
Ucapan Sandra barusan membuat Rusel terdiam dengan wajah datarnya terpaku kosong. Antara senang tapi juga merasa kesal karna ia akan kembali di hadapkan dengan cobaan terbesar lelaki ini.
Melihat respon Rusel yang seperti menyembunyikan sesuatu. Sandra langsung menyipitkan matanya dengan tajam.
"Kenapa? kau mau tidur di kamar si penyakitan itu?"
"Tidak!" tegas Rusel masih tenang tapi ia mengambil segelas air di atas meja lalu meminumnya tandas menarik rasa curiga Sandra.
"Kau jangan bohong!"
"Aku tak berbohong, hanya saja.."
Rusel menjeda ucapannya lalu memandang Sandra dengan penuh tekanan dan aturan.
"Kau jangan sembarang melakukan apapun di hadapanku!" sambung Rusel memperingati. Dahi Sandra mengkerut bingung, maksudnya apa? ia tak mengerti.
"Apa? kau bicara memakai bahasa Sansekerta jutaan tahun yang lalu. aku tak mengerti." kesal Sandra selalu saja tak paham dengan ucapan Rusel.
"Kau tak sadar?" tanya Rusel membuat Sandra semakin merasa frustasi.
"Sel! kau mau main tebak-tebakan jangan denganku."
Rusel tak lagi bicara. ia tak mau menjelaskan secara detail karna ini agak sensitif. bisa saja Sandra salah paham soal maksudnya nanti.
"Kau selalu saja bicara setengah-setengah. jangan membuatku mati penasaran!!" geram Sandra emosi.
"Kau tahu?"
"Apa?" tanya Sandra begitu sangat ingin tahu. Rusel mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka bersentuhan dan bibir Rusel nyaris menyentuh bibirnya.
Posisi ini membuat jantung Sandra mau meloncat keluar dengan rasa panas di wajahnya menggelora.
"K..kau..."
"Aku lupa!" bisik Rusel lalu menjauhkan wajahnya.
Sandra mengepal dengan mulut tertutup rapat dan raut wajah berapi-api melahap wajah tampan Rusel dari manik hitam legam itu.
"Lupa?"
"Hm. kenapa?"
"Kau tahu?" tanya Sandra berdiri mendongak menatap Rusel yang tak gentar sama sekali. keduanya tak mau mengalah sampai tangan Sandra melayang mencubit pipi Rusel yang terhenyak.
"Sandra!!!" desis Rusel menahan sakit tapi Sandra begitu sadis sampai menarik pipinya dan baru melepas sampai wajah tampan itu merah.
"Rasakan!"
"Kau ini apa-apaan. ha?" gumam Rusel mengusap pipinya nyeri. Sandra tersenyum pelit menepuk bahu kokoh Rusel dengan penuh rencana.
__ADS_1
"Hanya bagian itu yang lembut. jadi aku memanfaatkannya."
"Terserah padamu!" acuh Rusel lalu membuang muka kesal tapi Sandra masa bodoh. ia menarik lengan Rusel yang tersentak.
"Kau.."
"Ikutlah ke kamarku!"
Sandra menariknya untuk menaiki tangga megah ini. Karpet merah berdesain elegan itu di pijaki semangat oleh Sandra yang sudah tak sabar berbaring di ranjang empuknya.
"Dimana kamarmu?"
"Disini!"
Sandra mendorong Rusel ke arah koridor atas dimana kamar Erina ada di koridor sebelah kiri dan ia ke sebelah kanan. bisa di bilang koridor atas ini hanya di peruntukan bagi Sandra yang ingin memiliki semuanya dulu.
"Jangan melamun! kau bisa tersesat." celetuk Sandra saat sudah sampai ke depan pintu kamar berwarna Cream ini. Ia menekan gagang pintu itu ringan hingga masuk ke dalamnya.
"Ini kamarku!" ucap Sandra melepas pegangannya dari lengan Rusel yang terpaku diam mengamati ruangan yang cukup luas ini.
Ranjang king size berwarna pink dengan banyak boneka di mana tempat. ini lebih pada kamar anak usia 16 tahun yang masih manis-manisnya.
"Sebenarnya aku suka mengganti dekorasinya. tapi aku bosan dengan yang lama."
"Kau suka yang mana?" tanya Rusel berdiri di samping Sandra yang diam sejenak. jujur jika alasannya mengubah kamar ini adalah hanya untuk melupakan seseorang yang telah mengubah hidupnya.
Ia dulu menyuruh Bibik Iyem membuang segala tentang apa yang menjadi kenangan tapi tak semuanya Sandra bisa lakukan.
"Hm."
Gumam Rusel tak berlebihan. ia mengitari kamar ini ke semua sudut dengan Sandra yang menghempaskan tubuhnya keatas ranjang yang begitu memijat raganya.
