Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Persaingan Tahta!


__ADS_3

Ruangan itu tengah di penuhi para petinggi kerajaan yang langsung mengadakan pertemuan membahas persoalan yang telah Rusel lakukan.


Perdana Mentri Cerres tampak menjelaskan apa saja dampak dari Pernyataan Rusel pada hari itu dan bagaimana respon masyarakat terhadapnya.


"Negara lain mengolok tentang kebijakan Kerajaan Dezon karna Putra Mahkota Feliks melakukan pernikahan tanpa seizin Yang Mulia. serta melanggar peraturan yang selama ini berakar di Kerajaan. Tuan Berlen dari Prancis mengatakan kalau tindakan Putra Mahkota terbilang lancang dan tak terhormat." jelasnya membacakan laporan yang sudah di kumpulkan.


Tatapan tajam Raja Mikes pada Rusel tak terhindarkan. terlihat jelas pria itu tengah menahan emosi yang tengah meluap-luap.


"Kau puas?" suara menahan geram.


"Aku mengaku salah. Yang Mulia!" jawab Rusel tegas dengan kepala masih tak menunduk. Mentri Ozeey yang melihat itu hanya diam merasa ini terlalu sulit di kendalikan.


"Apa kau tak berfikir sebelum melakukan ini semua?! lihat Citra Kerajaan yang tercoreng serta kau telah menjatuhkan harga diri Tahtamu."


"Aku siap menerima hukuman atas itu." tegas Rusel mengakui kesalahannya. ia tahu ini akan terjadi jika ia kembali maka konflik Eksternal dan Internal Keluarga Kerajaan tak akan bisa di hindarkan.


"Karna sikapmu yang ceroboh, kau membuka jalan musuh Kerajaan untuk merebut semua sumber Ekonomi tempat ini. daerah Jarlen telah di masuki pemberontak hingga separuh warga disana hampir terbunuh dan Perusahaan Mekanik Man milik Kerajaan juga hampir di alih kuasa. kau tak memikirkan itu?"


"Aku akan berusaha untuk menyelesaikannya. Yang Mulia!"


Raja Mikes menghela nafas dalam. keadaan Politik sekarang tengah berkecamuk, ia hanya mencemaskan satu hal yang akan terjadi nantinya.


"Tinggalkan aku dan Putra Mahkota!"


"Baik. Yang Mulia!"


Perdana Mentri Cerres mengiring semua petinggi keluar meninggalkan ruangan megah bernuansa Roma ini. saat pintu tertutup maka disitulah Rusel tengah di hantam manik dingin Ayahnya.


"Kau tahu bukan ini saja yang telah terjadi." geramnya lagi tak bersahabat.


"Aku akan menyelesaikannya."


"Tapi, apa kau pikir ini akan hilang di ingatan mereka?!"


Rusel diam. ia tahu maksud Ayahnya bagaimana karna memang Pelantikannya sebagai Raja Dezon akan di mulai beberapa bulan lagi.


"Kau membuka peluang besar bagi lawanmu untuk segera menunjukan kemampuannya dalam memimpin." ucap Raja Mikes dengan pemikiran menerawang.


"Dia sudah bergerak lebih dulu membantu rakyat yang tengah mengalami bencana atas ulahmu."


"Lucas!" gumam Rusel datar.


"Ia sudah bergerak sangat cepat sedikit menggeser semua citramu. kalau di biarkan begini terus maka Tahta Kerajaan akan jatuh ke orang yang bukan berasal dari darahku."


Rusel menatap raut kejam Raja Mikes dengan rumit tapi tenang. ia mengerti kekhawatiran Ayahnya tapi ia tak berniat untuk saling menghancurkan.


"Dia adalah sepupuku! jika dia memiliki kemampuan, kenapa harus di rusak?!"


"FELIKS." tekan Raja Mikes membuat Rusel terdiam. aura disini semakin dingin bahkan sangat tak bersahabat.


"Kau bukan anak kecil lagi. Politik di Kerajaan sangat kejam. mereka juga akan menyingkirkanmu dengan cara apapun."


"Apa yang mau kau katakan?" tanya Rusel tahu kemana arahnya.


Raja Mikes menegakkan tubuh dengan angkuh dan pandangan benar-benar berwibawah. terkadang, untuk mempertahankan sesuatu di butuhkan pengorbanan yang besar.


"Kau harus membunuhnya!"


"Tidak!"


Tegas Rusel menyambar yakin. Pandangan keduanya beradu menciptakan bara panas yang tengah menyala-nyala di ruangan ini.


"Kau ingin mati?"


