Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Akhir dari dua Jin terkutuk!


__ADS_3

Sandra sudah berusaha keras menguasai semua materi yang selama ini di ajarkan Dosennya. ia tak melewatkan satu-pun kata tentang Pemasaran dan Strategi Bisnis yang begitu rumit baginya.


Namun, Sandra tak bisa fokus bahkan ia selalu di ganggu akan rasa gugup jika nanti ia gagal maka ia juga akan mempermalukan Keluarganya di hadapan Profesor yang melihat beserta para pebisnis lain yang akan menyaksikan presentasi kerjanya.


"Ya. Tuhan!! aku mau gila kalau begini." umpat Sandra menjambak rambutnya sendiri. ini sudah pukul 5 sore dan acaranya akan tiba pada pukul 7 malam dan apa yang akan ia lakukan nanti.


Sandra masih ada di dalam taman Kampus yang tampak sudah sunyi karna yang lain tengah ada di Aula untuk pertemuan nanti.


"Aku tak bisa menghafal sebanyak ini!!!" jerit Sandra menggila meletakan buku itu diatas kepalanya. ini salahnya ketika di jelaskan Dosen ia terlalu banyak bermain.


"Kau menyerah saja."


Suara itu membuat Sandra langsung merotasikan matanya jengah. lagi-lagi dua Jin sampah ini menganggu hidupnya.


"Sandra! kenapa kau begitu keras belajar. hm? usahamu tak pernah di lirik orang lain." ucap Anju melangkah mendekat bersama Karina. mereka melancarkan rencananya untuk membuat nama Sandra semakin buruk dan kedua orang tuanya akan semakin membenci wanita itu.


"Kalian tak punya pekerjaan lain. selain mengangguku. ha?" sinis Sandra acuh.


"Punya. tapi, mengurusimu itu sangat penting karna.."


Karina menjeda ucapannya lalu berdiri di hadapan Sandra yang mengepalkan tangannya.


"Karna kau anak buangan orang tuamu."


"Jaga bicaramu." geram Sandra berdiri menatap geram mereka berdua. tangannya masih memeggang buku dengan erat seakan menampung amarahnya.


"Aku benar. bukan? dulu kau tak pernah perduli dengan pendidikanmu, tapi sekarang kenapa terlalu berusaha? itu percuma. Sandra."


"Yah. SIA-SIA." tekan Anju menimpali.


Sandra terdiam sejenak menarik nafas dalam. ia tak boleh terpancing pada hasutan dua Jin terkutuk ini.


"Terserah. aku tak perduli."


"Dan satu lagi."


Sela Anju lalu membuka ponselnya membuat dahi Sandra mengkerut. apa lagi yang tengah di rencanakan mereka untuk mengusiknya?!


"Lihatlah penggemar barumu." menyodorkan ponselnya.


Mata Sandra melebar melihat Arnol yang tengah tertindas dengan keadaan tak berdaya seperti ini. kelakuan Karina tadi siang terlihat sangat menindas Arnol yang tadi membuat kebingungan di benak Sandra.


"Apa-apa'an kalian. ha???" bentak Sandra membara.


"Kau marah?"


"Dia tak ada urusannya dengan ini semua. pakai otak kalian!!" geram Sandra benar-benar tak habis pikir.


"Setiap yang dekat denganmu. dia harus pergi membiarkanmu sendirian, karna itu takdirmu." desis Anju menyeringai.


"Dan satu lagi, kau tak akan bisa menjadi yang terbaik. SAMPAH tetaplah SAMPAH."


Sambung Karina tersenyum licik membuat Sandra tak mampu lagi menahan bongkeman panas di dadanya.


"Mati saja kalian berdua!!!"


Rutuk Sandra lalu menampar wajah Anju dan Karina dengan buku yang ada di tangannya. tak cukup di situ saja, Sandra melempar ponsel Anju ke dalam kolam air pancur di dekat taman ini.


"Sandra!!" geram Anju melihat ponselnya lenyap di dalam kolam itu.pipinya dan Karina juga lebam tampak menyedihkan.


"Kalian memang sudah kelewat batas."


"Apanya? kau yang sudah menindas kami."


"Benarkah?" tanya Sandra lalu melepas heelsnya. Karina dan Anju menelan ludahnya kasar akan apa yang akan Sandra lakukan.


"K..kau mau apa?"


"Enyahlah dari sini!!"


Bugh...


"Sandra!!!" pekik Karina saat Sandra menghantamkan ujung Heels ke bahunya hingga memuncratkan darah. Anju gemetar ingin lari tapi Ssndra dengan cepat menginjak kakinya dengan tumit Heels yang juga hampir menembus kakinya.


"Sandra!!!!"


