Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Ruslan Feliks Dezon!


__ADS_3

Sudah 4 minggu berlalu. sesuai perputaran waktu yang signifikan ini banyak perubahan-perubahan yang terjadi. terutama di Keluarga Hatomo yang seakan terlahir berbeda dari yang sebelumnya.


Suasana ramai yang tak pernah terjadi di Kediaman yang sudah di bangun kembali bahkan tak ada yang berubah. dalam waktu beberapa minggu kerusakan parah akibat kebakaran hari itu bisa di antisipasi hingga kembali berdiri kokoh dan mewah.


"Heyy!! jangan terlalu dekat dengannya!!"


"Neek! aku hanya melihat dari sini."


Suara renggutan Erina yang di sangga oleh Nenek Murti. wanita dengan rambut hampir memutih itu berjalan mendekat membawa tongkat kayu emasnya.


Mereka tengah bercengkrama dengan satu objek yang tengah terbaring diatas bantalan empuk yang sengaja di sediakan.


RUSLAN FELIKS DEZON. Nama yang Rusel berikan atas kesepakatan bersama dengan Sandra yang begitu menyukainya.


Sedari tadi si kecil itu hanya menatap mereka dengan pandangan datar lalu kembali terpejam seakan bosan.


"Jauh-jauh dari cicitku!"


"Nek! aku Dokter kandungan. aku tak akan menyakitinya." sangga Erina mendelik gerah duduk tepat di dekat Bantal yang menampung si dingin ini.


Mereka duduk beralasan Karpet karna tak ingin membuat suasana aneh bagi manik kehijauan muda itu.


"Kau itu hanya Dokter kandungan, bukan. Dokter bayi. apalagi Cicitku masih beberapa minggu keluar Rumah Sakit. dia tak bisa terlalu lelah."


"Neek! aku.."


"Lihat! kau membuatnya bosan." sela Nenek Murti kecewa di kala pelupuk netra tajam si kecil itu telah kembali tertutup dan di pastikan dia kembali istirahat.


Ntah apa yang merasuki Nenek Murti sampai mau bersikap hangat seperti ini pada anak Sandra. tapi yang jelas, ia sangat tulus menatap buah hati anak ketiga itu.


Disini juga ada Nyonya Tantri yang tengah membawa nampan berisi potongan buah-buahan. ia menghampiri Erina yang asik menggoda Neneknya.


"Nek! mungkin Baby bosan melihat. Nenek!"


"Erina!!" geram Nenek Murti tapi Erina tersenyum geli. Nyonya Tantri ikut menghangat melihat tak ada batasan yang membuat suasana kaku.


"Aku bercanda. Nek!"


"Erin!" panggil Nyonya Tantri menarik perhatian Erina yang segera berdiri menghampiri Mamanya. wanita dengan rambut bergelombang itu menipiskan senyum ramah.


"Ada apa? Ma!"


"Antar ini ke kamar Sandra! pastikan dia memakannya. anak itu sangat keras kepala." omel Nyonya Tantri tapi perhatian.


Erina mengangguk mengambil alih nampan dan segelas susu diatasnya. Ia memandangi Nyonya Tantri yang beralih duduk di samping Nenek Murti yang tengah menjaga Baby Ruslan.


"Berikan padaku!"


Suara itu membuat Erina menoleh. wajah datar Simob yang tampak mengambil alih paksa Nampan di tangannya.


"Kau..."


"Aku akan mengeceknya."


"Itu tak ada racun sama sekali." jawab Erina agak kesal karna beberapa minggu ini Simob selalu mencurigainya. pria ini tak akan membiarkan ia menemui Sandra dan Baby Ruslan dengan leluasa.


"Aku tak bisa mengambil resiko untuk semua ini."

__ADS_1


"Tapi, seharusnya kau jangan berlebihan. aku tahu aku salah tapi bukan berarti kau selalu membatasi kedekatanku dengan Sandra atau Baby Ruslan!"


Pertengkaran ini menyita perhatian Nyonya Tantri dan Nenek Murti yang saling pandang. keduanya berdiri mendekati Erina yang kesal.


"Erin!"


"Ma! dia selalu mencurigaiku. aku tak nyaman jika terus begini." jawab Erina berani bicara karna ia sudah tak nyaman lagi.


Simob hanya menatap mereka semua dengan pandangan tegas tak tergoyahkan sama sekali.


"Ini tugasku untuk menjaga Prince kecil dan Nona Sandra. aku tak bisa percaya pada siapapun apalagi kalian." ucap Simob lantang tanpa segan sama sekali.


"Tapi.."


"Sudah!" Nyonya Tantri memegang bahu Erina yang terdiam.


"Dia benar. selama ini kita tak pernah berniat baik untuk Sandra, wajar jika mereka berhati-hati. Nak!"


"Tapi, aku ingin bebas bermain dengan Baby Ruslan dan dekat dengan adikku. Sandra juga tak masalah."


"Adikmu bukan orang biasa lagi." ujar Simob menegaskan kembali maksudnya.


Erina terdiam dengan tatapan sendu dan lemah. ia kembali terasa kecil.


"Dia akan menjadi Ibu tanah Dezon. dia Putri Mahkota kami. dan aku sebagai pengawalnya tak akan membiarkan apapun yang memungkinkan hal buruk terjadi." imbuh Simob tegas memperjelas niatnya membungkam perlawanan Erina.


Guren yang melihat itu dari jauh segera menghela nafas. ia tahu jika Simob memang orang yang sangat menjujung tinggi prinsipnya. ia tak akan berlembut pada seorang-pun kecuali sudah di perintahkan Ketuanya.


"Aku tahu. tapi, aku hanya ingin menemui Sandra! dan memberikan itu padanya." lirih Erina nyaris tertelan.


