Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Menunjukan peliharaan!


__ADS_3

Jalan berlumpur dan di penuhi akar-akar liar itu terlihat tak manusiawi. Lingkup hutan rimba dengan pepohonan besar dan gelap ini menghadirkan suasana alam yang begitu misterius.


Ntahlah. sedari tadi mereka di seret masuk ke dalam hutan meninggalkan mentari di luar sana. Kaki tanpa alas itu sudah lelah menapaki tanah lembab dan dedaunan mati ini tapi, mereka tak bisa menghindar.


"Jalan!!" Oblin mendorong bahu Sandra yang sempat berhenti karna lelah. Tentu saja perjalanan masuk ke dalam hutan ini sangat menguras tenaganya.


"Jalan!! kau mau ku tendang. ha?"


"Mati saja kalian semua." umpat Sandra kembali memaksakan langkahnya. kedua tangan mereka di ikat ke belakang hingga sulit untuk melawan.


Nyonya Tantri hanya bisa diam. ia melihat jelas Sandra tak bisa lagi berjalan tapi dia memaksakannya membawa perut besar itu. Tatapannya selalu yakin kedepan walau wajahnya sudah pucat.


"Bawa dia kesini!!!" suara Aleno dari sebuah Rumah Tua yang terlihat sudah di gulung akar. tempat ini sungguh sangat mengerikan.


"Tuan! kau mau apakan mereka berdua?" tanya Oblin mendekat.


"Hanya disini ku bisa menikmatinya." menyeringai iblis dan sangat mesum. sungguh Sandra ingin meludahi wajah kotor pria menjijikan ini.


Namun. jika ia pergi melarikan diri lalu bagaimana dengan Mamanya? wanita itu terlihat sudah lelah di dorong beberapa kali oleh anggota Aleno.


"Ini sudah mau malam. Tuan!"


"Aku tak perduli. yang jelas, dia harus menghangatkan-ku malam ini." ucap Aleno yang sejatinya hanya ingin membuat Rusel gila dan hancur saat tahu Istrinya digauli. Sangat menyenangkan menyaksikan itu semua.


"Kau tak takut tempat ini roboh. ha?" tanya Sandra mencemo'oh bangunan tua ini.


"Atau kau memang tak ada modal menyewa hotel?"


Aleno menggeram mendengar ucapan Sandra. Ia segera menarik rambut wanita ini dan langsung membawanya masuk ke dalam pintu tua berdebu itu.


"Kau begitu berani!!!"


Mendorong Sandra ke arah sudut ruangan. Tentu Sandra meringis di kala sikunya membentur lantai dingin berdebu ini belum lagi dengan bebatuan yang sepertinya sudah lama disini.


"S...Ssel!" lirih Sandra menahan rasa sakit di tubuhnya. Luka lebam dan darah di pelipis itu kembali mengalir karna benturan yang menimpanya.


"Kau begitu berharap."


Sandra menatap waspada Aleno yang melangkah mendekatinya. Ia beringsut merapat ke dinding dengan kedua lutut di tekuk bentuk perlindungan diri.


"M..mau apa kau. ha??"


"Mau-ku. hm?" tanya Aleno menyeringai membuat luka jahitan diwajahnya merekah. Sandra yang tengah memakai daster hamil selutut itu semakin memancing hasrat gila Aleno melihat betis mulus dan putihnya kulit wanita ini.


"Berani kau menyentuhku. aku..aku tak akan memaafkanmu." geram Sandra terlihat memucat. Kedua tangannya yang di ikat kebelakang terasa sangat sakit tapi, tatapan membara Aleno padanya membuat bulu kuduk Sandra meremang.


"Aku sangat ingin mendengar suaramu!"


"Seeel!!!" teriak Sandra saat Aleno menarik kakinya dengan kasar. tangan kekar Aleno bergerak liar mengoyak bagian bahu Dress Sandra yang berusaha menghindar dengan ketakutan menjalar di seluruh tubuhnya.


"Lepas!!!! Lepasss bajingan!!"


Srekk...

__ADS_1


Air mata Sandra akhirnya turun dikala pakaian di bagian bahunya sobek memperlihatkan separuh atasan dadanya yang berisi. tentu saja pemandangan indah bahu mulus Sandra sangat memancing Aleno.


"S..Sel!" lirih Sandra bergetar berusaha menutupi cela dadanya yang sedikit tereksposh. Sungguh Sandra sangat takut jika sampai Aleno melakukan sesuatu yang akan membuatnya ingin mati detik itu juga.


"Pantas dia begitu menjagamu."


"S..Sel!" gumam Sandra terus melirihkan nama itu. matanya yang berkaca-kaca membuktikan ia tengah berusaha menahan rasa sesak yang berkecamuk di dadanya.


"Aku akan mengampunimu tapi katakan .." Aleno menjeda ucapannya lalu mencengkram kedua pipi Sandra kuat membuat wajah cantik di penuhi luka lebam ini terangkat.


"Katakan KAU MENYERAHKAN DIRIMU PADAKU."


"Ciuhh!!"


Oblin dan para anggotanya terkejut saat Sandra malah meludahi wajah kelam Aleno yang seketika mendidih dengan urat kemarahan melintas di wajahnya.


Senyum sinis Sandra masih abadi tak lekang sekalipun di lukai berkali-kali. Yah. walau matanya terlihat berair tapi keyakinan itu masih tetap sejati tercermin.


"Kau SANGAT MENJIJIKAN!"


Plakkk..


"Sandra!!!" teriak Nyonya Tantri histeris melihat Aleno memukuli tubuh Sandra dengan sekuat tenaganya. Sandra hanya bisa menekuk lututnya melindungi si kecil di dalam sana walau seluruh tubuhnya sudah di penuhi luka lebam dan bengkak.


