
Rembulan diatas sana sudah terlihat semakin jelas dengan nirwana indah yang membentang di langit gelapnya. Kerlipan bintang seperti menarik saling melempar pandangan satu sama lain menyaksikan beberapa hewan malam yang tengah menari di kaki sang bulan.
Kiranya suara jangkrik di tanah senada dengan kelelawar bermata merah yang tengah berterbangan mencari mangsa. mereka tak menghiraukan tatapan manik hitam yang terlihat menerawang menembus ke galaksi ini.
Ntahlah. ia baru saja bangun tetapi mata itu tak lagi bisa terpejam, tubuhnya terus diam berdiri di dekat pagar balkon tanpa memakai Mantel sekedar menghangatkan.
"Aku sudah lelah." gumam Sandra memejamkan matanya.
"Seandainya aku bisa membuat sedikit kebanggaan. pasti, mereka akan berubah pandangan padaku."
"Kau di larang sendirian."
Sandra perlahan membuka matanya dikala merasakan ada balutan selimut di tubuhnya.
"Kau bangun?"
"Seharusnya aku yang bertanya." jawab Rusel mengeratkan selimut itu ke tubuh Sandra lalu ia peluk dari belakang.
"Kau bangun tapi tak memberi tahuku."
"Maaf, kau pasti lelah seharian bekerja. tidurlah lagi, ini masih dini hari." Ucap Sandra membelai rahang tegas mulus milik Rusel yang bahkan mengeratkan pelukannya dengan dagu tertengger ke bahu pulen sang istri.
"Ada yang lebih menarik dari aku?"
Dahi Sandra langsung mengkerut mendengar pertanyaan anbigu Rusel barusan.
"Maksudnya?"
"Kau bangun dan langsung berdiri disini meninggalkan aku di atas ranjang. apa yang lebih menarik?"
Sandra langsung mengembangkan senyuman geli. lagi-lagi Siluman maniak ini begitu meremangkan tubuhnya.
"Tak ada. hanya melihat langit di atas sana."
"Cih! tak ada yang begitu menarik." decah Rusel menatap bersamaan ke arah rembulan yang terlihat lebih cerah di mata keduanya.
"Bulannya cantik. suasananya juga damai, Sel!"
"Hm. lumayan." jawab Rusel dengan pipi keduanya saling menyatu. Tatapan yang sama-sama menghunus panorama alam yang begitu menenagkan bagi Sandra.
"Aku boleh bertanya?"
"apa?" masih tak mengalihkan perhatian.
Sandra menundukan pandangannya. sesuatu yang terlintas dikala membayang sendirian tadi ingin sekali keluar di bibirnya.
"Apa benar kau Putra Mahkota Dezon?"
"Menurutmu?" tanya Rusel tak begitu menunjukan reaksi berlebihan. berbeda dengan Sandra yang sebenarnya merasa takut.
"Sel! kau jangan bercanda."
"Kalau iya kenapa?"
Sandra langsung berbalik menatap dalam manik kehijauan tajam Rusel yang beralih saling pandang dengannya.
Terlihat jelas jika Sandra memiliki ketakutan tersendiri akan hal itu. ntah apa yang tengah membentengi dirinya Rusel-pun mencoba meraih pelan.
"Kau tak suka?"
"Itu tak mungkin-kan?" Sandra lagi-lagi menolak.
"Apa yang salah dari itu. hm?"
Tanya Rusel menyentuh pipi mulus Sandra lembut. tentu jawaban Rusel secara tak langsung mengakui pertanyaannya barusan benar.
"K..kenapa harus kau?"
"Ada yang salah?" tanya Rusel meraih hati Sandra yang tengah tak percaya diri dan tengah berada di alam mimpi baginya.
"Sel! kau lihat respon mereka saat tahu jika kau adalah suamiku. aku tak bisa membayangkan jika Keluargamu tahu jika yang kau nikahi ini wanita .."
"Suttt!"