"Aku tak mempercayaimu!"


"Lagi pula. aku yakin dia tak akan berani melakukan apapun yang membahayakan. Nona! jika iya, maka. bunuh saja di tempat." imbuhnya mengerikan. tapi ia tahu jika Simob butuh jaminan yang pasti.


"Aku tak perduli! yang jelas ini tugasku."


"Aku mohon." pinta Erina pada Simob yang sama sekali tak menyukai Erina. wanita ini sangat berbeda dengan Nonanya yang sangat ia kagumi.


Tanpa menggubris ucapan Erina. Simob segera mengulur langkah lebarnya kearah tangga menarik tatapan nanar Erina.


"Simob memang begitu. dia tak akan memaafkan orang-orang yang mengusik junjungannya apalagi kalian." ucap Guren menghela nafas.


"Aku tak ada niatan buruk sama sekali. aku bersumpah!"


"Percuma. hanya waktu yang bisa menjawab apa dia akan menerima atau tidak." jawab Guren dengan pandangan lebih bersahabat dari Simob yang selalu menguarkan ketidak sukaanya, mereka-pun jadi segan untuk mendekat.


Tentu saja ucapan Simob tadi secara tak langsung mencegat hati Nenek Murti yang merasa bersalah. ia masih belum meminta maaf pada Sandra karna beberapa minggu ini wanita itu di jaga ketat oleh Rusel.


"Ini salahku."


"Ma!" gumam Nyonya Tantri memeggang bahu wanita tua ini. ia paham akan perasaan Ibu Mertuanya.


"Aku yang sudah membuat Keluarga ini menjadi hambar. Tantri." ucapnya penuh penyesalan.


"Setidaknya Mama sudah menyesal dan ingin memperbaiki. kita bisa berusaha meyakinkan Keluarga Kerajaan juga."


Nenek Murti hanya bisa mengangguk melirik wajah damai Baby Ruslan yang tampak mengacuhkan mereka.

__ADS_1


"Aku sudah tua! aku tak ingin cucu dan cicitku semakin benci padaku."


"Aku tahu. Mama tak usah khawatir, kita fokus mengurus Syukuran untuk Bayi Sandra saja. hm?"


Mereka mengangguk membuat Guren lega. ia tahu Nonanya tak akan suka akan sikap Simob tapi pria itu dekat dengan Ketuanya yang sama-sama waspada.


"Jangan terlalu di pikirkan! Simob memang seperti itu."


"Kenapa dia berbeda darimu?" tanya Erina membuat Guren terdiam. ia hanya menipiskan bibirnya membuat Erina tertegun.


"Aku tahu kau sudah berubah. benar?"


Erina mengangguk tersenyum senang. Nenek Murti dan Nyonya Erina saling pandang lalu perlahan menarik diri dari dua mahluk ini.


"Terimakasih. sudah percaya padaku."


"Yah! jika kau mengecewakanku maka, kau tahu konsekuensinya." masih mengancam.


Erina mengangguk membuka diri. ia juga tak biasanya seperti ini begitu berani pada seorang pria. mungkin karna Guren juga membuka diri dan sangat hangat.


..........


"Apa??"


Sandra syok mendengar ucapan Bibik Iyem yang tengah ada di kamarnya. ia tengah bersandar ke kepala Ranjang dengan perban di kepala sudah di lepas.


Memar-memar di wajahnya juga sudah menghilang berganti kulit mulus yang bertambah cantik.


"Benar. Nona! Bibik tadi dengar dari sambungan Tuan Besar kalau Nona Delina mau pulang ke Kediaman."


"P..Pulang?" gumam Sandra sungguh merasa campur aduk. ia dan Delina memang tak terlalu dekat tapi Delina itu sosok yang bisa di katakan wanita yang cuek dan dingin. dia jarang bermasalah dengan mahluk satu itu.


"Non! jangan sampai dia .."


"Menyita Lamborghini-ku." sela Sandra panik. Delina sangat tak suka akan tabiat Sandra yang amburadul. wanita itu akan merusak kerja kerasnya selama ini.


"Nona! bukan Laborghini, tapi bagaimana kalau Nona Delina marah padamu karna .."


"Sutt! aku tak perduli dia marah atau tidak. yang jelas mau ku apakan mobil-mobilku yang ada di Garasi Club? Bik!" panik Sandra benar-benar frustasi. Ia sudah bekerja keras mendapatkan mobil-mobil itu selama ini.


Rusel yang tadi tengah berbicara serius dengan Simob di Balkon sana mendengar bisik-bisik Sandra. ia melirik dari ekor mata tajamnya merasa aneh.


"Nona sepertinya mulai cemas. Ketua!"


"Kenapa?" tanya Rusel menajamkan pendengarannya. tapi, suara pekerja di belakang Kediaman membuatnya risih dan tak nyaman.


"Aku tak tahu. tapi biasanya Ibu-ibu sesudah melahirkan itu suka berubah-ubah." jawab Simob yang menduga-duga saja. ia sempat melihat beberapa Ibu-Ibu di Kompleks Perumahaan Elite ini suka berbisik-bisik tak jelas seperti itu.


"Aneh bagaimana?"


"Ntahlah. tapi aku akan menyelidikinya. Ketua!" jawab Simob bersedia.


"Hm. aku ingin laporan itu ada malam ini."


Simob mengangguk kembali melanjutkan pembahasan mereka soal Lucas yang sudah pulang ke Negaranya untuk mengurus kasus Nyonya Loure.


Walau beberapa kali Rusel tak bisa tenang mendengar bisik-bisik Sandra yang seakan menyembunyikan sesuatu darinya.

__ADS_1


.....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2