Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Rasa senang di sembunyikan!


__ADS_3

Kerumunan di luar rumah sakit itu terus terjadi. Tiba-tiba saja siang tadi para Wartawan datang ntah siapa yang membocorkan kabar ini mereka belum tahu pasti.


Para media sangat menunggu kedatangan salah satu anggota Keluarga Hatomo atau anggota Keluarga Kerajaan yang sampai saat ini belum terlihat berkunjung.


Mereka datang dari siang dan sekarang sudah malam. tanpa lelah menanti walau langit terus berganti corak.


"Kita tak bisa mengadakan Pers saat ini." gumam Guren yang berjaga di luar. Ia melihat aparat kepolisian tengah mengamankan situasi hingga para Media itu hanya bisa menunggu di luar gerbang.


Lucas yang tadi ada di sana hanya bisa diam. ternyata di Negeri ini kehidupan Feliks dan Sandra sangat di sorot.


"Aku yang akan bicara."


"Tidak." bantah Guren menghalang langkah Lucas yang terhenti. Pria dengan mata coklat dan kulit putih itu mengeringitkan dahinya.


"Kenapa?"


"Kita tak bisa bergerak sebelum Ketua memberi perintah."


"Aku tahu. tapi Feliks tengah menunggu Istrinya sadar. dia tak akan perduli dengan semua ini." jawab Lucas memang benar adanya. Rusel tengah terkurung dalam dunianya yang sempat terguncang beberapa hari ini.


Guren menghela nafas halus. ia menatap para anggotanya yang sedia dan siap menerima perintah kapanpun.


"Percayalah! aku tak akan berniat buruk." imbuh Lucas tahu jika Guren waspada akan kehadirannya.


"Kalau sampai kau memberikan berita bohong. ku pastikan kau tak akan keluar dari negara ini." tekan Guren membuat Lucas menipiskan bibirnya.


Ternyata anggota Prince Dezon ini begitu setia. sangat berbeda dengan pasukannya yang terlahir sebagai seorang pengkhianat.


"Perhatian semuanya!"


Lucas melangkah ke arah Gerbang yang di jaga anggota Rusel. Para Media itu saling pandang lalu mendekat karna mereka tahu siapa pria ini.


"Tuan Lucas!"


"Kalian ingin bertemu Prince Dezon dan Istrinya?"


"Yahh!! biarkan kami masuk."


Suara sahutan melengking membuat kedinginan di malam ini terasa begitu kental. Lucas menghela nafas masih berdiri dengan batasan jarak gerbang yang memisahkannya.


"Sekarang tidak bisa."


"Kenapa? bukankah Yang Mulia Prince ada disini?" tanya salah satunya begitu terlihat ingin masuk.


"Lain kali mungkin bisa di jadwalkan pertemuannya, untung sekarang masih belum di pastikan."


"Apa ada masalah besar? Tuan!"


Lucas melirik Guren di belakang sana. ia tahu masalah ini tak boleh terlalu merembes kemanapun.


"Tidak ada. hanya saja Nona Sandra sudah mulai sakit. dia tengah hamil tua jadi kita mengantisipasi itu."


"Tapi..."


"Aku rasa kalian mengerti. jika mereka sudah memutuskan ingin bicara pada Media, pasti. mereka akan mengadakan pertemuan."


Jelas Lucas membuat mereka saling pandang penuh komunikasi isyarat. Di lihat dari suasana malam dan rasanya sudah lama mereka disini tak mendapatkan apapun, lebih baik jika menanti yang pasti terjadi.


........

__ADS_1


Jam sudah menunjukan pukul 7 malam tapi wanita yang tengah terbaring diatas ranjang rawatnya itu masih enggan untuk membuka matanya.


Selang infus tertancap lekat dengan perban yang melingkar di beberapa bagian tubuhnya. Selama kelopak netra hitam itu tertutup maka selama itu pula netra kehijauan tajam milik pria tampan itu terus memantaunya.


Ia duduk di samping ranjang dengan satu tangannya menggenggam jemari lentik itu dan tangan satunya mengusap pipi pucat yang tak kunjung membuatnya tenang.


"Kau marah padaku. hm?" gumam Rusel mengusap bibir pucat Sandra dengan jempolnya. seharian tak berdebat dan tak melihat tatapan nakal ini membuat semuanya hampa bagi Rusel.


Bahkan. ia tak melihat anaknya yang tengah ada di ruang Inkubator, Rusel hanya lega dikala mendengar jika anaknya baik-baik saja dan hanya butuh perawatan intensif saja.


"Aku belum tahu dia lelaki atau perempuan. kau tahu kenapa?"


Rusel mengecup lama punggung tangan Sandra yang tengah ia genggam penuh kasih sayang.


"Aku menunggumu. aku ingin dia pertama melihatmu, wanita kuat yang menjadi Ibunya. Sayang!" ucap Rusel dengan pandangan penuh cinta. ia seakan tak pernah lelah atau bosan menunggu disini walau waktu terus bergulir seharian.


Kecupan hangat yang selalu Rusel berikan di sertai kata-kata manis itu, tanpa sadar menarik Sandra dalam alam bawah sadarnya.


"Ehmm."


Rusel tersentak dikala mendengar geraman lirih Sandra yang nyaris samar-samar ia dengar. Jemari lentik itu perlahan bergerak membuat Rusel berdiri dari tempatnya.


"S..Sayang!" panggil Rusel memperhatikan lekat wajah Sandra. perlahan kelopak mata indah itu terbuka dengan kerutan di dahi saat cahaya lampu ruangan ini menerobos begitu saja.


"S..Sel!"


