
Setelah membicarakan hal itu sedikit demi sedikit pada Sandra, rasanya keputusan berikutnya akan lebih berat. melihat respon bahkan isi pikiran wanita itu padanya membuat Rusel tak mampu berkutik.
Seperti sekarang. di dalam kamar bernuansa pink dengan banyak boneka itu menenggelamkan pikiran sesosok menawan yang tengah menjadikan dadanya bantalan kepala sang istri.
Tangannya terus mengelus surai panjang itu dengan pikiran menerawang.
"Apa dia akan membenciku?!"
Pertanyaan yang kerap terlintas di benaknya. sungguh rasa cemas itu membuat ia tak bisa memejamkan mata sekecil apapun.
"Sandra!" lirih Rusel mengusap pipi Sandra yang tertidur setelah makan begitu rakus tadi. seperti biasa ia sangat lelap dikeloni Rusel setiap malamnya.
"San! kau mendengarku?"
Sandra tak bergeming. suara dengkuran halusnya menarik senyuman samar Rusel tercipta sangat tampan.
"Maafkan aku. aku tak berniat untuk menghancurkan hidupmu, kau yang datang padaku." gumam Rusel mengecup pelan kening Sandra. jika malam itu ia bisa mengendalikan diri maka tak akan seperti ini.
Manik gradasi kehijauan Rusel bergulir menatap lekuk tubuh Sandra yang memang selalu membuatnya terbayang. sejauh ini ia masih tahan tapi tak tahu jika sudah lebih lama.
Drett..
Ponsel Rusel berdering menyadarkan Rusel dari pengamatannya. tertera nama Simob di layar benda pipih itu seakan begitu penting.
"Hm."
Rusel mengangkatnya dengan suara pelan menjauhkan wajahnya agar tak membangunkan Sandra.
"Ketua! semuanya selesai, Nona bisa masuk besok pagi."
"Jangan sampai isu di sini menyebar kesana."
"Baik. Ketua! Nona pasti akan senang."
"Semoga saja."
Jawab Rusel mematikan sambungannya. ia dengan hati-hati meletakan kepala Sandra ke atas bantal membuat wanita itu menggeliat dengan wajah menyeringit merasa bantal ini berbeda.
"Emm..Sel!"
"Sutt! kau tidurlah. hm?" bisik Rusel menepuk punggung Sandra lembut sampai wanita itu tenang kembali barulah ia turun dari ranjang.
"Airnya sudah habis." gumam Rusel melihat botol minum Sandra yang kosong. ia mengambilnya diatas meja dan membawanya keluar kamar untuk di isi lagi.
Rusel memakai kaos oblong lengan pendek yang menunjukan otot bisep lengan kekarnya dengan celana Joger santai membuat penampilannya begitu jantan dan memukau.
Setibanya di dekat tangga Rusel berpapasan dengan Bibik Iyem yang ingin ke kamarnya juga.
"Tuan!"
"Ada apa?" tanya Rusel berhenti di hadapan Bibik Iyem yang tersenyum menduga Rusel dari mana.
"Apa Nona Sandra sudah tidur?"
"Hm."
"Saya mau mengambil gelas susu kedelai tadi. Tuan!"
Rusel mengangguk membiarkan Bibik Iyem melangkah menuju koridor kamar.
Tentu Rusel turun ke bawah menapaki tangga yang tak terlalu panjang ini. ia melangkah ke arah Dapur di belakang sana untuk mengisi air ini lagi.
Setibanya disana. Rusel tak kaku dengan semua peralatan elektronik ini. ia membuka kulkas mencari buah lalu mengisi air yang kosong di dalam botol sana.
"Dia pasti akan lapar nanti." gumam Rusel mengambil piring dan menata buah-buahan di atasnya. anggur dan apel sebagai penambah nutrisi Bumil itu.
__ADS_1
"Kau sedang apa?"
Suara itu membuat Rusel diam sejenak lalu kembali melanjutkan kegiatannya. Ia menutup tutup botol yang sudah terisi lalu memasukan kembali buah-buah yang dikira tak begitu penting.
"Maaf! tapi, apa kau sering makan malam?" Erina yang terlihat berdiri didekat meja pantri dengan gaun malam berbalut blazer. ia terlihat menatap malu Rusel yang sangat tampan setiap waktunya.
"Tuan! kita sama, aku juga suka makan buah."
"Ini untuk Sandra!" jawab Rusel datar lalu mengangkat piring di tangan kirinya dan botol di tangan kananya. Erina menyelipkan anak rambutnya saat Rusel akan melewati jalan di hadapannya.
"Tuan!" Erina langsung berdiri di hadapan Rusel yang mundur satu langkah menjaga jarak dengan Erina.
"Apa Sandra ingin buah?"
"Menyingkir!" ucap Rusel masih tenang tapi tatapan dinginnya membuat Erina menunduk merasa kaku. ntah kenapa tatapan Rusel dan perlakuannya sangat berbeda jika bersama Sandra?!
"T..Tuan! aku bisa membantumu untuk.."
"Kau tak mengerti bahasa manusia?!"
Degg...
Erina terkejut dengan kalimat datar Rusel yang tak memandangnya. bahkan, manik elang itu hanya fokus lurus ke arah jalan diringi dengan hembusan angin mulai bergejolak kuat.
