Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Simob dan Delina!


__ADS_3

Mentari diatas sana sudah keluar dari tempat persembunyiannya. Cahaya segar kekuningan itu merambat ke seluruh tempat membuat penerangan yang sangat cukup bagi mahluk-mahluk di bawahnya.


Terutama orang-orang yang tengah berdatangan ke Kediaman Hatomo. mereka terlihat bersemangat menikmati mentari pagi nan hangat dan udaranya yang segar.


Keramaian itu tak dapat di elakan. Media juga ikut hadir mengingat tentang kelahiran Prince kecil yang sudah bisa di perkenalkan.


"Kediaman besar ini dulu terbakar. tapi, sekarang bahkan begitu indah."


"Yah! apalagi auranya sudah berbeda. dulu saat aku menyiarkan kabar disini semuanya terkesan beku. tapi sekarang sudah begitu ceria."


Desas-desus Media yang telah berjalan diantara kehijauan lingkungan Kediaman Hatomo.


Mereka di giring para pengawal masuk ke dalam Kediaman hingga pemandangan elegan dan mewah lantai dasar ini saja sudah mampu menyihir mata.


Para pelayan tampak sibuk menata makanan dan minuman untuk para Tamu dari Kulfun. ada anak-anak Panti yang datang bersama dengan Paman Jo dan Bibik Antika.


Sedangkan Tetua Herdan dan Ednan tengah menyapa Tuan Hatomo yang menyambut dengan hangat. Mereka berbincang nyaman di atas karpet yang sengaja di bentang luas di lantai Kediaman ini.


"Selamat atas kelahiran Cucu anda. Jendral!"


"Terimakasih! tapi, kau perlu melihatnya nanti. dia pasti akan membuatmu terkejut." jawab Tuan Hatomo menarik senyum tipisnya. terlihat jelas mana kalah wajah pria paruh baya ini begitu senang saat berbicara tentang cucunya.


Sementara Ednan. ia hanya diam menatap ke beberapa sudut bangunan meloloskan pandangan di beberapa cela para manusia yang berlalu-lalang.


Siapa yang tengah ia cari? yah. tentu saja seseorang yang dulu sempat singgah di hatinya. seorang wanita yang membuat hidupnya jadi berbeda.


"Sandra!"


Batin Ednan berbinar di kala melihat sosok cantik dengan manik hitam itu tampak berdiri di lantai atas dekat pembatas tangga. ia tengah berbicara dengan Erina yang terlihat mengangguk merespon serius.


"Emm.. aku ingin menyapa temanku dulu."


"Ketua Rusel?" tanya Tetua Herdan mau tak mau Ednan mengangguk. ia berdiri pamit pada Tuan Hatomo lalu melangkah ke arah tangga.


Ednan melangkah cepat seakan punya tenaga exstra untuk menapaki anak tangga ini sampai ke atas sana.


"Nanti kau yang bantu Mama untuk.."


Kalimat Sandra terhenti saat Ednan sudah berdiri di belakang Erina yang cukup tersentak saat menoleh ke belakang.


"Siapa?" Erina menyeringit menatap wajah Ednan yang asli orang Indo, manis dan tampan dengan tatapan hangat itu.


Sandra masih diam mencoba mengingat siapa pria ini. ia agak lupa karna sudah berbulan-bulan.


"Kau..."


"Kau lupa?" tanya Ednan sedikit menyelipkan nada kecewa.


"A.. maaf, kau itu.."


"Ednan!" ucap Ednan menyela membuat Sandra terdiam sejenak. ia tak asing dengan nama itu hingga tatapan Sandra beralih pada Tetua Herdan di bawah sana hingga..


"Aa.. iya. Ednan!" gumam Sandra ingat nama itu. ia mendekat ke arah Ednan yang tersenyum senang karnanya.


"Kau anaknya Tetua Herdan. bukan?" Ednan mengangguk.


"Iya."

__ADS_1


"Nyatanya kau masih hidup rupanya." ucap Sandra dengan gaya ketus tapi sangat khas.


"Syukurlah. tapi. aku dengar kau sudah melahirkan."


Sandra mengangguk mengiyakan. Ia hanya berjarak 1 meter dari Ednan yang sungguh merasa gugup berdekatan begini walau jaraknya cukup jauh.


"Sudah. anakku laki-laki! nanti kalau acaranya di mulai kau bisa melihatnya."


"Pasti dia sangat dominan sepertimu." tebak Ednan membuat Sandra membelo jengah. wajah jutek itulah yang membuat Ednan terpikat jatuh sedalam-dalamnya.


"Candaanmu sangat lucu."


"Aku tak bercanda. aku serius." jawab Ednan meluruskan. Sandra hanya menaikan bahunya acuh melempar pandangan pada Erina yang hanya menyimak perbincangan ini.


"San! kau harus cepat bersiap."


"Kau benar. aku lupa." gumam Sandra panik karna ia masih memakai Daster santainya yang terlihat cantik di tubuhnya. saat kaki itu ingin melangkah pergi, Sandra melihat Simob yang melangkah ke arah kamar Delina yang tak jauh dari kamarnya.


"Erin! kau tolong lihat putraku di kamar Nenek dulu."


