
Rusel membawa Sandra ke dalam kamarnya yang begitu megah membuat Sandra terperangah. Ruangan yang begitu mewah di dominasi warna Gold dari tirai lebarnya juga dinding berlapis emas dan tembaga asli yang sangat-sangat mahal.
Banyak ruangan disini sampai ia tak bisa berkata-kata untuk menjabarkan bagaimana bersih dan elegannya kamar sang suami.
"Sel! ini benar kamarmu?" gumam Sandra merasa kagum. ia belum pernah pergi ke kamar seorang Pangeran dan ternyata bentukannya semewah ini.
Berbeda dengan Sandra yang sibuk mengagumi kamarnya. Rusel justru sibuk membuka Tirai kamarnya lalu menarik Sandra duduk di sofa yang ada di dekat Balkon.
"Buka mulutmu!"
"Ha?" tanya Sandra ketika ia tak terlalu dengar. matanya masih berkeliaran membuat Rusel mencengkram kedua pipinya tak terlalu kuat hingga bibirnya terbuka.
Sontak hal ini membuat Sandra syok dan tak mengerti.
"Sel!"
"Apa ada rasanya yang pahit?" tanya Rusel memperhatikan betul lidah dan rongga mulut Sandra.
"K..kau.."
"Bau agak menyengat. rasanya pahit dan membuat kau pusing. apa ada?"
Sandra menggeleng karna memang ia tak merasakan apapun. apa terjadi sesuatu yang aneh?
"Kenapa?"
"Sudah ku bilang jangan percaya siapapun. disini tak ada yang akan memperhatikanmu." ucap Rusel sedikit marah membuat Sandra diam.
"Sel! aku tahu, tapi aku sudah menolak dia masih saja memberikan ini. saat itu Guren ada di belakang Taman, aku juga sudah berusaha menghindar. tapi, tiba-tiba rasanya dia sangat dekat denganku."
Mendengar pernyataan Sandra helaan nafas Rusel mulai tercipta. ia juga tak bisa menyalahkan Sandra karna memang disini sangat kental dengan kemampuan orang-orangnya.
"Benar kau tak merasakan aneh?" masih menyelidik.
"Tidak. aku serius, kau tahu sendiri aku saat pertama bertemu orang tak pernah seakrab itu. dia sendiri yang memaksa."
"Lain kali jangan sembarangan lagi. jika sudah terkena kau bisa mati sia-sia." geram Rusel menjentik bibir bawah Sandra yang menautkan alisnya.
"Memangnya kenapa?"
"Kau harus tetap hati-hati. aku tak bisa berada di sisimu setiap saat, tolong mengertilah." lirih Rusel yang tadi sudah cemas jika Sandra memang sudah terkena racun bunga itu.
Sandra terdiam sejenak. ia semakin kesini sebenarnya semakin merasa kecil bersama Rusel. apalagi tak ada yang bisa ia lakukan untuk membantu masalah apapun.
"Maafkan aku. maksudku tak ingin menyusahkanmu tapi.."
"Bukan itu yang-ku maksud." sela Rusel menggenggam tangan Sandra.
"Cukup jaga dirimu sendiri. itu saja, kau tak perlu melakukan apapun untukku."imbuhnya lagi.
Kalimat inilah yang menjadi beban bagi Sandra. ia seperti terlihat begitu lemah selalu ada di dalam pengawasan Rusel yang juga tengah menghadapi masalahnya sendiri.
"Kau pahamkan maksudku?" tanya Rusel lembut memberi pengertian. belaiannya ke kepala Sandra membuat ego wanita itu tunduk mengerti.
"Hm. aku mengerti."
"Baiklah. aku ambil makananmu dulu."
Sandra mengangguk memandangi Rusel keluar kamar. rasa kagum dan senang melihat ruangan ini seketika redup dengan tangan mulai mengelus perutnya.
"Kenapa Dadymu sangat susah untuk di imbangi? pantas mereka semua meragukan aku sebagai istrinya."
Gumam Sandra memang selalu mencurahkan isi hatinya pada si malaikat di dalam sana. tak pernah Sandra menganggap dirinya Ibu yang baik bagi anak Rusel itu karnanya ia selalu bicara seakan berteman.
