Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Bertemu Baby!


__ADS_3

Kabar tentang penangkapan musuh dan semua pasukan perang yang tadinya membuat Kudeta melawan Istana akhirnya di tangkap dan sudah di amankan.


Nyonya Loure kembali mendekam di penjara sampai pada keputusan Raja Mikes dan Ratu Bellarosa. apakah wanita itu akan di hukum mati atau tidak masih di pertanyakan.


Namun. tentu saja Lucas tak bisa tenang, mau bagaimana-pun itu Momynya walau sebesar apapun kesalahannya ia tak bisa diam begitu saja.


"Feliks!"


Lucas menghadap pada Rusel yang tengah mendampingi Sandra menjalani pengecekan. Pria itu tak menggubrisnya sama sekali membuat suasana membeku.


"Feliks! aku ingin bicara."


"Aku tak ada waktu." tegas Rusel tak mengalihkan pandangannya pada perban di kaki Sandra yang tengah di cek oleh Dokter Fang bersama Teamnya.


Sandra menatap wajah sendu Lucas yang terlihat gusar. ada gumpalan kekhawatiran yang tengah menyengkang dadanya.


"Sel!"


"Bagaimana keadaannya?" Rusel segera bicara menghentikan niat Sandra. ia tahu Rusel marah karna akibat kebodohan Lucas ia dan anaknya dalam bahaya.


"Sudah membaik. hanya saja, Nona jangan terlalu aktif. lukanya masih belum kering. makan-makanan yang tak begitu pedas dan banyak mengonsumsi sayuran dan buah untuk mempercepat masa kesembuhan."


"Apa aku bisa keluar?" tanya Sandra cepat dan menunggu. Rusel hanya diam merapikan pakaian Sandra yang agak terbuka.


"Bisa. tapi tak berjalan, belum waktunya anda bebas seperti biasanya. luka-luka di tubuh anda belum sepenuhnya sehat. jadi saya mohon untuk mengerti. Mis!" tahu akan sifat keras kepala Sandra sendiri.


"Aku tahu! dan sekarang aku mau melihat anakku." kekeh Sandra -ingin bergerak tapi Rusel menahan bahunya dengan satu tangan.


"Sel!!"


"Diamlah!"


Rusel tak banyak bicara. ia sigap mengulur tangannya ke bawah paha Sandra hingga dengan ringan tubuh jejang wanita itu beralih ke gendongannya.


Para suster yang melihat itu tersenyum malu dengan wajah bersemu. ternyata Putra Mahkota yang mereka kira tak akan bisa di thalukan siapapun itu nyatanya bisa semanis ini pada wanita.


"Sel." gumam Sandra mengigit bibir bawahnya. Dokter Fang hanya bisa tersenyum menatap kepergian Rusel yang melewati Lucas.


"Aaaa!! aku juga mau." para suster itu saling berpelukan. mereka baru berani begini setelah Prince Dezon itu menghilang dari pandangan.


Namun. Lucas tak tenang, ia segera menyusul Rusel yang pasti pergi ke ruang NICU atau perina Inhkubator anaknya.


"Aku..aku tak mau Momy di hukum mati." gumam Lucas terus membuntuti Rusel yang melalui beberapa lorong atas dengan beberapa anggota yang berjaga.


Mereka tiba di depan pintu kaca tebal yang di jaga oleh banyak orang termasuk bawahan Tuan Hatomo.


"Aidit!"


"Nona!" pengawal Aidit menunduk memberi salam hormat. Sandra menipiskam bibirnya, dulu saja para pengawal di Kediamannya tak pernah sehormat ini padanya.


"Dokter Nita menunggu anda dan Prince!"


"Hm."

__ADS_1


Rusel masuk ke dalam hingga mata mereka di hadirkan dengan situasi ruangan yang di penuhi peralatan-peralatan medis.


Dokter Nita dan para susternya membawakan Kursi roda dan masker khusus untuk masuk ke sepatak area khusus yang terdapat sebuah Kotak kaca dengan monitor di sampingnya.


"Silahkan sterilkan dulu tubuh anda. Prince bersama Nona!"


"Cepatlah!" desak Sandra sudah melihat-lihat ke satu ruangan kaca sana. Ia tak perduli jika tubuhnya begitu nyeri di dudukan di atas kursi roda ini perlahan oleh Rusel.


Rusel memakai masker medisnya lalu ia beralih memakaikan benda itu pada Sandra. tangan mereka juga di usap dengan Tisu basa khusus agar tak membahayakan si kecil itu.


"Silahkan. Prince, Nona!"


"Cepatlah Sel!"


Rusel mengangguk mendorong kursi roda Sandra ke arah ruangan kaca itu. Para suster yang juga memakai peralatan yang sama membuka pintu kaca yang terasa hangat dengan lampu yang di stel khusus.


Mata mereka terus bergulir melihat ke arah kotak kaca dengan layar monitor menampilkan garis bertekuk membuktikan detak jantungnya normal.


"S..Sel!" gumam Sandra mematung melihat bayi mungil yang tampak tak seperti bayi pada umumnya. kulit merah dan wajah mungil itu masih terpejam menarik rasa cemas Sandra yang segera menggenggam tangan Rusel.


"A..apa dia baik-baik saja?"