"Baiklah." jawab Erina hanya menurut pergi ke arah kamar Neneknya yang ada di lantai atas.


Sementara Sandra. ia mengabaikan Ednan seraya membuntuti kepergian Simob secara diam-diam.


Tentu Ednan bingung hingga mengikuti Sandra yang mengendap di balik tiang-tiang bangunan ini, kelihaiannya di tunjukan tanpa berbunyi deritan mengikuti Simob yang sudah ada di depan pintu kamar Delina.


"Aku yakin dia ada hubungan dengan Delina."


"Siapa Delina?"


Sandra terperanjat langsung menoleh ke belakang. Ia syok melihat Ednan berdiri tepat sejajar dengan Simob yang ada di depan sana.


"Awas!!"


Sandra menarik lengan baju Ednan ke balik dinding hingga pria itu menyeringit heran. maksudnya apa?


"Ada apa?"


"Kau bisa membuat rencanaku gagal." geram Sandra sesekali mengintip Simob yang terlihat ragu untuk mengetuk pintu kamar.


"Rencana apa? kenapa kau membuntuti Simob?"


"Diamlah!" ketus Sandra merapat ke dinding. ia menjaga jarak dengan Ednan yang cukup heran tapi ia suka karna bisa melihat wajah cantik bening Sandra dari sini. nyatanya wanita ini benar sangat cantik.


"D..dia membuka pintu."


"Siapa?"


"Haiss.. lihat itu."


Ednan melihat sosok wanita berambut pendek dengan pandangan wajah datar. Simob berhadapan sampai keduanya saling tatap seakan punya ikatan yang ambigu.


"Itu Kakak keduaku. sedari semalam dia pulang dan Simob selalu menatap dari jauh. aneh, bukan?"


"Simob?" gumam Ednan menyeringit. ucapan Sandra barusan patut di curigai. pasalnya Simob tak pernah seperti ini bahkan ia jarang menunjukan sifat pribadinya.


"Iya. aku tanya pada suamiku, dia hanya menjawab. Itu urusan mereka, haiss.. menyebalkan."

__ADS_1


"Tapi, benar ucapan Ketua. Simob orang yang tertutup."


Sandra mendelik gerah. semua lelaki di dunia ini sama saja kecuali Suaminya dalam segi hati dan cinta. ouhh.. dia jadi merindukan Siluman satu itu.


Namun. Sandra terperanjat saat Simob dan Delina beralih menatapnya dengan pandangan membunuh.


"K..kalian.."


"Sandra!!!"


Suara Delina keras membuat Sandra panik menarik lengan Koko panjang Ednan lalu melangkah pergi. jika sudah begini ia harus mencari aman.


Nafas Delina memburu emosi hingga tatapan kesal itu di layangkannya pada Simob yang hanya diam.


"Anak itu." decah Delina sungguh sensi. sehari saja tak membuatnya jantungan maka hidup Sandra tak akan lengkap.


"Bagaimana keputusanmu?"


"Aku.."


"Masih lama?"


Delina diam. ia terlihat bimbang dengan keputusannya membuat Simob terus menunggu.


.........


Di depan tangga ini mereka semua menatap Sandra dengan pandangan aneh. Erina dengan kekesalan karna Sandra menghilang dan Nenek Murti yang keheranan kemana saja wanita ini.


Apalagi Ednan yang tak mereka ketahui hanya di pandang kilas dengan tanda tanya besar itu.


"Acaranya sebentar lagi akan di mulai. Keluarga suamimu juga akan datang. dan kau belum bersiap-siap?" hardik Nenek Murti menggeleng.


Sandra terdiam sejenak melempar tatapan mematikannya pada Ednan yang menghela nafas halus.


"Saya Ednan. teman Sandra!"


"Nek! aku tadi menemui Delina." imbuh Sandra mengantisipasi agar mereka tak marah.


"Kau tak tahu suamimu sedari tadi menunggu di bawah sana?"


"A..Apa?" pekik Sandra langsung melihat ke bawah. benar saja, semua orang telah memenuhi lantai di bawah sampai Ustadz yang memimpin do'a sudah terlihat berbincang dengan Tuan Hatomo.


Namun. Sandra meleleh melihat sosok tampan yang duduk di samping Tetua Herdan yang tengah memangku Baby Ruslan di atas paha kekarnya.


Tampilan Koko coklat gradasi batik mewah itu sangat elegan dan cool di tubuh kekarnya. Kopiah manis menambah pesona sang Prince Dezon itu.


"S..Sel!"


Gumam Sandra dikala Rusel beralih menatapnya. pandangan dingin dan terkesan sangat mengintimidasi Sandra agar segera bersiap.


Ednan yang melihat wajah dingin Ketuanya segera gelagapan turun melewati Erina yang bersicepat menarik Sandra menuju kamar.


"Habis. kau Sandra!".


" A..aku.. aku tak tahu. acaranya secepat ini. Erin!"


Jawab Sandra mengumpat kesal. ia yakin Rusel akan semakin mendiaminya. terbukti semalam pria itu mengacuhkannya tapi tak menepis keberadaanya.

__ADS_1


.......


Vote and Like Sayang..


__ADS_2