
Setelah saling bersenda gurau di dalam kamar tadi. Sandra mendesak Rusel untuk menemaninya keluar sekedar mencari udara segar.
Tentu Rusel menolak karna tak mungkin baginya membawa Sandra keluar dalam kondisi seperti itu, tapi. Sandra kekeh minta di temani hingga mau tak mau Rusel menyanggupinya.
"Disini mulai dingin. ayo masuk ke dalam." ajak Rusel mengeratkan mantel hangat ke tubuh Sandra yang ia gulung seperti kepompong.
Mereka tengah duduk di bawah pohon dengan tempat santai biasa Sandra gunakan untuk menikmati kesunyian.
"Kau belum sehat betul!"
"Aku lebih baik kalau begini." jawab Sandra menyandarkan kepalanya ke dada bidang Rusel yang menghela nafas mengusap kepalanya.
"Ada apa?" tanya Rusel tahu Sandra ingin mengatakan sesuatu sedari tadi.
"Apanya?"
"Kau ingin bicara. bukan?"
Sandra terdiam menghayati keadaan. langit diatas sana tak dihiasi bintang sama sekali, bahkan terkesan kesepian.
"Apa kau tak merasakan sesuatu?"
"Sesuatu?"
Sandra mengangguk masih memandang ke atas galaksi yang meneduhinya. separuh dedaunan mangga ini menutupi bagian langit tapi ia tak masalah soal itu.
"Terkadang aku bingung dengan hidupku sendiri. terlalu banyak yang tak aku ketahui."
"Jangan terlalu di pikirkan." jawab Rusel tenang menggenggam jemari lentik Sandra.
"Aku tak tahu apa yang akan terjadi satu jam kedepan, apa akan ada bencana atau kebahagiaan untukku lagi."
Rusel bungkam sejenak tak menyahut. ia tahu Sandra mulai merasa aneh dengan beberapa kejadian yang dia alami apalagi hal-hal aneh itu terasa nyata.
"Kau pergi karna ada masalah di Kulfun. tapi, apa karna aku kau meninggalkan desa?"
"Tidak!"
Sandra langsung menatap Rusel dengan rumit. dari pandangannya itu terlihat dipenuhi tanda tanya dan gejolak hati.
"Aku sudah tahu kalau ini hanya pancingan."
"M..Maksudnya?" tanya Sandra tak mengerti. ia menegakkan kepalanya mulai serius tak beralih dari wajah tampan datar Rusel.
"Mereka membuat masalah di sana agar aku pergi meninggalkanmu disini. otomatis mereka punya peluang melukaimu dan menjadikan kau dan janinmu sebagai ancaman." jelas Rusel setenang air tapi raut wajahnya tak bisa Sandra tebak.
"L..lalu berarti kau menjadikan aku pancingan?!"
"Benar!"
Sandra langsung melepas genggaman Rusel ke jarinya dengan tatapan tak percaya dan bahkan sangat syok.
"S..Sel!"
"Dengan membiarkan kau sendiri maka mereka akan menunjukan diri, dan benar dia mendekatimu."
"T..tapi dia ingin membunuhku! dan kau.."
Rusel menatap tegas Sandra dengan pandangannya sendiri. ia sudah menyusun semuanya dengan baik tapi Sandra yang membuat rencananya sedikit berubah.
"Aku menyuruh anggotaku menjemputmu. tapi kau.."
"S..siapa? kau jangan membual." ketus Sandra menghakimi Rusel yang tetap setenang biasa.
"Dia mengajakmu pergi tapi kau tak mau."
"A.. j..jadi pria yang memakai masker itu anggotamu?" tanya Sandra syok tapi Rusel hanya menghela nafas saja.
"Hm."
__ADS_1
"Aku tak kenal. memang rasanya tak asing tapi ini salahmu juga, kenapa tak memberi tahuku?"
"Saat itu kau sedang di pantau. sangat beresiko jika membuat musuh curiga kalau aku menaruh anggotaku menjagamu."
"Begitu. ya?" gumam Sandra mulai memahami. jadi kali ini masalahnya agak serius, apalagi ia sudah pernah berdekatan dengan pria itu.
"Lalu sekarang bagaimana? pasti setelah kejadian itu dia tak akan menunjukan wajahnya lagi. Sel!"
"Wajahnya tak hanya satu."
"Apa?" gumam Sandra tak mengerti akan ucapan Rusel barusan. ia merasa dunia ini terlalu banyak hal yang menakutkan.
"Dia bisa memakai topeng apapun."
"Lalu bagaimana bisa aku membedakannya? itu sangat rumit." decah Sandra frustasi. ia tak begitu pandai mengenali orang kecuali sudah sangat hafal di benaknya.
"Dari mana kau tahu kalau dia jahat?!"
"Siapa?" tanya Sandra menyandarkan dagunya ke bahu Rusel yang memainkan jemari lentiknya diatas paha.
"Mata empat!"
"Mata.. em..pat." gumam Sandra mencoba mencerna dan ia langsung menangkup pipi Rusel saat tahu maksudnya.
"Si penipu itu???" syoknya dengan mata melebar.
"Hm. yang makan berdua denganmu." jawab Rusel dengan mata malasnya.
Sandra mengulum senyum beralih memeluk lengan kekar Rusel merasa ia siang tadi terlalu polos.
