Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Jangan lepaskan satupun!


__ADS_3

Satu Mobil mewah berlapis baja itu melesat stabil ke arah jalur keluar dari Kota. mobil-mobil para pengawal lainnya berpencar agar tak terlihat seperti tengah menjaga seseorang. Malam ini mereka harus cepat mengejar waktu.


Sandra yang kebingungan-pun hanya bisa diam duduk di samping Rusel yang terlihat terus menatap layar ponselnya. Walau suasana di luar begitu dingin dengan serbuk salju berterbangan di jalan kota tapi tak menyulitkan Simob untuk mengemudi.


"Sel! jelaskan dulu kalian mau apa?"


"Nona! sebaiknya kau tenang saja. Ketua akan menjemputmu 1 Minggu ke depan." Simob menjawab seraya meliukkan setirnya masuk ke arah sebuah Lorong. mereka memilih jalan yang sepi menuju Bandara pribadi milik Kerajaan.


"1 minggu? yang benar saja."


"Hanya 1 minggu. hm?!" ucap Rusel mengusap puncak kepala Sandra yang terdiam sejenak. ini sudah pukul 1 malam, ia juga belum tahu kenapa Rusel melakukan ini?


"Sel! apa akan ada penyerangan di Istana lagi?"


"Hm. kali ini lebih banyak."


"Pasti mereka sangat kuat. bukan?" cemas Sandra jika sampai nanti terjadi sesuatu pada Rusel ntah apa yang akan ia lakukan.


Tahu akan rasa khawatir istrinya Rusel segera membawa wanita itu dalam pelukannya. Ia tak punya waktu banyak nanti, jelas jika akan ada perkelahian yang akan membuat kerugian besar.


"Maafkan aku. mungkin, aku tak akan sempat menghubungimu setiap hari."


"Tapi jaga diri baik-baik. aku tak mau kau terluka dan kurang sedikit-pun." tekan Sandra membelit pinggang kekar ini erat.


"Jangan cemaskan aku. Jaga dirimu sendiri maka kau juga akan menjagaku."


Sandra mengangguk terdiam beberapa saat. Namun, ia ingat akan satu pertanyaan yang ia pendam sedari tadi.


"Sel!"


"Hm."


"Apa yang kau lakukan bersama wanita itu di dalam kamar tadi?" tanya Sandra sangat penasaran. Ia selalu berfikiran buruk sampai tak tenang duduk disini.


Mendengar itu Rusel menghela nafas. Ia tadi gelisah karna memikirkan Sandra. ia cemas jika Sandra sakit karna memikirkan hal buruk tentangnya.


"Pernikahan itu awalnya memang harus di lakukan."


"L..lalu? kenapa sekarang berbeda?" tanya Sandra tak mengerti. Rusel memainkan jari lentik Sandra yang ada di atas pahanya.


Simob yang mendengar hanya bisa menghela nafas. Nonanya tak tahu saja bagaimana perjuangan Ketuanya meyakinkan Raja Mikes bahwa ia bisa menangani ini sendiri tanpa harus menikah.


Awalnya memang Raja Mikes menekannya hingga membuat Rusel hampir gila memikirkan pernikahan itu. Namun, setelah beberapa waktu menyusun rencana akhirnya Rusel mampu membuat arah lebih jelas.


"Pernikahan itu hanya pancingan agar Kerajaan Wilson bisa tunduk kembali."


"Maksudnya?" masih ambigu.


"Aku sengaja menyetujuinya agar putri Raja Wilson yang memeggang data Kerajaan bisa dekat kembali dengan kita. aku membiarkan mereka masuk seakan-akan tunduk tapi. aku memanfaatkan itu untuk mengambil alih data Kerajaan mereka."


Sandra terperanjat dengan penjelasan Rusel barusan. Wajah datar tampan ini masih begitu tenang seakan tak bingung dengan rencananya sendiri.


"J..jadi kau ingin membalikan situasi?"


Rusel mengangguk mengecup kilas bibir merah Sandra yang terbuka menggemaskan.

__ADS_1


"Mudah untuk menggali informasi dari seseorang yang penuh hasrat."


"Kau..."


"Jangan berfikiran kotor dulu." tekan Rusel tahu isi kepala nakal wanita ini. Sandra hanya diam merasa jengkel kalau sampai Rusel di sentuh oleh wanita itu.


"Lalu apa? dia itu Lintah. aku wajar mencemaskan-mu." ketus Sandra ikut emosi.


"Hanya mengalihkan kesadarannya. dia bisa menyerahkan apapun. itu mempermudah rencanaku."


"Apa datanya sekarang padamu?"


Rusel mengangguk. Ia hanya tinggal mengancam Kerajaan Wilson agar kembali tunduk membantu dalam peperangan atau data Kerajaan mereka akan beralih tangan ke musuh yang lain.


"Apa itu tak terlalu kejam? Sel!"


"Ini politik! tak ada yang bertahan jika tak saling melawan." jawab Rusel membuat Sandra menghela nafas. ternyata menjadi seorang yang berpengaruh itu sangat sulit. Banyak hal yang harus di selesaikan dan kalau tidak maka kebahagiaan sendirilah yang akan hancur.


