
Keadaan masih sama. Sandra mulai mengasingkan diri dalam kesunyian, semenjak tahu akan masalah itu ia tak lagi berkeliaran seperti biasanya. Bumil itu memilih menyendiri pergi ke Kebun buah di belakang Istana di baluti Mantel tebal dan sarung tangan hangat.
Hanya Guren yang terus menemaninya disini walau serbuk salju itu sudah hampir menimbun sepatu bulunya.
"Nona! ayo kembali ke Istana. ini sudah mulai sangat dingin." ujar Guren seraya meniup kedua tangannya yang tengah bertaut.
Sandra hanya diam menatap ke arah rerumputan yang memutih. pohon-pohon jeruk di sekitar tempat Perhentian terlihat ikut terbalut serbuk yang sama. Tentu Sandra tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri, langit di atas sana mulai gelap tapi ia tak kunjung bangkit.
"Nona! Ketua hanya mengizinkanmu keluar sebentar. ini sudah lama."
"Kapan pernikahannya?"
Guren diam. ia langsung menghela nafas merasa memang ini berat bagi Sandra yang harus memikirkannya dengan baik.
"Nona! kau jangan memaksakan diri."
"Jawab saja pertanyaanku." tegas Sandra masih belum mengalihkan pandangan.
"Malam ini mereka akan datang ke Istana!"
"Secepat itu?"
Guren mengangguk. Raja Mikes tak menunda bahkan sedetik saja untuk mempercepat semua ini. ia mungkin tak memikirkan perasaan Sandra yang menjadi istri Putranya.
"Raja Mikes tak bisa membuang waktu. mungkin sekarang mereka tengah berdebat lagi."
"Hm." gumam Sandra menghela nafas memejamkan matanya. Ia rasa keputusannya ini memang sangat susah dan melukainya tapi apa boleh buat. Ia tak mau egois dan pasti Rusel juga menentang.
"Non!"
"Aku tak apa." jawab Sandra ingin bangkit tapi ia sudah melihat Rusel dan Simob yang mendekat ke sini. Pria itu memakai Mantel hangatnya dengan tangan memeggang Topi bulu tebal serigala.
"Ini sudah sangat dingin."
"Ketua!" sapa Guren menyingkir membiarkan Rusel mendekati Sandra yang terlihat menatapnya biasa.
"Hidungmu merah begini."
"Aku tak apa." jawab Sandra membiarkan Rusel memakaikan Topi itu ke kepalanya. Rusel membersihkan bahu dan punggung Mantel Sandra yang terlihat terkena serbuk salju.
"Ayo masuk! kau bisa beku disini."
"Sel!" lirih Sandra menahan lengan Rusel yang ingin menariknya. tentu pria itu terdiam tahu akan isyarat Sandra.
"Kalian pergilah!"
"Baik. Ketua!"
Guren dan Simob melangkah pergi kembali ke Koridor Istana. Rusel menghela nafas duduk di samping Sandra seraya menggenggam kedua tangan Sandra yang sudah di lapisi sarung tangan.
"Katakan!"
"Ayahmu bilang apa?"
"Tidak ada!"
__ADS_1
Sandra memejamkan matanya mencoba menormalkan hatinya. Ia lama berfikir sampai langit ingin gelap tapi rasanya masih saja tak rela.
"Sel!"
"Hm."
"Bagaimana kalau.."
"Kau tak diizinkan bicara seperti itu." sela Rusel dingin tapi ia masih mengusap kedua tangan Sandra agar lebih hangat.
"Aku bisa!"
Tangan Rusel langsung terhenti mengusap. Matanya yang tadi menuju ke sarung tangan itu beralih menatap manik hitam legam sendu milik Sandra. tatapan yang sangat dingin bahkan bisa Sandra gambarkan melebihi cuaca ini.
"S...Sel! aku bisa."
"Aku tak mengerti!"
"Aku .. setuju."
Rusel langsung beralih mencengkram rahang Sandra tak begitu kuat tapi menarik wajah wanita itu mendekat.
"Jaga bicaramu!"
"S..Sel! aku tak ingin melihatmu selalu bertengkar dengan Ayahmu." gumam Sandra walau terasa menusuk dadanya. Ia tak mau ada di situasi ini tapi nyatanya telah ada di hadapannya.
"Ini semua tak ada hubungan apapun denganmu."
"A..aku tahu. tapi, apa kau punya cara lain?"
"Kau melepaskanku." gumam Rusel terdengar nanar dan kecewa. Sandra menggeleng segera memeggang pipi Rusel dengan tangannya.
Bibir wanita itu bergetar dengan mata kembali berkaca-kaca. sekuat apapun ia menahan agar tak menangis maka percuma. ia tak sekuat itu.