"Dia yang mentraktirku. kau-kan tahu aku pecinta gratis."
"Lain kali jika bertemu orang asing. jangan cepat akrab."
"Khususnya?" tanya Sandra menunggu.
"Laki-laki."
Sandra langsung menutup mulutnya saat tatapan membunuh Rusel menghunus jantungnya. pria ini benar-benar membuatnya ingin segera lari.
"M..maksudku dia itu membosankan."
"Pertemuan pertamamu sangat membekas rupanya?!" suara Rusel terkesan mengejek dan tak suka.
"Tidak juga. aku tak tertarik. tapi aku tertarik pada satu orang."
Pandangan Rusel mulai intens seakan menggali isi pikiran Sandra yang tengah memandangnya penuh dengan rencana.
"Siapa?"
"Aku tak mau memberi tahumu."
Jawab Sandra menaikan bahunya acuh lalu kembali melihat langit sana. sungguh Rusel langsung terlihat tak puas dengan jawaban Sandra.
"Kau jangan bicara setengah-setengah." geram Rusel menarik dagu Sandra agar kembali memandangnya.
"Bicara apa?"
"Lanjutkan ucapanmu."
"Yang mana?" tanya Sandra pura-pura lupa menarik hawa panas di wajah tampan Rusel yang langsung mendidih di buatnya.
"Kau jangan bermain."
"Sel! kau bicara apa?!" jengah Sandra menekuk wajahnya tak merespon Rusel yang benar-benar menunggu. hatinya tak pernah tenang kalau sudah begini.
"Aku serius."
"Memangnya aku tak serius?!" tanya Sandra memelototi Rusel yang juga menatapnya tajam.
__ADS_1
"SANDRA." tekannya tak sabaran.
"Apa?"
Rusel lalu membuang muka yang sungguh sudah tak bisa menahan untuk tetap tenang begini. apa di Kampusnya Sandra pernah menemui lelaki lain? menurut laporan Guren tak ada hal mencurigakan.
"Tapi, jujur sampai sekarang aku masih tak bisa melupakannya."
"Siapa?" tanya Rusel semakin tak sabaran. pikirannya membayang ke arah Daniel yang pasti masih berarti bagi Sandra.
"Apa mantanmu?"
"Emm.. tidak, lebih spesial."
"Berani kau!!" geram Rusel dengan dada naik turun menahan rasa panas itu. ia tak suka jika Sandra memiliki pria lain yang di kagumi apalagi itu bisa saja para pangeran yang lain.
"Sudahlah. aku jadi merindukannya. Sel!"
"Terserah kau saja." jawab Rusel dingin menepis tangan Sandra yang ada di pahanya. wajah tampan itu berubah 180° menjadi jutek dan masam.
Sandra melirik Rusel dari ekor matanya. di dalam hati itu sudah sangat puas melihat raut kesal Rusel yang pasti masih menebak-nebak.
"Emm.. baiklah. aku mulai mengantuk! kau mau ikut ke .."
"Pergilah!" jawab Rusel tak memandang wajah Sandra yang menahan rasa geli. ntahlah, rasa sakit dan lemas tadi langsung hilang setelah bersama pria ini.
"Kau tak mau ikut?"
"Tidak!"
Cup..
Rusel tersentak saat Sandra mengecup bibirnya kilas lalu melangkah pergi ke arah pintu samping dengan senyum terukir di bibirnya.
"Di luar dingin. cepatlah masuk." teriak Sandra dari dalam sana.
Rusel diam dengan wajah merah meraba bibirnya pelan. beberapa hari ini ia merasa gunda saat Sandra marah padanya tapi, ketika seperti ini rasanya masalah itu untuk sejenak hilang di benaknya.
"Cih!" decih Rusel menarik sudut bibirnya geli tapi segera kembali menormalkan raut wajahnya saat Simob sudah muncul mendekat kesini.
"Ketua!" Simob memberi salam hormat yang patuh.
"Hm."
"Dari penyerangan Nona tadi sore. sepertinya mereka akan mundur besok, untuk laporan selanjutkan sudah di kirim ke ponselmu. Ketua!" jelas Simob membuat Rusel diam tengah berfikir tenang.
"Tak akan semudah itu."
"Memang benar. mereka tak akan mudah mundur jika sudah terdesak begini, pasukan penjaga Kulfun juga sudah menyerang ke markas mereka dan kemungkinan akan ada serangan balasan."
Rusel tahu yang tengah berhadapan dengannya ini adalah musuh lama yang selalu menggunakan trik licik untuk menjebak targetnya.
"Kalian perketat penjagaan di sana. jangan ada satupun yang lolos."
"Baik. Ketua!"
Jawab Simob lalu ingin pergi tapi Rusel ingat dengan persoalan Sandra tadi. ia jadi tak tenang begini.
"Tunggu!"
"Ada apa. Ketua?" tanya Simob berbalik.
Rusel mengambil nafas dalam menatap ke langit diatas sana.
"Kau cari siapa saja lelaki yang tengah di kagumi. Rumput Liar itu?!"
Dahi Simob langsung mengkerut. Rumput Liar? maksudnya siapa?
Namun. Simob seketika paham saat melihat raut wajah Ketuanya yang seperti panas oleh sesuatu dan hanya ada satu wanita yang bisa membangkitkan gejolak hati Siluman Maniak itu.
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang.