Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Ini baik untuk ibu hamil!


__ADS_3

Kelopak mata cantik itu masih tertutup rapat. Wajahnya terlihat begitu lelah dan damai tertidur diatas peraduan yang tak begitu luas.


Ranjang mini yang tak begitu empuk berbahan kayu serta bantal yang juga tak senyaman yang ada di Kediamannya. Tapi, karna ia sudah letih seharian maka, tak ada masalah saat ini.


"Emm!"


Ia menggeliat saat udara dingin ini terasa menghembus tulang kakinya. Ia berbalik berbaring menyamping memeluk pinggiran kayu ranjang yang keras membuatnya sangat tak nyaman.


"Biiik!" gumam Sandra tanpa membuka matanya sama sekali. rasa kantuk itu terlalu menimbun di pelupuk matanya.


"Biiik! dimana guling-ku?" racau Sandra masih mengingat ia di Kediaman.


Ia mencoba berbagai posisi. Berbaring ke kanan dan kiri. atau-pun tengkurap membuat rasa sakit di perutnya mulai menyengat.


"Biiik!!"


Sandra tersadar membuka matanya. Ia terhenyak melihat dinding kamarnya berubah menjadi kayu jati yang begitu rapi dengan hiasan tradisional yang belum ia ketahui.


"Sejak kapan ranjang besar ku jadi tempat sofa begini?!" gumam Sandra menepuk-nepuk tempat tidur kerasnya. Dan benar saja, tubuhnya terasa begitu sakit bahkan pegal.


"Siapa yang membawaku kesini??" teriak Sandra bangun dari baringannya seraya memeggang bahu dan pinggangnya yang nyeri.


"Keluarkan aku dari sini!!!" jerit Sandra melempar bantal dan selimutnya ke lantai diiringi dengan pintu kayu rumah kecilnya terbuka.


"Kau sudah sadar?" tanya seorang gadis berwajah belia melangkah masuk mendekati Sandra yang mengerutkan dahinya melihat penampilan sosok ini.


Pakaian sederhana seperti gadis-gadis di pedesaan. Rambutnya di kepang dengan wajah polos tanpa riasana. wajah bulat itu terlihat lugu.


"Kau siapa?" suara Sandra ketus membuat gadis itu terperanjat berdiri di samping ranjang.


"Maaf, tapi aku hanya mendengar teriakan-mu tadi. jadi aku ke sini." jawabnya penuh sopan dengan gestur yang lembut. ini persis seperti wanita-wanita jawa di Negaranya.


"Ini dimana? tempat ini sangat jelek."


"Tapi...tapi ini bagus!"


"Bagus apanya??" sambar Sandra sekali lagi mengejutkan gadis belia itu. Matanya sudah berkaca-kaca dengan sikap tak sopan Sandra yang baru kali ini ia lihat.


"Kau menangis? yang benar saja. aku tak memukulmu!" Sandra yang menatap ngeri gadis belia satu ini.


"K..kenapa kau membentakku? aku tak menyakitimu sama sekali."


"A.. maksudku bukan begitu? memang ini cara bicaraku." jawab Sandra mengusap tengkuknya yang merasa bersalah sedikit. Salahnya sendiri kenapa bertanya pada gadis baru lahir ini.


"Baiklah! kau jangan menangis lagi, nanti mereka pikir aku memukulmu didalam sini." bujuk Sandra tak ikhlas.


"Emm... kau siapa?" tanya gadis itu membuat Sandra segera mengulur tangannya dengan angkuh.


"SANDRA ALIVIA HATOMO!" ucapnya dengan wajah mendongak yang angkuh. Namun, respon gadis ini tampak aneh tak seperti yang lain saat mendengar namanya.


"Begitu, ya?" menjabat tangan Sandra.


"Apa???" Sandra terpekik hebat mendengar jawaban gadis ini. Ia segera melepas jabatan tangannya lalu menatap tajam kembali.


"Kau tak kenal aku?"


"Tidak. kitakan baru bertemu." jawaban itu membuat Sandra ingin meruntuhkan bangunan ini lalu berteriak sejadi-jadinya.


"Tenanglah. ini masih polos." gumam Sandra menenagkan emosinya lalu menatap wajah tanpa polesan rias ini.


"Namamu!"


"Anya!"


"Hanya Anya?"


Gadis itu mengangguk tersenyum hangat. Sandra-pun menyunggingkan bibir mungil berisinya karna ia rasa Anya memang gadis baik-baik.


