
Tubuh tinggi dengan kemeja lengan panjang berdasi kupu-kupu itu tampak lucu dipandang mata. Rambutnya yang klimis dengan kilauan minyak yang menggelikan ditambah dengan kacamata kuda yang bertengger di hidung mancungnya seperti anak kutu buku.
Tentu penjabaran itu yang tengah Sandra lihat sekarang. wajah seorang pria bermata besar dengan luka di bagian bawah dagu berbulu halusnya yang sedikit terlihat mengerikan.
"Kau siapa?!" tanya Sandra menjaga jarak 1 meter. matanya menyipit mencoba meneliti.
"M..maaf, aku tak sengaja. Nona!"
"Bukankah aku yang menabrakmu?!" gumam Sandra merasa aneh. Pria idiot ini sangatlah gugup saat berdiri dengan bahu di tekuk dan kaki di rapatkan.
"Maaf!"
"Hm. kau anak mana?" tanya Sandra menatap angkuh membuat pria itu tersenyum idiot.
"Fakultas musik. kalau kau?"
"Bisnis!" jawab Sandra lalu melangkah pergi melewati pria itu tapi langkahnya terhenti saat melihat botol minum si idiot itu sudah tumpah ke lantai dan dia juga ingin mengambilnya lagi.
"Tak usah diambil!"
"Ha?" tanyanya dengan polos.
"Jangan diambil lagi. beli saja yang baru." jawab Sandra lalu mencari uang di dalam sakunya. dan ternyata tasnya tinggal di mobil.
"****! tasku di mobil."
"Memangnya kenapa?" tanya pria itu membetulkan letak kacamatanya.
"Lain kali saja ku ganti. kau anak Fakultas lantai berapa?"
"Lantai 7!" jawabnya mengingat-ngingat. Sandra mengangguk melangkah pergi kembali ke lantai pertama Kampusnya tapi pria itu mengejarnya karna ingin menanyakan sesuatu.
"Nona!!"
Sandra tak dengar. ia lebih memilih berjalan penuh dengan gaya membelah beberapa anak-anak lain yang menatapnya penuh kagum dan iri.
"Nona!!! Nona tunggu!"
"Kau?" Sandra terhenti berbalik menatap sosok idiot ini lagi. nafas pria itu terengah-engah karna berlari dari toilet ke lantai ini.
"N..Nona!"
"Hm? kau mau minta ganti sekarang?!" sinis Sandra tapi pria itu menggeleng tersenyum dungu.
"Tidak. aku..aku mau tahu namamu!"
"Kau tak tahu?" tanya Sandra syok. yang benar saja, tak ada di wilayah ini yang tak tahu nama cantiknya.
"Aku tak tahu. Nona! tapi, kau memang cantik." pujinya malu sendiri. Sandra membusungkan dada bangga karna itu memang sifatnya sedari lahir.
"Aku tahu. kau tak perlu terlalu memuji."
Pria itu tersenyum kecil menunggu Sandra untuk mengucapkan nama aslinya. tapi, sayang sekali karna Sandra diam menatapnya tajam.
"Aku tak berminat memberi tahumu." ketus Sandra sinis membuat pria itu spontan tersedak. tadi jelas ia melihat Sandra begitu terbang dengan pujiannya.
"Nona! aku hanya..."
"Urusan kita hanya sebatas ganti rugi. aku tak berminat dengan si Idiot sepertimu."
Maki Sandra lalu mengedipkan matanya dan melangkah pergi. ia tak mau berteman dengan sembarang orang apalagi mereka baru kenal.
"Tapi .. tapi bagaimana bisa aku mengenalmu jika kau tak memberi tahuku?!!"
"Cari saja sendiri!" jawab Sandra lalu pergi ke ruangan Dosennya di lantai atas. beberapa mahasiswa disini banyak yang meliriknya penuh arti.
"San! kau baru masuk kelas sekarang?"
"Apa tak ketinggalan mata kuliah?"
Sandra hanya acuh. ia berhenti di depan pintu Lift yang tampak masih tertutup, setiap mata yang tertuju padanya hanya dianggap angin lalu bagi Sandra.
Ting...
Pintu itu terbuka. namun, pria yang ada di dalamnya sama sekali tak bergeming di tempat dengan pandangan terfokus pada Sandra yang tengah memainkan jari-jarinya.
"San!"
__ADS_1
Deg...
Sandra tersentak mendengar suara itu. ia berslih menatap ke depan dan benar saja, sosok yang kemaren datang ke Kediamannya sekarang kembali ia temui.
