
Mereka semua berdiri di balik pintu kamar Sandra yang sudah terjaga dengan keterkejutan yang meningkat. wanita itu melangkah membuka pintu kamar yang menghadirkan semua pelayan di luar sana.
"Kenapa dengan kalian?" tanya Sandra jengkel karna menganggu tidurnya. jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari tapi ia masih belum bisa tidur lelap.
Pandangan tajam Sandra membuat mereka diam tapi disini Erina yang jadi objek tanda tanya di benak Sandra.
"Kau kenapa?"
"S..San! kau...kau sebaiknya jangan mendekati pria itu."
Dahi Sandra menyeringit melihat raut cemas Erina padanya. pria? apa yang mereka maksud itu Rusel?
"Kau jangan membual!"
"San! aku...aku yakin dia berniat jahat padamu." jawab Erina tampak begitu gelisah. 5 pelayan perempuan di belakangnya hanya diam dengan Bibik Iyem yang tak bisa berbuat banyak.
"Kau ini selalu saja menggangguku. pergilah dari kamarku sekarang!" usirnya dengan marah.
"San! dia..dia itu aneh. aku tahu dia memang terlihat baik tapi..."
"Ada apa?"
Erina melebarkan matanya dengan wajah pucat pasih menatap Rusel yang muncul berdiri di belakang Sandra. ia benar-benar merasa tak percaya Sandra bisa satu kamar dengan pria ini.
"Sel!"
"Kau kembalilah tidur. aku yang akan mengurusnya." ucap Rusel datar tapi lembut sangat berbeda saat berbicara dengan mereka.
"Mereka tengah mengigau! kau cepatlah tidur." ucap Sandra melirik jengah Erina yang menggeleng menolak di salahkan.
"San! dia..dia itu aneh. kau..kau jangan percaya padanya!"
"Lalu apa aku harus percaya padamu. begitu?"
"San!" lirih Erina tak bisa berkutik. tubuhnya tak mampu menahan aura intimidasi dari Rusel yang seakan membuat mereka gentar berdiri disini.
Sandra yang melihat pandangan mereka terhadap Rusel seperti tengah melihat hantu. sangat pucat dan seakan ingin lari itu menarik tanda tanya di benaknya.
"Kemaren kalian baik-baik saja."
"S..San! aku...aku melihat jelas kalau dia...dia itu punya .. punya sihir. dia.."
"Kau tengah sakit." potong Sandra menggeleng melihat Erina yang masih belum menyerah. setiap ia ingin mengatakan bagaimana kejadian yang ia alami maka otaknya tiba-tiba buntu.
"San!! dia bukan manusia!!" sambar Erina keras menjerit karna mulai merasa di cekik.
Sandra diam melihat Erina begitu bersungguh-sungguh. ia melirik Rusel dari ekor matanya dan apa iya Rusel ini siluman asli?
"San! aku bersumpah dia itu tadi menyerang-ku."
"Menyerang?" gumam Sandra mengangkat satu alisnya.
"I..iya. dia.. dia itu.."
Erina lagi-lagi tak bisa bicara. nafasnya tersendat membuat Bibik Iyem segera merengkuh bahunya.
"Non! sebaiknya anda segera istirahat."
"B...bik!"
Lirih Erina sungguh pucat. mau tak mau ia menurut melangkah pergi ke kamarnya begitu juga pelayan yang lain karna tak berani berlama-lama di hadapan pria angkuh ini.
Setelah kepergian mereka. tatapan penasaran Sandra beralih pada Rusel yang hanya diam seakan tak bersalah.
"Sel!" Sandra segera menangkup pipi Rusel dengan kedua tangannya.
"Hm? apa?"
__ADS_1
"Kau..."
Sandra menjeda ucapannya mengamati visual tampan khas Rusia ini dengan seksama. dari segi apapun sangatlah pas tapi apa iya ini penyihir seperti yang ada di dongeng-dongeng?
Tahu akan isi kepala Sandra padanya. Rusel langsung menjentik bibir bawah Sandra yang terperanjat.
"Kau!!!"
"Hm? aku tahu isi otakmu." datar Rusel menggeleng lalu kembali masuk ke kamar mendekati ranjang.
"Sel! sebenarnya kau ini siapa?"
"Manusia!"
Jawab Rusel asal duduk di tepi ranjang sana menatap Sandra yang menutup pintu kamar lalu melangkah mendekatinya.
"Aku tahu kau manusia. tapi, aku juga heran karna agak aneh saja jika bersamamu."
"Maksudnya?"
Tanya Rusel menarik pinggang Sandra mendekat berdiri tepat di depannya.
"Kau tahu?"
"Hm?"
"Saat di penginapan di Kulfun. aku selalu mendengar suara-suara aneh. angin yang kuat setiap aku membuka jendela kamar dan bahkan suara atap dan pepohonan berderit, sebenarnya itu apa?" tanya Sandra penasaran.
Rusel terdiam sejenak mencoba memilah kata-kata untuk bicara pada bocah satu ini.
"Kau mungkin membuka jendelamu."
"I..iya.." jawab Sandra agak gugup. karna memang setiap ia ingin membuka jendela maka kejadian seperti itu akan datang.
"Jangan buka lagi!"
"Disana banyak orang berkemampuan. jangan asal menunjukan diri." jawab Rusel tegas.
