
Tatapan terkejut Sandra tak bisa di hindarkan pada sosok pria dengan pandangan hangat ini kembali ada di hadapannya. Tentu Sandra menggeram karna ia ingat jika bunga itu memiliki racun.
"Apa dia anak dari wanita iblis itu?"
Batin Sandra menyeringit. ia menunjukan wajah tak sukanya membuat suasana begitu terasa canggung bagi pria itu.
"Kau yang.."
"Kenapa kau kesini?" ketus Sandra tak menunjukan seluruh tubuhnya. Pintu hanya di buka kecil dengan kepalanya menyembul keluar. walau terlihat tak sopan dan jauh dari kata feminim, tapi Sandra sangat menariknya.
"Kau istrinya Prince Feliks?"
"Kau tak usah basa basi. kalau tak begitu penting aku ingin tidur!"
"Tunggu!!" Lucas menahan pintu yang ingin Sandra tutup dan hampir saja tangan Lucas menyentuh wajah mulus cantik Sandra yang cepat menarik diri.
"Kau!!"
"Maaf, aku tak bermaksud menyentuhmu." ucap Lucas mundur. ia agak canggung melihat manik hitam Sandra yang indah ini seperti ingin mengulitinya di tempat.
"A.. itu, aku hanya ingin mengatakan MAAF pada Prince, karna tadi aku membuatnya kesal."
"Kau katakan saja sendiri." Sandra ingin menutup pintu tapi lagi-lagi Lucas menahannya. amarah itu terlhat di wajah kelap Sandra yang tak suka di perlakukan begini.
"Aku rasa bukan itu saja Niatmu."
"Maksudmu?" tanya Lucas pura-pura tak mengerti. ia sangat tertarik pada sikap Sandra yang terkesan tak menghormatinya.
"Jika kau mengusik suamiku. aku tak akan segan menjatuhkan REPUTASIMU."
Lucas terdiam sesaat mendengar ancaman Sandra. ntah kenapa terdengar konyol tapi begitu pasti dan penuh percaya diri.
"Kau bisa apa?"
"Banyak yang-ku bisa." jawab Sandra geram bukan main. bayangkan saja jika bunga itu mengenainya dan bayi mereka bisa terancam. ia tak bisa memaafkan pria seperti ini.
"Salah satunya?"
"MERACUNIMU." tekan Sandra menyindir soal itu. Lucas menarik sudut bibirnya melihat Sandra ternyata tahu soal itu. ia kira wanita ini sudah kejang sedari siang.
"Aku selalu siap meminum racun dari BIDADARI sepertimu."
"Cuihh!"
Lucas terkejut saat Sandra meludahi sepatunya. perlakuan wanita ini benar-benar berani dan sangat tak sopan.
"Aku kira yang menjadi istri Putra Mahkota adalah seorang Putri Kerajaan ternama. tapi, nyatanya kau.."
"Apa? tak suka. pergi dari sini!" ketus Sandra tak perduli. toh ia tak pernah ingin berbaik hati pada pria lain.
"Aku heran. kenapa Kakak memilih wanita barbar sepertimu." pancing Lucas membuat Sandra berapi-api.
"Kauu .."
"Ada apa?"
Suara berat dari dalam sana membuat Lucas memperkukuh pertahanannya karna aura pria ini sudah lebih dulu mencekiknya.
"Sel!"
Rusel menarik Sandra ke dalam hingga ia menatap membunuh Lucas yang tersenyum menunduk sebentar.
__ADS_1
"Selamat Malam. Prince!"
"Aku tak menerima tamu. semalam ini." jawab Rusel tegas. ia hanya menggunakan handuk di pinggangnya hingga tubuh kekar maskulin itu benar-benar membuat Lucas kalah telak. ia saja sebagai pria merasa iri jika berhadapan dengan sosok ini.
"Aku hanya ingin mengatakan kalau kau datanglah ke Pesta besok malam. Yang Mulia Raja Mikes merayakan keberhasilanku di Aula Istana Dezon."
Tak ada respon banyak dari Rusel yang hanya menatapnya datar dan tenang, niat hati ingin membuat Rusel kepanasan tapi justru responnya selalu slow dan enjoy.
"Dan jangan lupa bawa Kakak Ipar!"
Rusel mendorong kepala Sandra kembali masuk ke dalam kamar karna mengintip. ia hanya membiarkan pintu ini terbuka melihat setengah tubuh kekarnya.
"Kak! aku masih ingin bicara dengan.."
Rusel menjentikan jarinya membuat Lucas tersedak udara yang masuk ke kerongkongannya. Rusel menutup pintu kamarnya begitu saja mengacuhkan suara batuk Lucas di luar.
"Dia itu sedikit idiot." gumam Sandra duduk di tepi ranjang menatap Rusel yang memandangnya dingin.
"Lain kali tak usah meladeninya."
"Sel! apa orang seperti itu musuhmu?"
"Jangan terlalu meremehkannya." tegas Rusel mendekati Sandra yang mengangguk paham. jelas setiap pembawaan Lucas selalu misterius dan penuh rencana.
"Sel! kau harus hati-hati padanya, dia itu sepertinya sama licik dengan Momynya."
"Kau tahu dari mana?" tanya Rusel duduk di samping Sandra yang meraih handuk kecilnya tadi di atas ranjang lalu mulai mengusap rambut Rusel yang basah.
"Wajahnya agak mirip dengan Nyonya Loure!"
"Dia pernah mengusikmu?" tanya Rusel memeggang pinggang Sandra waspada jika wanita ini jatuh ke bawah.
"Pelayan?"