"Yah. ini aku." Rusel terlihat berbinar cerah menyingkirkan mendung yang tadi menutupi hati dan wajahnya.


"A.aku..***.." Sandra meringis saat perutnya terasa begitu perih bahkan sangat ngilu. ia menggenggam tangan Rusel yang kembali mencemaskan wanita ini.


"Ada yang sakit?"


Rusel perlahan menyibak selimut Sandra yang merasa sungguh pinggangnya seakan mau patah.


"Lukanya masih basah. jangan banyak bergerak dulu."


"L..luka?" gumam Sandra menyeringit menatap ke arah perutnya. Mata Sandra terbelalak di kala tak ada lagi bunjulan menggemaskan dan berat itu.


"S..Sel!"


"Apa?" tanya Rusel ikut panik melihat reaksi Sandra yang menatap perutnya dengan syok. jahitan di bawah pusat itu benar-benar aneh baginya.


"S..Sel!"


"Apa? kau jangan menakutiku. Sandra." tekan Rusel menunggu. bibir Sandra tiba-tiba bergetar saat menduga apa yang terjadi padanya.


"S..Sel. hiks."


"Apa? ada yangvsakit. ha?" Rusel memeggang pipi Sandra yang mulai di aliri cairan bening itu. Rusel yang begitu cemas sampai tak peka maksud Sandra apa.


"Aku...aku.."


"Sandra! katakan. apa?"


"A..anak kita mana?" tanya Sandra sedikit serak dengan nafas agak tersendat. ia tak terima jika si kecil yang selama ini menemaninya pergi begitu saja.


Sadar akan kecemasan istrinya, Rusel menghela nafas beralih memeluk Sandra yang masih menangis tertahan.


"S..Sel. a..anak kita. aku...mau dia. hiks."

__ADS_1


"Kau begitu menginginkannya?" tanya Rusel mengecup puncak kepala Sandra yang mengangguk. jelas jika ia sangat dan menanti-nanti kehadiran malaikat kecil itu diantara mereka.


Tentu respon Sandra membuat hati kecil Rusel sangat bahagia. dulu ia masih mengingat jelas jika Sandra menolak keberadaan mahluk itu tapi sekarang... sungguh sulit di katakan.


"S..Sel. kenapa.. kenapa kau tersenyum? tak ada yang lucu." geram Sandra melihat sudut bibir pria ini terangkat.


"Sel!"


Rusel tak bicara banyak. Ia hanya memeluk Sandra erat dan hangat di selingi kecupan penuh cinta yang ia berikan ke lebam dan memar di wajah Sandra tanpa terlewatkan.


"Sel! kenapa? kau senang jika.."


"Dia sudah disini."


Jawab Rusel menarik tanda tanya Sandra yang segera melempar pandangan ke sekitar ruangan ini. Tak ada sama sekali membuatnya kembali memandang sang suami.


"K..kau bohong. dia..dia tak ada."


"Tidak. aku tak berbohong." ucap Rusel mengusap sisa air mata di pipi lembut ini. matanya terlihat semakin berbinar secara tak lansung mengatakan segalanya.


"J..jadi.."


"Hm." Rusel mengangguk menggesekan hidung mancung keduanya. senyum Sandra merekah dan benar-benar senang.


"Sekarang dia dimana? Sel! dia.. aaaaa.. aku sangat s.."


Sandra terhenti memekik saat ia kembali di landa rasa ngilu. sungguh bergerak saja rasanya perut itu mau sobek.


"Jangan banyak bergerak dulu. lukamu masih basah, kita akan lihat dia nanti."


"Sel! aku mau sekarang." tawar Sandra menepis rasa sakitnya. Namun, ia segera murung dikala Rusel menggeleng tak mengizinkan.


"Tidak. aku mau kau di periksa dulu secara menyeluruh. kalau sudah di katakan baik-baik saja, baru bisa keluar ruangan."


"Sel! aku.."


"Apa?" tanya Rusel dengan tatapan mengintimidasi. Mau tak mau akhirnya Sandra menganggguk patuh.


"Baiklah. Sel!"


"Ini untukmu juga. aku tak mau terjadi hal buruk nanti. aku tak ingin merasakan situasi itu lagi."


Sandra menatap lembut wajah tampan bergurat cemas Rusel. ada rasa lega bahkan begitu bahagia berada di posisi ini.


"Apa tadi kau menangis?"


"Hm?" Tanya Rusel menyeringit.


"Katanya kalau seorang pria itu menangis berarti dia sangat senang dan bahagia." ucap Sandra memeggang rahang tegas mulus Rusel yang terlihat begitu tenang.


Dia tak tahu saja apa yang telah di lakukan Rusel saat menunggunya di balik pintu ruang operasi. saat Dokter mengatakan anaknya sehat dan lengkap Rusel serasa mau berteriak meluapkan rasa leganya.


Tapi. Sandra belum sadar saat itu hingga Rusel meredam semuanya dengan berbicara sendirian di ruangan ini.


Hanya pria di balik pintu ruangan itu saja yang mendengar. Dia tahu segala yang di lakukan Ketuanya sampai ia sendiri beberapa kali tersenyum mendengar kata-kata Rusel yang bahagia akan kelahiran bagian darinya itu.


"Cih. Ketua selalu saja mau terlihat Cool." gumam Simob tapi ia akui memang benar. walau tak menangis tapi Rusel selalu menciumi tubuh Sandra sebagai bentuk syukur dan selalu berterimakasih pada sang kuasa karna telah menjaga dua cintanya itu.


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


Maaf ya baru up sekarang. Author tadi banyak tugas dan pulangnya Magrib.. sorry say😗


__ADS_2