
Tatapan serius itu langsung di layangkan Tuan Hatomo di kala melihat manik kehijauan milik Rusel yang sama sekali tak memancarkan raut lain selain datar dan terus tenang. Ia membiatkan Tuan Hatomo menanyakan apapun yang ingin di ketahui.
"Bagaimana kalau Keluargamu menolaknya?" tanyanya seraya duduk berhadapan.
"Aku yang menikah. bukan mereka." jawaban tegas yang keluar dari mulut Rusel membuat Tuan Hatomo terdiam sejenak.
"Aku tahu. kau memang yang menikah tapi pasti mereka akan menyelidiki Sandra sampai ke akar-akarnya. aku tak ingin putriku bertambah sengsara di sana."
"Aku tahu, tapi aku akan berusaha menjaganya dengan nyawaku sendiri." jawab Rusel tegas dan tak ada raut candaan di wajahnya.
Tuan Hatomo menghela nafas ringan. ia tahu Rusel memang tak pernah bermain-main dengan ucapannya dan terbukti sampai sekarang Sandra baik-baik saja.
"Aku serahkan dia padamu! selama ini memang aku tak secara langsung menunjukan penjagaan tapi aku sangat berharap dia bahagia denganmu."
"Hm."
Gumam Rusel mengangguk mengerti. Namun, ia ingat kalau masalah Paman Sandra masih belum selesai. ia sudah melaporkannya ke pihak berwajib dan selain itu Rusel juga memberi pelajaran yang setimpal.
"Untuk dia. biarkan aku yang mengurusnya, kau tak perlu me.."
"Lihat dulu keadaannya. baru kau beri pernyataan." sela Rusel lalu pamit pergi.
Di depan pintu sana ia berpapasan dengan Nyonya Tantri yang menatapnya tak bersahabat ntah karena persoalan ia menikahi Sandra atau apapun itu Rusel juga tak ingin tahu.
"Pikirkan lagi keputusanmu!"
Langkah Rusel langsung terhenti mendengar kalimat Nyonya Tantri yang juga berhenti melangkah dan berbalik memandang punggung kekarnya.
"Kau yakin ingin membawa dia?!"
"Bukan urusanmu." tegas Rusel menarik senyum remeh Nyonya Tantri yang terlihat tak menganggap Sandra terhormat. jelas sedari tadi wanita ini sangat tak mendukung.
"Kau seorang Putra Mahkota. semua rakyatmu memantau aktifitas sosialmu, bagaimana bisa mereka menerima wanita seperti Sandra?! berfikirlah logis."
Kepalan tangan Rusel langsung menguat. semua hasutan iblis ini tak ada yang sampai ke pintu hatinya bahkan menempelpun di haramkan.
"Aku tak pernah malu membawanya. tapi, aku malu jika mengakuimu sebagai MERTUAKU."
Glek..
Nyonya Tantri langsung tercekat mendengar perkataan Rusel yang sudah melangkah angkuh ke arah ruang makan tadi. Tuan Hatomo yang sempat mendengar pembicaraan ini menarik senyum hangat akan ketangguhan Rusel.
"Kau tak akan bisa merobohkan Cintanya!"
"Kau lebih memperdulikan Sandra yang selama ini tak melakukan apa-apa selain masalah dan masalah dari pada Erina yang begitu bekerja keras."
"Percuma berbicara denganmu." jawab Tuan Hatomo acuh lalu melangkah pergi meninggalkan Nyonya Tantri dalam kemarahan. ia lebih memilih memperjuangkan Sandra karna wanita utulah yang lebih rapuh dari yang lainnya.
__ADS_1
Ia melangkah ke arah ruang makan dimana Sandra terlihat menyiapkan makanan untuk suaminya. rasanya sosok pecicilan yang pembangkang ini perlahan berubah seiring bertambahnya waktu.
"Pa! Papa makan juga!"
"Baiklah!"
Tuan Hatomo melangkah mendekat dikala senyum Sandra merekah menyiapkan segalanya. pemandangan yang langka di mata Bibik Iyem yang bersemangat pagi ini.
"Duduk disini!"
"Kau sudah makan?" tanya Tuan Hatomo duduk di samping Rusel yang terlihat fokus pada makananya. tangan Rusel memeggang ujung meja agar tak membentur perut Sandra yang terlihat lebih menonjol.
"Sudah. Pa! kalian makan saja."