"Kenapa ini di kunci?" tanya Rusel saat lemari Sandra di kunci. herannya ada dua disini dan salah satunya terlihat lebih spesial.
"San!" panggil Rusel tapi tak juga terdengar suara. Ia berbalik kebelakang hingga ia terdiam melihat wanita itu sudah terbaring diatas sana.
"Kenapa dia sangat mudah tidur mana tempat?!" gumam Rusel menggeleng. ia kembali melanjutkan pengamatannya ke semua sudut kamar yang memang begitu rapi.
Itupun pasti hanya karna pelayan karna ia tahu Sandra bukan tipe yang suka bersih-bersih.
Lama Rusel melihat-lihat ruangan ini sampai kefokusannya teralihkan pada deretan foto-foto Sandra yang ada di dinding kamar.
"Hanya ada fotonya!" gumam Rusel melihat semuanya. Foto SMA Sandra yang tampak sangat nakal dengan rambut pendek dan seragam amburadul tengah memeggang bola basketnya.
Ada foto bersama teman-teman kuliahnya dan foto masa kecil dimana ia tampak senang mencoret-coret dinding Kediaman ini.
Tapi. semuanya terlihat sendiri dan terkesan arogan. tak ada kenagan bersama keluarga atau para saudarinya.
"Apa kau begitu merasa sendirian?!" gumam Rusel melihat Sandra yang sudah tidur diatas ranjang sana.
__ADS_1
Ia mendekat dengan tatapan yang terkesan lebih lembut dibanding saat Sandra sadar.
"Setiap kau merasa takut kau selalu memanggil Mamamu! tapi sebenarnya kau takut kehilangan mereka. aku mengerti bagaimana perasaanmu."
Ucap Rusel seraya menyelimuti Sandra. wajah damai itu ia belai lembut dengan penuh ketidak percayaan.
"Saat bangun kau seperti singa betina dan rumput liar yang menakjubkan. tapi, saat tidur kau akan menunjukan kesuramanmu." gumam Rusel melihat raut sendu Sandra yang selalu tampak ketika dia tidur.
"Permisi!"
Suara Bibik Iyem di ambang pintu saja menarik Rusel untuk segera mendekat membuka pintu kamar.
"T..tuan!" Bibik Iyem terkejut saat Rusel ada si kamar Nonanya.
"Hm."
"I..ini. nanti berikan kunci ini ke Nona Sandra." ucap Bibik Iyem memberikan kunci kecil. Rusel mengambilnya dengan pandangan menyelidik.
"Ini punya Nona! dia menyuruh saya menyimpannya sampai dia kembali. Tuan!"
"Barang berharga?"
Bibik Iyem mengangguk lalu pamit pergi dengan sopan. Rusel menyandarkan kepalanya ke ambang pintu menatap Sandra yang masih lelap.
"Apa kau masih menyimpannya?" gumam Rusel menduga jika Sandra belum membuangnya. sungguh rasanya Rusel ingin menghancurkan benda-benda itu tapi ia tak mau membuat Sandra membencinya.
................
Sedari tadi wanita bermata sipit itu terus mencari informasi di balai Desa. ia sangat terkejut saat mendengar jika Ketua Rusel dan Sandra sudah pergi sedari pagi keluar dari Kulfun.
"Kenapa kalian tak memberi tahuku?" tanya Ikana pada Mentri Kamir dan Tetua Herdan yang saling pandang karnanya.
"Guru Ikana! bukankah Ketua Rusel punya tugasnya sendiri dan kau tahu itu." tegas Tetua Herdan.
"Tetua! maaf sebelumnya tapi aku hanya merasa tak berguna karna membiarkan Ketua Rusel pergi setelah sekian lama disini."
"Tak masalah. Ketua Rusel sendiri tak merasa di rugikan, dia yang menawarkan diri untuk mengawal Nona Sandra!"
Ikana diam seribu bahasa. Ia baru tahu jika Sandra adalah putri dari Pimpinan militer besar di Negaranya, tapi. bukan berarti Ikana mundur. ia tak akan membiarkan Sandra melesat sejauh ini.
"Aku akan membantu mengawal Nona!"
"Tidak!" bantah Tetua Herdan membuat Ikana mengepal dengan sorot mata yang tajam.
"Kau Guru tetap di Asrama. lagi pula Ketua Rusel tak pernah gagal melakukan tugasnya." sambungnya lagi dengan yakin.
"Tetua! saya terima keputusanmu." jawab Ikana lalu melangkah pergi. mata tajamnya melirik Ednan yang hanya diam tak meladeni aura permusuhan dari wanita ini.
. ...
__ADS_1
Vote and Like Sayang..