
Langit yang tadinya di hiasi cahaya mentari sekarang berganti dengan kilauan rembulan yang samar. aura mendung itu terlihat tengah menyelubungi area Kediaman Hatomo.
Suasana beginilah yang jadi pertimbangan bagi sosok wanita bermanik hitam itu. Ia masih di posisi yang sama terkurung dalam pelukan kokoh sang suami yang tampaknya sudah tertidur.
"Ini sudah pukul 1 malam."
Gumam Sandra melirik jam di dinding kamar. Ia tadi sungguh bimbang harus pergi atau tidak.
Lama berfikir tak kunjung mendapatkan ketentuan. akhirnya Sandra menatap wajah damai Rusel yang masih saja terlihat mempesona walau tengah memejamkan matanya.
"Sel!" panggil Sandra mengguncang kecil lengan Rusel yang tak bergeming sama sekali. ritme nafasnya juga tenang dan stabil memperkuat dugaan Sandra.
"Dia sudah tidur. aku bisa pergi sekarang."
Batin Sandra perlahan melepas belitan tangan Rusel ke pinggangnya. walau begitu susah payah tapi Sandra dengan tubuh lentur itu menggeliat ke bawah hingga lepas.
Syukurlah. dia tak terbangun sama sekali.
Kiranya itu ucapan lega Sandra mengusap dadanya. Namun, saat kakinya ingin turun ke bawah ia mengingat soal apa yang Rusel katakan.
"Apa dia akan marah padaku?!" gumam Sandra kembali memandang wajah Rusel berat. sungguh Rusel pasti tak akan suka saat ia kembali ke Club.
"Maaf! tapi aku tak akan melakukan apapun, aku janji!" ucap Sandra lalu turun dari ranjang dan melangkah menuju ruang gantinya. Ia tengah memakai Piyama hitam tidur yang nyaman.
Sandra berganti pakaian tertutup dengan celana Jogger hitam dan Sweeter bertopi senada. Dengan mengendap-endap ia pergi ke arah Balkon.
"Aku harap ini berhasil!" gumam Sandra mencari tempat biasa ia turun. ada beberapa benjolan Balkon yang ia buat untuk sampai ke bawah sana.
"Ternyata jalan tikusku masih ada."
Sandra berbinar bahagia memanjat pagar Balkon dan turun ke bawah bergelantungan di atas dinding yang ada gerigi di tengahnya. Dengan sangat hati-hati ia bergerak sesuai apa yang telah ia lakukan selama ini untuk mengakali Papanya.
"Kau periksa bagian belakang!"
"****!!" Sandra mengumpat saat ada penjaga Kediaman yang tengah berkeliaran di sini. Ia mendekap dinding di sampingnya memanfaatkan nuansa remang bulan ini hingga tak ada yang melihatnya.
"Hanya sekali. Sel! jangan marah padaku." gumam Sandra masih takut-takut. Ia segera turun ke bawah sana lalu menelusup diantara pepohonan taman dengan lihai dan penuh ketelitian.
Mata tajam Sandra bergerak lincah memantau keadaan seraya terus berjalan ke arah Beton samping yang ada pohon mangga cukup besar untuk memanjat.
"Aku harus cepat!"
Sandra memanjat dahan rendah sana hingga ia terlihat fasih karna terbiasa melakukannya. satu persatu dahan ia tapaki hingga tiba ke bagian tepat di dekat atas Beton barulah Sandra berpindah hati-hati turun ke luar Tembok.
"Fyuhh!"
Hembusan nafas Lega Sandra tercipta. ia sudah ada di luar Kediaman dan sekarang ia harus pergi ke tempat biasa saat ingin pergi keluar.
"Aku harap dia masih ada disana!" gumam Sandra lalu berlari kecil ke arah jalan di ujung Kediaman. ia menyeberang karna Rumah Pak Darto si pembersih jalan ada di seberang.
"Paak!!!" panggil Sandra saat sudah sampai ke halaman depan. ia butuh motor pria tua itu untuk ke Club.
"Paak!! Ini Sandra, Paak!!" sambungnya lagi mengetuk pintu.
__ADS_1
"Paak!!"
"Non!"
Pria tua itu membuka pintu. ia tak terkejut lagi melihat Sandra yang sudah biasa seperti ini, tentu tanpa Sandra bicara Pak Darto langsung memberikan kunci motor Beetnya.
"Ini. Non! bawanya hati-hati ya, soalnya habis di servis." segannya tapi hanya bercanda.
"Nanti akan ku tabrakan ke tiang jalan. Pak!"
"Jangan. Non!"
Sandra mengambilnya lalu langsung menaiki motor modelan menengah yang tersandar di samping Rumah. Ia memang bisa mengendarai apapun asal tak membuatnya susah bergerak.
"Pinjam dulu. Pak!"
"Iya. Non!"
Sandra melajukan benda itu kembali masuk ke arena jalan. laju kendaraan itu cukup membuat Pak Darto menggeleng kembali menutup pintunya.
...................
Sudah sedari tadi Daniel menunggu di Club ini. semuanya tampak berpesta menegguk minuman keras dengan para wanita yang berguncang sesuai perintahnya.
