Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Menikah?


__ADS_3

Setelah menceritakan kejadian pahit Ibunya di masa lalu, Rusel memilih melangkahkan kakinya keluar kamar untuk menemui Raja Mikes yang tadi ingin bicara padanya.


Walau jelas ia terlihat lelah tapi tanggung jawab besar ini tak bisa ia elakan. Kehidupan mewah bergelimang harta ini bukanlah jaminan untuk seseorang bisa menikmati kebahagiaanya. ada tanggung jawab besar yang Harus diemban menyangkut hidup orang banyak.


"Ketua!" sapa Simob yang sedari tadi menunggu di depan ruang pertemuan.


Rusel hanya menatapnya datar dengan raut tenangnya masuk ke dalam Ruang Pertemuan. disini sudah tampak jelas jika pembahasannya akan lebih mendalam.


Mentri Cerres berdiri memberi salam hormat bersama Panglima Oskar dan para Mentri lainnya. tak lupa Raja Mikes yang masih duduk berwibawah di kursinya.


"Yang Mulia!"


"Hm. kau datang cukup lama." ucap Raja Mikes agak menohok tapi Rusel tak menyahut. Ia duduk di kursi kekuasaannya menatap tenang mereka semua.


"Bisa kita mulai pertemuannya?" tanya Mentri Cerres yang diangguki Raja Mikes.


Pria paruh baya dengan jenggot tipis itu terlihat serius membuka lembaran kertas yang begitu tebal dan memusingkan.


"Dari beberapa hari ini, laporan terus masuk ke Pemerintahan Kerajaan tentang Pemberontakan di beberapa wilayah yang 3 diantaranya adalah Wilayah yang tadi di serang musuh. tak hanya itu saja, Kerajaan dan Negara lain juga ikut mengekang Kerajaan Dezon agar menyerahkan kekuasaannya dan mundur dalam Organisasi FDA yang selama ini kita pimpin."


"FDA itu Organisasi Ekonomi terpimpin yang di bangun 3 Negara. apa hak-nya menolak ukur Kerajaan kita?!" geram Panglima Oskar tak menyangka kerabat yang dulu mendukung sekarang menusuk ketika ada peluang.


"Mereka memberi alasan jika. Posisi Kerajaan Dezon sekarang tengah tak stabil hingga nantinya akan berpengaruh pada keadaan Negara mereka. jika Kerajaan kita masih memimpin maka di cemaskan akan terjadi pemutusan hubungan kerja dengan pihak lain. kita juga di klaim tidak akan bisa menstabilkan dunia politik ekonomi dan pertahanan Kerajaan karna separuh aset Kerajaan sudah mulai di ambil alih ke tangan Pemerintahan lain."


Sambung Mentri Cerres lagi lalu menghela nafas dikala melihat semuanya diam. memang sekarang jalannya sangat sulit untuk mengembalikan situasi Kerajaan.


"Jalan satu-satunya yang bisa kita ambil hanya dengan mencari sekutu dari Kerajaan besar hingga mereka bisa kembali berfikir dua kali untuk menyerang. Kita harus punya rekan yang juga berpengaruh tinggi mengamankan posisi Dezon di mata Majelis Organisasi yang kita pimpin. Yang Mulia."


"Yah. dengan membuat kerja sama yang erat Kerajaan akan kembali stabil dan kita bisa mengendalikan para pemberontak itu yang telah menyebar data Kerajaan."


Timpal Mentri Ozey yang ikut memberi saran. Raja Mikes menghela nafas dalam dengan tatapan tegasnya menerawang. jelas ia tengah berfikir dan menimbang-nimbang keputusan.


"Siapa yang mengajukan diri?"

__ADS_1


"Kerajaan Walker. Yang Mulia!" jawab Mentri Cerres yang membaca datanya.


"Apa maunya?"


"Kerajaan Walker mengajukan diri untuk menjadi Rekan tetap Kerajaan Dezon membangun kembali kepercayaan Dunia pada kita. dia juga menjamin akan membantu dalam perang jika sampai terjadi Kudeta. tapi..."


Mentri Cerres menjeda ucapannya lalu melempar pandangan nanarnya ke wajah tampan datar Rusel yang terlihat masih tetap di tempat.


"Dia menginginkan Putra Mahkota memperistri Putrinya!"


Duarrr....


