Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Keterkejutan Sandra!


__ADS_3

Hawa dingin ini tiba-tiba saja melanda Kerajaan Dezon. memang mereka tengah memasuki musim dingin tapi biasanya tak secepat ini. Bahkan, udara yang tengah berhembus di luar sana menerbangkan butiran-buritan halus salju yang mulai turun.


Langit diatas sana juga mendung karna mentari tengah di selubungi awan hitam.


Cuaca di luar yang tak menentu hampir sama dengan suasana Kerajaan yang terlihat tak baik-baik saja. semuanya hening tak seperti biasanya.


"Kenapa semua orang sangat sibuk?" gumam Sandra yang baru turun dari kamarnya. ia melihat beberapa pelayan yang tengah membersihkan semua lekukan Istana Megah ini.


Tapi, yang Sandra tak mengerti adalah. Kemana Siluman tampannya itu? kenapa tak ada di kamarnya?


Lama Sandra berfikir. akhirnya ia melihat Simob yang baru turun dari Lift arah lantai ruang kerja Raja Mikes.


"Simob!!" panggil Sandra dari tangga atas. Simob terlihat menatapnya berbeda menarik rasa bingung Sandra..


"Nona!"


"Dimana suamiku?"


Simob terdiam mendekati Sandra yang turun perlahan menapaki karpet merah ini. Daster hamil yang terlihat santai dan elegan itu semakin menambah pesonanya.


"Dimana dia? sepertinya Ketuamu itu sudah bosan tidur di kamarku." omel Sandra memeggangi perutnya dengan satu tangan dan satunya lagi berpegangan ke lengan Tangga.


"Nona! sebaiknya kau istirahat agar.."


"Aku baru bangun tidur. dan kau menyuruhku berbaring lagi. kau mau membuatku lumpuh. ha?" ketus Sandra sudah berhadapan dengan Simob yang diam. rasanya ia tak tahu harus apa.


"Dimana Ketua-mu? dia begitu sibuk sampai tak menemuiku lagi ini."


"Ketua... dia.." Simob mencari alasan. ia juga belum melihat apa Ketuanya masih ada di dalam ruang pertemuan sana atau tidak?


"Dimana?"


"Itu... Ketua.."


Sandra terdiam sejenak. ia mulai aneh dengan keadaan ini. Semua pelayan yang sibuk seakan mempersiapkan sesuatu dan Simob yang tiba-tiba gugup.


"Dimana dia?" intonasi cukup tenang.


"Ketua sedang tak ada di Istana. dia..."


"Kau tak bisa membohongiku!" sela Sandra cepat mencegat kalimat yang belum selesai di kerongkongan Simob. kata pria itu terlihat melemah sudah pasrah.


"Nona!"


"Dimana dia?" tegas Sandra tak bersahabat. Mau tak mau Simob akhirnya menghela nafas untuk menormalkan perasaan tak menentunya.


"Ketua ada di Ruang Pertemuan."


"Apa ada Pertemuan lagi?" gumam Sandra seraya melangkah ke arah koridor samping dimana tempat penyambutan tamu seperti biasa.

__ADS_1


Para pengawal yang berjaga di dekat Lift sana saling pandang melihat kedatangan Sandra tapi mereka enggan bersuara. Sandra melewati saja seraya berbelok ke arah pintu Ruang Pertemuan.


"Awas saja kau. ini sudah jam 10 tapi masih belum menemuiku." gumam Sandra mengibas rambut panjangnya. Ia sudah berdiri di depan pintu besar megah ini dengan Simob yang baru sampai mendekatinya.


"Nona"


"Ada pertemuan di dalam?" tanya Sandra menatap menyelidik Simob yang menggeleng kaku. tak mau membuang waktu, Sandra langsung mendorong gagang pintu.


"Nona!" Simob menahan bahu Sandra saat ingin melangkah masuk. ia menarik wanita itu mundur karna ada ada pecahan beling di dekat pintu.


Sandra juga syok melihat keadaan ruangan ini seperti habis di guncang gempa. Meja kayu yang sudah hancur berserakan bersama dengan Jendela yang sudah tak ada kacanya.


"S..Sel!!!" pekik Sandra saat melihat sosok gagah itu tengah bersandar ke dinding yang agak gelap di tutupi tirai yang robek. Ia segera masuk ke dalam melangkahi beberapa serpihan tajam beling dan kayu yang juga di sibak Simob dengan sepatunya.


"Sel!!"


Sandra cemas mendekati Rusel yang masih belum bangun. pria itu terlihat kacau dengan rambut berantakan dan wajah kusutnya terlihat lelah.


"Sel! kau kenapa?" panik Sandra kesulitan berjongkok hingga ia duduk di samping Rusel yang mulai tergganggu dengan suara cemas istrinya.


Tangan Sandra menepuk pelan pipi mulus itu sesekali merapatkan telinganya ke dada bidang di lapisi kaos hitam ini. lega jika mendengar detak jantung Silumannya tapi ia panik melihat keadaan suaminya.


"S..Sayang. kau...kau kenapa?" gumam Sandra bergetar. seumur-umur ia belum pernah melihat Rusel yang biasanya tenang dan terkendali menjadi kacau begini. tentu Sandra sangat takut.


"S..Sel. hiks!" isakannya lolos mengguncang lengan Rusel yang perlahan mengernyitkan dahinya. guncangan dan suara serak bergetar Sandra menarik jiwanya yang tadi tengah terkubur di dimensi lain.


"B..Bagun. hiks! kau .. kau kenapa?"


Perlahan tangan Rusel terangkat membuat Sandra terdiam. manik hitam itu terpaku menatapnya dengan mata mengigil dan bibir bergetar.


"S..Sel!" lirih Sandra di kala jempol besar itu mengusap air mata di pipinya dengan lembut.


Tiba-tiba saja Sandra di landa ketakutan. ia melihat jelas pandangan tak berdaya yang begitu menyiksa batin pria ini.


"S..Sel!"


Tak ada satu katapun yang keluar dari bibir kering itu. Rusel menarik tengkuk Sandra hingga wajah wanita itu terbenam ke dada bidangnya.


"Kenapa aku sangat takut?"


Batin Sandra merasa ini berbeda. pelukan Rusel bertambah menguat membuatnya sulit bernafas tapi ntah kenapa Sandra juga ikut merasakan nyeri di dadanya.


"Sel! kau kenapa?" lirihnya membalas pelukan erat ini. ia naik ke atas paha kokoh Rusel yang terlihat membisu memejamkan matanya.


Simob yang sedari tadi melihat akhirnya tak tahan hingga memilih keluar menutup pintu ruangan.


"Sel! apa yang terjadi? kau jangan membuatku takut." cemas Sandra memeggang rahang tegas Rusel yang perlahan membuka matanya.


Keduanya saling bertaut pandangan sampai Rusel merasa tak sanggup mengatakan ini. bagaimana bisa aku melukaimu? aku sangat mencintaimu. Sandra!

__ADS_1


"Maafkan aku!"


"S..Sel! ma..maksudmu apa?" tanya Sandra dikala Rusel menunduk tak biasannya begini. sungguh jantung Sandra tengah berdegup tak stabil di dalam sana.


"Maafkan aku!"


"K..Kenapa? kau tak salah. apa yang perlu-ku maafkan? Sayang!" tanya Sandra tak mengerti.


Rusel masih terus minta maaf berulang kali dengan kepala di tundukan lemah, egonya tengah ia tekan hingga membuat jiwanya benar-benar tak bisa bernafas bebas.


"Sel! jangan begini, kau tak salah apapun."


"M..Maafkan aku."


"Sel! Please, katakan apa yang terjadi? apa?" tanya Sandra menangkup pipi mulus itu hingga ia bisa melihat jelas wajah depresi Suaminya. ia tak tahan melihat ini.


"Ada apa. hm? katakan padaku!" imbuh Sandra lembut.


"Aku takut!" lirih Rusel memeggang kedua telapak Sandra yang ada di kedua pipinya.


"Kenapa? apa yang terjadi?"


"Aku takut menyakitimu!" jawab Rusel dengan intonasi rendah bahkan hampir tak terdengar oleh Sandra yang diam di buatnya. Ia mulai bertanya-tanya apa yang tengah di hadapi pria ini?!


"Kau tak pernah menyakutiku. kau tak pernah."


"Aku terus menyakitimu. aku selalu melakukannya." jawab Rusel dengan pandangan nanarnya. Sandra menggeleng tak menyetujui itu.


"Kau jangan bicara omong kosong. ayo kita ke kamar, obati lukamu dulu."


"Aku akan di nikahkan!"


Degg...


Sandra langsung terbungkam mendengar ucapan Rusel yang spontan dan tercekat nafasnya sendiri. Wajah Sandra masih belum menerima maksud ini semua.


"M..Maksu..sudmu?"


"Aku..."


Rusel tak mampu bicara lagi. ia mengalihkan pandangannya ke arah lain tak mau melihat pandangan berair Sandra.


"M..Maksudmu apa?"


"Aku.. "


"Dia akan menikahi Putri Kerajaan Walker!"


Duarrr...

__ADS_1


.....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2