana dengan putrimu? Yang Mulia!"


"Itu haknya! sedari awal mereka memang sudah ditakdirkan untuk menikah, tapi kau menghancurkan rencana itu." bantah Ratu Christina menyala-nyala.


"Kau ini terkadang tak masuk akal. kau membicarakan Hak lalu bagaimana denganku? Hak ku lebih jelas dan nyata dari pada Putri Lacur mu itu."


Decah Sandra jijik lalu melangkah pergi meninggalkan Ratu Christina dalam rasa kebencian yang begitu dalam di hatinya. Pantas Anastasya sulit menyingkirkannya.


Namun. pikiran licik Ratu Christina muncul saat melihat tangga yang ada di bawah sana. Ia berbalik menatap Sandra yang kelihatannya memang sulit untuk berjalan.


"Penghalang terakhir putriku hanya mahluk di dalam kandunganmu." gumamnya melangkah mendekati Sandra dari belakang. Ia berjalan perlahan membuntuti Sandra yang terlihat berpeggangan ke pinggir Pagar pembatas lantai.


Ratu Christina begitu hati-hati. Ia berbinar saat melihat Sandra sudah tepat ada di ambang tangga hingga ia dengan cepat melangkah ingin menyenggol bahunya.


Namun. Ia terkejut saat kakinya tiba-tiba kaku dan tak bisa bergerak sampai ia oleng terdorong ke samping.


"Sandra!!!!" suara teriakan Ratu Christina mengejutkan Sandra yang berbalik. Matanya melebar melihat Ratu Christina jatuh ke bawah tangga sana.


"Tolong!!!" teriak Sandra panik ingin turun tapi tiba-tiba lengannya di tahan seseorang dari belakang.


"Ibuuu!!!!"


"K..kalian.." Sandra tak bisa berkata-kata banyak. ia menatap linglung Putri Anatasnya yang langsung histeris melihat Ibunya telah tergrletak di lantai bawah di kerumuni banyak pelayan.


"A..apa yang terjadi?" gumam Sandra tak mengerti. ia menoleh ke samping hingga matanya menatap wajah datar seseorang yang tadi tak ia temukan.


"S.Sel!"


Rusel hanya diam melihat kekacauan di bawah sana. Raja Mikes dan Ratu Bellarosa sampai keluar mendengar teriakan Putri Anatasya. Raja Wilson yang baru turun langsung terkejut melihat Istrinya sudah tergeletak bersimbah darah di kerumunan para penjaga.


"Ayah!! tolong... tolong. Ibu!!!"


"Siapa yang melakukan ini. ha???"


Murkanya langsung menggendong Ratu Christina dengan Panglima Oskar yang baru datang langsung menghubungi Dokter Istana. Mereka sangat panik melihat keadaan Ratu Christina tapi tidak dengan Rusel yang hanya diam menatapnya datar.


"S...Sel! b..bukan aku yang..."


"Aku tahu." jawab Rusel menarik pinggang Sandra hingga merapat ke arahnya. Rasa cemas Sandra terasa di redam sejenak mendapat rengkuhan kenyamanan ini.


"Sel! bagaimana kalau mereka tak mau membantu Kerajaan? aku..aku lagi-lagi mempersulit kalian."


"Tak ada yang perlu di khawatirkan!"

__ADS_1


Sandra tak bisa diam begini saja. Ia tak ada maksud untuk mencelakai Ratu Christina tapi ntah kenapa wanita itu tiba-tiba jatuh.


"Sel! maafkan aku, kau..kau pasti akan kembali di salahkan Yang Mulia."


"Tak ada yang akan menyalahkanmu."


"Sel!"


Rusel menatap tegas Sandra hingga wanita itu bungkam. akhirnya mereka hanya memandangi kekacauan ini dengan pandangannga masing-masing.


"Feliks!!!!" teriak Putri Anatasya yang menangis di bawah sana. Wanita itu terlihat menatap murka Sandra yang tak mengerti harus apa.


"S..Sel!"


"Tak akan ada yang terjadi." tegas Rusel menenagkan Sandra. Ia tak bisa menahan diri melihat wanita itu ingin mencelakai Istrinya. Lebih baik ia membunuh satu orang yang begitu serakah.


Sandra melempar pandangan kearah Ratu Bellarosa yang berdiri tak jauh dari mereka. tatapan wanita itu tak menghakimi sama sekali bahkan terkesan melindunginya.


"Sel! bagaimana jika mereka membuat siasat untuk menyerang? apalagi..."


"Waktunya telah usai."


"M..Maksudmu?" tanya Sandra tak mengerti. Mata keduanya berbenturan hingga Sandra masuk mencari jawaban kalimat itu.


"Dia sudah mengatakan semuanya!"


"A..apa?"


Rusel menghela nafas beralih memandang Raja Mikes yang terlihat juga memandangnya penuh dengan makna. Ntah apa yang tengah di lakukan ayah dan anak itu Sandra butuh kecerdasan Ekstra.


"Besok! kau kembalilah ke Kediamanmu."


"K..kenapa? a..apa..apa kau..."


"Mereka akan menyerang mulai subuh ini."


"A..apa?? kau jangan membuatku bingung." sambar Sandra merasa cemas takut jika sesuatu yang besar akan terjadi.


"Aku tak sempat bicara sekarang! yang jelas, kau harus pergi kembali ke Negaramu."


.......


Para petinggi masing-masing sekutu itu telah duduk di dalam ruangan yang di penuhi para Pimpinanan gelap dan para Petinggi Negara yang ingin melakukan siasat Kudeta di Kerajaan Dezon.


Mereka akan bergerak cepat sebelum keadaan benar-benar terbaca oleh Kerajaan Dezon.


"Tugas sudah ku percayakan ke tangan masing-masing! kali ini jangan biarkan satupun pilar Kerajaan itu berdiri." titah Nyonya Loure yang sudah terduduk di kursi rodanya. dendam itu membara sampai mati-pun akan ia kejar.

__ADS_1


Lucas hanya diam tepat di samping Tuan Gorgoe yang juga memiliki masalah dengan Kerajaan Dezon. ia melihat jelas jika kali ini Perang tak bisa di hindarkan.


Vote and Like Sayang..


__ADS_2