
Mobil Taksi itu melesat masuk ke dalam gerbang Kantor Polisi Ibukota yang terlihat di jaga ketat oleh para pria berseragam. keadaan di sekitar sini cukup ramai hingga Rusel memakai maskernya untuk keluar.
"Ketua!" Simob juga mengiring dari belakang. tiba-tiba saja setiap mata tertuju pada mereka terutama Rusel yang postur tubuhnya tinggi tegap dan gagah bak seorang Jendral.
"Berhenti!" salah satu petugas Polisi paruh baya menghentikan langkah Rusel yang ingin masuk ke dalam. Netra tajam Rusel melihat nama yang tertera di bagian dada pria ini.
"Pak Yono!"
"Kau siapa dan tunjukan kartu identitas-mu?" tanya-nya tegas menagih. Rusel paham segera mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu itu.
"Kau orang Rusia?"
"Ibuku orang Indo!" jawab Rusel lagi membuat pria itu manggut-manggut mengerti. disini tertera wajah yang agak buram tapi dari postur rambut dan lehernya ini sama.
Rusel sangatlah hati-hati. nama dan tempat tinggalnya ia palsukan. hanya saja tempat lahirnya yang ia jabarkan itupun bukan yang sebenarnya.
"Apa ada yang kau urus kesini?"
"Ini mobil punya istriku!" Rusel menunjuk Mobil mewah Lamborghini yang tadi di tunjukan Guren padanya. tentu mereka harus hati-hati jika sudah berhadapan dengan pemerintah.
"Ouh. jadi wanita yang melawan tadi adalah istrimu?"
"Hm."
Rusel hanya bergumam. ntah apa yang Sandra lakukan di dalam sana sampai pria ini terlihat kesal bukan main.
"Ikut aku!"
Pak Yono mengiring Rusel masuk ke dalam gedung hingga berpuluh pasang mata di lantai bawah ini terus memandangnya. Terutama para polisi Wanita yang tengah bekerja tampak penasaran dengan Rusel, tapi sayangnya Rusel hanya fokus pada tujuan dan langkahnya.
"Apa?? jika tidak ya tidak. kau mau apa, ha??"
"Jaga ucapanmu ! disini bukan rumah atau kediamanmu."
Suara perdebatan dalam ruangan sudut sana membuat langkah Rusel di percepat dengan kecemasan yang menggunung di dadanya.
"Aku tak mau di penjara!"
"Tapi, kau telah melanggar peraturan lalu-lintas. jangan pikir jika Ayahmu seorang Jendral aku bisa mentolerir kesalahanmu yang kesekian kalinya." tegas seorang pria dewasa bertampang sangar botak itu menatap geram sosok Rumput Liar Rusel.
"Aku tak menyuruhmu segan pada ayahku!" tantang Sandra menggebrak meja membuat Erina yang bersandar lemas ke dinding sana bertambah tak berdaya.
"Masukan dia ke penjara!" perintah Pria itu emosi tapi Sandra tak mau kalah. ia melepas sepatunya dengan niat ingin memukul kepala pria ini tapi tangannya segera ditarik Erina.
"San!!"
"Apa??" sambar Sandra menyala-nyala menatap murka Erina yang memucat.
"Ini semua karna kau! kalau kau tak belagak baik menghalangi kemudiku tadi maka orang-orang sampah ini tak akan menemukan mobil kita!!" geram Sandra begitu tak bisa mengontrol rasa muaknya. ia kenal dengan semua petugas Polisi ini karna Sandra sudah berulang kali keluar masuk tempat ini.
"San! Please." lirih Erina sudah malu. Pak Yono menggeleng mendekati mereka dengan Rusel yang masih diam memandangi Sandra.
__ADS_1
"Nona! anda ini sangat berbeda dengan Nona Erina."
"Kau bilang apa??!" Sandra ingin menjambaknya tapi Rusel dengan cepat mendekat menahan tangan wanita liar ini.
Erina terpaku melihat sosok yang ia kagumi itu datang kesini. wajahnya tiba-tiba panas menghirup aroma Mind maskulin dari tubuh gagah Rusel.
"Kau..."
"Maafkan kesalahannya!" Rusel berbicara dengan Kepala Polantas disini dan dia adalah Kapten Juna yang tampak umurnya sama dengan Rusel tapi tubuhnya memang agak kurus.
"Kesalahan wanita ini sudah memenuhi buku panggilanku."
"Kau..." Sandra ingin menyambar tapi Rusel membenamkan wajah cantik galak itu ke dada bidangnya membuat Erina terdiam.
"Untuk kali ini!" tegas Rusel. Sandra ingin sekali memaki Kapten Juna yang selalu saja ingin memasukannya ke dalam penjara.