Sandra mengangguk. Rusel menarik pinggangnya hingga ia duduk di paha kokoh sang suami yang terlihat begitu menatapnya intens.
"Dia membawa nampan makanan. awalnya aku pikir itu darimu, tapi setelah ku pikir-pikir. tak mungkin kau menyuruh pelayan disini mengantar makanan."
"Jadi?" serius mendengarkan.
"Nyatanya makanan itu ada racunnya."
"Apa kau memakannya?" sambar Rusel mencengkram pipi Sandra memeriksa mulut wanita ini. Sandra menggeleng melepas cengkraman remang Rusel.
"Aku tak memakannya. karna aku sudah tahu itu racun untuk mengugurkan kandunganku dan membunuhku."
Raut wajah Rusel mengeras. terlihat jelas ucapan Sandra barusan memang memantik aura membunuh dalam dirinya.
"Tapi, kau tenang saja. aku merekam semua pembicaraan mereka dan aku rasa itu cukup bersama hasil Lab uji makanannya." imbuh Sandra mengatakan rencananya.
"Dimana kau simpan sisanya?" .
"Di Laci!" jawab Sandra menunjuk laci meja. Rusel menghela nafas halus menormalkan rasa amukan di dadanya. ia tak bisa membayangkan sedikit saja Sandra terkena racun itu maka dampaknya akan lebih besar.
"Aku yang akan mengurusnya. kau tak usah keluar."
"Tapi, kau harus hati-hati. aku yakin mereka sudah mengambil kepercayaan Raja saat kau pergi." jawab Sandra benar-benar sudah tahu bagaimana permainan kotor Nyonya Loure. ia bisa menebak niat busuk wanita itu agar Raja Mikes terpengaruh padanya.
"Raja sudah tahu kalau dia memang ingin menguasai Kerajaan."
Sandra tersentak mendengarnya. Ucapan Rusel barusan benar-benar membuatnya terkejut.
__ADS_1
"L..lalu kenapa Raja tak menghukumnya?"
"Loure memiliki kuasa kecil karna dia adalah istri dari adik Ayahku yang sudah tewas dalam pemberontakan saat Lucas masih kecil. Dia di amanatkan menjaga wanita itu dan anaknya."
Sandra melihat ada sesuatu yang di rahasiakan Rusel. terbukti ada raut kacau di matanya.
"Lalu?"
"Begitulah. ceritanya tak menarik." jawab Rusel mengusap kepala Sandra sebagai pengalihan.
Tentu Sandra tak tahu jika ada kegundahan yang tengah di sembunyikan Rusel darinya.
"Sel! besok ada ujian di kampus, bisa aku pinjam Laptop?" tanya Sandra mengalihkan suasana.
"Hm. akan ku sediakan nanti."
Sandra berbinar cerah mengecup kilas bibir Rusel yang merasa tenang melihat Sandra yang ternyata mulai memahami kondisi.
"Fokuslah pada ujianmu. bukankah ini semester akhir?"
"Iya. Sel! aku janji akan lulus dengan prediket Nilai Tertinggi." jawab Sandra bersemangat. Rusel menipiskan bibir membaringkan Sandra ke atas ranjang.
Ia membuka Bathrobe yang membalut tubuh Sandra yang berbaring membelakanginya. tentu Rusel tak pernah bisa tidur jika tak mengusap perut besar ini.
"Sel! kau tidur pakai handuk?"
"Menurutmu?" tanya Rusel melepas handuknya yang tergorok ke lantai bersama Bathrobe Sandra tadi. ia masuk ke dalam selimut memeluk Sandra dari belakang.
"Malam!" bisik Rusel menaikan satu kakinya ke paha Sandra mengurung wanita itu dalam dekapannya. walau hasrat mulai naik tapi Rusel bisa sedikit lega karna miliknya sudah hangat di benamkan ke lembutnya bokong Sandra.
"Kau jangan bergerak." desis Rusel mengelus perut Sandra yang menyengir tetap di posisinya. ia juga tak mau menyiksa pria ini terlalu lama.
"Malam. Sel!"
Mengecup bibir Rusel kilas lalu memejamkan matanya untuk menyelami mimpi. ia sangat nyaman begini sampai tak perlu waktu lama untuk Bumil itu sedikit mendengkur halus.
"Apa kau tak merasakan sesuatu?" gumam Rusel memejamkan matanya merasakan detakan jantung si kecil di dalam sana. rasanya ia benar-benar tak sabar tapi juga khawatir jika ia kecolongan nantinya.
Namun, Rusel memang diam tapi ia tak akan membiarkan pengkhianat di Kerajaan ini sampai leluasa mengincar Istrinya.
"Kau tenang saja. cukup jaga dirimu sendiri dan aku yang akan mengurusnya."
Rusel meraih ponsel di atas meja lalu menghubungi Simob untuk melakukan tugas gelapnya. tak bisa di biarkan terlalu lama.
"Ketua!"
"Aku punya tugas untukmu." Rusel merapikan rambut Sandra yang sudah tak bisa sadar akan keadaan di sekelilingnya.
"Aku siap. Ketua!"
"Kau bunuh pelayan siang tadi dan gantung mayatnya di kamar wanita itu."
"Siap. Ketua."
Rusel mematikan sambungan. ia memejamkan matanya untuk sekedar merilekskan perasaan. ia tak bisa menghabisi orang-orang dalam ini secara cepat karna menyangkut Kerajaan, ia harus membuat Raja Mikes sendiri yang mengeksekusinya.
Namun, tak mungkin pria itu akan melakukannya karna Raja Mikes juga membenci Sandra. tak bisa ia elakan akan ada bentrokan nantinya.
........
Vote and Like Sayang..
__ADS_1