
Setelah pulang dari agenda Publish Pers tadi, tiba di Kediaman Sandra langsung di cecer pertanyaan dari Nyonya Tantri dan Erina yang syok melihat berita yang beredar langsung mengisi Topik acara hari ini.
Tentu wajah Nyonya Tantri merah padam melihat kesantaian Sandra yang baru turun setelah mandi menyegarkan tubuhnya.
Bumil yang memakai Gaun malam di balut Cardi itu terlihat tak lagi menyembunyikan perut besarnya. Tentu semua itu membuktikan kebenaran bagi mereka semua.
"S .Sandra!" lirih Erina menutup mulutnya tak percaya. tadi Sandra tak menghiraukan mereka dan sekarang turun memperlihatkan semua ini.
"Bik!" panggil Sandra berjalan ke arah meja makan. ia sudah sangat lapar apalagi jam sudah menunjukan pukul 9 malam.
"Non!" Bibik Iyem datang membawa segelas susu kedelai kesukaan Sandra.
"Ini. Nona!"
"Terimakasih." jawab Sandra lalu duduk di kursi makannya. ia tak menghiraukan Nyonya Tantri yang tengah di tatap penuh tanya oleh Erina.
"M..ma? maksudnya apa ini?"
"Erin! akan Mama jelaskan nanti tapi kau.."
"Jadi, Mama juga tahu. Sandra hamil?" tanya Erina tak percaya. ia di bohongi oleh orang di sekitarnya yang bahkan selama ini di percaya olehnya.
"Erin! Mama terpaksa. Nak!"
"Ma! Erin pikir Mama tak akan begini." kecewa Erina terlihat sendu membuat Nyonya Tantri serba salah. semua yang mereka sembunyikan selama ini akhirnya terkuak kepermukaan.
Bukan hanya itu yang membuat Erina terluka. ia menyimpan perasaan pada Rusel dan ternyata pria itu telah menikahi Sandra dan sudah menghamilinya.
"Bahkan. pernikahan Sandra aku tak diberi tahu."
"Erin! itu Mama juga tak tahu tentang pernikahan itu. Nak!" jawab Nyonya Tantri benar adanya. ia sungguh terkejut mendengar pemberitaan itu sampai identitas Rusel yang benar-benar luar biasa.
"Dan kau Sandra! kenapa kau melakukan ini. ha? kau menikah dalam diam, dan sekarang membuat mereka tahu aibmu selama ini."
"A..aib. jadi Rusel yang... "
Erina memejamkan matanya duduk di atas sofa sudut ruangan ini. ia masih belum menerima apa yang baru saja ia dengar dan lihat.
"Erin!"
"M..ma.. lalu ...bukannya Daniel yang selama ini me.."
"Jadi kau pikir aku berbohong?" sambar Sandra menatap tajam Erina yang diam dengan mata penuh kehampaan.
"San! k..kenapa kau melakukan ini?"
"Cih!" Sandra berdecih langsung berdiri menentang mereka. Nyonya Tantri yang terlihat marah padanya hanya ia acuhkan seakan jadi angin lalu.
"Aku hamil dan siapa ayahnya-pun. apa urusannya denganmu. ha?"
"Sandra!!" bentak Nyonya Tantri membuat Sandra mengepal. ia tahu jika Erina memiliki perasaan spesial pada Rusel dan karna itulah selama ini Nyonya Tantri mendukung itu semua.
"Hari itu kau bilang kau dihamili Daniel dan sekarang kau mengatakan ayah dari anak itu adalah Putra Mahkota Dezon. besok siapa lagi?"
"Mama tak suka?" tanya Sandra menaikan satu alisnya sinis. terlihat jelas ia tahu kemana arah perdebatan ini.
"Jelas aku tak suka. kau memang putriku tapi karna kau Keluarga ini jadi bualan orang di luar sana."
"Ma!" lirih Erina memeggang lengan Nyonya Tantri yang mengatakan semuanya dengan penuh amarah.
__ADS_1
"Hubungan Papamu dan adiknya kendur karna kau! Papamu berusaha menutupi Aib yang kau buat tapi sekarang mereka semua tak akan lagi segan untuk mempertanyakan kehormatan keluarga kita!"
