
Pintu kamar itu langsung terbuka. penampakan menjijikan mulai terlihat dimana lantai kamar di penuhi bangkai kumbang yang tercerai-berai serta beraroma busuk.
Belum lagi dengan lampu pecah dan perabotan kamar terobrak-abrik seperti baru saja terkena gempa.
"Kumbang ini." gumam Rusel menyusuri setiap sudut kamar Sandra. tumpukan bangkai lalat yang terlihat menjijikan dan begitu busuk inilah yang mungkin membuat Sandra kesusahan bernafas.
Namun. Rusel terdiam melihat ranjang tempat tidur Sandra di penuhi kotoran. Rahangnya mengetat menduga siapa yang telah melakukan hal seperti ini.
"Penunduk serangga!" gumam Rusel lalu kembali ke depan pintu dimana bawahannya sudah datang berjumlah 2 orang.
"Ketua!"
"Panggil dia kemari!" titah Rusel membuat Simob dan Guren mengangguk melesat pergi sesuai titahan Ketuanya. mereka melesat kearah tempat pelatihan dimana suara riuh dari pelatihan sengit antar daerah Kulfun itu masih terdengar semakin ramai.
"Yeah!!! Asrama Kulfun!!"
"Asrama di pesisir!!!"
Teriak mereka begitu sangat bersemangat. Simob dan Guren mencari Guru Ikana yang terlihat berbicara dengan para petinggi lainnya menanggapi para peserta di depan sana.
"Guru Ikana! anda sangat mahir melatih anak-anak Asrama-mu." puji Guru Marta menarik senyum kilas Guru Ikana yang hanya mengangguk memperhatikan lapangan pelatihan.
Tetua Herdan menatap para bawahan kepercayaan Rusel itu dengan rumit. apa terjadi sesuatu sampai Rusel mengutus Simob dan Guren?!
"Guru Ikana!" panggil Simob menyentak Ikana yang langsung menoleh.
"Kalian?"
"Ketua Rusel menunggu!"
Raut wajah Ikana berubah. ia yang tadi bosan diam disini seakan mendapat siraman batin ketika mendengar ucapan dua anak buah kepercayaan Rusel ini.
"Dia dimana?"
"Ikuti kami!"
Ikana mengikuti langkah kedua pria muda itu. Tetua Herdan meliriknya sejenak berfikir tenang lalu kembali fokus pada acaranya. Ia yakin Rusel tak akan melakukan hal gegabah secepat ini.
Ikana yang tengah melangkah keluar Asrama tak berhenti tersenyum menduga apa yang akan Rusel katakan atau lakukan padanya.
Apa Ketua akan mengajakku berjalan bersama? atau dia akan menyatakan sesuatu di hari spesial ini? pikir Ikana merasa malu akan apa yang ada di benaknya.
Memang heran rasanya Rusel memanggil diluar area kerja. tapi, Ikana hanya berharap jika Rusel mau membuka jalan untuknya.
"Kenapa ini ke penginapan wanita?" tanya Ikana mulai merasa aneh melihat jalan ke penginapan Sandra.
"Ketua menunggu anda. jadi cepatlah!" jawab Simob tak mau memperjelas.
Akhirnya Ikana mengerti menurut saja sampai melangkahi koridor lorong penginapan Sandra yang sunyi.
"Dimana dia?"
"Didalam!" Guren menunjuk pintu kamar Sandra. Ikana segera melangkah kesana dengan jantung berdebar. apa Ketua akan tahu aksinya semalam? kenapa harus ke kamar Sandra?
"Ketua!"
Sapa Ikana sudah berdiri di depan pintu. Mata tajamnya menatap ngeri punggung kekar tinggi Rusel yang membelakanginya dengan aura tak biasa.
Bangkai lalat dan kumbang ini membuat Ikana bersiaga. Ia tak bisa bersikap gegabah pada orang seperti Rusel.
"Masuklah!"
"Baik!"
Ikana masuk dengan spontan pintu itu tertutup oleh desiran angin yang tiba-tiba menguat. Ikana hanya diam menahan aroma busuk dari bangkai serangga ini.
"Ketua! kenapa dengan tempat ini?" Ikana pura-pura tak mengerti.
"Apa kau amnesia?"
Rusel berbalik dengan manik hijau membunuh itu membuat nafas Ikana tercekik. hembusan angin itu menerpa wajahnya yang kaku berusaha menyalakan nyali.
"Ketua! apa maksud anda?"
__ADS_1
"Bukankah hanya kau yang bisa mengendalikan semua ini?!" tanya Rusel dengan suara mengintimidasi tapi masih setenang air. tak ada pergerakan yang begitu terlihat dari tubuh kekarnya.