"Aku ingin sedikit saja berguna. tapi, aku tak tahu harus apa."
Sandra berdiri lalu melangkah pelan menyibak Tirai Balkon semakin lebar. disini ia bisa melihat bagaimana luasnya halaman samping Istana dengan Rusa-Rusa bertanduk indah itu tengah makan di padang rumput Golf sana.
"Permisi!!"
__ADS_1
Suara wanita dari luar kamar menyentak kesadaran Sandra yang langsung melangkah ke sana. Ia membuka pintu besar ini pelan hingga terlihatlah Wanita paruh baya berpakaian pelayan yang membawa Nampan dengan kepala tertunduk.
"Nona! Makanan anda."
"Dimana Rusel?"
Pelayan itu diam. ia agak asing saat Sandra menyebut nama itu karna yang selama ini terdengar hanya FELIKS dan PRINCE.
"Yang Mulia Prince tengah ada urusan. Ia mempercayakan saya mengantar ini."
"Begitu. ya?"
"Iya. Nona!"
Sandra mengangguk lalu mengambil nampannya. Ia menutup pintu kamar dan barulah pelayan itu pergi.
Tapi, Sandra tak benar-benar menutup pintu hingga rasa curiganya mulai meruak dikala mengingat ucapan Rusel.
"Tak mungkin jika Rusel mempercayakan pelayan disini. jika dia memang ada urusan biasanya selalu mengutus Simob atau Guren."
Ia langsung meletakan nampan utu diatas meja sampaing lalu mengendap keluar Kamar. ia melangkah pelan membuntuti kemana pelayan tadi pergi.
"Kau sudah memberikannya?"
"Sudah Nyonya!"
Sandra segera bersembunyi di balik pilar emas ini di kala mendengar suara percakapan dari lorong kamarnya. Tubuh jenjang dan semok itu sudah biasa menjadi pengintai.
"Pastikan dia memakannya. jangan sampai dia tahu kalau di dalamnya sudah ku beri obat penggugur kandungan."
Glek..
Sandra terkejut langsung memeggangi perutnya. ucapan Wanita berambut pirang itu sangat kejam dan begitu licik.
"Baik. Nyonya!"
"Dan kau tutup mulutmu."
"Dia berencana untuk membunuhku dan juga bayi kami. persetan dengan tua bangka sepertimu."
Batin Sandra jijik lalu mengeluarkan ponselnya merekam semua pembicaraan mereka. ia tak lupa mezoom wajah Nyonya Loure yang seperti melirik kanan kiri penuh waspada.
"Cepat pergi dari sini!"
"Baik. Nyonya."
Saat pelayan itu pergi. Nyonya Loure mengusap keringat di keningnya seraya merapikan penampilannya. terlihat jelas jika dia tengah merencanakan sesuatu yang picik.
"Semoga saja wanita itu cepat mati."
"Mati kepalamu."
Batin Sandra merutuk lalu menghentikan rekamannya. Untung saja ia agak peka kalau tidak nyawanya dan si kecil ini bisa saja diambang batas kematian.
"Sekarang apa yang harus ku lakukan. bukti ini saja tak akan cukup untuk membalasnya." gumam Sandra mengigit bibir bawahnya berfikir.
Setelah beberapa lama mondar mandir Sandra di kejutkan oleh suara seseorang.
"Nona!"
"Eh!"
Sandra tersentak saat Guren melangkah mendekat membawa nampan makanan. Sandra kembali tenang berdiri tegap menatap Guren yang menyeringit melihatnya disini.
"Kenapa Nona disini? jangan keluar kamar sendirian. bisa bahaya."
"Aku tadi hanya mencari antingku yang jatuh. ternyata masih ada di telingaku." jawab Sandra tapi Guren tak mengerti. terkadang perlu IQ di atas rata-rata untuk mengerti wanita ini.
"Kenapa kau yang mengantarnya?"
__ADS_1
"Ketua tengah ada pekerjaan penting! Ketua minta maaf karna tak bisa menemani Nona makan, dan Nona harus istirahat."