Pernyataan ini sukses membuat Rusel terdiam dengan tatapan mata kosongnya ke arah depan. tiba-tiba saja dadanya di serbu rasa sesak yang membuat tangannya terkepal erat.


"Tak ada cara lain. Yang Mulia! ini sudah sangat terdesak, kita tak punya jalan lain dan jika menunggu lebih lama. di khawatirkan pasukan musuh sudah menyiapkan Anggotanya lebih banyak."


"Aku tak bisa." tegas Rusel membantah keras dan sangat terlihat menolak. cintanya sudah terpaut pada satu wanita dan ia tak ingin mengkhianati Pernikahan sucinya.


"Feliks!"


"Kau tak punya pilihan." tegas Raja Mikes lagi dengan tatapan yang sangat tak terbantahkan. Jujur dia sendiri tahu bagaimana rasanya itu tapi inilah hidup di tengah tanggung jawab yang besar.


"Aku tahu kau sangat mencintai istrimu tapi, pikirkan juga semua rakyatmu. hanya karna satu orang kau mengorbankan ribuan kehidupan." imbuh Raja Mikes lalu berdiri dan melangkah pergi ke luar ruangan.


Para Mentri berdiri bersama Panglima Oskar yabg juga tak bisa membantu untuk urusan ini.


"Yang Mulia Prince! maafkan kami." ucap mereka lalu melangkah pergi menyusul Raja Mikes meninggalkan Rusel yang tengah di selubungi amarah dan rasa sakit yang menjalar menggerogoti batinnya.


Hembusan angin tiba-tiba menguat seiring dengan kepalan kedua tangannya mencengkram erat pinggiran meja yang remuk karna tekanan tangannya.


"SIALAN!!!"


Brakkkk...

__ADS_1


Rusel meninju meja kayu dengan bahan keras dan mewah ini sampai roboh ke lantai dingin yang menampung rongsokan Meja besar itu.


Mata kehijauan Rusel mengigil dengan amarah yang jelas terkobar di netranya.


"Sialan kalian semua!!!" umpatnya berdiri dan menghantamkan kursi itu ke dinding ruangan hingga membuat suara yang begitu keras dan mengerikan.


Nafasnya memburu dengan gejolak rasa yang tak bisa di mengerti siapapun. ia tak bisa melakukan semua ini pada Sandra tapi bagaimana dengan Rakyatnya?


"A..aku tak bisa. AKU TAK BISA!!!" bentak Rusel membuat angin itu memporak-porandakan semuanya. Perasaanya tengah tak menentu sampai ia sendiri sulit mengendalikan emosi yang tengah berkecamuk.


Simob yang melihat dari arah pintu sana hanya bisa diam tak bisa banyak berbuat. ia baru kali ini melihat kekacauan Ketuanya yang selama ini selalu bersikap tenang dan terkendali.


"Aku tahu. Ketua! sulit bagimu memilih antara Nona Sandra dan Rakyat Dezon. keduanya sama-sama penting bagimu." gumam Simob menghela nafas. ia mendengar jelas hancurnya barang-barang di dalam sana membuktikan betapa besarnya emosi yang tengah di lampiaskan.


Prankkk....


"Ketua!" panggil Simob terperanjat saat kaca di ruangan itu pecah dengan serakan kayu dan serpihan keramik yang berserakan. ia melihat Ketuanya bersandar ke dinding sudut gelap sana dengan keadaan yang cukup membuat mereka asing.


Tatapan nanar Simob tak bisa di elakan. ingin rasanya ia mendekat tapi ia tak punya keberanian sebesar itu.


"Biarkan dia sendiri!"


"Yang Mulia!"


Simob membungkuk lalu kembali berdiri tegap. wajah Raja Mikes masih saja datar seakan tak ada hati nurani melihat keadaan menekan Putranya.


"Yang Mulia! aku rela melakukan apapun asalkan Putra Mahkota tak jadi menikah."


"Tak ada cara lain." tegas Raja Mikes terlihat seakan menjadi batu. wajahnya begitu kejam mengolok nasib rumah tangga putranya yang memang sudah lebih dulu ia rasakan.


"Yang Mulia!"


"Biarkan dia sendiri! dia pasti tahu kodratnya sebagai Putra Mahkota Kerajaan yang sewaktu-waktu pasti akan melakukan pengorbanan besar."

__ADS_1


.....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2