Rusel meletakan jempolnya yang tadi membelai pipi Sandra dengan sangat lembut menghentikan ucapan kegelisahan itu.
"S..Sel!"
"Jangan merendahkan dirimu di hadapkanku."
"Tapi, itu kenyataanya. aku takut kalau mereka menentang hubungan kita dan bisa saja kau akan di jodohkan dengan wanita lain. bagaimana kalau.."
Cup...
__ADS_1
Rusel langsung membungkam bibir Sandra dengan ciuman yang membuat Sandra terhenti bicara. mata keduanya saling pandang seakan memberi jawaban di masing-masing tatapan.
"Kenapa kau sangat berbeda?!"
Batin Sandra melihat pandangan Rusel selalu mengayomi jiwanya. setiap rasa pembangkang ini muncul maka ia akan menghukum dirinya sendiri saat melihat kekecewaan di mata suaminya.
"Kenapa kau tak bilang padaku?" lirih Sandra tapi bibir masih menempel dengannya.
"Baik sebagai seorang pewaris atau seorang raja. apakah ada artinya bagimu?"
Sandra diam dengan pandangan melemah. sungguh jawaban Rusel membuatnya tak bisa berkata lagi.
"Kau orang pertama yang berani memukul kepalaku. kau orang pertama yang memakiku dan kau orang pertama yang ingin meneraktirku makan dengan uangmu. apa sekarang kau ingin berubah?"
"Tidak akan pernah." jawab Sandra membuat Rusel menarik sudut bibirnya penuh pesona dan akhirnya ia tak lagi segan mengulum bibir lembut Sandra dengan syahdu.
Mata keduanya terpejam menikmati sensasi cumbuan lembut ini. satu tangan Rusel yang tadi memeggang pipi Sandra beralih menelusup ke tengkuk wanita itu menekan ciuman kembali dalam.
"Ehmm!"
Sandra melenguh kecil dikala lidah keduanya mulai membelit bertukar saliva. aliran darahnya mendidih bersama dengan sengatan panas yang menjalar di setiap penjuru.
Kenapa aku selalu menginginkan ini.
Batin keduanya saling merespon. sudah 3 hari sejak mereka bertengkar tak lagi melakukan hubungan yang bergejolak, Rusel terus menahan diri karna kala itu keadaan Sandra tak begitu baik.
Sedangkan Sandra sendiri. ia tak kalah membalas hisapan penuh hasrat Rusel dengan keliaran yang melambungkan jiwa pria itu.
Ciuman yang begitu ganas dan membara sampai keduanya seakan berlomba memberikan sensasi terbaik.
"Enghh!"
Rusel langsung melepas tautan bibir basahnya yang seketika menciptakan untaian benang saliva. deru nafas dua insan pecinta itu memburu dengan tatapan sama-sama mendamba.
"S..Sel!"
"Apa ...apa perutmu masih sakit?" Rusel memastikan dengan suara serak dan sangat berat.
Saat Sandra menggeleng ia tak lagi menahan diri hingga kembali menautkan ciuman yang lebih panas membuat Sandra agak terhenyak tapi tak mau kalah mengimbangi.
Dengan ringan Rusel mengangkat bokong Sandra yang langsung berkoala ke pinggangnya. Rusel membawa Sandra kembali masuk ke kamar dengan ciuman panas belum terlepas.
Perlahan tapi pasti Rusel membaringkan tubuh Sandra diatas ranjang. ia menyudahi ciumannya dengan tautan mata mulai tercipta melihat Sandra yang bak kepompong di kurung selimut ini.
"Sel!" lirih Sandra memerah malu. selalu saja sempat menggodanya dengan kata-kata ambigu ini.
Melihat raut malu-malu Sandra. Rusel juga tak bisa menahan terlalu lama hingga ia langsung melepaskan kaos oblong yang ia pakai, Bengkakan di bawah sana harus segera di tuntaskan atau akan menyiksanya semalaman.
