
Kecepatan anggota musuh itu mengejar benar-benar tak bisa di tandingi Sandra yang tengah berusaha bersembunyi di balik bangunan-bangunan di sekitarnya.
Langit sudah mulai senja karna memang ia sudah lama mencoba kabur dari kejaran mereka.
"P..perutku." gumam Sandra tersandar ke dinding di sampingnya mencengkram perutnya kuat. Keringat dingin itu sudah keluar di keningnya dengan wajah memucat.
Suara langkah kaki di belakang sana membuat Sandra membekap mulutnya sendiri memilih bersembunyi di sela bangunan yang tak ada orang lain disini.
"Kemana dia?"
"Ntahlah. tadi dia lari kesini." anak buahnya terlihat masih mencari-cari. Sandra mengintipnya dengan mata gemetar antara menahan takut dan sakit di perutnya.
Namun. Mata Sandra terfokus pada tato yang ada di lengannya.
"Bukankah itu tato ular?!"
Batin Sandra lalu tertegun. ia ingat jika Rusel pernah mengatakan jangan pernah berdekatan dengan orang yang punya tato itu.
"Jadi, mereka memang ada?!" gumam Sandra sangat pelan. ia tak menyangka akan bertemu sekarang dan Arnol juga termasuk.
Lama Sandra berdiam diri di sana sampai ia mulai pegal dan tak tahan lagi. langit di luar juga semakin mendekati kegelapan.
"Bagaimana aku bisa pulang? mereka masih ada di depan." gumam Sandra benar-benar takut. anggota musuh di luar sana masih berkeliaran dan ia terjebak di sela sempit ini.
"Kalau sampai kita tak menangkapnya. Tuan bisa marah! dia sudah susah payah membuat dia jauh dari Ketua Kulfun itu."
"A..apa?" gumam Sandra mendengar pembicaraan mereka semua.
"Keadaan desa pasti masih belum stabil. setelah penyerangan itu kita bisa memanfaatkan keadaan secepat mungkin."
"Yah! setelah itu baru kita akan membunuh Ketua yang telah mengacaukan rencana Tuan."
Sandra diam. jadi ini semua adalah taktik musuh untuk menjauhkan Rusel darinya, ia berfikir jika pria itu pergi tak bertanggung jawab tapi nyatanya Kulfun tengah di serang.
"Sel!"
Batin Sandra merasa sesak. ia sudah terlalu salah menuduh Rusel dengan dugaan yang tidak-tidak, pria itu bahkan punya banyak masalah yang lebih besar darinya.
"Tapi kenapa?" lirih Sandra bergetar. kenapa Rusel tak pernah jujur padanya? pria itu selalu melakukan semuanya sendiri sampai membuatnya terus berburuk sangka.
"Kenapa kau tak jujur padaku? kau selalu merahasiakan apapun seakan.."
"Dia disana!"
Degg...
Sandra tersentak saat mereka menemukannya. langkah Sandra mulai mengayun tapi kakinya sudah tak bisa bergerak lagi karna sudah pegal.
"P...perutku." lirih Sandra mencengkram perutnya seraya berpeggangan ke dinding.
"Kepung tempatnya!"
"S..Sel! hiks." isak Sandra sudah tak sanggup untuk melangkah lebih jauh. ia menatap dengan waspada pada anak buah musuh yang tengah mengelilinginya.
"Kau mau lari kemana. hm?"
Ucap mereka menatap nyalang Sandra yang benar-benar pucat. ada 9 orang disini dan mereka semua mengacungkan pistol ke arah Sandra seakan ingin menghabisi wanita itu secepatnya.
"Jangan di buat mati. tapi, setidaknya lumpuh!"
"Kalian siapa. ha??" tanya Sandra merapat ke dinding dengan pandangan waspada. ia begitu takut jika nanti mereka melakukan hal yang tidak-tidak padanya.
"Tak perlu tahu kami siapa. tapi, kau salah satu yang terpenting bagi Ketua Sialan itu."
"Kalian takutkan?" tanya Sandra dengan tatapan geram dan remeh. di situasi begini ia masih terlihat berusaha berani walau wajahnya sudah sepucat kapas.
__ADS_1
"Kalian tak bisa mengalahkan Rusel dan kalian melakukan cara kotor ini. Cuihh!!"
Mereka menggeram saat Sandra meludahinya. amarah itu terkobar nyata di mata mereka semua membuat Sandra terasa kaku di tempat.
"Kau memang banyak bicara." ucap salah satunya dan itu sepertinya ketua dari mereka.
"Yah! aku tak takut pada kalian semua. sampah!!"
Mereka langsung tertawa terbahak mendengar ucapan Sandra barusan. sesuai data pribadi yang di dapatkan, wanita ini memang sangat malang.
"Kau ini sangat menjijikan! di campakan oleh keluargamu dan sekarang kau berharap dengan pria asing yang tak jelas asal-usulnya."
"K..kau.." geram Sandra tak menyangka mereka tahu apapun tentangnya.
"Bukankah kau tengah hamil?"
Sandra semakin memucat memeggang perutnya. ia tak akan membiarkan sesuatu terjadi pada kandungannya, Rusel sudah berjuang untuk mempertahankan ini.
"K..kau jangan macam-macam!!" bentak Sandra saat mereka semua mendekat dengan pandangan cabul. tentu bentuk tubuh Sandra tengah jadi incaran.
"Tuan tak melarang kami menyentuhmu!"
"Jangan!!! jangan dekati aku!!" teriak Sandra semakin merapat walau tak ada ruang untuk lari. di sekelilingnya juga sunyi membuat Sandra benar-benar takut.
