
Langit yang tadi bercahaya sedikit di tutupi awan gelap telah tertutupi hamparan hitam yang terlalu pekat tak ada kerlipan bintang sama sekali.
Di bawah hamparan gelap itu tengah berkilau lampu neon Istana megah Dezon dimana tengah adalah pesta yang cukup besar bagi Keluarga Istana.
Yang datang di pesta ini hanya kerabat dekat dan anggota inti Kerajaan. semua itu di lakukan agar bisa mengantisipasi tanggapan orang luar atas situasi Istana sekarang.
"Selamat untukmu. Tuan Lucas!" ucap Perdana Mentri dari Kerajaan Walker. tentu Lucas begitu senang bahkan ia menyapa beberapa kerabat dekat yang sangat mengapresiasi kinerjanya.
"Terimakasih kalian menyempatkan hadir."
"Tentu. Tuan! kami dari Kerajaan Walker sangat yakin akan kemampuan orang Dezon."
Puji mereka membuat Lucas melambung tinggi. ia berdiri di tengah lantai dasar aula megah yang tengah di hiasi lampu dengan kesan mewah dari warna Gold tirai dan menonjolkan kemeggahan relief dinding yang indah.
Beberapa pelayan Istana tengah berbaris memutari kursi dan meja-meja tamu yang tampak saling bercengkrama akrab. termasuk Nyonya Loure yang tengah anggun duduk bersama dengan Nyonya Nazue dan Nyonya Grely yang bersenda gurau.
"Yang Mulia Raja Mikes. Tiba!!!"
Suara penjaga langsung berbaris di depan pintu besar Aula dimana Karpet merah itu terbentang indah menyambut kedatangan sosok-sosok berwibawah ini.
Raja Wilson juga ikut hadir menggandeng istrinya Ratu Christina menebar senyuman. Begitu pula Ratu Bellarosa yang berjalan anggun membawa aura bangsawan yang mengimbangi Raja Mikes tegas berwibawah.
"Yang Mulia!"
Sapa mereka berdiri dan menunduk memberi salam hormat. Raja Mikes dan Raja Wilson yang mengangguki hingga mereka kembali berdiri tegap.
"Lanjutkan pesta kalian!"
"Dimana Putra Mahkota? Yang Mulia!" tanya Nyonya Nazue sopan penuh hormat pada Raja Mikes yang terdiam sejenak.
Nyonya Loure tersenyum pelit. ia berharap jika Rusel tak datang kesini dan semua tamu undangan Pesta pasti akan kecewa dengan tindakan Putra Mahkota Dezon.
"Kami sangat ingin bertemu Putra Mahkota. terlepas dari berita miring beberapa minggu ini kami hanya berharap niatan baik dari Putra Mahkota. Yang Mulia." imbuh Nyonya Nazue membuat Ratu Bellarosa menghela nafas.
"Putraku Feliks masih ada urusan dia...."
"Maaf, menyela. Yang Mulia!" tukas Nyonya Loure mendekat dengan senyuman tak lekas. tatapan Raja Mikes hanya datar dan terkesan sangat dingin.
"Prince Feliks pasti akan datang. dia adalah Putra Mahkota Kerajaan Dezon dan tak mungkin jika Prince bersikap seburuk itu." imbuhnya lagi membuat wajah Ratu Bellarosa mengeras.
"Aku yakin putraku sudah dewasa dalam bersikap. kembalilah menikmati Pesta ini." tegasnya meredam amarah menjalankan kembali suasana.
Beruntung disini tak ada Media hingga suasana meneggangkan bagi kehormatan Kerajaan Dezon ini tak terlempar keluar.
"Ratu Bella! putriku juga sedang bersiap. dia akan datang kesini." ucap Ratu Christina yang diangguki Ratu Bellarosa.
"Baiklah. sekarang, mari kita sapa beberapa tamu dari negara tetangga."
"Tentu saja."
Keduanya pamit pada para suaminya dan melangkah bergabung bersama beberapa wanita yang tengah menikmati minuman hangat malam ini.
