
Bayang-bayang mentari diatas sana sudah terlihat lebih abu dan mulai menguarkan cahaya putih mendungnya.
Sedari tadi mereka tetap mati-matian mempertahankan ambisinya tak ada satupun yang mau mengalah.
"Enyahlah kalian semua!!!" suara Panglima Oskar berkumandang membakar habis semangat pasukan Kerajaan Dezon meluluh-lantahkan tanah dan musuh picik ini.
Gergoe yang terlihat beberapa kali terkena sabetan senjata Ketua Yodra. mulai oleng karna tak tahu lagi rencana mereka.
"Dimana Lucas? bukankah dia yang masuk ke dalam?"
"Ntahlah. sekarang aku tak mau mati sia-sia." timpal Coral yang terlihat sesekali terjatuh di tumpukan salju merah ini.
Gergoe berusaha menghubungi Nyonya Loure yang belum memberi arahan. Ia melihat Dron di atas sana masih berputar stabil.
"Jangan bilang kau melarikan diri. Sialan!"
"Jaga bicaramu. sampah!"
Suara sahutan di seberang sana membuat Gergoe berdecih menekan alat komunikasi di telinganya.
"Sekarang bagaimana? anakmu tak kunjung memberi isyarat."
"Dia pasti tengah melakukannya. besabarlah sebentar lagi."
"Kau gila. ha??" umpatnya seraya menembak ke arah berlawanan. Ia beberapa kali menunduk karna lesatan peluru ini bagaikan hujan di musim salju.
"Kami kekurangan bantuan dan rencana. menyerang asal itu sama saja dengan omong kosong." imbuhnya lagi.
Terdengar helaan nafas di seberang sana membuktikan kesempitan situasi. Gergoe beberapa kali mengumpat karna rencana mereka sangat mudah terbaca oleh pasukan Istana.
"Kalian bertahan saja. saat putraku sudah memberi jalan barulah kalian masuk."
"Cihh!" decih Gergoe membangkang. Ia melihat Gerbang kedua di depan tengah di jaga ketat. Dulu saat penyerangan pertama mereka mudah masuk karna rencana matang dari Data Istana tapi sekarang.
Cihh. sepertinya Prince sialan itu sudah menebak langkahnya sedari awal.
.......
Diatas sini masih sama. Lucas terlihat termenung mencerna semua kenyataan yang pastinya tak lagi bisa ia bantah.
Ekspresi dan aura keyakinan dari mereka membuat Lucas tak bisa menepis apapun.
"M..Momy.."
"Dia hanya memanfaatkanmu. dia hanya ingin menduduki kursi Tahta sendirian." ujar Ratu Bellarosa membuat Lucas bertambah bimbang menatap ke luar jendela ini.
Suara riuh itu seakan mengatakan jika ini tak berguna. Mereka hanyalah alat dan yang akan maju adalah wanita di dalam mobil itu.
"Sekarang kau bebas memilih. kau ingin berjuang demi kebenaran dan kesucian hati Ayahmu atau kau akan mengotori cintanya padamu."
"M..Momy.." gumam Lucas dengan mata berair. Ia begitu menyayangi wanita itu tapi kenapa? kenapa dia tega melakukan hal licik seperti ini padanya?
"Jika kau ingin melanjutkan perang. maka, kau juga akan memerangi jiwa Ayahmu. dia begitu mencintai Kerajaan dan Rakyatnya. kau mau membunuh rasa cintanya?"
Lucas diam. ia masih berperang dengan akal sehatnya yang sudah membayang ke setiap kejadian aneh yang ia alami.
"Kau putuskanlah. tapi, aku tak akan menjamin Momymu akan lolos."
__ADS_1
"R..Ratu..." lirih Lucas terlihat masjh mencemaskan wanita itu. wajar karna hanya Nyonya Loure yang ia punya.
"Jadilah bijak. walau dia Ibumu bukan berarti kau menutup mata akan semua hal, mereka akan tertawa diatas penderitaanmu. Lucas."
Ratu Bellarosa menarik nafas halus. darah yang ada di lantai ini ia tatap datar dan begitu tenang. Ntah apa yang terjadi padanya sampai tak memperdulikan sosok di hadapannya.
"Ketua! kita harus cepat menyelesaikan ini, wilayah lain juga harus di hentikan penyerangannya." ucapan Simob memang benar.
"Ambil remote kontrol di balik jaketnya!"
"Ketua!" gumam Simob terhenyak akan ucapan datar Rusel yang tak mengalihkan pandangan dari Lucas yang termenung kosong.
"Dia berniat untuk meledakan Istana ini. daerah belakang sudah di pasang peledak."
"Sial!!" maki Simob mendekati Lucas yang sudah pasrah. Walau jaketnya di tarik paksa dengan kasar ia tetap diam membatu.