"Duduk!" titah Rusel menahan paha Sandra yang ingin berdiri. ia khawatir jika terlalu lincah begini bisa saja berakibat buruk nantinya.
Erina yang melihat itu hanya bisa diam. ia masih belum pergi karna terasa lengket ke kursi ini. hatinya berat untuk meninggalkan ruangan.
"Sel! Papa minta hasil USG kemaren."
"Ada di kamarmu!"
"Aku ambil dulu." Sandra ingin berdiri tapi Rusel menahan tangannya.
"Nanti saja. setelah ini kita Rumah Sakit dulu." ucap Rusel hanya memakan makananya santai tapi cepat dan pasti.
"Baiklah."
"Sel! aku ambil Ponsel dulu."
"Temani dia dulu." pinta Rusel pada Bibik Iyem yang mengangguk menemani Sandra ke atas. Tuan Hatomo juga menyudahi makannya karna harus bersiap juga.
Sekarang. tinggalah Erina yang diduk berjauhan dengan Rusel yang juga secepatnya menyudahi makan itu ingin berdiri.
"Sel!"
Seketika Rusel terdiam tak menatap Erina yang sepertinya memang punya keberanian atau mungkin mencari mati. Sudah jelas jika aura disini mulai terasa menghitam.
"Kau..."
Whusss..
Angin itu langsung mencekik lehernya. dan bahkan ini lebih kuat dari yang dulu Rusel hempaskan padanya.
"S..Sel..."
Rusel menguatkan kepalannya sampai wajah Erina merah padam dengan kedua tangan memeggang lehernya yang terasa di cekik hebat.
__ADS_1
"K..kau..."
"Kau tak berhak menyebut nama itu." geram Rusel menguatkan kepalannya sampai Erina merasa leher itu akan remuk jika di cekik begini terus.
Guratan urat kebencian itu terlihat jelas di rahang tegas Rusel yang mengetat erat.
"H..hnnti.."
Krek...
Rusel langsung melepas kepalannya di kala sudah terdengar suara retakan di leher Erina yang langsung tergelatak di lantai dingin ini dengan darah yang keluar di hidungnya.
"K..kau.."
"Nama itu hanya khusus untuk ISTRIKU." Tekan Rusel tampak murka dan jijik. ia sangat tak suka panggilan khusus bagi Sandra di katakan oleh mulut wanita lain.
Erina yang mendengar itu langsung terasa nyeri dan amat sakit. ia ingin melihat respon Rusel tadinya dan saat ini rasanya pria ini sangat tak bisa ia sentuh sedikit-pun.
"K..kenapa kau b..begitu m..menyayanginya? Uhukk!" Erina terbatuk darah dengan nafas tersendat.
Kobaran kemurkaan yang terlihat jelas di manik kehijauan tajam Rusel semakin menyala-nyala dan begitu jijik.
"Kau begitu rakus." desis Rusel terkesan merendahkan.
"A...aku...aku j..juga b..bisa seperti S..Sandra."
Rusel menarik sudut bibir dengan remeh. ia tak habis pikir dengan semua wanita di dunia ini. selalu menuruti egonya padahal jelas ia tak memandang sama sekali.
"Bahkan, satu butir debu yang menempel di kakinya tak akan bisa kau tandingi."
"Erin!!"
Suara Nyonya Tantri dari belakang sana langsung mengejar kearah Erina yang terlihat sudah memucat dan tak sadarkan diri di tempat. ini bahkan lebih parah dari sebelumnya.
"Kau apakan putriku. ha??"
Bentak Nyonya Tantri syok melihat darah di hidung dan mulut Erina. Rusel hanya diam dengan tatapan sama sekali tak gentar dan lebih mengintimidasi.
"Kalau ingin putrimu selamat. maka jauhkan dia dariku." geram Rusel langsung menghempaskan tangannya membuat seisi meja itu terpental ke dinding menarik jeritan para Pelayan bersamaan dengan Sandra yang syok muncul di tangga sana.
"Sel!" panggil Sandra cemas dengan mata melebar melihat Erina dan keadaan lantai yang mengenaskan.
"Sel! kau.."
Rusel memandang Sandra dengan hunusan yang tentu Sandra mengerti. pastinya Erina sudah menyulut amarah Silumannya yang selama ini sangat terkontrol.
.......
__ADS_1
Vote and Like Sayang..
Untuk Visual..cek aja di IG author ya. Noveltoon yg profilnya cewek bermasker 🤠di tunggu