"S..Seell!!" jerit Sandra tertahan saat kakinya seakan mau patah di injak Aleno yang sudah di selimuti rasa marah dan emosi yang mengubun.


"Wanita sialan!!! mati lebih baik untukmu!!"


"Tuan!!" Oblin menghentikan Aleno yang sudah mengacungkan pistolnya ke kepala Sandra yang terlihat tak mampu mengendalikan ke sadarannya. Rasa pusing itu menjalar di kepalanya dengan manik hitam legam yang sayu-sayu terbuka.


Aleno menurunkan tangannya yang masih memeggang pistol. Ia beralih menatap Nyonya Tantri yang memucat di tempatnya.


"M..Mama!"


Batin Sandra berusaha mengendalikan kesadarannya. Ia yakin Aleno ingin melampiaskan kemarahannya pada Nyonya Tantri yang tak berguna disini.


"Habisi dia!"


"Aku bersedia!!" ucap Sandra membuat para anggota Aleno diam di tempat. Nyonya Tantri menggeleng pada Sandra yang menatapnya dengan tegas dan sangat yakin.


"A...aku bersedia." imbuh Sandra berusaha duduk kembali. Aleno menyeringai licik melihat Sandra yang suka rela melakukannya.


"Sampai disini nyalimu. hm?"


"S..Sandra!" lirih Nyonya Tantri menggeleng tapi Sandra tak perduli. ia harus membuat mereka semua sibuk dan Mamanya bisa melarikan diri dari sini.


"Aku akan melayanimu. tapi jangan sentuh Mamaku."


"Deal!!" jawab Aleno sungguh menyukai ini. Ia menarik lengan Ssndra untuk berdiri kembali dan tentu Sandra sudah tak sanggup karna luka di sekujur tubuhnya yang sangat menyakitkan.


"Berdiri!!!"


"J..jangan sakiti dia!!" Nyonya Tantri ingin mendekat tapi ia di dorong keluar oleh anggota lainnya.

__ADS_1


Kuat atau tidak. Sandra tetap berusaha berdiri walau kakinya terasa mau patah. Air matanya lolos karna menahan sakit yang teramat menjalar di kakinya.


"Jalan!! kita harus berpesta di tempat yang sangat indah." ucap Aleno menarik lengan Sandra kasar tak perduli jika kaki wanita itu sudah tak mampu menopang berat tubuhnya.


Sandra melihat jika di luar sana sudah gelap dan para anggota Aleno memasang obor di beberapa tempat.


"Siapkan kamar spesial di rumah belakang!"


"Siap. Tuan!"


Mereka bergerak cepat ke arah jalan belakang hingga Sandra memanfaatkan itu dengan cepat mengambil alih obor di dekatnya dan menyodorkan benda itu ke wajah Aleno.


"Sialan!!!" suara Aleno menggelegar melepas cengkramannya ke lengan Sandra yang menarik Nyonya Tantri agar cepat pergi dari sini.


"Ma!"


"S..Sandra. kau..."


"Pergilah dari sini!" jawab Sandra membantu wanita itu berdiri. ia menjatuhkan semua Obor yang di pasang mengelilingi Aleno yang terlihat berteriak karna wajahnya di bakar Sandra.


"S..Sandra.."


"Cepat!!" teriak Sandra terus melempar bebatuan ke arah Aleno. para anggota lain mulai menyerbu ke arahnya membuat Sandra tak bisa berfikir panjang.


"Pergi. Maaa!!!" ia mendorong Nyonya Tantri ke arah semak-semak yang jauh darinya.


Nyonya Tantri terjatuh tapi. ia terkejut melihat segerombolan hewan di belakangnya langsung meloncat ke arah Sandra yang di kepung para bawahan Aleno.


"Sandraaa!!!"


Teriak Nyonya Tantri keras melihat Serigala berbulu abu dengan mata hijau berkilap di kegelapan ini mencakar habis anggota Aleno yang terlihat terkejut.


Tiba-tiba saja angin disini terasa begitu dingin dengan deritan pepohonan seakan berhimpit satu sama lain.


"I..ini..." Sandra termenggu kosong melihat kawanan Serigala bertaring tajam itu seakan kelaparan mencakar dan mengigit bawahan Aleno yang juga terdiam di tempatnya.


Salah satu dari mereka menghadap ke arah Sandra yang masih dalam kekosongan pikiran dan rasa tak percaya.


"K..kalian..."


"Sandra! mereka..mereka akan membunmu." panik Nyonya Tantri mendekati Sandra yang menggeleng. Ia melihat ke sekeliling tempat ini dan benar saja. Angin terasa mengamuk dengan deritan dahan menghapit nyaring.


"M..Maa.."


"Sandra. kita harus pergi!"


"M..Mama. mereka..mereka anggota suamiku." jawab Sandra dengan mata penuh binaran. Ia yakin Rusel ada disini dan pasti menemukannya.


Aleno yang melihat anggotanya di habisi para binatang ganas ini segera menatap murka Sandra yang di bopong pergi oleh Nyonya Tantri. jika sudah bermain hewan peliharaan, ia juga punya hal seperti ini.


"Kau pikir aku akan melepaskan istrimu. hm?" gumam Aleno yang terlihat menyeringai dengan separuh wajah terlihat lepuh. Ia memejamkan matanya mengigit lengannya yang memaparkan Tato ular itu.


"Datanglah! Tuanmu memanggil kalian!!"

__ADS_1


..........


Vote and Like Sayang..


__ADS_2