"Aku memang bisa melakukannya. tapi, bukan berarti ini seranggaku. Ketua!" tegas Ikana masih belum mengaku.
"Aku tak mengatakan ini karnamu."
Degg...
Ikana tercekat liurnya. kedua tangannya mencengkram pinggiran celana pelatihannya dengan raut berusaha tenang.
Siall.. dia selalu bisa mempertahankan ketenagan dan memainkan pikiran.
"Ketua! secara tak langsung kau berkata seperti itu."
"Kau merasakannya?"
Ikana sekali lagi diam. Kakinya mulai merasakan dinginnya lantai kayu ini seakan energi dari bawah menyerangnya. Keduanya sama-sama memiliki tenaga dan energi alam yang begitu dikuasai dalam masing-masing keahlian.
Krekk...
"Aass!!" Ikana terpekik hebat saat papan di bawah patah langsung menjepit kakinya dengan kuat. bahkan, serpihan kayu itu menusuk betisnya sampai berdarah.
"K..ketua.." lirih Ikana menggeram sakit mencoba lepas. ia akui jika kekuatan Rusel memang sangat besar dan masih misterius. tapi, jika kakinya tak segera lepas bisa saja ia mengalami patah tulang.
"Sakit? takut?" tanya Rusel mengepal semakin membuat serpihan kayu itu menusuk dalam ke daging betis Ikana yang menggeram menahan sakit.
"K..ketua! apa yang kau lakukan. ha?"
"Kau yang bisa mengendalikan serangga ini! jika mereka mengusik orang lain, itu tanggung jawabmu." tegas Rusel tak menyangkut pautkan dengan urusan Sandra sekalipun. sangat begitu hati-hati.
"Ketua! aku minta maaf, tapi bisa saja ada pengguna dari luar." bantah Ikana mencoba lepas tapi jepitan ini sangat kuat membuat Simob dan Guren melihat itu dari luar sana hanya bisa diam.
Ikana mencoba melawan dengan tenaga dalamnya meringankan muatan kayu ini tapi tak bergerak sedikit-pun. Rusel menambah tekanan ke arah belakang sampai kedua kaki Ikana terjepit kuat sampai berdarah.
"Ketua! kau tak bisa melakukan ini."
"Hal yang tampak bukanlah sesuatu yang sebenarnya" desis Rusel lalu menghempaskan tangannya membuat angin itu menyapu setiap bangkai di lantai sana lalu terlempar ke arah Ikana yang terkejut.
"Kau seorang Guru disini. jangan sampai namamu akan terukir di batu terkutuk di kaki gunung." tekan Rusel begitu mengancam tegas disertai sorot mata mencekam.
"Akan ku lakukan apa yang menurutku benar!" jawab Ikana begitu tegas.
"Lakukan! nasibmu ada ditanganmu sendiri."
Rusel melewati Ikana dengan wajah angkuh yang begitu tak memandangnya. Semua itu menjadi pemantik api bagi Ikana yang tahu jika Rusel tak akan bisa membunuhnya secepat ini.
"Tak sia-sia segala pengaruh-ku disini." gumam Ikana merasa lega karna memiliki cela untuk bertahan. Semua orang di Kulfun mengenalnya dan akan sulit menyingkirkannya di mata masyarakat sedangkan Rusel memang begitu dihormati tapi jika sampai memberi kekecewaan maka akan di hantam oleh tanggung jawabnya.
........
Para warga di jalan sana tak berani menyapa saat raut wajah tampan Rusel sangat berbeda dan mengintimidasi mereka. pria itu berjalan dari kejahuan melewati jalan sunyi yang hanya dia yang hanya untuk kebutuhan cepat.
"Ada apa dengan. Ketua?"
"Ntahlah. kenapa dia jadi aneh begitu?"
Mereka semua tak mengerti. biasanya Ketua Rusel begitu tenang dan mau memandang mereka selayaknya pemimpin. tapi yang lewat kali ini tak ingin mereka sapa karna tak punya keberanian.
"Ketua! Nona Sandra sudah sadar, dia mencari anda." ucap Simob melangkah di bekakang Rusel yang mempercepat jalannya.
Guren mengamankan situasi disini bisa saja ada orang-orang yang mencari masalah dengan suasana hati Ketuanya yang buruk.
Setelah berpacu dengan waktu. Rusel sampai ke Rumah Paman Jo yang beberapa jam ini ia tinggalkan.
"Kami menunggu di luar. Ketua!"
Rusel hanya diam menerobos masuk kedalam Rumah tak terlalu besar itu. Ia melihat Bibik Antika tengah berbicara dengan Paman Jo di depan kamar tadi.
"Paman!"