"Aku tak ingin melepasmu. aku tak mau. Sel!"
"Lalu kenapa?" tanya Rusel masih dengan intonasi rendahnya.
"A..aku tak ingin kau di sebut Pecundang dan tak bertanggung jawab."
"Aku tak perduli!" jawab Rusel beralih memandang Sandra. terlihat jelas yang tengah ia tekanan adalah kesungguhan hati.
"Aku akan berusaha untuk menjaga Rakyatku! tapi, aku tak sanggup.. aku tak sanggup. Sandra!"
"S..Sel. hiks!" isak Sandra berhambur memeluk Rusel yang juga mendekapnya erat. rasa sakit dan haru itu tak bisa Sandra redam sampai tak kuasa menahan isakan.
"Jangan katakan kau ingin berpisah dariku. jangan katakan itu."
"S..Sel. hiks! a..aku takut."
Rusel mengusap punggung Sandra dengan kecupan ia layangkan ke pipi sejuk Sandra menenagkan wanita itu. Ia sudah berusaha untuk mencoba membayangkan menikahi wanita lain tapi ntah kenapa ia sendiri mau mati saat itu juga.
"Aku tak akan melepaskanmu! tak akan."
"A..aku takut. Sel! kau...kau akan pergi dariku. kau tak akan memperhatikan aku lagi." suara Sandra bergetar mengungkapkan rasa takutnya.
__ADS_1
Ia selalu merasa haus perhatian Suaminya. ia tak bisa membayangkan jika Rusel di rebut wanita lain dan bahkan melupakannya.
"Tidak akan. kau istriku satu-satunya. tak ada Rumput Liar yang lain."
"J..janji?"
Mengurai pelukan seraya mengadah menatap wajah tampan lembut Rusel yang terlihat pasti.
"Hm. aku janji!"
"Tapi, bagaimana dengan masalah itu?" tanya Sandra serius dan menanti. Rusel terdiam sejenak terlihat menimbang-nimbang keputusan.
"Kau percaya padaku-bukan?"
"I..iya!" jawab Sandra mengangguk.
"Apapun yang kau lihat itu tak benar. percayalah padaku." jawab Rusel membuat Sandra menyeringit.
"Maksudnya?"
"Walau aku menikah atau tidak. kau tetap satu-satunya Wanita untukku."
"K..kau menikah?" tanya Sandra lagi yang di angguki Rusel. tentu Sandra tak lagi bisa merespon selain kebisuan.
"Percayalah padaku! aku tak akan mengkhianatimu."
"W..walau kau menikah dengannya! a..aku tak mau kau sekamar dengannya." ucap Sandra terkesan begitu tak rela. Ia menyetujui ini dan begitu besar hati menerima membuat Rusel bertambah jatuh dalam pesona seorang Sandra.
"Kau berfikir terlalu jauh."
"Ak..aku tak mau dia menyentuhmu! setelah kau menikah. aku...aku mau kita pulang ke Kulfun." ucap Sandra serak merendahkan egonya. Ia hanya meminta itu dan tak perlu status Ratu atau seorang Putri.
"Semua yang ada padaku. Itu milikmu!"
Cup....
Sandra langsung menyatukan bibir keduanya sampai Rusel memejamkan matanya. bibir Sandra sudah dingin hingga dengan candu ia hisap lembut menghangatkan semuanya.
Mata Sandra juga terpejam membalas ciuman hangat ini. Hisapan teratur dan terkesan penuh cinta membuai keduanya di suasana yang beku.
"Selmmm!" gumam Sandra tak jelas mengkalungkan kedua tangannya ke leher kokoh Rusel yang langsung mengangkat ringan paha Sandra naik ke atas pangkuannya.
Aku tak ingin wanita lain merasakan ini. ini hanya untukku.
Batin Sandra posesif. ia memang tak suka dan tak pernah mau jika miliknya di sentuh orang lain.
"Ehmm." Sandra menggeram kecil di kala lidah keduanya saling membelit di dalam sana. satu tangan Rusel beralih menekan tengkuk Sandra memperdalam tautan sampai suara decapan panas itu mampu membuat salju meleleh.
Rusel melepas hisapan keduanya dikala merasakan pipi Sandra dingin. Nafas keduanya memburu dengan tatapan sama-sama mendamba satu sama lain.
"Aku tak mau di kamar." jawab Sandra menyatukan kening mereka. Rusel menggendong Sandra ke arah Paviliun Bunga yang tak jauh dari sini. di perjalanan ke sana keduanya kembali menyambung tautan dahsyat mereka.
.....
Vote and Like Sayang
__ADS_1