"Pekerjaan apa?" tanya Sandra menyelidik tapi Guren yang kerap kali di paksa jujur berusaha tak terpengaruh.
"Aku tak tahu. Nona! nanti kau bisa tanya sendiri, dan ayo aku antar sampai ke pintu."
"Ouh."
Gumam Sandra lalu melangkah kembali ke arah pintu kamarnya. Sesampainya di sana Guren ingin mengantarkan makanan masuk tapi Sandra lebih dulu memeggangnya.
"Nona!"
"Tak usah. aku saja."
"Tapi, Ketua bilang.."
Sandra langsung masuk ke dalam lalu menutup pintu kamar membuat Guren mengelus dada. Ia melangkah pergi untuk segera melaporkan pada Ketuanya.
Sementara Sandra di dalam sana. ia sibuk melihat makanan yang di hantarkan pelayan wanita tadi.
Dengan jari menjepit hidung dan tangan dibaluti tisu itu membuka penutup nampan hingga terlihatlah Roti isi dan stik kentang.
"Kalian saja tak tahu makananku apa. Cih." decih Sandra lalu meletakan tutup nampan di atas meja dan mulai mengambil rekaman vidionya satu persatu.
"Hey!! kalau kau meracuniku kau selidiki dulu aku makan apa. kau pikir benda ini bisa membuatku kenyang. ha??"
Rutuk Sandra di rekamannya lalu kembali menutupnya lagi dan barulah ia menghela nafas lega.
"Sebaiknya aku bawa ini ke Lab. data hasilnya bisa ku tunjukan pada Rusel nanti." gumam Sandra berfikir jernih. Ia mencari tong sampah di dalam sini dan Sandra membuang makanan itu ke sana lalu ia letakan kembali piringnya diatas nampan seakan-akan sudah ia habiskan.
"Pasti dia akan kembali mengambil ini untuk memastikan aku makan apa tidaknya."
Tebakan Sandra memang tak meleset. setelah beberapa lama ia duduk menunggu di dekat pintu dan suara sialan itu terdengar juga.
"Permisi. Nona!"
Sandra membawa nampannya ini lalu sedikit membasahi bibirnya dengan wajah dibuat sudah seperti telah menghabiskan makananya.
"Nona! saya datang mengambil nampannya."
"Sebentar!!" jawab Sandra lalu membuka pintu kamar dengan mulut seakan mengunyah sisa-sisa roti laknat ini. Acting Sandra tak di ragukan lagi hingga membuat Pelayan itu tersenyum.
"Ini!"
"Terimakasih. Nona!"
"Emm.. kepalaku agak pusing." gumam Sandra bersandar ke pintu dengan mata sayu. Pelayan itu pura-pura cemas seraya mengambil nampannya.
"Nona! anda sakit?"
"Ntahlah. kepalaku pusing, perutku juga sakit. sepertinya aku kurang istirahat." jawab Sandra membuat keadaannya begitu menyedihkan.
"Kalau begitu anda istirahatlah. apa perlu saya panggilkan Dokter Utama Kerajaan?"
"T..tidak perlu. ini hanya sakit biasa." cegah Sandra lalu menutup pintu kamar. ia merapatkan telinganya ke pintu untuk menunggu hasil dramanya.
"Nyonya! dia sudah mengeluh sakit dan makanannya juga habis."
Laporan wanita itu berbisik. terdengar langkah kakinya menjahui kamar membuat Sandra menggeram. ada saja Pelayan tak setia seperti itu di sini, tapi jika di pikir-pikir memang semuanya patut di curigai.
"Apa pria sok akrab itu juga sama?! soalnya Rusel seperti sangat marah saat aku meresponnya."
Pikir Sandra menerawang seraya mencomot paha bebeknya. ia duduk di pinggir ranjang king size ini menikmati empuknya kasur Kerajaan.
"Bisa jadi itu musuh Rusel. yah, aku harus cepat membawa separuh makanan ini ke Lab."
Sandra menyimpan bungkusan tisu yang membalut potongan roti tadi ke dalam kotak tisu yang ia keluarkan isinya. tentu harus hati-hati, bisa saja ini bereaksi jika terkena tangan.
...........
__ADS_1
Vote and Like Sayang..