"San! kau kembali ke kampus?" tanya Daniel sangat bahagia mendekati Sandra yang langsung masuk ke Lift seakan tak melihat.
"San! kau masih marah padaku?"
"Menyingkir!" Sandra berucap dingin saat Daniel berdiri tepat di tengah-tengah Lift membuat pintu itu tak bisa di tutup.
"San! dengarkan aku dulu."
"Menyingkir!" geram Sandra emosi tapi Daniel kekeh berdiri di sana. wajah Daniel terlihat serius bahkan ingin menjelaskan sesuatu.
"Aku bersumpah! aku...aku.."
"Apa kau tak puas mempermalukan aku?" tanya Sandra membuat Daniel menatap ke sekelilingnya dimana semua orang tengah memandangnya.
"S..San! aku hanya ingin bicara denganmu. aku mohon dengarkan aku."
"Tak ada yang perlu kau bicarakan." ucap Sandra datar mendorong Daniel ke luar dari Lift tapi pria itu malah menerobos masuk hingga keduanya ada di satu kotak yang sama.
"Apa-apaan kau ha??" bentak Sandra menggema saat Lift sudah tertutup dan berjalan ke lantai atas. matanya mengobarkan amarah yang jelas.
"San! dengarkan aku!"
"Apa? apa kau tak puas membuat hidupku hancur dan sekarang apa lagi yang kau rencanakan dengan dua budakmu itu?!"
Daniel menggeleng ingin mengatakan jika ia selama ini sama sekali tak pernah melakukan apapun. niatnya sangat berbeda dari apa yang telah terjadi.
"Memang.. pada malam itu kita ke Club bersama tapi...tapi aku..."
"Kau tahu?!" tanya Sandra dengan mata berkaca-kaca. ia masih sakit hati dengan kata-kata manis Daniel yang dulu menjanjikan apapun padanya.
"Kau bilang kau mencintaiku, kau akan membawaku pergi jauh dari Keluargaku dan kita...kita akan hidup bahagia tapi.."
"San! Please." lirih Daniel merasa sesak jika mengingat itu. ia akui ia salah tapi itu semua itu adalah kekhilafannya.
"Sekarang apa? kau mau mengatakan pada seluruh dunia tentangku. begitu?"
"Tidak! aku bersumpah aku tak pernah melakukan apapun padamu!"
Satu tamparan keras melayang ke wajah Daniel yang langsung tertolak ke kanan. bekas tangan Sandra tercetak jelas disana bagai bara api yang tengah menjalar di dada Sandra.
"Kau ini bajingan!! selama ini yang dekat denganku hanya kau!! yang menemaniku setiap harinya itu kau. lalu...lalu kau mau mengelak lagi??" bentak Sandra dengan amarah memuncak.
Daniel diam tak mampu berkata banyak. ia tahu Sandra sudah terlanjur sakit hati dengan ucapannya malam itu.
"Maafkan aku. San!"
"Maaf?" lirih Sandra tersenyum miris. ia menanggung malu akan ejekan semua orang padanya apalagi citranya semakin rusak karna ini.
"Aku di asingkan ke tempat yang jauh dari gaya hidupku. aku di cap sebagai anak tak tahu diri oleh Mamaku dan sekarang, kau mau aku di cap sebagai wanita gampangan?!" imbuh Sandra dengan mata merah menahan rasa sakit di hatinya. Seandainya ia sadar jika Daniel hanya mempermainkannya maka ia tak akan pernah jatuh cinta.
Sandra akui ia memang memiliki rasa suka dan itu pertama kali ia rasakan dulu. dan sekarang mengingatnya saja Sandra sangat merasa menjijikan.
"Aku tak tahu apa aku mencintaimu atau tidak. tapi jelas, kau pria terburuk yang aku kenal." desisi Sandra lagi lalu keluar saat Lift sudah terbuka.
"Tapi, aku tak tahu. San!" lirih Daniel memandangi Sandra dengan pandangan redup dan mendung.
Aku tak tahu siapa yang melakukan itu padamu. malam itu aku marah karna kau mengandung anak pria lain karna aku memang mencintaimu.
Sementara Sandra. ia tak jadi pergi ke ruang Dosen, ia lebih memilih pergi ke atap untuk merilekskan pikirannya yang kacau.
Tentu diatas sana Sandra menghindari keramaian. ia berdiri di tepi atap Gedung yang begitu tinggi menampakan puing-puing kecil di bawah sana.
"Dia datang hanya untuk permintaan maaf." lirih Sandra membayangkan perkataan Daniel tadi.