"Tolong!!! Tolong!!!"
"Sampai kerongkonganmu pecah-pun. tak akan ada yang mendengar."
Sandra benar-benar merasa mendingin. air matanya tampak memenuhi pelupuk netra indah itu sampai keadaannya tak bisa di katakan baik-baik saja.
"S..Sel hiks, t..tolong." lirih Sandra tak sanggup lagi berdiri sampai ia berjongkok menekuk kedua kakinya rapat. tatapan waspada dan mengigil itu membuat mereka tergelitik untuk tertawa.
"Percuma. dia tak ada disini. Nona!"
"S..Sel, hiks! Sel." lirih Sandra menggeleng tak berani menatap mereka. ia merasa seluruh tubuhnya dingin dan lemah untuk sekedar memberontak.
"Sel!!!!!"
Dorrr ..
Suara tembakan dari arah belakang mengenai salah satu kepala pria di hadapan Sandra yang langsung terpecah na'as.
"Aaaa!!!!" Sandra terkejut setengah mati lari ke sebuah Gudang di samping sana karna sudah takut dengan suara saling tembak di luar sana.
Mata mereka melebar saat melihat siapa yang tengah berdiri gagah di depan sana. tatapan membunuh manik kehijauan itu menghadirkan rasa takut yang begitu besar di seluruh tubuh mereka yang mulai mengigil.
"B..bagaimana bisa?"
Gumam mereka benar-benar tak percaya. rencana sudah di susun begitu matang dan kenapa bisa secepat ini.
Hembusan angin disini mulai bergejolak menghadirkan perasaan takut yang sangat menjalar membuat tungkainya bergetar tak bisa menahan intimidasi dari aura keberadaan Rusel.
"Ketua!"
Rusel hanya diam melangkah mendekati mereka yang tak bisa membidik senjata dengan benar. kaki itu tiba-tiba kaku dengan tubuh yang tak bisa bergerak dengan sempurna.
"Tembak dia sekarang!!"
"T..tidak bisa, t..tanganku kaku."
Mereka panik saat Rusel terus mendekat seakan menghisap keberanian mereka yang tak lagi berani menampakan dirinya.
"Tembak dia!!!"
"Tidak bisa!! ini.."
__ADS_1
Whusss...
Hembusan angin itu membuat mereka langsung terpengal ke dinding sana. Rusel mengepalkan tangannya seakan mencekik mereka semua disertai jeritan yang tertahan.
"K..t..tua!!"
Rusel menuli. pandangannya masih datar tapi begitu tajam menghunus nyawa mereka yang ingin pergi dari sini.
Krek...
Suara patahan tulang leher itu langsung membuat mereka semua tak bernyawa di tempat dengan darah keluar dari hidung dan mulutnya. belum lagi dengan mata terbelalak tak lagi bernyawa.
"Bereskan!"
"Baik!"
Jawab Guren segera mengerahkan anggota untuk membereskan anak buah musuh ini. keadaannya benar-benar menyedihkan tapi beginilah adanya.
Setelah melihat tak ada lagi ancaman. Rusel langsung melangkah kearah Gudang yang tadi Sandra masuki.
Detakan sepatunya membuat Sandra yang tengah bersembunyi di balik kotak-kotak sana bertambah gemetar menekuk lututnya dengan air mata dan isak tangis tertahan.
"A..apa mereka akan melecehkan aku?"
Batin Sandra takut. bagaimana jika nanti ia tak bisa bertemu dengan suaminya lagi? hidupnya pasti akan lebih hancur dari sebelumnya.
"J..jangan hiks, a..aku tak tahu apapun." lirih Sandra membenamkan wajah sembab dan kacaunya di tekukan kaki itu.
Sandra tenggelam dalam kecemasannya sampai tak menyadari jika ada tikus yang tengah bergerak di belakangnya menggerogoti kotak yang terjatuh membuatnya menjerit.
"Jangan!!! aku...aku tak mau!!! j..jangan, hiks!"
Isak Sandra merapat ke sudut sana tak membuka matanya sama sekali.
Semua itu di tatap lekat oleh manik elang yang telah berdiri tepat di hadapanya. pandangan yang datar tapi bergurat amarah sekaligus kecemasan yang dalam.
"J..jangan, aku... aku tak mau."
"Mereka sudah pergi!"
Deg...
Sandra tersentak mendengar suara itu. spontan ia mengangkat wajahnya hingga matanya langsung melebar sempurna melihat sosok yang sudah menyiksanya selama hari ini.
"K..kau..."
"Kembalilah ke.."
"Sel!!! hiks."
Teriak Sandra langsung berhambur memeluk Rusel yang diam mematung di tempatnya. Tangis Sandra pecah memeluk erat tubuh Rusel yang kembali membawa rasa aman dan nyaman ke jiwanya.
"A..aku..aku takut, hiks! m..mereka.. mereka mau.."
"Tak ada yang akan mengusikmu."
Rusel membalas pelukan Sandra dengan wajah masih datar tak berekspresi. ia merasakan jelas jika Sandra tengah di landa perasaan yang membuat tubuhnya lemah.
"S..Sel!" lirih Sandra saat kepalanya begitu pusing dan bahkan pandangannya menghitam hingga..
"Kauu.."
Rusel dengan cepat memeggang Sandra yang sudah tak sadarkan diri. ia tak membuang waktu sampai menggendong Sandra untuk kembali ke Kediaman.
...
__ADS_1
Vote and Like Sayang..
Maaf ya say.. ada kesalahan dalam tato nya. author ngantuk pas nulis semalam jadi ngeblengš¤