Raja Mikes diam membisu menahan emosi yang meluap. dari cara Loure memojokan Rusel ia yakin wanita ini akan selalu membuat masalah.
"Apa Putra Mahkota tak mau datang." lirih Raja Wilson yang agak segan.
"Dia akan datang. nanti akan kita bahas soal rencanamu."
"Aku menunggu. Yang Mulia!"
Raja Mikes melangkah ke arah kursi yang telah di sediakan bagi petinggi Kerajaan. tak ada yang mau mengajaknya untuk membahas hal di luar Kerajaan karna sifat tegas dan kejam Raja Mikes selama ini.
"Putri Anatasya!"
Mereka tersenyum melihat Putri Anatasya sudah muncul di ambang pintu sana di dampingi dua pelayan di belakangnya. Rambut keriting itu di gulung tinggi dengan perhiasan mahal yang mewah menunjang Gaun berwarna biru bak princess itu.
"Nak! kemarilah!" Ratu Christina bangga melihat putrinya yang cantik. penampilan Putri Anatasya yang di baluti Dress kebiruan berlian murni itu memperlihatkan setengah pahanya yang sangat mulus.
"Maaf, aku terlambat."
"Tak apa jika putri secantik kau terlambat. karna butuh waktu bersiap sampai secantik ini." timpal mereka memuji Putri Anatasya yang tersenyum malu.
"Pantas saja banyak yang ingin mempersunting Putri anda Yang Mulia! putri kami saja kalah cantik darinya."
"Yah. kami rasa Putra Mahkota engan berpaling nantinya."
__ADS_1
Tanggapan para tamu ini melambungkan keangkuhan Putri Anatasnya yang tak sabar lagi bertemu Rusel. Ia tadi dengar sendiri kalau Raja Mikes meneggaskan jangan mengajak Sandra atau terima saja konsekuensinya.
"Ibu Ratu! apa penampilanku sudah bagus?" tanyanya pada Ratu Bellarosa yang tersenyum kecil mengangguk.
"Kau putri Ratu Christina. tentu kecantikanmu sangat menuruni Ibumu. Nak."
"Ibu bisa saja." jawab Putri Anatasnya memerah. ia beberapa kali menatap ke arah pintu utama dengan gelagat yang selalu di perhatikan mata licik Nyonya Loure.
"Mom! kau yakin jika Feliks tak akan datang?"
"Putraku! datang atau tidak itu sama saja menghadirkan keuntungan bagi kita." jawab Nyonya Loure seraya meneguk Wine di gelas gentingnya.
"Maksud. Momy?" tak mengerti.
"Kalau dia tak datang maka sekali lagi kau menang. dan kalau sampai dia datang, pasti dia akan mengecewakan istrinya dan kita bisa membuat hubungan mereka hancur." desis Nyonya Loure meremas gelasnya.
"Bagaimana kalau dia membawa Sandra?"
"Tidak akan. aku rasa Feliks tak akan membuat kemurkaan Raja Mikes menyakiti kekasihnya. disini banyak yang mengancam dan mustahil dia berani menunjukan keburukan si wanita lancang itu." maki Nyonya Loure emosi saat mengingat Sandra.
Lucas paham itu karna selama ini setiap putri Kerajaan yang mencoba mendekati Rusel maka semuanya akan sekarat akibat racun Momynya. hanya Putri Anatasya yang boleh menjadi istri pria itu tapi sayangnya kenyataanya berbeda.
"Mom! aku sudah menuruti semua rencana Momy. semua data tentang aset Kerajaan Dezon sudah ku berikan ke pada para Bandit itu."
"Kau sangat pintar. hm?" puji Nyonya Loure mengusap kepala putranya lembut. tinggal satu langkah lagi maka usahanya selama bertahun-tahun akan berhasil.
"Mom! aku rasa wanita itu tahu apa pekerjaan. Momy!"
"Walaupun dia tahu. dia bisa apa? membongkarnya dia harus punya bukti. Sayang!"