Setelah beberapa lama perjalanan. Sandra melihat Gerbang besar Bandara yang sudah di bersihkan dari tumpukan Salju. lampu-lampu dipinggiran beton ini begitu terang memudahkan perjalanan.


"Sudah tiba. Ketua!" Simob memarkirkan Mobil di dekat lapangan landasan. Beberapa anggota mereka berlarian membawa Mantel tebal dan payung meneduhi dari hujaman serbuk Salju.


"Prince!" Pria berambut Blonde sebahu itu membuka pintu mobil memberikan Mantel bulu tebal ke tangan Rusel yang dengan cekatan memakaikannya ke tubuh Sandra.


"Semuanya aman. Prince! penerbangan kali ini juga akan di jaga Anggota Perlintasan."


"Minta mereka menunggu di landasan!"


"Mereka siap. Prince!" jawab Ivan menunggu di samping mobil. ia mengambil payung dari salah satu anggota meneduhi Nonanya yang keluar dari mobil.


"Sedikit!" jawab Sandra meniup telapak tangannya. Rusel memakaikan Syal ke lehernya dan tak lupa sarung tangan dan topi hangat di kepala cantik Sandra.


"Prince! kita harus cepat."


"Hm."


Rusel menggenggam tangan Sandra seraya melangkah ke arah Pesawat yang sudah siap landas. Guren tampak menunggu di sana dengan mesin operator selalu menyala.


"Ketua!"


"Jangan ada satu-pun peluang! aku tak ingin ada kabar buruk tentang ini." tegas Rusel yang di angguki mereka semua. Sandra menguatkan genggamannya ke tangan besar hangat Rusel yang akan melepasnya.


"Kau siap?"


"1 minggu saja-kan?" tanya Sandra terlihat tak rela. ia tak tahu jika Rusel sendiri juga tak mau berpisah sedetik saja tapi ini demi keselamatan Sandra yang tengah hamil tua.


"Hm. percayalah padaku. kau cukup jaga dirimu di sana. mengerti?"


"1 Minggu! lebih dari itu aku tak akan mau percaya padamu lagi."


Rusel mengangguk mengecup lama bibir Sandra yang menghisap kuat bibir Rusel membuat para anggota sana bersemu. Tapi, Sandra tak perduli. toh ini bibir suaminya. pikir Sandra acuh.


"Guren!"


"Siap. Ketua!"

__ADS_1


Guren mendekat menatap wajah murung Sandra yang beralih memeluk tubuh kekar Rusel erat. tangan pria itu mengusap perut istrinya agar lebih tenang.


"Aku akan merindukanmu. Sel!"


"Aku tidak." jawab Rusel membalas pelukan Sandra tak kalah erat. ucapan yang begitu aneh dan palsu.


"Terserah. tapi yang jelas aku dan baby menunggumu."


"Hm. jangan nakal."


Sandra mengangguk melepas pelukannya dengan tak rela lalu melangkah mengikuti Guren yang sudah mengemas barang-barangnya.


"Cepat jemput aku!!"


Rusel tersenyum pelit memandangi tubuh Sandra yang di boyong ke arah pintu pesawat. ada yang kosong didalam hatinya saat melihat kepergian wanita itu tapi ia harus menekan perasaan ini.


"Sel!!!"


"Apaa??" jawab Rusel tak melepas tatapannya dari tubuh Rumput liarnya yang mulai setengah masuk ke pintu pesawat.


"Cepat pulang!!"


"Hmmm!!"


"Hmmm!!" tiru Sandra jengkel membuat suasana berbeda. Ia memberi kecupan jarak jauh dan barulah masuk ke dalam pesawat. Itupun kepala wanita itu mengintip dari arah jendela.


"Daaaaa!!!!"


Rusel membalas lambaian Sandra yang terlihat di paksa duduk di kursinya. Guren membungkuk pamit seiring dengan pintu pesawat tertutup otomatis.


Suara operator Bandara berbunyi mengabarkan jika penerbangan akan di mulai. Anggota dan Team penerbangan terlatih disini menyingkir dengan lampu batangan di angkat sebagai bentuk penghormatan.


"Cih." decah Rusel melihat Sandra menempelkan bibirnya ke jendela pesawat sampai senyuman si liar itu membuatnya mulai merindu.


"Pesawatnya mau terbang. Ketua!"


"Pastikan dia selamat sampai kapan-pun."


Simob mengangguk ikut memandangi Pesawat itu mulai bergerak ke arah landasan yang sudah di bersihkan dari tumpukan salju. Semuanya memandangi kepergian pesawat yang menciptakan angin menerbangkan ujung mantel mereka.


Pandangan Rusel tak putus seakan jika ia berkedip maka wanita itu akan hilang di matanya.


"Ketua!" panggil Simob menyadarkan jiwa Rusel yang sempat teralihkan.


"Mereka bergerak?"


"Yah! dari pantauan anggota. ada 5 pasukan yang akan datang. 3 menyerang Istana dan 2 membuat kericuhan di daerah yang cukup strategis menyebar kecemasan diantara rakyat Dezon."


Wajah Rusel berubah keras. wajah yang tak pernah ia tunjukan ketika bersama Sandra ketika tengah berbunga, pahatan penuh dengan tipuan dan rencana otak cerdiknya.


"Jangan lepaskan satupun!"


"Baik!!"


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2