"Yang Mulia! aku percaya dengan kekuatanku dan hanya orang lemah yang melakukan kecurangan."


"Tapi, kau sudah terpojok. Feliks." bantahnya sangat tak bisa menebak jalan pikiran putranya satu ini. Biasanya Rusel selalu menurutinya dan sekarang dia sudah semakin keluar aturan.


"Lucas memang sudah bergerak cepat tapi bukan berarti aku harus menjadi pecundang takut padanya."


"Feliks! keadaan sekarang yang memaksamu untuk melakukannya. Kau sudah menjadi bualan masyarakat dan mau tak mau kau juga harus melawan Lucas untuk mundur ke Tahta Putra Mahkota." .

__ADS_1


Rusel menghela nafas dalam. ia sudah muak dengan persaingan gila ini tapi mau tak mau ia juga harus memperjuangkan Gelar itu karna Keluarga Lucas memang punya niat menguasai dengan rakus.


"Kau pilih, kau yang memimpin dengan caramu atau mereka yang seenaknya."


Raja Mikes langsung berdiri lalu melangkah pergi meninggalkan Rusel yang tengah berfikir keras. ia juga sangat perduli pada rakyatnya dan jika ia gagal maka akan banyak orang yang tercampakan nantinya.


"Ketua!"


Simob datang bersama Mamond yang merupakan kaki tangan Rusel disini. dua orang kepercayaannya itu mendekat sepertinya ingin menyampaikan sesuatu.


"Tuan Lucas memang sudah mengambil alih beberapa wilayah yang anda tinggalkan. Yang Mulia! dia juga membentuk banyak program yang memudahkan masyarakat yang terkena bencana pemberontakan itu."


"Lanjutkan." titah Rusel mendengarkan penjelasan Mamond yang sudah mengumpulkan semua data.


"Dari laporan anggota kita. Tuan Lucas berencana untuk membuat Benteng pertahanan serta organisasi antar daerah agar bisa memantau pergerakan Pemberontak. usahanya cukup efektif sampai terdengar ke Meja Orpens semua Negara yang bekerja sama dengan Kerajaan Dezon. 5% dari mereka menyetujui jika Tuan Lucas menjadi Raja Dezon dan selebihnya masih memilih anda."


"Pergilah!" ucap Rusel membuat Mamond mengangguk pamit pergi. tinggallah Simob yang mengerti posisi Ketuanya bagaimana sekarang.


"Ketua! kau masih punya 95% peluang besar. dia hanya mengambil sedikit bahkan itu tak berarti bagimu."


"Tak hanya itu." gumam Rusel menatap lurus kedepan. bukan pergerakan Lucas yang ia pikirkan tapi keadaan masyarakatnya jika nanti sampai termakan pancingan para penjilat itu.


"Aku tak masalah siapapun yang menduduki Tahta itu asalkan dia punya potensi dan tanggung jawab. tapi, jika ada pihak lain yang ada di balik layar maka semua rakyatku terancam."


Simob diam. ia sangat salut pada Ketuanya yang selama ini tak pernah berbuat kotor untuk mengambil hati Rakyatnya, seluruh wilayah Kerajaan Dezon ada di genggamannya dan tentu tak ada pemimpin yang lebih baik dari seorang RUSEL FELIKS DEZON.


"Bagaimana dengan istriku?" menggeser perhatian.


"Nona menghabiskan waktunya mengelilingi Istana Selatan di dampingi Guren. Ketua!"


"Hm."


Rusel berdiri lalu melangkah tegas keluar dari ruangan mewah ini. Pintu besar berukiran relief indah itu terkesan sakral dan sangat cocok meredam semua kharisma orang-orang di dalamnya.


"Yang Mulia!"


Beberapa pelayan dan penjaga menyapa Rusel yang hanya mengangguk datar melangkah menuju Istana Selatan. sudah setengah hari ia meninggalkan Sandra yang pasti tengah kelayapan.


Rusel terhenti di dekat Koridor Istana di kala suara yang ia kenal itu muncul. wajahnya bertambah dingin tak menoleh sama sekali.


"Salam, Yang Mulia!"


Rusel tak menyahut membuat wanita berambut ikal itu mendekat dengan begitu anggun. Simob sampai mau muntah karnanya.


"Prince! selamat atas kepulangan anda."


"Hm." Rusel ingin melangkah tapi Putri Anatasya langsung menyelanya hingga nyaris keduanya berbenturan tapi beruntung Rusel sigap mundur dengan wajah mengeras.


"M..maaf, Prince!" ucapnya malu.


"Aku tak punya waktu untukmu."


"A.. maksudku. aku.."