"Apa? mati-pun aku tak menyesal membunuh kalian." desis Sandra meludahi wajah mereka berdua.


Nafas Sandra memburu dengan wajah merah kelam tak terjabarkan. ia memang tak bisa mengontrol emosinya yang selalu naik pitam melihat dua Jin ini.


"PERGI DARI SINI!!!"


"S..Sialan." desis Anju dan Karina terseok-seok pergi bahkan keduanya beberapa kali tersungkur ke rumput basah ini membuat Sandra ingin segera mengoyaknya.

__ADS_1


"Bajingan." umpat Sandra memasang kembali Heelsnya lalu terduduk bersandar ke kursi Taman.


Sandra langsung terdiam memejamkan matanya untuk sekedar menenagkan pikiran yang berkecamuk. rasa gugup itu membuat Sandra semakin di landa kekacauan, bukan karina takut di laporkan tapi ia memikirkan ucapan Karina tadi.


"Aaaaa!!!! aku mau pergi saja dari sini!!!" teriak Sandra frustasi. ada benarnya juga ucapan mereka. ia tak akan bisa lolos dari ujian Presntasi itu.


"Ya. Tuhan! bawa saja aku pergi dari sini. aku.."


"Kemana?"


Sandra langsung membuka matanya dengan buku yang jatuh ke bawah sana. kepalanya masih bersandar ke punggung kursi taman dengan mata menatap wajah tampan seseorang yang sekarang sudah berdiri di belakangnya.


"Sel!!!" pekik Sandra berbinar cerah mengadah melihat manik kehijauan sang suami.


Rusel menyunggingkan senyum pelitnya mengurung kedua sisi kepala Sandra yang masih terlihat mengembangkan senyuman.


"Sel! kenapa baru datang sekarang?"


"Banyak pekerjaan."


Jawab Rusel lalu menundukan kepalanya hingga Sandra dengan mudah menarik lehernya untuk melabuhkan kecupan penuh tekanan ke bibir merah segar milik Sandra.


Setelah beberapa lama. barulah Rusel menarik diri karna khawatir jika leher Sandra pegal dalam kondisi seperti ini.


"Apa sudah selesai?"


"Apanya?" tanya Sandra menarik Rusel untuk duduk di sebelahnya. tatapan datar Rusel beralih pada buku yang ada diatas rumput taman.


"Bukumu?" mengambilnya.


"Iya. Sel! rasanya aku mau berhenti saja dari Kampus ini."


"Apa masalahnya?" tanya Rusel melihat isi buku Manajemen bisnis ini. ia tak asing lagi dengan semua materi yang di pelajari Sandra karna dirinya juga telah lulus di Academi Prince.


"Semuanya susah. tak ada yang bisa masuk ke otakku." jawab Sandra menggerutu menyandarkan kepalanya ke bahu Rusel yang hanya membolak-balikan kertas tebal ini.


"Apa yang kau bisa?"


"Aku bisa.."


Sandra menjeda ucapannya lalu mengecup kilas pipi Rusel yang langsung melempar pandangan datarnya.


"Menganggumu." sambung Sandra menyengir kuda.


"Harus." jawab Sandra berbangga hati. Rusel hanya diam menutup bukunya lalu berfikir sejenak, bagaimana caranya agar Sandra bisa memahami materi ini dengan cepat?!


"Sel!"


"Hm?"


"Aku tak jadi ikut pesta kampus malam ini."


"Kenapa?" tanya Rusel mengelus kepala Sandra yang bertambah tak semangat untuk lolos Presntasi kali ini.


"Sel! aku tak pernah lolos dalam ujian dan acara apapun, apalagi aku sudah terkenal dengan Mahasiswi termalas dan tak berbudi baik, bagaimana mereka bisa meloloskanku kali ini?!"


"Kau belum mencobanya."


"Tapi,.."


Sandra diam saat tatapan Rusel menghunus tegas. ntah mengapa Rusel selalu mendorongnya untuk keluar dari rasa malas ini?!


"Kau mau mereka terus memandangmu rendah?"


"Tidak!"


"Itu karnanya kau harus berusaha." jawab Rusel memantapkan keputusan Sandra yang masih ragu-ragu akan bisa.


"Sel! aku sudah berusaha, tetap tidak bisa."


"Kau yakin?"


Sandra mengangguk pasrah membuat Rusel menghela nafas dalam. inilah yang diinginkan para musuh Sandra yang selalu membuat reputasinya jatuh sampai kebencian Nyonya Tantri padanya meningkat.


"Kalau kau bisa menjawab aku akan memberimu hadiah."


"Apa??" tanya Sandra berbinar.


"Kau mau apa?"


Sandra diam berfikir tenang. ia sebenarnya agak malu mengatakan ini hingga wajahnya sampai memerah begitu.