"Kau masih sekolah?"


"Masih sekolah menengah atas."


Sandra manggut-manggut mengerti. Tapi ia tak paham sama sekali, jika disini Pemukiman Kulfun yang dirumorkan jauh dari Moderenisasi. kenapa bisa ada sekolah dan pakaian orang disini tak begitu kumu yang ia kira.

__ADS_1


"Baiklah! aku pergi ke Sawah Paman-ku dulu, nanti aku akan menemuimu."


"Hm. pergilah!"


Anya pamit pergi kembali menutup pintu kamarnya. Ia sepertinya ada di penginapan kecil dan ini sangat membosankan.


"Shitt! aku sangat lapar." gumam Sandra merasakan nyeri di perutnya. Ia melirik ke semua tempat tapi tak menemukan bahan untuk mengganjal bagian kosong sana.


"Apa ini yang mereka sebut sopan dan baik hati?! sama sekali tak ada makanan." gumam Sandra mengupat lalu mengulur kakinya turun dari ranjang.


Ia melangkah menuju pintu keluar ruangan masih mengenakan mantal yang semalam. Dari sini sudah terdengar suara percakapan beberapa orang yang sepertinya lewat di depan sana.


"Apa ada pasar didepan kamarku?' gumam Sandra kesal membuka pintu kamarnya hingga mata hitam legam itu terpaku melihat suasana di luar.


"Hati-hati bekerja. jangan lupa memakan-makanan-mu." peringat seorang wanita paruh baya pada lelaki muda yang tampak berjalan beriringan melewati jalan didepan penginapannya.


Belum lagi ada Ibu-ibu yang tengah menjemur pakaian ditepi sana membuat Sandra menarik nafas dalam. Keadaan ini sungguh berbanding terbalik dengan apa yang ia nikmati dulu.


"Dimana aku mencari makanan?" guman Sandra melirik ke kanan-kiri tak ada apapun. Ia memilih melangkah kearah koridor penginapan ini.


Semuanya tampak bersih dan udaranya juga segar belum tercemar apapun. Bangunan tradisional dimana semua penyokongnya itu terbuat dari kayu dan Bambu.


"Dimana makananya? aku lapar." decah Sandra terus melangkah meringsek ke dalam Koridor. Ia mendengar suara ramai dari arah belakang hingga Sandra memilih melihat ke dalam sana.


"Lepaskan!!!"


"Woww!!" Sandra berdecah kagum melihat beberapa lelaki muda yang berlatih memanah di lapangan hijau luas ini. Semua titik yang di tuju selalu kena tepat sasaran.


Mata Sandra menelisik melihat para pelatih para pemanah itu ada yang takaasing menurutnya.


"Itu bukannya Siluman Maniak. semalam?!" gumam Sandra mengintip dari arah dinding. Tubuhnya begitu tinggi dan gagah, sepertinya ia bukan keturunan asli Indo dan lebih ke blasteran Eropa terbukti dengan raut wajah dan rambutnya yang kecoklatan.


"Cih! dia sangat serius sekali. apa tak bisa senyum sedikit saja." Decah Sandra menarik nafas dalam. Ia bersandar di dinding kayu ini membelakangi arah pelatihan itu.


"Disini memang membosankan."


"Kau sudah bangun?"


"Eh!"


"Kau..." Sandra melihat dimana tadi Siluman ini berdiri yang jauh darinya tapi kenapa begitu cepat kesini.


"Kenapa kau disini? kau tadi disana!" herannya linglung.


"Hm. kenapa kau kesini?"


Sandra diam menatap 2 lelaki yang sepertinya penjaga tempat ini mendekat kearahnya.


"Tuan Rusel!"


"Jadi siluman ini namanya Rusel, ya? cukup bagus."


Batin Sandra menatap Rusel yang tampak berbicara serius dengan 2 bawahannya itu. Ia belum tahu apa posisi Rusel disini sampai hanya dia yang terlihat lebih berkharisma.


"Kau ambil alih untuk hari ini!"


"Baik!"


Dua bawahannya itu melangkah pergi meninggalkan Rusel bersama Sandra yang pura-pura tak memperdulikannya.


"Kenapa disini banyak sekali tempat beladiri?"


"Ini bukan tempat orang lemah."


Jawaban itu membuat Sandra langsung terbongkem. Ia menatap sinis wajah tampan Rusel yang hanya menatapnya datar dan tenang. Pria itu melangkah menuju lorong di samping Sandra yang ikut berjalan di sampingnya.