Rusel langsung melewatinya begitu saja bersama Simob yang menyeringai sinis. Putri Anatasya menggeram melihat kebekuan Rusel padanya.


"Aku kurang apa hingga Putra Mahkota tak melirikku? aku cantik dan juga dari Kerajaan. bahkan aku lebih bermartabat dari Putri seorang Jendral murahan itu." umpat Putri Anastasya lalu membuntuti kepergian Rusel yang sepertinya menuju ke Istana Selatan.


"Apa yang dia lihat dari situ?!" gumamnya bersembunyi di balik pilar saat melihat Rusel tengah berdiri di tepi Koridor dengan wajah datar yang begitu lembut menatap ke arah depan Taman Kerajaan sana.


"Dia itu sangat tampan. tapi, kenapa tatapannya selembut itu?" gumam Putri Anatasya di kala melihat Rusel merentangkan tangannya pada sesuatu.


"Seeel!!!!"


Degg...


Putri Anatasya terkejut melihat Sandra yang langsung masuk ke dalam dekapan hangat dan kokoh milik Rusel. tangannya seketika mengepal melihat betapa nyamannya itu.


"Sel! akhirnya kau datang kesini."


"Sepertinya kau terlihat bahagia." ucap Rusel mengusap kepala Sandra yang membawa rangkaian bunga mawar yang tadi ia kumpulkan bersama Guren di belakang sana.

__ADS_1


"Yah. Kerajaan ini sangat luas sampai kakiku pegal berjalan terus."


"Benarkah?"


Sandra mengangguk mengerucutkan bibirnya tentu Rusel tak segan lagi untuk melayangkan kecupan kilas membuat Anatasya hampir mau tumbang di kejahuan sana.


Simob dan Guren hanya tersenyum malu. walau tak hanya sekali mereka melihat kedua manusia ini bermesraan tapi ntah kenapa masih saja merasa meremang.


"Sel! Babynya lapar."


"Baby atau kau?" tanya Rusel menaikan alisnya menggoda Sandra yang tersenyum kecil karnanya.


"Dua-duanya Lapar!"


"Baiklah. kalian bawakan makanan itu kesini."


Titah Rusel pada Simob yang mengangguk mengisyaratkan Guren untuk ikut. bisa saja mereka akan jadi nyamuk yang menganggur lagi.


Sekarang. tinggallah keduanya yang masih berpelukan seakan tak ada hari esok untuk melakukan ini.


"Apa ada masalah?" tanya Sandra merasa sedari tadi keadaan disini panas dingin.


"Tidak ada."


"Kau yakin?" memastikan dengan benar. ia merasakan kegundahan Rusel yang hanya selalu diam dan tenang.


"Walaupun ada. ini akan selesai secepatnya."


"Apa Ayahmu marah?" lirih Sandra kecil karna tatapan Raja Mikes padanya sangat tak bersahabat. ia cemas jika kehadirannya akan membuat masalah Rusel bertambah rumit.


"Jelas dia marah!"


"Sel! kau .."


"Suttt!!"


Rusel membenamkan wajah Sandra ke dada bidangnya. ia hanya butuh kehadiran wanita ini maka masalahnya-pun akan terasa lebih ringan.


"Jangan dengarkan apapun. abaikan mereka yang ingin mengusir-mu dari sini."


Sandra terdiam sejenak. jelas ia rasakan pelukan Rusel menguat bahkan ini terasa sangat rumit di jabarkan.


"Sel!"


"Hm?"


"Tadi ada yang memberikan ini padaku."


Sandra mengeluarkan sesuatu dari balik Mantelnya. sekuntum bunga mawar biru dan juga hitam yang di ikat oleh akar dedaunan. sangat cantik dan anggun.


"Siapa yang memberikannya?"


"Ntahlah. dia tadi bilang kalau mau jadi temanku." jawab Sandra seperti tak terlalu meladeninya. ia lebih asik menyentuh jakun jantan Rusel yang menggairahkan.


Tapi, Rusel. ia kenal dengan aura yang di simpan di kelopak bunga ini hingga matanya langsung menatap ke sekitar tempat yang tengah sunyi.


"Apa dia menyakitimu?" terdengar geram.


"Tidak. dia hanya lewat dan memberikan itu, aku pikir sayang kalau di buang jadi aku menyimpannya."


"Kau mencium aromanya?" tanya Rusel intens membuat Sandra keheranan.


"Tidak. aku hanya menyimpan di.."


"Ikut aku!"


"S..Sel! ada apa?"


Rusel hanya diam membawa Sandra menuju kearah dalam Istana. Sandra yang bingung hanya mengikuti saja kemana Rusel membawanya.


...

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2