"Kondisinya sehat. Nona! kami memberikan asupan Asi padanya dan nutrisi dari infus itu, beratnya 2,5 kg dan panjang 40cm."


Jelas Dokter Nita tersenyum karna wajar Sandra tak tahu keadaan sebenarnya Bayi Prematur bagaimana. Wanita itu terkejut melihat bayinya kecil dengan wajah lelap di dalam sana.


"Asi?"


"Yah. kami mengambil Asi dari anda dan memberikannya pada anak kalian. dia sangat menerima dan mungkin dalam beberapa minggu dia bisa keluar dari Inkubator."


"Syukurlah Prince kecil begitu kuat. dia bisa menyesuaikan lingkungan begitu cepat dan dalam beberapa jam ini saja dia sudah bisa memberikan isyarat halus."


Rusel lega mendengar itu. ia mengecup puncak kepala Sandra yang berkaca-kaca melihat wajah mungil yang ntah mirip dengan siapa, yang jelas mereka bisa melihat kharisma dan aura yang di turuni dari sang Ayah.


"Anak kita laki-laki. Sayang! dia sangat imut."


"Hm. sama sepertimu." bisik Rusel merasa sangat bahagia. ntah apa yang selama ini ia lakukan sampai keberuntungan mendapat istri dan anak yang sempurna untuknya.


"Dia..dia menatapku!" Sandra histeris melihat kelopak mata kecil itu terbuka. Mata mereka terasa hanyut dengan netra kehijauan yang sangat bening langsung bersitatap dengan Sandra.


"Prince kecil sangat tampan." gumam para suster sana malu. mereka selalu bersedia menjaga dan memantau disini karna gemas dan serasa ingin terus melihatnya.


Jika tak bisa menatap bebas Sang ayah maka anaknya pun jadi. mungkin bisa dikatakan seperti itu.


"Sel! dia sama sepertimu. Sayang!"


"Hm."


"Dia..dia menatapku. aaaa.."


"Jangan berteriak. dia bisa jantungan mendengar suaramu." sela Rusel membuat Sandra merenggut tapi sayangnya si kecil itu hanya diam tak mengalihkan tatapannya pada mata hitam bening Sandra.


Ia seakan merangkup setengah wajah yang di tutupi masker itu dengan hati yang terbaca melalaui mata indahnya.

__ADS_1


Sandra melemah melihat tatapan lembut itu menautkan hati bersama putranya.


"Sayangku." gumam Sandra menyentuh kaca Inkubator dengan jemarinya. pandangan si kecil itu terlihat penasaran bergulir melihat jari lentik milik Sandra.


"S..Sel! dia.. dia merespon."


"Hm. dia menyukaimu." bisik Rusel mengecup pipi Sandra yang asik menggerakan jarinya membawa interaksi kecil. ikatan Ibu dan anak itu terlihat tapi lebih pada kasih teman yang Sandra lakukan selama ini.


Tak mau menganggu suasana ini. Rusel menatap Dokter Nita yang mengangguk beralih berdiri di belakang Sandra yang tak menyadari kepergian Rusel ke arah pintu keluar.


Langkah lebar tegas itu menghampiri Lucas yang terlihat masih diam di dekat ruangan NICU ini.


"Ehm!" Deheman menyadarkan Lucas dalam hayalan panjangnya. Ia menatap Rusel yang selalu setia dengan wajah datar es itu.


"Feliks!"


"Kau ingin bicara. maka, katakan!" tegas Rusel beralih duduk di sofa sudut ruangan. Ia membuka maskernya tak mengurangi wajah tampan khas eropa itu.


"Feliks! aku yakin kau bisa membujuk Raja Mikes untuk meringankan hukuman. Ibuku."


"Kau juga akan kena." jawab Rusel membuat Lucas terdiam. ia akui kesalahannya memang fatal dan Rusel tak akan melepaskannya begitu saja, tapi ia tak mau Momynya di hukum mati.


"Aku..aku akan menerima semuanya. tapi.. tapi, jangan Momyku."


"Aku tak bisa membantumu."


Lucas langsung melemah. ia terlihat kusut membayangkan semua ini.


"Tak perduli jika dia memiliki ikatan darah denganmu. ini harus adil, agar Kerajaan tetap stabil."


"Feliks! aku..."


"Jika kau ingin membela. berdiri di Pengadilan Kerajaan. jangan padaku." tegas Rusel lalu melangkah pergi karna Simob telah memberinya pesan penting.


Helaan nafas Lucas tercipta menatap kepergian Rusel. mungkin kesalahannya memang sudah membuat pria itu kecewa besar.


"Dia pasti akan memikirkanya!"


Lucas segera menangkat kepalanya yang tadi tertunduk. matanya menatap Sandra yang masih duduk di kursi roda tengah di awasi Dokter Nita di belakangnya.


"Aku tahu suamiku bagaimana. walau dia terlihat acuh tapi aku pastikan dia akan mencari solusinya."


"S..Sandra!"


"Percayalah! walau tak kematian pasti ada hal lain, aku tak menjamin kalau itu akan ringan."


Lucas berbinar cerah ingin mendekat tapi Sandra sudah menatapnya tajam menghentikan langkah Lucas.


"Kenapa?"


"Aku tak ingin anakku ke tempelan mahluk sepertimu."


Glek..

__ADS_1


Vote and Like Sayang


__ADS_2