Sandra diam dengan dada terasa di penuhi kemalut sesak. sudah berapa lama ia menahan ini dan terus ia telan mentah seakan menjadi bisu dan tuli.
"Sekarang. dimana kau taruh wajah Papamu di luar sana? kau seharusnya mencontoh Erina dan Delina yang selalu membuat nama keluarga ini bangga dan.."
Prankk...
"Nona!" pekik Bibik Iyem tertahan di kala Sandra melempar gelas yang ada di atas meja sana ke lantai keramik mahal ini. tatapan manik hitam berubah sangat kelam bahkan menyimpan bara kemarahan.
"Apa hakmu membandingkanku dengan mereka. ha??"
"Sandra!" geram Nyonya Tantri sama kerasnya.
"Aku tahu kau yang melahirkan aku dan mengurus segalanya tapi bukan berarti kau bisa menyamakan aku dengan dua anak kebanggaan-mu itu."
"Kau berani bicara begini. ha?"
"Jelas aku berani." keras Sandra dengan mata melotot tajam dan wajah mengeras menahan busungan sakit di dadanya.
"Kau menceramahiku seakan kau yang paling benar. tapi, apa kau pernah menjalankan kewajibanmu padaku? apa pernah? ha???"
"Sandra!"
Tuan Hatomo yang baru pulang-pun sangat terkejut melihat ini. Rusel yang juga baru menginjakan kaki di lantai dasar sekarang langsung melangkah cepat mendekati Sandra yang tampak meluap-luap.
Simob dan Guren-pun terhenyak melihat kekacauan di Kediaman ini.
"Sandra!" gumam Rusel menarik lengan Sandra menjahui pecahan beling di lantai itu.
Erina menatap teduh wajah tampan mempesona Rusel yang terlihat sangat menjaga Sandra dan begitu perhatian padanya. tentu ia iri dan menginginkan hal yang sama.
"Apa-apaan ini. Tantri?" Tuan Hatomo geram.
Tuan Hatomo diam dengan wajah terlihat tenang dan itu memantik rasa murka Nyonya Tantri yang benar-benar tak mengerti bagaimana jalan pikiran suaminya.
"Kau sudah tahu?"
"Aku yang menikahkannya!"
"Dan kau tak mengatakannya padaku?"
Desis Nyonya Tantri kecewa tapi Tuan Hatomo punya alasan sendiri untuk tak mempublis pernikahan Sandra dan Rusel yang sekarang di ketahui banyak orang.
Ia juga sempat terkejut soal identitas asli Rusel tapi Tuan Hatomo memang lebih dewasa menyikapi hal ini.
"Mereka di nikahkan atas dasar suka sama suka. Sandra tak menolak dan.."
"Jelas dia tak akan menolak seorang Pangeran Rusia ini." sela Nyonya Tantri seakan begitu membenci Sandra yang ingin sekali menjerit memaki nasibnya.
"Kau punya dendam apa padaku. ha?"
"San!" Rusel mencengkal lengan Sandra yang ingin mendekati Nyonya Tantri dengan sikap keras kepala tertampilkan di wajah keduanya.
"Jika kau menyesal melahirkan-ku seharusnya jangan mengandungku selama itu!!" bentak Sandra dengan mata berkaca-kaca.
"Kau..kau bunuh saja saat aku masih di dalam kandungan atau.. atau kau langsung mengugurkanku saja." serak Sandra karna sudah terlampau menahan sakit. bahkan, air mata itu lolos dari mata merahnya yang menyedihkan.
"Sandra! kembalilah keatas." tegas Tuan Hatomo menengahi.
__ADS_1
"Pa! keluarkan saja aku dari anggota Keluarga ini."
"Sandra!" gumam Tuan Hatomo menentang tapi Sandra tampak sudah lelah. nafasnya-pun sudah tak senormal biasa menahan semua yang selama ini ia simpan.
"Kembali ke kamarmu." imbuhnya lagi menekan.
"Kalian tak menginginkan aku hadir bukan? kalian pikir aku bodoh tak tahu jika hari itu dia ingin mengugurkan kehamilannya."