Benar saja. Simob menemukan remote kecil ini yang tampak menyetop waktu.
"Apa lagi yang ingin kau ledakan. ha? kau tak berfikir jika nanti kau akan di buru semua orang."
Lucas tak menjawab. Ia hanya menatap nanar benda itu seakan membayang ke rencananya saat pertama kesini.
"Yang Mulia! sebaiknya anda obati luka itu, perlawanan mereka masih belum berujung."
"Hm."
Raja Mikes bergumam datar menatap Lucas yang tak kunjung bersuara.
"Cobalah kau tanya pada hatimu dulu. aku tak ingin membunuh bagian dari adikku."
Raja Mikes yang tadi ingin bergerak seketika terhenti. Tatapan mereka menunggu Lucas yang terlihat memastikan sesuatu.
"Kenapa foto Ayahku tak ada di Kerajaan? kenapa malah fotomu yang ada di kamar Momyku, aku tahu kau menikahinya tapi kau tak berhak menggantikannya."
Ucapan itu secara tak lansung membuat Rusel diam. Ia mendekat ke arah Ratu Bellarosa yang tak menjawab apapun.
"Kenapa? ha!!"
"Kau tanyakan itu pada Momymu." jawab Rusel tegas membungkam Lucas untuk kesekian kalinya.
"Ini masalah yang di buat oleh wanita itu. jika kau percaya maka berjuang untuk Ayahmu. jika tidak.."
Rusel menjeda ucapamnya dengan raut wajah keras dan tak akan mempertimbangkan apapun.
"Aku tak perduli jika kau itu sepupuku." imbuhnya menekan.
Lucas berdiri kembali. ia harus membuat Momynya mengatakan hal sesungguhnya. ia sudah muak di bodohi begini.
"Aku akan membantumu menyelesaikan ini tapi kau.. kau jangan mempermainkanku."
"Tanpamu aku juga bisa menghabisinya." jawaban Rusel menelak Lucas yang mengepal. ia masih saja tetap di telak terus menerus.
"Dimana istrimu?"
"Bukan urusanmu."
Lucas tersenyum miring. Disini ia ingin bicara dengan Sandra yang walau bermulut pedas tapi setidaknya bisa membuatnya sadar.
__ADS_1
"Dimana dia?"
"Dia tak ada hubungannya dengan ini semua."
Tekan Rusel membuat Lucas mulai terdiam. Apa Sandra di bawa ke tempat lain? karna tadi ia tak menemukan wanita itu di manapun. Tak biasanya Sandra bisa duduk manis di kamarnya.
"Dia masih ada di Negara ini-kan?"
"Memangnya kenapa?" tanya Simob menatap tak bersahabat.
"Kalian membawanya kemana? banyak yang ingin mencelakai Sandra."
"Dia tak disini."
"Lalu dimana?" desak Lucas membuat wajah Rusel mengeras menggambarkan kemarahan. Lucas menggeleng saat tahu dugaan negatif Rusel padanya.
"Bukan! aku tak pernah menargetkan dia."
"Lalu apa rencanamu?" geram Rusel tak bisa bertahan lama untuk mencekik batang leher Lucas yang berani membahas Istrinya.
"Feliks! Aleno sangat berambisi pada istrimu. dia bahkan setiap hari menciumi foto Sandra dengan mesum."
"Kauu..."
Rusel mengepalkan tangannya kuat. ia tahu manusia satu itu punya seribu tipuan untuk meloloskan diri.
"Sekarang dia tengah menghilang. aku cemas jika sampai Aleno menyusun rencana tersembunyi di balik perang ini."
"Aleno." gumam Ratu Bellarosa yang juga khawatir menatap Rusel yang tak mah berfikir negatif dulu.
"Aku sudah mengatakan ini pada Papanya. dia pasti melindungi, Istriku."
"Tak bisa. Feliks." bantah Lucas mendekati Rusel yang terlihat mulai berfikir.
"Dia punya banyak aliansi. sedari tadi dia pergi dan aku cemas jika dia menemui Sandra."
Drett..
Ponsel Simob segera menyita perhatian. Lucas menjeda ucapannya menunggu Simob mengangkat sambungan.
"Ada apa?"
"Kediaman Hatomo terbakar. Nona menghilang!"
Duarr...
Seketika jantung mereka seakan mau meledak terutama Rusel yang melebarkan matanya. Jelas wajah pria itu pucat dengan guratan rasa cemas meroket keluar.
"S..Sandra!!"
Rusel langsung berlari ke arah tangga. Lucas ikut dengan Simob yang juga terlihat berdebar menerima berita ini.
"Ketua!!"
Rusel tak menjawabnya. Rasa takut akan hal buruk itu membuat nafasnya membuncah sesak.
Vote and Like Sayang..
__ADS_1