Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Kau marah?


__ADS_3

Setelah pertengkaran tadi siang keduanya tak lagi bertemu bahkan terkesan saling menjauh. Rusel tak lagi muncul padahal biasanya setiap malam pria itu selalu mengunjungi Sandra sampai wanita itu tidur.


Begitu juga Sandra. ia tak bergeming duduk di dekat jendela menatap keluar dimana suasana malam ini begitu dingin dan kosong sesuai hati dan pikirannya yang tengah bergelut resah.


"Aku tak tahu." gumam Sandra memeggangi perutnya. terselip rasa senang ketika Rusel mengajaknya menikah tapi keadaanya begini. ia terlalu egois jika mementingkan dirinya sendiri.


"Pasti sekarang kau tak akan mau mendekati-ku lagi. buktinya sekarang.." Sandra menjeda kalimatnya saat ia kembali sendirian. setiap ia merasakan kebahagiaan maka rasa itu akan hilang hanya sekedar memberi bekas yang membuat luka di batinnya.


"Kenapa kau harus ada?? aku membencimu!!" umpat Sandra memukul-mukul perutnya sendiri merasa benci dan sangat muak. Karna benih dari pria sialan itu ia menderita seumur hidup bahkan dirinya selalu merasa tak pantas berhadapan dengan orang lain.


"Pergi saja kau dari perutku!!!" maki Sandra benar-benar kelap lalu menangis sendirian di dalam kamarnya. Tak ada satu orang-pun yang mendengar kecuali satu sosok gagah yang sedari tadi diam duduk diatas atap sana.


Kepalan tangannya menguat mencoba menahan rasa marah tapi juga sesak yang beriringan. Langit gelap ini menjadi saksi bagaimana ia menahan rasa sakit di setiap penolakan Sandra.


"Kau pasti masih mencintainya!" gumam Rusel memejamkan matanya mencoba melapangkan dada. ia akui Sandra memang kekanakan tapi ia tak ingin membuat luka itu semakin dalam.


"Ketua!"


Rusel hanya diam saat Simob sudah naik ke atas atap penginapan ini.


"Sebaiknya kau katakan pada Nona Sandra jika Papanya akan menjemput besok pagi."


"Dia tak akan pergi!" jawab Rusel tegas. tak akan ia biarkan Sandra di permainkan seperti itu. sudah cukup rasanya melihat ketidak adilan disana.


"Ketua! Tuan Hatomo memiliki kuasa penuh atas putrinya, kau tak bisa mencegah seorang anak yang di panggil Ayahnya."


"Aku punya tanggung jawab dalam dirinya."


"Bagaimana kau bisa meyakinkan Nona untuk menikah? sedangkan Nona tak mau membebanimu. Ketua!" tanya Simob merasa Sandra itu terlalu keras kepala tapi ia yakin Ketuanya bisa mengatasi ini.


Rusel diam. rasanya sulit untuk mencoba membuat Sandra mengerti di situasi seperti ini.


"Dia itu..."


Brugh...


Rusel dan Simob terkejut saat mendengar suara yang jatuh dari dalam kamar sana. Jantung Rusel terasa terlepas menduga apa yang di lakukan wanita itu sekarang.


"Sial!!"


Ia langsung melompat turun ke bawah lalu berlari ke arah pintu kamar mendobraknya keras sampai benda itu mau jebol karna hantaman kaki kokoh itu.

__ADS_1


"Sandra!!!" Rusel terkejut segera berlari mendekati Sandra yang tergeletak di atas lantai sana dengan pisau yang berlumuran darah terlempar ke dekat kursi.


Wajah Rusel mendingin melihat Sandra melukai pergelangan tangannya hingga darah itu mengalir deras diatas lantai dingin ini.


"Ketua!"


"Cepat kau panggil Paman Jo!" titah Rusel mengekuarkan sapu tangannya dan mengikat pergelangan tangan Sandra untuk menghentikan pendarahan itu sementara.


Simob juga telah pergi dengan rasa khawatir memuncak melihat kecemasan di wajah tampan Rusel yang mengeras mengangkat tubuh Sandra ringan dan melangkah kedekat ranjang.


"Bangun! San.. Sandra. shittt!"


Rusel mengumpat menepuk-nepuk pipi Sandra yang sudah pucat pasih. wanita ini benar-benar menarik emosi Rusel yang sudah mendingin melihat darah yang berceceran di lantai.


"Kalau kau ingin mati bukan begini caranya!! wanita sialan!!"


Sayu-sayu Sandra bisa melihat wajah kelap Rusel yang duduk di sampingnya. kecemasan itu terlihat mengubun melahap batin Rusel yang terus menekan pergelangan tangannya.


"K..kau.. "


"Kemana otakmu. ha?? apa pikiranmu memang sesempit ni?? kau ingin mati sia-sia. ha???" bentak Rusel menyala-nyala mencengkram kedua pipi Sandra dengan satu tangan besarnya.


"K..kau d..datang.."


"Kau pikir aku akan apa? berhentilah membuatku jantungan setiap hari!!" geram Rusel frustasi dengan raut kelapnya.


"A..aku pikir kau tak akan menemui. a..aku tak akan melihatmu lagi. k..kau tak akan memperhatikan ku lagi. hiks, aku...aku takut kau.." .


Rusel diam mendengarkan suara parau Sandra mengalun lalu membawa Sandra kedalam pelukannya. Seperti biasa tangisan Sandra pecah memeluk erat tubuh kekar yang tadi membuatnya cemas bahkan sangat takut di tinggalkan.


"J..jangan marah padaku, hiks! aku..aku tak mau sendirian, hiks. aku tak mau."


"Kau tak sendirian!" bisik Rusel lembut mengusap kepala Sandra yang terbenam ke dada bidangnya.


"Maaf.. maafkan aku." lirih Sandra memejamkan matanya terasa hangat saat tangan kekar itu membelai kepalanya. rasa nyaman dan aman ini kembali Sandra dambakan setelah setengah hari Rusel tak menemuinya sama sekali membuatnya terasa mau mati di tenggelamkan sunyi.


"Kau tak marahkan?" tanya Sandra takut menatap sayu wajah tampan Rusel yang lebih baik dari sebelumnya. Rusel memandang Sandra dengan tatapan datar tapi ada hunusan kasih di dalamnya.


"Jangan lakukan hal ini lagi. jika ini terjadi, aku tak akan mau mengenalmu sumur hidup." tekan Rusel memeggang dagu Sandra yang mengangguk membelit pinggang kekar itu erat.


"Ketua!"

__ADS_1


Paman Jo baru datang dan terkejut melihat darah kental yang berceceran di kantai ini. belum lagi pisau buah yang tergeletak na'as di dekat kursi sana.


"Cepat obati lukanya!" tegas Rusel masih memangku tubuh Sandra.


"Astagfirullah. Nona! kenapa kau begini?"


"Otaknya ini memang hanya setengah." maki Rusel meluapkan kegeramannya. Sandra hanya diam tak melepas belitannya sama sekali. Rasa sakit dan perih dari luka itu tak terasa jika sudah didekap hangat seperti ini.


"Kau jangan tidur."


Hm?" gumam Sandra memang sudah merasa pusing. Rusel membiarkan Paman Jo melihat luka Sandra dan untung saja sayatan ini tak memutus urat yang ada di dalam.


"Apa terlalu parah?"


"Ini masih bisa di jahit. Ketua!"


"Ha?" gumam Sandra samar-samar mendengar kata jahit. ia ingin menarik diri tapi Rusel langsung membelit pinggangnya agar tak bergerak.


"S..Sel.."


"Kau berani berbuat. jangan hanya cengeng berlebihan." tekan Rusel membuat Sandra semakin memucat.


"A..sss!!" Sandra mengigit dada Rusel untuk menahan sakit membuat Simob meringis sendiri. tapi wajah tampan datar Rusel masih tak berakspresi. padahal gigitan Sandra tak main-main di dadanya.


"Aass sakitt!!"


"Ketua!" lirih Paman Jo tak tega melihat Sandra menjerit seperti itu.


"Lanjutkan saja!"


"Sakit!!! sudah.. Rusel kau..."


Rusel mengunci pergerakan Sandra sampai tubuh wanita itu tak bisa bergerak. Telinga mereka seakan mau pecah mendengar suara teriakan Sandra yang selalu saja berlebihan padahal Paman Jo menyiramkan lendir dingin dari tumbuhan obat yang sama seperti bisu di medis moderen.


"Sakit!!!! kalian mau membunuhku. ha???"


"Kau tadi berani. sekarang tanggung sendiri!" tekan Rusel tak menghiraukannya. Simob bergidik ngeri melihat itu semua. Jika seperti ini pasti Ketuanya tengah menghukum sikap nekat Sandra barusan.


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2