"Sel!" lirih Sandra lagi menatap kagum bentuk tubuh berotot pria kekar ini. Tak seperti Binaragawan tapi ini sangat pas pada porsinya.
Sandra beralih duduk tak megalihkan pandangannya dengan penampilan hot sang suami. Tonjolan otot bisep di lengan dengan dada bidang dan perut Sixpack miliknya yang menggiurkan.
"Aku suka." tanpa sadar Sandra memujinya. tangan nakal penuh keberuntungan itu membelai jakun jantan di leher tehap Rusel hingga menyusuri dada bidang keras itu seenaknya.
Sangat seksi dan tak bisa tertolong. ungkapan kagum Sandra yang terpancar jelas.
"Kau pasti bekerja keras membentuk semua ini." gumam Sandra meraba perutnya. wajah Sandra semakin merah di kala melihat Boxser yang di pakai Rusel tampak membengkak di bawah sana.
Berbeda dengan Sandra yang asik membelai tubuh bagian depannya. Rusel lebih memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan tangan lembut itu.
"Ss!!" Rusel mendesis kecil di kala tangan nakal Sandra menyentuh kilas miliknya.
"Keras!" guman Sandra mengigit bibir bawahnya menatap Rusel yang tengah memandangnya dengan gairah tinggi.
"Mau bertaruh?"
"Apa?" tanya Rusel berat sudah mengelus paha Sandra di balik selimut ini. tangan nakalnya bahkan berani menyentuh benda segitiga miliknya.
"Kau tak boleh bersuara saat aku bermain."
"Ha?" Rusel sedikit tersentak. bagaimana bisa ia tak meraung kekenyangan di kala kelelakiannya ini sudah meledak-ledak di bawah sana.
"Deal?"
"San! kau jangan menyiksaku lagi." frustasi Rusel karena tak hanya kali ini. saat di hotel itu Sandra juga tiba-tiba menerapkan peraturan setengah permainan jangan bergerak menyentuhnya.
Sandra hanya menyeringai. jelas ia suka tantangan dan lebih suka melayani Rusel yang tak bisa menolak.
"Mau atau tidak?"
"Baiklah!" mau tak mau Rusel pasrah walau ia juga tertarik dengan ini semua.
Sandra dengan lancang melepas semua pakaiannya di hadapan Rusel yang menegguk ludahnya berat. tatapan manik kehijauan itu berbinar melihat lekukan indah milik Istrinya yang selalu terbayang jelas di benak itu.
__ADS_1
"Apa ada yang kurang?" tanya Sandra segaja meremas aset berharga yang terlihat ranum dan begitu kenyal dan berisi. ia membuka kedua pahanya semakin memancing Rusel untuk terbakar di tempat.
Ia membuka jalan ke liang surgawi itu dengan lantang hingga membuat aset empuk mulus berwarna Pink itu merekah bak mawar terbelah dua.
"Are you like'it?"
Rusel mengangguk menundukan kepalanya lalu mengecupi betis mulus milik Sandra sampai pada bagian paha wanita itu tak luput dari cumbuan bibirnya.
Tatapan mata Rusel melihat tai lalat yang ada di dekat rekahan kelopak merah ini. ia beralih melihat Sandra yang mengigit bibir bawahnya begitu seksi dan menggoda.
"*** Sel" lirih Sandra memejamkan matanya di kala Siluman Maniak ini melakukan tugas kesukaanya dengan baik. tentu Sandra di buat terbang dengan jilatan lembut yang mengaduk batinnya.
Kenapa kau sangat pandai bermain?!!
Jeritan Sandra tersirat dari raut wajahnya yang selalu terngiang di kala Siluman jantan itu tak membiarkannya bernafas lega.
"S..Sell!!" pekik Sandra tertahan mencengkram rambut Rusel yang ntah kelaparan atau apa yang tengah merasukinya. paha Sandra merapat dengan pinggang terus bertekuk di tahan satu tangan sang Siluman.