Lucas diam. jujur ia memang ingin menjatuhkan Rusel tapi tak disangka si liar itu setiap kali menggagalkan rencananya.
"Mom! aku cemas jika dia.."
"Yang Mulia!"
Lucas dan Nyonya Loure langsung menoleh ke pintu besar Aula.
Mata Lucas terbelalak dengan objek yang tengah berdiri di sana. Dua sosok mahluk yang tampak begitu mempesona dengan balutan pakaian yang begitu mewah.
"Ternyata dia sangat cantik dari yang di foto!" gumam para tamu undangan sana mengaggumi paras Sandra yang datang kesini.
Riasan kelopak mata indah itu sangatlah menunjukan ketegasan dengan tatapan manik hitam yang menyihir semua orang. Wajah mulus natural dan tubuh tinggi bak supermodel.
"Sel!" lirih Sandra merasa aneh dengan penampilannya saat ini. Gaun berwarna hitam satin yang terlihat longgar di tubuh Sandra dengan bagian bahu terbuka serta panjangnya sampai ke mata kaki.
Memperjelas kulit putih Sandra dengan memperlihatkan leher jenjang terbelit Giok mahal yang sedikit di tutupi rambut panjangnya.
"Aku sudah bilang pakai Mantelmu. bukan?" geram Rusel membelit posesif pinggang seksi Sandra yang beruntung di tutupi Gaun yang agak mengembang di bangian bawah dada. tapi, dada keatas itu patut di kondisikan.
"Sel! ini Pesta dan ada kedua orang tuamu. aku tak boleh membuat mereka malu."
"Kau bisa masuk angin." umpat Rusel tapi suara itu hanya bisa di dengar oleh keduanya. Aura tak bersahabat Rusel pada beberapa lelaki ini membuat suasana agak dingin di tambah lagi pandangan menusuk Raja Mikes pada Sandra.
"Selamat malam semuanya!" sapa Sandra tersenyum hangat. mereka saling pandang tak tahu harus bagaimana karna disini ada Putri Anatasnya.
Tahu akan kegundahan para tamu. Sandra memilih mengiring Rusel melangkah masuk lebih dekat dengan yang lain.
"Aku tak perlu di sanjung seperti Yang Mulia Raja Mikes dan Raja Wilson. disini aku hanya ingin menemani suamiku." ucap Sandra memberi salam pada Raja Mikes yang hanya diam.
Mereka terlihat bimbang. pasalnya Sandra yang mereka lihat dari pemberitaan selama ini begitu liar dan tak ada sopan santun. tapi, sekarang terlihat sangat mengayomi.
"Berapa usia kehamilan anda. Nona?" Nyonya Grely memberanikan diri karna melihat perut Sandra cukup besar.
"Iya. kau tengah hamil tapi tubuhmu masih terjaga, pantas Putra Mahkota tak melepas belitan tangannya." imbuh yang lainnya karna ntah kenapa kehadiran Sandra membuat mereka berani untuk bicara.
Rusel yang mendengar godaan para tamu itu, bukannya melepas pinggang Sandra ia bahkan lebih berani merapatkan tubuh keduanya membuat wajah para gadis sana memerah.
"Sel!" lirih Sandra agak malu apalagi ada yang tengah kebakaran jengot.
"Aku tak perduli! naikan lagi bagian dadamu." tekan Rusel menatap tajam Sandra yang menggeleng. ia suka begini dan lebih percaya diri, daging kenyal itu sedikit menyembul dan itu di sengaja oleh Sandra yang tengah suka berpenampilam seksi.
"Sel! ini biasa. kau lihat yang lain, bahkan bokong mereka hampir ter.."
Rusel langsung melepas Jasnya dan membalutkan benda itu ke tubuh Sandra menutupi bagian yang terbuka. Sandra ingin menolak tapi Rusel tengah menatapnya dingin dan mau tak mau Sandra pasrah.
__ADS_1
"Kau tak di jual disini."
"Sutt! mereka menatap kita." gumam Sandra kikuk. ada senyum samar di wajah Ratu Bellarosa melihat Sandra tampak menjadi objek perhatian disini.