"K...kau bahkan tak mengakui apapun. apa..apa aku memang tak layak untuk siapapun?!"
"Berapa kali lagi kau akan menangisinya?!"
Sandra tersentak mendengar suara di belakangnya. ia menoleh dengan mata melebar tak percaya pria ini akan disini.
"K..kau..."
"Hm. kau ke sini hanya untuk menangis!" suara berat itu berucap datar dengan pandangan manik kehijauan bergurat dingin.
__ADS_1
"K..kapan kau kesini?" tanya Sandra mengusap air matanya. Rusel hanya diam menatap dingin dan tak bersahabat.
"Kau tak suka?"
"Bu..bukan. tapi, kapan? mustahil kau memanjat gedung."
"Kalau iya?"
Sandra langsung diam dengan pandangan bingung. Rusel benar-benar sulit untuk ia pahami bagaimana semua perlakuan pria ini.
"Sel!"
"Siapa yang mengizinkanmu menangis?" tanya Rusel kelam menatap membunuh Sandra yang tak tahu harus menjawab apa.
"Aku ..aku hanya merasa muak. itu saja."
Rusel hanya diam. walau rasanya ia ingin mengutarakan rasa panasnya tapi ia tahan selagi bisa di bendung untuk saat ini.
"Aku tak tahu harus seperti apa saat bersamanya. jadi, aku...aku.."
"Jangan menganggapnya lagi!" tegas Rusel mengulang perkataannya.
"Anggap saja dia tak ada. dia bukan ayah bagi anak kita." imbuh Rusel membuat Sandra tertegun diam. pandangan yang begitu yakin bahkan sangatlah bertanggung jawab dari Rusel.
"K..kau.."
"Berjanjilah padaku. kau tak akan membahasnya lagi!" pinta Rusel menarik pinggang Sandra untuk merapat ke arahnya. tatapan yang penuh gejolak dari manik kehijauan itu membuat Sandra termenggu.
"M..maksudmu aku dan Dani..."
Cup...
Rusel mengecup bibir Sandra lembut menghentikan kalimat wanita itu. tatapan keduanya saling bertaut dalam dengan kedua tangan Rusel beralih meremas bokong Sandra yang menonjol di Jeans ketat ini.
"S..Sel!" lirih Sandra mengigit bibir bawahnya merasa meremang. Rusel sungguh menyukai raut lemah pasrah Sandra yang begitu seksi.
"Sudah berapa kali ku tekankan jangan memakai celana ini?"
"T..tapi hanya kau yang berani meremasnya." desis Sandra menggeliat kecil membuat Rusel serasa ingin mengulang kembali. sayangnya ini bukan waktu yang tepat.
"Kau melanggar perjanjian kita!" bisik Rusel spontan mata Sandra terbelalak.
"M..maksdumu?"
"Jangan pura-pura lupa."
Sandra terdiam menegguk ludanya sendiri. apa Rusel akan meminta haknya sekarang? tapi, ia belum siap melihat langsung benda itu.
"A.. aku ..aku belum siap."
"Kapan kau siap?"
Sandra langsung menepuk bahu Rusel agar berpindah pembicaraan.
"Sel! tadi aku bertemu orang baru!"
"Lalu?" Rusel tak mau meneruskan. bisa saja Sandra menghindar darinya nanti.
"Dia seperti idiot. tapi, selalu kekeh menanyakan namaku!"
"Laki-laki?"
Sandra mengangguk polos. Rusel diam berfikir sejenak, ia baru sampai ke atas sini setelah menyelesaikan pekerjaannya di luar sana. tapi, Rusel tak merasakan ada yang aneh.
"Apa dia terlihat aneh?"
"Tidak juga. hanya polos dan idiot, dia anak Fakultas musik sebelah dan sepertinya kutu buku" jawab Sandra berfikir membayangkan pria itu. Rusel melirik Simob yang berdiri di balik dinding sana hingga semua anggota di bawah mulai berkeliaran mencari pria itu.
"Ayo pulang!"
"Tapi, aku masih harus..."
"Aku sudah menemui Dosenmu!" jawab Rusel menarik Sandra ke arah pintu darurat samping. ia tak mau ada yang melihatnya disini atau Sandra pergi dengan seorang pria yang akan menimbulkan gosip baru.
"Kalian cari pria yang di sebutkan Nona tadi!" titah Simob menelfon anggota mereka yang terbagi di luar Kampus juga.
......
__ADS_1
Vote and Like Sayang .
Maaf say . author tadi jenguk teman yg sakit. jadi lama up.