Tentu Daniel tetap menunggu berharap Sandra menyetujui permintaanya. Ia duduk di atas kursi Bar ditemani beberapa minuman, ia tak bergabung bersama teman-temannya di ujung sana.
"Tuan!"
"Apa?" tanya Daniel pada Dimas yang lagi-lagi mengganti gelasnya. pria dengan wajah khas indo itu merasa aneh dengan sikap cuek Daniel pada gejolak musik menghibur ini.
"Kembalilah bekerja. kau ini tak ada pekerjaan lain. ha?" geram Daniel membuat Dimas menciut segera pergi melayani tamu yang lain.
Pandangan Daniel terus mengarah ke pintu masuk Club. ia sangat berharap Sandra datang untuk mendengar penjelasannya.
"Daniel!! untuk apa kau disana???"
"Yah!! disini banyak yang di kerjakan!!"
Sorakan para temannya yang tertawa melihat Daniel yang sama selalu tak asik semenjak kepergian Sandra. pria itu seakan tak berminat dengan yang lain.
"Daniel!"
"Sial!!" umpat Daniel saat melihat Karina melangkah kesini. ia sangat jengah dengan wanita satu ini.
"Kau menunggu siapa?"
"Bukan urusanmu!" jawab Daniel ketus menegguk gelasnya sampai tandas seraya berdiri ingin melangkah pergi. Tapi, ia melihat ada seseorang yang masuk tergesa-gesa dari arah pintu.
"Daniel! kau.."
Daniel tak menghiraukan ucapan Karina. pria itu dengan cepat mendekati sesosok wanita yang menutupi wajahnya dengan topi Sweteer miliknya.
"San!"
__ADS_1
"Jangan keras-keras!" jawab Sandra tak mau di dengar orang lain. suara musik keras ini begitu berdentum membuat Daniel mengerti mengiring Sandra menuju tangga di atas.
"Ikut aku!"
"Hm."
Sandra tetap menyembunyikan wajahnya mengikuti Daniel yang terlihat sangat senang membuat dahi Karina mengkerut.
"Siapa yang bersamanya?" gumam Karina ingin membuntuti tapi salah satu temannya memanggil membuat Karina mengurungkan niatnya.
Sementara diatas sana. Sandra di bawa ke tempat dimana malam itu mereka bertengkar. tentu wajah Sandra dingin sungguh tak nyaman dengan semua ini.
"San!"
"Cepat katakan!" desak Sandra berdiri di samping Daniel tepat di dekat Balkon.
Wajah Daniel merenung menatap wajah cantik Sandra yang sangat ia rindukan. dulu ia bebas menyentuh visual indah ini tapi sekarang rasanya ada batasan diantara mereka.
"San! aku minta maaf, aku ingin kita kembali me.."
"Aku datang kesini untuk mendengar kebenaran bukan omong kosongmu!" tekan Sandra menatap tajam Daniel yang tertegun diam. tatapan Sandra terlihat berbeda dengan yang dulu.
"Apa kau tak me.."
"Aku pergi!" melangkah ke arah luar.
"Baik! aku ..aku akan katakan!" sambar Daniel menghalang langkah Sandra ingin pergi. ia ingin memeggang bahu Sandra tapi tentu Sandra mengelak tak membiarkannya.
"Katakan!"
"San! malam itu kau mabuk karna terlalu banyak minum. tapi, aku tak menyangka kalau di minumanmu sudah di beri obat perangsang oleh Karina dan Anju."
"A..Apa?" tanya Sandra sungguh syok. ia tak menyangka malam itu selain mabuk ia juga terkena pengaruh obat.
"Benar! aku memang bekerja sama dengan mereka menghancurkan-mu tapi aku bersumpah aku tak pernah ada niatan untuk melakukan itu, aku...aku memang mencintaimu. Sandra!" sambung Daniel serius dan begitu tampak melemah.
"L..lalu apa yang terjadi?"
"Aku membawamu ke kamar atas, lalu aku keluar ingin mencari bantuan, tapi. setelah aku kembali kau sudah tidur di atas ranjang kamar!" jawab Daniel serius dan tak ada raut ke bohongan sama sekali.
Sandra langsung mengusap wajahnya frustasi. sungguh ia merasa di permainkan oleh situasi.
"L..lalu apa? aku tak mengerti!"
"San! aku tak perduli siapa ayah anak itu tapi aku mohon, aku ingin kita seperti dulu." ucap Daniel menggenggam tangan Sandra yang diam tak tahu harus bagaimana.
"Aku mohon. aku sangat mencintaimu, aku tak perduli tentangnya. tapi, aku ingin kau!"
Sambung Daniel lagi beralih memeggang pipi Sandra dengan lembut. Sandra hanya diam tak tahu harus berbuat apa.
Tentu semua itu di pandang panas oleh mata elang membunuh seorang pria dari arah pintu sana. Ia tak bodoh untuk memahami keadaan hingga setiap gerak-gerik wanita itu tak akan luput dari pantauannya.
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang