
Semuanya hening. Ucapan Raja Mikes yang berdiri di depan pintu sana membuat kekosongan bagi sosok wanita bermanik hitam itu. wajahnya seketika berubah kosong dengan tatapan yang menerawang kemana-mana.
Tentu tanpa sadar air matanya keluar tanpa di pinta. ini seakan mimpi baginya.
"Kau menikah dengan Putra Mahkota Kerajaan ini. jika sesuatu terjadi, maka kau harus siap menerimanya." ujar Raja Mikes membuat tangan Rusel terkepal. Ia beralih menatap tajam Ayahnya dengan guratan yang Sandra tak mengerti.
"S..Sel!"
"Aku tak akan melakukannya." jawaban Rusel menarik amarah Raja Mikes yang seketika mendidih mendengar jawaban egois Rusel.
"Kauuu..."
"Aku tak bisa." ujar Rusel menggenggam tangan Sandra yang dingin. ia bisa merasakan jika wanita ini sangat takut bahkan terkesan terkejut.
"Kau ingin Kerajaan ini di ambil alih. ha? selama ini sudah ku katakan padamu agar membuat kerja sama yang pasti. hanya dengan pernikahannya kita bisa mengikat mereka!!"
"Tapi aku sudah menikah." bantah Rusel lagi merasa tak adil. ia sendiri juga tak mau melihat Kerajaan dan Rakyatnya hancur tapi ia lebih sakit melihat Istrinya terus menangis.
"Feliks! kau tahu bukan aturan seorang Bangsawan?"
"Aku..."
Rusel ingin menyela tapi cengkraman tangan Sandra ke jarinya menguat hingga Rusel beralih menatap manik berair itu.
"S..Sudah!"
"Kau..."
"Bersihkan dirimu dulu. lalu makan. a..aku sudah lapar." jawab Sandra dengan suara bergetar yang ia sembunyikan. nafasnya berusaha stabil walau dada itu tengah di penuhi kesesakan yang membukit.
"Ayo!" ajak Sandra lagi saat keduanya diam. Raja Mikes tak bersuara begitu juga Rusel yang terlihat menatap intens wajah cantik sendu istrinya.
"Kenapa diam? kau tahu. ini sudah jam berapa? aku belum makan apapun."
"Hm." Rusel mengangguk kaku saja berdiri lalu menggendong Sandra ringan. ia melewati Raja Mikes yang diam melempar pandangan kearah kekacauan yang telah di buat putranya.
"Sampai kapan ini akan turus berlanjut?"
Suara wanita di belakang sana terdengar tegas tapi menyimpan luka. Raja Mikes hanya diam dengan kedua tangannya terkepal erat.
"Tak ada wanita yang sanggup di duakan."
"Ini jalan terbaik."
"Baik bagimu!" jawabnya lagi. Ratu Bellarosa mendekati Raja Mikes yang masih berdiri tegap dengan pandangan datarnya. ntah ia manusia atau bukan hanya dialah yang tahu.
"Kau ingin membuat Bella yang kedua?"
__ADS_1
Kepala Raja Mikes tertunduk saat mendengar itu. terlihat jelas keangkuhan yang ia junjung sekarang jatuh hanya dengan wanita ini.
"Bella yang kau tukar dengan seorang lacur."
"Kau..."
"Aku ingin pergi dari sini." sela Ratu Bellarosa sama sekali tak menangis. ntah air matanya ada atau tidak, atau mungkin ia memang sudah terbiasa.
"Ku lepas mahkotaku karna ini sangat berat di kepalaku!"
"Kembali ke kamarmu." geram Raja Mikes menatapnya membunuh tapi Ratu Bellarosa tak gentar. ia sudah sangat lelah dengan kehidupan aneh ini.
"Kau tersinggung?"
"Ini bukan keegoisan! kalau tak di lakukan maka semuanya bisa hancur." jawab Raja Mikes mengundang kekehan kecil dari Ratu Bella.
"Yang Mulia Terhormat! aku bisa menikah lagi menggantikan menantuku!"
"BELLA!!!" bentakan menggeleggar Raja Mikes seakan menjadi raungan di Istana ini. mereka mulai ketakutan termasuk penjaga di luar yang mendengarnya.
"KAU tak serendah itu."
"Tapi, kau yang membuktikan pada dunia kalau aku sangat rendahan." jawab Ratu Bellarosa tersenyum simpul. Ia tak ingin jika nasibnya akan terulang pada Sandra yang jelas wanita yang spesial di hidup putranya.
Ia di hina dengan menerima kenyataan jika Suaminya telah menikah tanpa persetujuannya bahkan, kerap pergi kekamar wanita itu. hati siapa yang tak sakit melihatnya?
"Terserah padamu." umpat Raja Mikes lalu melangkah pergi membawa amarah yang jelas terlihat menakutkan. Ada ego yang besar tengah membatasi hubungan keduanya.
Tentu sedari tadi Sandra mendengarnya. Ia berdiri di samping ruangan yang agak tersembunyi dari pintu utama. tadinya Sandra juga penasaran saat melihat Ratu Bellarosa di dekat pintu apalagi pandangan wanita itu sangat berbeda.
"Non!" lrih Guren yang tadi menemani Sandra karna Ketuanya tengah ke atas.
"A..aku tak tahu.." gumam Sandra menyandarkan kepalanya ke dinding. nyatanya pengorbanan Ratu Bellarosa pada Kerajaan begitu besar. tapi, wanita itu tetap kuat dan sangat tangguh sampai sekarang.
"Nona! aku yakin Ketua tak akan melakukan itu."
"Aku.. "
"Kau menangis?"
Sandra segera diam saat Ratu Bellarosa ternyata sudah ada di dekat Pilar sana. tatapan wanita itu terkesan sangat dingin membuat Sandra diam.
"Yang Mulia!" Guren menunduk.
"Menangislah. tapi, cari tempat yang sunyi." ucapnya masih tegas dan tenang. Sandra benar-benar tak mengerti apa yang tengah di maksud wanita ini padanya.
"I..Ibu. kau.."
__ADS_1
"Habiskan air matamu. itu sangat memalukan."
"Bu! maksudmu apa? apa kau juga mau aku.."
Sandra tak mampu melanjutkan ucapannya. Ia tak pernah rela berbagi suami apalagi Rusel sangat berarti baginya.
"Aku tak tahu." jawab Ratu Bellarosa
"K..kau..."
"Pikirkanlah sendiri! jika kau tak kuat untuk apa disini. hm?"
Mendengar ucapan Profokatif Ratu Bellarosa. Guren mulai tak nyaman melihat tekanan di wajah Nonanya.
"Yang Mulia! maaf, tapi sebaiknya anda jangan mengatakan itu!"
"Apa aku salah?" tanya Ratu Bellarosa terkesan mengiring pikiran Sandra ke sana.
"Untuk apa kau disini? Suamimu saja tak memilihmu."
Sandra menatap lama manik indah tegas Ratu Bellarosa yang memang sangat misterius. sedari awal berjumpa ia tak pernah tahu bagaimana karakter wanita ini.
"Seorang bangsawan. kau sangat tak beruntung mendapatkannya."
"Yang Mulia!" gumam Guren tak tahu lagi cara menghentikan perkataannya.
"Mereka akan mementingkan Rakyat dan Kerajaannya dari pada kau. mereka sudah bersumpah sedari kecil." ucap Ratu Bellarosa lalu melangkah pergi meninggalkan Sandra dalam kurungan pikirannya sendiri.
Ia menatap perut besarnya yang sebentar lagi akan melahirkan buah cinta mereka. tapi, apa aku sanggup? apa aku bisa melihatnya dengan orang lain?
"Nona! jangan kau dengarkan ucapan Ratu Bella. dia hanya bercanda."
Sandra hanya diam. rasanya ia ingin segera melupakan kejadian beberapa menit ini tapi kenapa semakin ia mencoba untuk baik-baik saja maka rasa sakit itu terus menusuk hatinya.
"A...aku tak tahu."
"N..Non!" lirih Guren ingin memeggang bahu Sandra yang bergetar. wanita ini bertopang pada dinding di sampingnga menahan bobot tubuh yang lemas.
"A..aku tak tahu. Guren! a..apa yang harus ku lakukan. a..aku tak tahu." gumam Sandra terlihat kebingungan. Saat ini ia hanya ingin ketenagan yang tak kunjung hadir.
Aku ingin egois. aku ingin kau hanya bersamaku dan anak kita, Sel! apa aku salah? apa k..keinginan itu sangat besar untuk terwujud?
Sandra perlahan melangkah pelan ke arah tangga kamarnya. hatinya berdenyut melihat para pelayan yang sibuk mengganti Karpet merah yang baru.
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1
Maaf ya baru skrg Up.. author banyak tugas tadi..