Putri Anatasya mengepalkan tangannya kuat bersama Ratu Christina yang menganggap ini sebagai penghinaan. jelas Rusel mempermalukan putrinya di hadapan semua orang.
"Kenapa dia membawa wanita itu?" geramnya pada Ratu Bellarosa yang tampak tenang.
"Aku sudah mengatakannya Ratu Chris! Putraku sudah punya istri dan kekasih hati. tak ada yang bisa untuk menceggahnya."
"Tapi. bukankah Raja Mikes sudah menekankan ini. dia tak akan datang bersama wanita itu." bantah Ratu Chritina tapi Ratu Bellarosa hanya diam menatapnya tegas.
"Maaf, tapi aku tak bisa memaksa putraku. kalau kau mau, cobalah bersaing dengan istrinya. Ratu Chris!"
Putri Anatasnya terlihat masih berusaha menahan diri. Ia tak menyangka Sandra bisa tampil semenawan itu tapi akan ia buktikan di hadapan semua orang kalau ia punya kualitas dan pantas bersanding dengan Feliks.
"Nona Sandra!"
Sandra menoleh pada Putri Anastasya yang melangkah mendekat dengan senyum hangatnya. semua orang disini saling pandang tapi Lucas hanya menatap wajah cantik Sandra.
"Selamat datang di kehidupan Formal dan penuh aturan." niatan memojokan Sandra.
"Maksudnya?"
"Maaf, tapi kalau kau merasa tak nyaman di lingkungan Istana. kau bisa memintaku untuk menemanimu. Nona! aku bersedia."
Jawaban Putri Anatasnya menuai sorotan. Sandra melihat jelas jika kelakuannya selama ini sudah tertinggal di benak semua orang.
"Bagaimana? aku sangat merasa terhormat mengajarimu." timpalnya lagi.
Rusel menahan diri karna tatapan Ratu Bellarosa menekan agar ia jangan ikut campur.
"Yang lain setuju? aku ingin bisa berguna untuk mengajari Nona Sandra agar bisa mematuhi aturan di..."
"Kenapa kau begitu repot. Putri?" tanya Sandra menyela ucapan Putri Anatasnya dengan tenang. Rusel mengamati wajah cantik Istrinya yang penuh ketenagan.
"Aku akui jika selama ini tindakanku terkadang sangat menjengkelkan." Sandra melangkah ke tengah keramaian.
"Aku suka menjahili orang lain bahkan aku bisa membuat satu kota kacau hanya dalam hitungan menit. kalau tak percaya. tanyakan pada suamiku."
Mereka menatap Rusel yang fokus mendengarkan Sandra. ia menjaga aura disini agar tetap bersahabat dengan tubuh istrinya.
"Aku suka bolos Kuliah, gemar balapan, dan tak begitu pintar dalam bidang pengetahuan."
"Kau mengakuinya?" remeh Nyonya Loure sinis. Sandra mengangguk dan tak mengelak.
"Tapi satu, senakal-nakalnya hidupku. aku tak pernah ada niatan ingin menjatuhkan orang lain yang tak mengusikku!" tegas Sandra membongkem Nyonya Loure.
"Aku tak pernah ingin mendapatkan sesuatu secara instan."
"Nona Sandra! kau terlalu banyak bicara."
"Ingin ku beri contoh?"
Glek..
Nyonya Loure menelan ludahnya kasar melihat Sandra menyeringai. wajah yang sama di saat memojokannya.
"Maksudmu?" Ratu Bellarosa ikut bicara. keringat dingin itu keluar dari kening Nyonya Loure yang memucat.
"Yang Mulia! saat pertama datang kesini. aku sudah di sambut dengan makanan BRRACUN."
"Jangan membual kau!!" sambar Nyonya Loure membuat mereka menyeringit.
"Kenapa kau panik?"
"Ratu Bella! dia pasti hanya akan membuang waktu, sebaiknya sekarang kita langsung ke.."
"Apa kau takut. jika namamu ku katakan?"
Duarrr..
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1