"Kenapa mereka menatapku seperti itu?" gumam Sandra saat beberapa orang yang melihat dari jauh tampak berbisik dan menatapnya aneh.


"Abaikan saja!"


"Sepertinya kau Primadona disini. hm?" goda Sandra melihat para gadis yang memandangnya tak bersahabat. Ia tak tahu jika hanya dia yang berani berjalan beriringan dengan pria itu bahkan melangkah bersama dengan jarak sedekat yang sekarang.


"Tuan!"

__ADS_1


Sapa beberapa orang yang melihat Rusel. sepertinya pria ini memiliki peran penting di tempat ini, apalagi aura Rusel juga sangat tenang dan penuh rencana.


"Kau mau kemana? kenapa menjauh dari Penginapan-ku?"


Rusel hanya diam tak menjawab apapun membuat Sandra kesal segera melangkah mendahuluinya menyelonong begitu saja padahal Rusel sudah berhenti dibelakang sana.


"Kau!!" panggil Rusel menghentikan langkah Sandra yang langsung berbalik menatapnya dengan mata hitam itu menyipit dengan dahi di tekuk.


"Apa??"


"Kau ingin ke Penginapan laki-laki?"


"Ha??" pekik Sandra tersentak. Ia menatap lorong ini dengan bingung hingga ia membaca tulisan papan yang memperjelas segalanya.


"Penginapan laki-laki?"


Batin Sandra benar-benar kesal lalu kembali menatap Rusel yang hanya diam di tempatnya. Kedua tangan pria itu ada di dalam saku kedua sisi celananya begitu santai dan keren.


"Kau ini aneh!!! kau pria teraneh yang pernah ku lihat!!!"


"Lalu?"


"Aku ingin makan! perutku sudah sakit sedari tadi!!" teriak Sandra tak malu sama sekali dengan orang-orang yang menatapnya dari jauh sana.


"Disini!"


Rusel masuk ke sebuah pintu di samping sana dengan Sandra yang mengikutinya. Saat pintu itu di buka aroma lezat ini sudah menyeruk mengobrak-abrik perutnya.


"Tuan Rusel!" sapa para wanita paruh baya yang sepertinya menjadi juru masak di penginapan ini. Ada 3 yang tengah menyiapkan makanan di atas meja kayu yang begitu rapi dan bersih.


"Apa itu makanan?" Sandra datang dengan suara gembiranya membuat 3 wanita paruh baya itu saling pandang.


"Dia anak baru disini!"


"Ouh. selamat datang kalau begitu." sapa mereka pada Sandra yang hanya mengangguk. matanya malah tertuju diatas meja sana banyak makanan seperti Bebek panggang tapi masih banyak lagi yang tak ia tahu namanya.


"Boleh aku makan?" tanya Sandra sudah tak sabaran.


"Silahkan!"


"Aa... Terimakasih!"


Sandra melangkah lebar kesana dengan mata binaran kebahagiaan mencomot apa saja yang ia mau.


"Tuan! dia sangat tak sopan." ucap Isami yang merupakan kepala pelayan yang khusus memasak untuk Rusel. ia tak suka dengan cara makan Sandra yang sama sekali tak menghormati ketua disini.


"Kalian pergilah!"


"Baik!"


Mereka melangkah pergi meninggalkan tempat ini. Rusel mendekati Sandra yang masih asik memakan Bebek panggangnya. Ia tak menyentuh sayuran yang lain.


"Ini punyaku!" tegur Sandra saat Rusel duduk di sampingnya. Mulut kecil itu sudah belepotan oleh kecap tiga rasa dan terlihat sangat rakus.


"Makanlah!"


"Hm. kau makan yang lain saja." Sandra mengurung nampan bebek itu di tangannya dengan rasa manis, asam bahkan begitu tak terjabarkan.


Rusel menggambil mangkuk berisi sup yang terlihat aneh.berwarna hijau dengan dedaunan didalamnya.


"Kau memang pantas memakan itu. Bebek ini berlemak." ucap Sandra dengan mulut penuh.


"Ini untukmu!"


"Tidak. aku sudah ada ini, kau.."


Sandra melotot saat Rusel mengambil nampan bebeknya dan mengganti dengan semangkuk kuah aneh ini.


"Kau ini apa-apa'an. ha???"


"Ini baik untuk Ibu hamil!"


Degg...

__ADS_1


....


Vote and Like Sayang.


__ADS_2