"Maaf, tapi kau tahu kesalahannya apa saja?!"
"Aku tak salah!" jawab Sandra emosi. namun, ia tak bisa bergerak dari dekapan erat Rusel ke kepalanya.
"Dia sudah 5 kali ikut balap liar di jalan Tol utama. melakukan perundungan di Kampusnya, membakar salah satu mobil di jalanan sampai memecahkan kaca-kaca Kampusnya dan kau tahu apa yang paling membuat kami ingin memborgolnya?" Kapten Juna menghentikan ucapannya menatap geram Sandra yang melotot tajam.
"Dia mencoret dinding Kantor ini dengan Cat minyak dan membawa teman-temannya membuang kotoran ke depan sini."
Rusel terdiam dengan pikiran menerawang. ia menatap Sandra dengan pandangan tak menyangka jika sosok wanita kecil ini mampu membuat kerusuhan sampai sebesar itu.
Sadar akan tatapan penghakiman Rusel pada dirinya, Sandra diam merasa jengkel.
"Kau ini memang hantu Club. jam 5 pagi kau masih ada disana, apa kau ini tak punya tempat tinggal?!" hardik Kapten Juna sungguh kepalang kesal.
"Kau jangan sok benar!!" geram Sandra kembali emosi menumpahkan air kopi di atas meja kerjanya menarik keterkejutan Erina yang langsung lemas sungguh depresi.
"Kauu!!"
"Keluar!" titah Rusel mendorong pelan Sandra ke arah pintu keluar. tapi, Sandra ingin menolak namun tatapan mengerikan Rusel membuatnya segera patuh melempar pandangan sinisnya pada Kapten Juna yang naik pitam.
"Dasar botak!"
"Kauu!!!"
Sandra sudah keluar dari ruangan ini setelah meledek Kapten Juna yang memang botak tapi manis. nafasnya terlihat memburu menahan luapan emosi.
"Tunggu saja. dia akan merasakan dinginnya jeruji besi ini."
"Abaikan dia kali ini!" tegas Rusel membuat Kapten Juna terdiam sejenak. dari aura dan pembawaan pria ini sepertinya sangat bertenaga dan penuh kekuasaan.
"Kau siapa?"
"Aku menjamin dengan nama dan diriku sendiri!"
Kapten Juna menatap intens Rusel. ia penasaran seberapa tampan pahatan dibalik masker sana, suara berat Rusel sangat seksi di dengar kaum wanita.
__ADS_1
"Jika dia melakukannya lagi?"
"Aku yang akan menerima hukumannya!"
Erina terperanjat dengan jawaban Rusel. respon yang ia pancarkan begitu tak percaya akan apa yang pria ini katakan.
"Tuan! aku tahu bagaimana sifat adikku, dia tak akan pernah Jera."
"Aku lebih tahu dia dibanding siapapun." jawab Rusel tanpa memandang Erina sedikit-pun. ia tetap terlihat berwibawah dan sangat bijaksana.
"Kau ini bicara seakan kau penting!" desis Kapten Juna penasaran.
"Iya atau Tidak."
"Maksudmu?" tanya Kapten Juna heran. Rusel diam tapi suara deringan ponsel Kapten Juna membuat perhatian pria itu tersita.
"Hallo! ada apa?"
"Kapten! kenapa tiba-tiba ada surat pencabutan profesi dari atasan kita?"
Degg...
Kapten Juna langsung menatap Rusel yang memandangnya begitu tajam dan dingin. gradasi manik kehijauan itu seakan mengatakan, jangan membantah atau semuanya akan lenyap dalam satu kedipan mata.
"Apa maumu?" tanyanya mematikan sambungan. ia mulai merasa kaku berhadapan dengan sosok ini.
"Cabut laporannya!"
"Baik!"
"Terimakasih!"
Rusel langsung melangkah pergi melewati Erina yang terbengong kosong. maksudnya apa? Kapten Juna yang tadi bersikeras kenapa bisa diam memucat seperti itu?!
"Dia itu siapa?" gumam Erina kebingungan menyusul Rusel ke luar ruangan sana.
Ia melihat Sandra sudah di bawa keluar diiringi salah satu pengawal Kediaman yang datang kesini.
"Nona! apa anda baik-baik saja?"
"Yah. kita pulang sekarang!"
Jawab Erina pergi ke arah pintu keluar. ia masih memandangi Rusel yang membawa Sandra masuk ke dalam Taksi walau terlihat jelas wajah ditekuk Sandra yang masih saja tampak cantik.
"Ada apa? Nona!"
"Tidak ada." jawab Erina menelan kebingungan dan tanda tanya di benaknya. bagaimana bisa Sandra bertemu dengan pria semisterius itu? ia sangat ingin tahu dan dekat dengannya.
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1