
Sudah 3 hari Sandra tak di perbolehkan keluar rumah sakit oleh Rusel yang tak pernah berbicara banyak pada Sandra. dia hanya akan diam dan melakukan tanggung jawabnya tapi tentu Rusel menerapkan perintah itu karna keadaan Sandra masih belum stabil.
Selama itu juga, Sandra juga lebih banyak diam dan tak seaktif biasanya. Bumil yang sering berbuat kejahilan itu lebih suka menyendiri dan lebih di katakan menghindar sampai Rusel yang juga dalam mode dinginnya ikut bingung.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Rusel tengah ada di ruangan Dokter Nita yang selalu memantau kondisi wanita itu.
"Nona baik-baik saja. bahkan, kesehatannya sudah lebih membaik dari biasanya. Tuan!"
Rusel terdiam sejenak. apa beberapa hari ini ia terlalu menekan Sandra sampai wanita itu juga mulai menunjukan sikap aneh. Cemas? tentu Rusel merasakan itu. ia khawatir Sandra depresi akan kebungkamanya.
"Anda tenang saja. Tuan! sejauh ini Nona tak menunjukan sikap yang di luar batas normal, mungkin suasana hatinya tengah buruk jadi perlu kesendirian."
"Hm. terimakasih." ucap Rusel datar lalu melangkah keluar dari ruangan ini. Simob yang tadi menunggu segera datang mendekat.
"Ketua! mereka sudah di kumpulkan."
Simob menyeringitkan dahinya. wajah redup si tampan misterius ini terlihat tak bersemangat dan lebih pada mendung.
"Ketua! jika kau sakit, Ketua bisa istirahat."
"Aku tak apa."
Jawab Rusel masih dengan intonasi bassnya lalu melangkah pergi menuju Lift untuk ke lantai dasar. tentu Simob selalu berada di sampingnya seakan jadi ekor.
"Laporan Guren di terima. Ketua!"
"Apa yang terjadi?"
"Pria yang ingin menabrak itu masih di tangani Dokter dan dua tawanan lagi di ruang interogasi. kita hanya perlu menggali informasi lebih detail lagi."
Rusel menghela nafas dalam. 3 hari ini ia berusaha untuk tetap disini memantau Sandra walau keadaan di luar sana masih belum jelas. ia tak bisa berbuat seenaknya karna Papa Sandra tak memperbolehkannya untuk bertindak lebih dalam.
"Ketua! sebaiknya kau langsung ke Markas saja."
"Aku tak bisa." tegas Rusel masih begitu tenang walau pikirannya tengah berkecamuk.
Simob paham kondisi Ketuanya bagaimana. Rusel masih tak percaya meninggalkan Sandra disini sendirian, bisa saja wanita itu kembali berbuat sesukanya.
"Aku mengerti. Ketua! Nona Sandra memang susah di kendalikan."
"Hm."
Lift itu langsung terbuka memperlihatkan penampilan lantai dasar Rumah Sakit. disini hanya ada anggota Rusel yang terus berjaga.
Di tengah perjalanan kearah pintu keluar. tiba-tiba Daniel muncul menghentikan langkah Rusel yang tadi ingin ke Mobilnya.
"Hey!"
"Kau jangan sok akrab." geram Simob tapi Daniel masa bodoh. ia hanya takut pada Rusel yang tak terduga kalau sudah bertindak.
"Aku ingin bicara denganmu."
"Sopanlah pada Ketua!!" sambar para anggota sana mengacungkan pistolnya membuat Daniel spontan mengangkat tangan dengan wajah pucat. benar-benar begitu menyeramkan.
"M..maksudku. bisa kita bicara. Tuan?"
"Cih." decah Simob mengisyaratkan mereka agar menurunkan pistolnya.
Rusel tak merespon. ia hanya menatap datar Daniel seakan yang berdiri di hadapannya hanyalah sebutir debu yang akan hilang jika di tiup angin.
"Katakan!"
"Kau memang benar, setelah membuat berita baru mereka langsung percaya padaku. bahkan, mereka mulai melawan beberapa masyarakat yang mengecam Sandra."
"Lalu?"
Daniel segera mengeluarkan surat yang tadi ia terima dari Publish Pers yang akan mendongkrak keadaan.
"Ini surat resmi untuk Sandra agar datang ke Pers mereka. dengan begitu Sandra bisa membuat pembelaan."
"Dia tak mungkin bisa." jawab Rusel tegas. ia tak bisa mengambil resiko seperti ini. dulu Rusel juga berfikir untuk mengadakan Pers tapi dengan sifat Sandra yang emosian itu hanya akan menambah masalah.
"Aku tahu Sandra tak terbiasa tapi apa salahnya mencoba." sambar Daniel langsung diam saat mendapat tatapan mematikan dari Rusel.
"Dia tengah hamil. dan Sandra tak bisa berhadapan dengan orang-orang yang nanti akan mencecer pertanyaan bebas. aku rasa tak perlu ku jelaskan lagi sifatnya bagaimana?!"
"Benar juga." gumam Daniel memahaminya. tapi, ia sudah tak tahu apa yang harus di lakukan. Pihak kepolisian sana sudah mulai selesai dengan hasil otopsinya dan Sandra akan segera di bawa ke Kantor pemerintah.
__ADS_1
"Lalu bagaimana?"
"Sekarang mereka sudah mulai goyah. berita ini lambat laun juga akan menghilang, untuk orang-orangnya sudah ada di tanganku. tinggal membongkarnya saja."
Daniel mangut-mangut mengerti. analisis Rusel memang sangat tepat membuatnya bangga bisa bertemu dengan pria seperti ini.
"Baiklah. Tuan Hatomo juga tengah menghandle Kepolisian. jadi, Sandra tak perlu keluar."
"Aku mau ke Pers itu."
Degg...
Daniel tersentak dengan suara ketus dan pedas itu. pandangannya tertuju pada sosok wanita bertubuh semampai yang terlihat semakin cantik saja.
"S..San!"
"Mana suratnya?" tanya Sandra melangkah mendekat tak memperdulikan tatapan dingin Rusel yang memang sudah ia tahu reaksinya.
"Kau keluar?!"
"Aku mau kesana."
"Masuk ke kamarmu!" tegas Rusel tapi Sandra hanya diam. pandangan yang begitu keras dan tak goyah itu sangat mengimbangi.
"Sudah 3 hari kau mengurungku. apa tak cukup?"
"Masuk." tekan Rusel lagi membuat Sandra membuang nafas halus. Anya yang terpongoh-pongoh mengejarnya tadi-pun seketika memucat melihat respon mengerikan Ketuanya.
"Aku sudah baik-baik saja."
Rusel mengeraskan rahangnya melihat Sandra yang terlihat kekeh pada pendiriannya.
"Aku terima tawarannya."
"San! apa kau serius?" tanya Daniel memastikan. agak aneh jika Sandra si berandal mau ikut Pers ini.
"Apa aku terlihat bercanda?!"
"San! disana itu banyak orang yang kau tak suka. bisa saja nanti kau membanting Microphonenya." lirih Daniel agak ngeri.
Sandra hanya diam menatap yakin Rusel yang wajar jika cemas padanya. pria ini hanya enggan untuk berterus terang.
"Aku mengkhawatirkan anakku."
"Benarkah?"
Rusel langsung membuang muka. jika sudah begini ia juga tak mungkin mengekang Sandra untuk keluar Publik.
"Anakmu akan baik-baik saja. aku janji." tegas Sandra mengikuti diamnya Rusel. ia ingin fokus untuk menyelesaikan ini lebih dulu.
"Baik. jika kau ingin hadir maka bersiaplah 10 menit dari sekarang."
"Hm. aku sudah siap."
Jawab Sandra membuat mereka menatapnya bersamaan. ia tengah memakai Dress selutut berbahan satin, bagian bawah dadanya di buat mengembang untuk menutupi perut besarnya.
Tampilan sederhana tapi elegan ini mampu menyihir mata Daniel dan mereka semua.
"Ayo pergi!"
"A..ayo!"
Jawab Daniel kembali Sandra ingin mengikuti Sandra tapi Rusel sudah lebih dulu membuntuti wanita itu. walau terkesan sama-sama perang dingin tapi penjagaan Rusel tak berkurang sama sekali.
"San! kau serius ingin pergi menemui mereka?" bisik Anya berjalan beriringan dengan Sandra yang mengangguk.
"Yah. aku tak bisa terus diam disini."
"Tapi, bagaimana kalau mereka semakin menyalahkan-mu?! kau ini mudah emosi dan.."
"Tinggal saja jika kau mau."
Anya langsung bungkam. ia tak berani lagi bertanya hingga membiarkan Sandra masuk ke mobil bersama Rusel yang juga masuk.
"San! ini suratnya, kau hati-hati. ya?"
"Aku tahu." Sandra mengambil surat yang di ulurkan Daniel padanya. pria berwajah lokal itu kegirangan bukan main saat Sandra mau bicara dengannya.
__ADS_1
Anya yang melihat-pun hanya menggeleng jijik masuk kembali ke dalam Rumah Sakit sesekali memandangi mobil Sandra yang sudah melaju ke arah gerbang utama.
"Semoga masalah kalian cepat selesai." gumam Anya berharap banyak.
Sementara di dalam mobil sana. Sandra sibuk membaca surat resmi ini. Publish Pers sepertinya memang berharap ia datang walau nanti akan banyak yang akan Pro dan Kontra.
"Simob!"
"Iya. Nona!" jawab Simob sedia seraya menyetir.
"Pinjam ponselmu!"
Simob melirik wajah merah padam Rusel yang masih diam di tempat. tetap saja keduanya masih begitu beku jika sudah bersama.
"Untuk apa Nona?"
"Bukan urusanmu."
Mau tak mau Simob menyodorkannya tapi Rusel lebih dulu melempar pelan ponselnya ke paha Sandra yang terdiam sejenak melirik Rusel dari ekor matanya.
"Cih! ingin rasanya ku gigit jakunmu itu."
Batin Sandra hanya menebalkan muka. ia menggunakan Ponsel Rusel untuk mengetik sesuatu membuat Rusel keheranan. ntah apa yang di lakukan wanita ini?!
"Kau yakin bisa?" tanya Rusel tapi masih terkesan dingin.
"Ntahlah. jika tidak aku siap di penjara."
Rusel langsung terdiam. membayangkannya saja membuatnya tak bisa bernafas.
"Kau tak perlu kesana. aku sudah tahu siapa pelakunya dan jika dia sadar maka akan mudah untuk mendesaknya ke publik."
"Aku akan tetap kesana."
Tegas Sandra menatap pemandangan di luar kaca mobil. bahkan foto-foto di situs itu juga sudah di sebarkan di jalan-jalan. Namanya memang sudah tak tertolong.
"Sudah berapa kali kau menolak panggilan Polisi?"
"Tidak ada. mereka tak mencarimu." elak Rusel lagi-lagi membuat Sandra terenyuh.
Sudah jelas disini ada pesan dari anggota lain juga pihak kepolisian tengah mencarinya. Dapartemen negara ini memanfaatkan kasusnya untuk menaikan exsistensi pemberitaan bahkan mengambil keuntungan.
"Terimakasih!"
"Apa?"
Sandra diam tak lagi bicara. wajahnya terlihat teduh kembali fokus pada suratnya. jika ia tak bisa membuktikan dirinya sendiri tak bersalah maka ia juga tak bisa menerima bantuan Rusel lagi.
"Kau kembalilah. biar aku yang menemui mereka."
"Kau tak percaya padaku?"
Rusel langsung melempar pandangan rumitnya tapi Sandra tetap terlihat bertahan.
"Kau mengatakan aku hanya bisa menangis!"
"Kapan? aku.."
"Stop! aku tahu kau sangat perduli padaku, tapi. sekali ini saja aku ingin menjadi Sandra. bisa?"
Tanya Sandra berharap jika Rusel mempercayainya. walau ia terlihat labil tapi ia akan berusaha sekuat yang ia bisa.
"Salah-salah kata saja. kau bisa di bawa pergi."
"Apa salahnya. aku tak aneh lagi dengan jeruji besi."
"Tutup mulutmu." tekan Rusel langsung berubah mood. ia memejamkan matanya untuk sekedar merilekskan pikirannya membiarkan Sandra berbuat sesukanya.
"Jika kau sudah menyerah. segera katakan padaku."
"Kau mau apa?" dahi Sandra menyeringit.
"Izinkan aku membunuh seseorang."
Jawaban Rusel membuat Sandra meneguk ludah. saat mengucapkan itu Rusel tampak menahan geram.
............
__ADS_1
Vote and Like Sayang..