"T..tuan! maaf, tapi aku..."
Rusel sudah lebih dulu melewatinya membuat Erina tak terima. ia ingin memeggang lengan Rusel tapi tiba-tiba tubuhnya kaku dengan hujaman angin yang kuat.
Prankk...
Gelas diatas meja sana jatuh karna terdorong amukan angin dari sela jendela yang menerbangkan tirainya.
"K..kenapa ini?" gumam Erina memucat melihat tirai-tirai jendela sana menggila berkibar kuat diselingi dengan suara derutan pepohonan samping Kediaman.
Whuss..
"T...uaann.."
Rusel hanya diam melirik tajam Erina dari ekor matanya. pandangan membunuh yang begitu kejam dan misterius.
"Tak semuanya bisa kau miliki!"
"T..tuan!"
"Jaga batasanmu!" tegas Rusel lalu melangkah pergi dan barulah Erina terlepas dari rasa kaku itu sampai tersungkur ke lantai. nafasnya memburu mengisi rongga udara di dadanya.
"B..bikkk!" panggil Erina sesak nafas. sepertinya ia kambuh lagi, rasanya begitu susah menghirup udara.
"Non!!"
"B..Bik."
Bibik Iyem yang melihat dari atas sana langsung berlari ke bawah mendekati Erina yang sudah memucat di tempatnya. wanita itu terbatuk-batuk merasakan lehernya sungguh sakit.
"B..bik uhukk!"
"Ya Allah. Non! ini kenapa sampai begini?"
Bibik Iyem mengambilkan segelas air dan memberikannya pada Erina yang dengan cepat menegguknya tandas. sungguh angin tadi seakan tersihir untuk menyerangnya.
"B..Bik!"
"Iya, Non!"
Erina memeggang lengan Bibik Iyem dengan tatapan takutnya kesemua penjuru. ia benar-benar merasakan jika ada yang menyerangnya.
__ADS_1
"B..Bik. dia...dia itu siapa? kenapa..kenapa dia begitu ..."
"Non! maksud anda Tuan tampan itu?"
Erina mengangguk sampai berkeringat dingin. tatapan tajam Rusel seakan menikam jiwanya agar tunduk dan tak banyak bergerak.
"Tuan itu baik. dia tak jahat. Non!"
"A..aku...aku tahu, tapi...tapi dia... " Erina menjeda kalimatnya saat terfikir soal Sandra.
"Sandra.. dia..dia harus hati-hati dengannya. mungkin saja Pria itu ingin mencelakainya." sambung Erina merasa Rusel ini sangat berbahaya. ia memang mengagguminya tapi tak mungkin jika pria sepertinya mendekati Sandra tanpa alasan yang jelas.
...........
Sementara diatas sana. Sandra sudah terbangun karna tak merasakan lagi keberadaan Rusel di sampingnya. matanya yang tampak masih berat memaksakan untuk melihat ke semua sudut ruangan.
"Sel!!" serak Sandra khas bangun tidur. kancing Piyamanya tampak terbuka dua diatas dengan keadaan semberaut tapi masih tetap cantik dan menggemaskan.
"Sel!! kau dimana?" tanya Sandra beberapa kali menguap lalu turun dari ranjang. itu-pun sangat lunglai dan malas menapakan kaki ke ubin kamar yang dingin ini.
Grr...
Perut Sandra berbunyi karna lapar. mau tak mau Sandra melangkah ke arah pintu kamar yang sungguh menyiksanya malam-malam begini.
"Lapar.. emm!" gumam Sandra ingin menekan gagang pintu tapi sayangnya sudah di buka dari luar.
"Sel!" gumam Sandra sayu-sayu melihat Rusel berdiri di depan pintu. sayangnya Sandra begitu ngantuk sampai ingin tumbang ke belakang tapi dengan cepat pinggangnya ditarik Rusel.
"Kauu!!"
"Kau kemana saja? aku lapar. Sel!" gumam Sandra tak membuka matanya. Rusel mengiring Sandra ke arah ranjang lagi dengan piring yang tetap ia peggang. sebenarnya Sandra sangat merepotkan dengan sikap manjanya tapi tidak bagi Rusel sendiri.
"Berbaringlah!"
"Lapar!!"
"Iya, tapi berbaring yang benar!" ucap Rusel membaringkan tubuh Sandra yang membuka matanya kecil bahkan sangat kecil.
"Makan!"
"Hm. ini!"
"Makan!" gumam Sandra mengunyah anggur yang Rusel suapkan. senyum geli Rusel tercipta melihat wanita ini makan dengan mata terpejam.
"Kau ini benar-benar." Rusel menahan kekesalan sekaligus rasa menggelitik di dadanya.
"Sel!"
"Hm?"
"Makan!"
Rusel hanya menggeleng terus menyuapi Sandra yang akhirnya tidur juga. Namun, Rusel merasakan ada langkah seseorang di luar sana ke arah kamar.
"Satu..."
Gumam Rusel memprediksi suaranya dan ini lebih dari satu dan bahkan ini...
"Nona!!!"
Suara teriakan dari luar sana membuat Rusel terdiam menduga apa yang akan terjadi.
"Nona!!! keluarlah dari sana!!"
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..