"Apa?"

__ADS_1


"A.. itu.." Sandra mengusap tengkuknya canggung dengan lirikan matanya ke arah jakun Rusel yang selalu ingin ia gigit gemas.


"Apa?"


"Tidak jadi." jawab Sandra agak malu mengungkapkannya. Rusel terdiam sejenak lalu meraba jakunnya dengan wajah agak geli tapi ia tahu Sandra menginginkan ini.


"Lakukan saja yang terbaik. apapun akan ku berikan."


"K..kau janji?" tanya Sandra memastikan. Rusel mengangguk mengecup kilas pelipis Sandra yang memerah malu langsung membenamkan wajahnya ke dada bidang Rusel ternyaman.


Rusel mengulum senyum mengusap kepala Sandra yang malah mulai menatap ke bagian bawah Rusel. ntah mengapa ia akhir-akhir ini semakin bergairah tapi ia tahan karna malu.


"S..Sel!"


"Hm? ada apa?"


Sandra menelan ludahnya berat menatap bibir Rusel penuh minat. rasa nikmat malam itu terngiang di benaknya hingga Sandra sangat sulit mengontrol diri.


"Boleh aku menciummu?" tanya Sandra membuat Rusel diam dengan tubuh kaku. permintaan Sandra sangat sederhana tapi rasanya begitu meremangkan bulu kuduknya.


"Hm."


"Tapi agak lama." lirih Sandra malu-malu. Rusel menganggukinya mendekatkan wajahnya ke wajah merah tomat Sandra yang terlihat kikuk.


"Sesuai keinginanmu."


Jawaban Rusel menarik senyuman Sandra yang langsung menyatukan bibir keduanya lembut dan syahdu.


Mata Rusel terpejam menikmati cumbuan lembut ini dengan pelukan ke pinggang Sandra mengerat mesra. ntahlah, kelembutan dari bibir wanita ini membuatnya enggan bangun jika ini mimpi.


Namun, mata Rusel langsung terbuka lebar saat tangan Sandra masuk ke sela kaosnya dengan ciuman yang masih di lancarkan.


Tangan nakal yang membelai tanpa arah membuktikan Sandra tengah menginginkannya tapi malu mengatakan.


"Ehmm." Sandra menggeram sendiri. Rusel menarik pangutan yang langsung melukis kekecewaan di wajah Sandra.


"S..Sel!"


"Kau mau?" tanya Rusel lembut mengusap bibir basah itu. dengan kaku Sandra menganggukinya tampak sangat malu.


"A..aku.."


"Jangan disini." jawab Rusel langsung menggendong Sandra yang terhenyak dengan jawabannya.


"Sel!"


"Kau mau berapa jam?"


Sandra langsung menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher Rusel yang sengaja menggodanya seperti ini. hal menyenangkan bagi Rusel membuat rona merah di pipi Istrinya semakin mengembang.


........


Sedangkan di dalam ruangan rawat ini Karina dan Anju baru saja di tangani oleh dokter. luka di kaki dan bahu mereka tak begitu dalam tapi membekas beberapa jahitan.


"Bagaimana? kau sudah merekamnya?" tanya Anju pada seorang wanita muda yang tadi mereka suruh merekam Sandra memukuli mereka di taman.


"Sudah. vidionya jernih." jawab wanita itu lalu melangkah pergi setelah menerima bayaran.


Anju dan Karina berbaring dengan ranjang rawat bersebelahan. mereka mengorbankan tubuhnya agar Vidio itu terlihat alami.


"Karin! kita lihat bagaimana Sandra akan menghadapi Kepala Kampus?"


"Hm. benar! dia akan menerima balasan setimpal." jawab Karina saling tos dengan Anju.


Keduanya sangat puas dan tak sabar menunggu berita ini booming hingga Sandra di permalukan bahkan bisa di penjara.


Brakk...


"Aaa!!!"


Keduanya berteriak saat ada yang mendobrak pintu ruangan. mata mereka melebar melihat beberapa pria berpakaian hitam dengan tampang sangar penuh jahitan di wajah itu tengah masuk membawa pisau dan pistol di tangannya.


"K..kalian siapa??" tanya Karina mengigil di tempat. Anju sudah memucat merapat ke kepala ranjangnya melihat orang-orang mengerikan ini yang terlihat haus darah.


"Mengusik Tuanku sama halnya dengan mengusik Klan kami!"


Desis mereka mengerikan dengan bibir yang penuh bekas sobekan luka parah.


Anju dan Karina menggeleng tak mengerti tapi sudah terlambat. ranjang mereka sudah di kepung bahkan tak ada yang akan mengira apa yang akan Anju dan Karina alami di mimpi buruk kali ini.


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2