"Tapi semuanya baik-baik. apalagi Anya!"
Sandra yang belum mengerti bagaimana konsep hidup disana tentu akan mengatakan itu. tapi, hal yang selalu di takutkan warga desa Kulfun adalah penyerangan dari daerah gersang di sebelahnya.
"Yang jelas. kau harus bisa menjaga dirimu sendiri, jangan dekati orang-orang yang memiliki tato ular di bagian lengannya. mengerti?"
"Kenapa?" tanya Sandra tak bisa menahan diri.
"Mereka sangat berbahaya. sampai sekarang mereka masih mencari cara untuk menghancurkan Kulfun, kekuatan terbesar mereka adalah tipu daya. mereka sangat pandai menyamar."
"Sel! kau ini menakutiku." gumam Sandra merasa merinding. Rusel menarik Sandra ke pangkuannya dengan rasa aman menyelimuti Sandra.
"Kau percaya padaku-kan?"
"Iya!"
"Jangan dengarkan yang lain. kau mengerti?"
Sandra mengangguk patuh memeluk leher Rusel yang mengusap perutnya yang mulai membunjul. tentu semua itu sangat menbahagiakan baginya.
"Perutmu mulai ada perubahan!"
"Benarkah?" tanya Sandra menaikan Piyamanya sampai atas dada tanpa canggung. perut yang dulu datar sudah terlihat membengkak walau masih belum terlalu siknifikan.
"Ini mau masuk bulan ke 2 bukan?"
"2 bulan lebih 3 minggu." jawab Rusel membenarkan. ia yang selalu menghitungnya bahkan setiap detik dan menitnya sudah hafal di benak sang Prince.
Sandra terlihat murung. ntahlah kalau begini ia merasa terpaksa. tapi, melihat Rusel yang bersemangat mau tak mau ia menerimanya.
__ADS_1
"Makanku selalu saja berlebihan. apa kau tak takut aku gendut?!"
"Gendut?"
"Hm. nanti aku tak secantik ini lagi." gerutu Sandra cemas.
"Memangnya kau merasa cantik?!"
"Sel!!" geram Sandra lagi-lagi merasa di akali. tentu ia sangat cantik tapi Rusel punya cara sendiri memuja sang istri.
"Aku serius. kau sama sekali tak cantik."
"Terserah padamu."
Sandra beralih menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang empuk ini memunggungi Rusel yang mengulum senyum.
"Yakin bisa tidur berbaring seperti itu. hm?"
"Jangan pegang-pegang." ketus Sandra menepis tangan Rusel yang memeggang betisnya.
"Baiklah! aku tak memaksa."
"Hm."
Gumam Sandra jutek membiarkan Rusel berbaring di sampingnya saling memunggungi.
Lama Sandra di posisi ini sampai ia berusaha memejamkan matanya tak kunjung juga terlelap. maksudnya apa dengan semua ini?
Sandra mencoba berbaring terlentang dan memejamkan matanya tapi sayangnya ia tak juga tidur. lirikan mata Sandra beralih ke punggung kokoh Rusel yang memunggunginya.
"Haiss.. apa dia sudah tidur?" gumam Sandra perlahan mendekat menepuk bahu kekar itu tapi masih tak bergerak menyimpulkan bahwa ia sudah tidur.
"Yes!! dia tidur!" sorak Sandra pelan lalu menelusupkan tangannya ke perut keras berkotak seksi itu memeluknya dari belakang.
Sudut bibir Rusel terangkat beralih menggenggam tangan Sandra yang meraba perutnya membuat wanita itu terkejut saat ia berbalik badan.
"K..kau..."
"Tidurlah!"
Ucap Rusel tenang membenamkan wajah Sandra ke dadanya hingga dagu Rusel tepat diatas kepala Sandra yang mengadah menatapnya.
Wajah Sandra memerah merasa perlakuan Rusel membuatnya mabuk kepayang berkali-kali merasa terbang.
Cup..
"Malam!"
Sandra membenamkan wajahnya kembali setelah mengecup kilat bibir Rusel yang melengkungkan senyum samarnya mengeratkan pelukan ke tubuh Sandra yang terasa nyaman di peluk begini.
.........
Deretan foto-foto cantik sosok wanita bermata hitam itu sudah terpapar di atas meja seorang pria bertubuh bak pegulat di ruangan remang ini. tatapan mata nyalangnya begitu terlihat licik tapi menyimpan berjuta rencana.
"Pantas jika dia begitu melindunginya. ternyata dia secantik ini." gumamnya seraya menyesap rokok yang menguarkap asap kental. lengan kekar di penuhi jahitan itu tampak menyeramkan dengan tato ular merayap di sela gerigi lukanya.
"Tuan! dia sangat susah di dekati, hari itu 3 warga kita mencoba mengusiknya tapi keduanya tewas di tempat karna Pria itu."
"Tapi bukan berati tak bisa ku kendalikan." imbuhnya menyeringai. tak ada satu wanita-pun yang bisa lari dari kejaran penjahat sepertinya. apalagi ia sudah mengumpulkan beberapa data hidup tentang wanita itu.
"Mulai jalankan rencana. salah satu darah Kulfun sudah ada di genggamanku."
"Baik!" jawab seorang pria bertubuh lebih kecil yang berdiri di sampingnya.
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1