Keduanya menatap Rusel dengan lega.
"Pergilah ke dalam. sedari tadi dia diam, kami khawatir padanya." ucap Paman Jo membuat Rusel segera menyibak tirai kamar.
__ADS_1
Lagi-lagi ia di hadapkan dengan sosok rapuh yang tampak menangis memunggungi arah pintu. punggungnya bergetar dengan suara isakan tertahan.
Sandra tak mampu membendung rasa sesaknya. Kejadian malam ini membuktikan jika ia benar-benar di benci semua orang, ia tak dibutuhkan dimana tempat.
"P..pulang. aku ingin pulang."
Rusel diam mengambil nafas dalam mempersiapkan dirinya dan barulah ia mendekat. Rusel duduk di samping Sandra yang masih terisak membelakanginya.
"M..mama.."
"Berhentilah menangis."
Sandra langsung menoleh ke arah suara. Matanya terpaku dengan manik kehijauan bak serigala milik Rusel yang begitu membuatnya rumit.
"K..kau..."
"Kau jelek jika menangis." bujuk Rusel mengusap air mata di kedua sisi pipi lembut Sandra. bibirnya bergetar seperti biasa seperti melepaskan rasa takutnya.
"K..kau datang?"
"Maafkan aku!"
Rusel menarik Sandra masuk ke dekapan hangat dan amannya. Tangis Sandra pecah kembali bersandar ke dada bidang berbalut kaos ini.
"A..aku ingin pulang. ini..ini bukan tempatku, hiks! aku...aku sering di ganggu seperti ini, aku ..aku hampir gila dengan hal aneh ini ! antarkan aku pulang!" pinta Sandra sudah tak mau ke kamarnya.
"Sandra!"
"A..aku mau menelfon Papaku! dia.. dia pasti mengerti." ucap Sandra tersedu tak kuat lagi tinggal disana. Hampir setiap malam ketika tak ada Rusel maka akan terus terjadi hal-hal yang menakutkan dan yang semalam itu sangat mengerikan.
"Kau tenanglah dulu!"
"T..tidak bisa, aku..aku tak mau tinggal disana. aku tak mau." Sandra menggeleng menolak untuk di kirim lagi kesana.
Rusel tahu akan rasa takut wanita awam seperti Sandra. hal-hal misterius disini memang sangat mengerikan bagi orang luar.
"Aku ..aku tak mau. jika disana itu.."
"Jangan takut! mereka akan senang jika kau takut." tegur Rusel mengusap keringat dingin di kening Sandra yang diam dengan hidung merah dan mata sembab.
"M..maksudmu?"
"Kau yakin Papamu akan setuju menarik-mu pulang jika masih seperti ini?!"
Sandra diam. ia ingat ucapan Papa dan Mamanya bagaimana, ia tak akan bisa keluar jika sikapnya sudah berubah.
"Tapi..tapi aku sudah tak tahan." gumam Sandra menunduk memeluk erat pinggang kokoh Rusel yang menjadi tempat ternyaman baginya.
Rusel-pun mengerti. berat bagi Sandra menjalaninya tapi beginilah Kulfun. banyak ilmu-ilmu terlarang yang dipelajari disini.
"Lalu kau mau bagaimana? kau ingin pulang ke Kota?"
"Iya. tapi.." Sandra menatap Rusel yang juga memandangnya. Tiba-tiba saja hati Sandra berat saat melihat manik kehijauan ini.
Kenapa rasanya begitu enggan? tadi aku ingin pergi dari sini.
Batin Sandra berkecamuk hebat. Kalau ia pergi maka kecil kemungkinan akan bertemu Rusel lagi. padahal ia sudah biasa dengan pria ini.
"Baiklah. jangan khawatir. aku akan urus soal Papamu, kau bisa terbang ke sana malam nanti." ucap Rusel mengusap kepala Sandra yang diam dilanda bimbang.
"Sekarang kau istirahat. perjalananmu akan panjang nanti malam." sambung Rusel merapikan rambut Sandra yang sedikit berantakan.
Rusel membaringkan Sandra kembali ke tempat tidur. manik hitam legam itu tak lepas dari wajah tampan Rusel yang selama ini dingin membosankan. tapi penuh perhatian.
"Istirahatlah!" ucap Rusel lalu ingin beranjak pergi tapi tangannya langsung di cengkal Sandra.
"Apa kita akan bertemu lagi?"
Rusel diam tak menjawab untuk sesaat. jantung Sandra mulai berdenyut sakit sendiri saat Rusel menoleh dengan raut tegasnya.
"Tidak. jika aku membawa hal buruk untukmu."
Degg...
__ADS_1
......
Vote and Like Sayang..