Setelah cukup puas bermain di bawah sana. Rusel mengangkat wajah tampannya yang tengah meradang merah beralih mengecupi setiap sisi tubuh Rumput Liarnya ini.
tatapan penuh damba Rusel tertuju pada dua aset berharga milik Sandra yang sekarang tampak berisi dari sebelumnya. ia sedikit memberi remasan lembut membuat Sandra menggeliat kepanasan.
"Jangan menatapku begitu." lirih Sandra dikala pandangan Rusel tak berpaling dari wajahnya yang menggairahkan.
"Jangan seperti ini di hadapan pria lain."
"Seperti a. Rusel!!!!" pekik Sandra hebat dikala Siluman tampan itu langsung menyambar puncak ranumnya dengan liar begitu rakus dan tak rela.
Ia seakan kehausan tak pernah puas menghisap kekenyalan Squishi kembar ini membakar habis tubuh keduanya yang saling merespon.
Sandra yang tak bisa diam-pun langsung beralih meliarkan kakinya yang langsung bekerja menyentuh si perkasa itu.
"Ehmm!" Rusel menggeram kecil di sela mulut yang penuh tapi ia juga terpancing sensitif.
"M..mau ku selesaikan. hm?" tawar Sandra dengan suara terputus-putus menahan gejolak hasratnya. Rusel menatapnya begitu ingin dan tak bisa di tunda.
"Kalau sakit. katakan padaku."
"Aku mengerti."
Jawab Sandra tersenyum mengecup kilas sudut bibir basah Rusel yang membuka helaian terakhir dari tubuhnya.
Kenapa harus sekokoh itu?
Satu pertanyaan di benak Sandra dengan wajah memerah di kala melihat si jantan yang tampak begitu sempurna dan gagah.
"Kau takut?"
"T..tidak..." jawab Sandra mengulum senyum. bukan takut tetapi lebih ke geli karna ia tak akan diam jika sudah menyatu dengannya.
Rusel berbaring di samping Sandra yang mulai naik memimpin pertempuran. Si Rumput Liar miliknya ini terlihat mengakrabkan masing-masing alat tempur mereka.
"Di larang bersuara." Sandra melihat Rusel yang tadi ingin melenguh kecil hingga pria itu menutup mulutnya kembali.
"Cepatlah! selesaikan itu."
"Baik! kalau kau kalah aku minta hadiahku. bagaimana?"
"Shitt!" umpat Rusel tapi menganggukinya. di dalam keadaan darurat ini masih saja meminta hadiah padanya.
"Cepatlah! nanti kita urus hadiahmu." desak Rusel dengan nafas terengah-ngah.
"Deal! Honey." jawab Sandra lalu sedikit membuka lebar pahanya agar mempermudah memulai penyatuan.
"Bisa?"
"Punyamu kebesaran." ciut Sandra sedikit malu mencoba menekan pelan tapi sepertinya dia kesusahan. pantas jika begitu karna miliknya masih begitu sempit.
Setelah berusaha sangat pelan dan menekan akhirnya berangsur tapi pasti Sandra mengigit bibir bawahnya merasakan ada yang menerobos membelah tubuhnya.
"S..Sel..."
Rusel yang panggil-pun tengah menahan sensasi luar biasa ini. ia mencengkram pinggang Sandra yang juga langsung menekan lebih kuat sampai semuanya terbenam sempurna tak mampu lagi Rusel tahan.
"Akhss San!!" desis Rusel begitu lemah dan seksi merasa ia tak akan berhenti lagi.
Melihat Rusel yang seperti mabuk. Sandra tak memberikan kesempatan untuk bernafas lega kembali. Ia mulai bergerak begitu penuh dengan kelihaian yang selama ini tak bisa di tepis sang putra mahkota.
Begitulah adanya. Sandra yang selalu mengimbangi permainan suaminya hingga keduanya mendominasi satu sama lain, tak ada kata bosan untuk bercinta di kala keduanya sama-sama bisa memuaskan dahaga sang belahan hati.
.....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1