Deg...
Tuan Hatomo terbongkem dengan Nyonya Tantri yang tercekat. kenapa Sandra bisa tahu tragedi buruk itu? sementara Rusel ia juga cukup terkejut mendengar kenyataan yang menyakitkan disimpan Sandra dalam diam.
"S..San.."
"Aku ini hasil kecelakaan. kalian tak berencana untuk memiliki aku karna Nenek bilang jika kalian hanya boleh memberikan dua anak." ucap Sandra dengan suara nyaris tertelan sendiri. Sudah lama ia menahan ini dan akhirnya sekarang ia katakan juga.
Tentu wajah Tuan Hatomo langsung dilanda kesuraman yang nyata. matanya melemah dengan tatapan bersalah.
"I..itu tak benar. kau ini..."
"N..Nenek benar. Pa! anak ketiga yang akan lahir itu hanya akan mempermalukan kalian, pantas dia.." Sandra menjeda ucapannya dengan air mata yang sudah merembes keluar.
"Dia sangat membenciku." imbuh Sandra membuat Erina yang sedari tadi mendengarkan seketika berdiri mendekati Sandra dengan tatapan iba.
"San! kau.."
"Dan kau!" Sandra menghindar saat Erina ingin memeggang lengannya. ia sudah tak percaya lagi dengan yang namanya kekeluargaan.
"Kau hanya sibuk dengan hidupmu sendiri. kau dan Delina menjadi kebanggaan Keluarga ini. jangan membuang waktu untuk mengasihaniku."
Jawab Sandra lalu melangkah pergi ke arah tangga kamarnya. Rusel mengikuti Sandra karna khawatir jika Sandra jatuh dengan tubuh selemah itu.
Sekarang. tinggallah Tuan Hatomo yang langsung menatap nanar pecahan beling yang tadi Sandra buat membuktikan betapa besar serpihan luka wanita itu.
"Selama ini aku selalu mengikuti kemauan-mu."
"Suamiku!" lirih Nyonya Tantri tapi tatapan tajam Tuan Hatomo sama sekali tak membiarkannya bicara. bahkan Erina-pun terkejut melihat wajah keras Papanya yang selama ini tak pernah terlihat.
"Aku sudah bilang padamu. kalau dia juga anakku! apapun yang dia lakukan itu tetap tanggung jawabku. tapi kau.."
"Aku tahu. tapi, apa kau tak ingat jika Ibumu sendiri mengatakan kalau Sandra itu tak akan pernah membawa kebaikan. aku hanya tak ingin harapan kita dan keluarga ini hancur." bantah Nyonya Tantri membuat Tuan Hatomo benar-benar tak bisa lagi untuk melawan ketetapan yang telah di terapkan Ibunya dulu yang mengakar di setiap keluarga.
"Aku siap jika harus melanggar itu demi Putriku!"
"Kau .."
"Dan kau. tutup mulutmu dan jangan menyakitinya lagi." tekan Tuan Hatomo lalu melangkah pergi meninggalkan Nyonya Tantri yang terlihat sama sekali tak ada memancarkan penyesalan.
"M..Ma!" lirih Erina terlihat memucat.
"Kau tenanglah. Papamu hanya emosi, dia tak akan begitu lagi." ucap Nyonya Tantri mengusap pipi Erina yang melirik sendu kearah atas dimana sedari Sandra tak benar-benar pergi. ia melihat sosok rapuh itu tengah memandang kesini.
"S..Sel!"
"Jangan di lihat lagi." bisik Rusel memeluk Sandra dengan membenamkan wajah cantik yang berlinang air mata itu ke belahan dada hangatnya.
Tangisan tertahan Sandra terdengar di telinga Rusel yang tak mau terlalu bertanya walau ia ingin bicara. punggung bergetar Sandra ia dekap hangat dengan usapan lembut ke kepala si Rumput liar ini.
"San!" lirih Rusel segera menopang pinggang Sandra yang lemas dan nyatanya Sandra pingsan kembali. pelupuk netra itu terpejam dengan sisa air mata yang lembab di pipinya.
__ADS_1
........
Vote and Like Sayang..