Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Penolakan Sandra!


__ADS_3

Rutukan kasar itu terus keluar dari bibir pink segar berisi Sandra yang tengah melempari sungai di hadapannya dengan batu. Ia di suruh menyendiri ke sini tepat di bawah pohon rindang yang begitu sejuk dan damai tapi rasa jengkel Sandra sudah menggunung. Ia tak bisa menikmati suasana seperti ini dulu.


"Dia itu selalu saja datang dan menghilang sesukanya. meninggalkanku disini seorang diri, kalau ada ular atau kelabang bagaimana? kalau aku jatuh kesana dan ditelan buaya bagaimana?" gerutu Sandra melempari sungai berarus agak deras ini. Sudah di pastikan tak ada buaya disana dengan keadaan seperti itu tapi tetap saja. tak akan ada manusia yang benar dimata seorang Sandra.


"Aaaaaa!!!!! menyebalkan!!!" teriak Sandra sejadi-jadinya mengeluarkan unek-uneknya. Untung saja tempat ini berada tak jauh dari aliran Air terjun kemaren jadi Sandra bebas.


"Dasar siluman maniak!!!! kalau kau tak tampan mungkin sudah ku tendang kau sedari awal!!! dasar bukan manusia!!!"


Suara keras Sandra menerbangkan burung-burung di atas pohon sana. belum lagi suara deburan air sungai jernih penuh bebatuan hitam itu terasa tersaingi karnanya.


"Lihat saja. saat aku sudah bisa mencari uang sendiri. aku akan menghinamu!!!"


"Berhentilah berteriak!"


Suara berat dari atas pohon besar di belakang Sandra membuat wanita itu terhenyak.


"R..Rusel?" gumam Sandra mencari-cari asal suara. kalau tidak salah berasal dari pohon rimbun ini.


"Sel!!! kau yang bicara??" tanya Sandra mengelilingi pohon itu tapi tak melihat satu orang-pun disini sampai Sandra frustasi.


"Siluman!!! kau ini.."


"Dibelakangmu!"


"Eh.."


Sandra terkejut hebat saat menoleh mendapati sosok aneh ini sudah berdiri di belakangnya membawa dua botol minuman dingin. Wajah tampan tak berekspresi itu masih saja terlihat menjengkelkan.


"Kau sangat suka membuatku jantungan. ha??" omel Sandra menajamkan matanya. Rusel hanya diam duduk di atas akar besar yang melingkar di atas tanah dan bersandar di pohon itu.


"Duduklah!" Rusel menepuk tempat di sampingnya. Sandra tak mau, ia memilih duduk berjarak 1 meter dari Rusel yang menghela nafas melihat Sandra membuang muka jutek.


"Kenapa kau kesini? bukankah kau tadi kembali pada Guru IKANA SI DENGKI ITU." sinis Sandra menekan kata-katanya.


"Minumlah!"


"Tidak!" tolak Sandra memunggungi Rusel yang tetap tak bergeming masih bersandar rileks menikmati angin sepoy disini.


Satu kakinya terbujur dan satunya lagi di tekuk menopang lengannya. begitu berkharisma dan sangat jantan.


"Kau sudah memikirkannya?"


"Apa?" tanya Sandra masih dengan intonasi jutek dan galak. Rusel membuka tutup botol air putih dingin itu lalu menyodorkannya ke arah Sandra yang mengambil dengan sinis.


"Aku terpaksa." gumam Sandra menegguk air itu dengan lancar bahkan sangat kehausan.


"Aku bersedia menikahimu!"


Sandra langsung menyemburkan air itu lalu terbatuk keras membuat Rusel cemas menariknya mendekat.

__ADS_1


Uhukkk..


"Tak akan ada yang mengambil airmu. jangan terlalu rakus jadi perempuan." geram Rusel memberikan botol air miliknya. Ia menepuk tengkuk Sandra halus.


"K..kau.." Sandra masih susah bicara dengan mata berair karna tersedak.


"Tenanglah dulu."


Sandra mencoba tenang mengambil nafas dalam lalu menatap Rusel dengan pandangan serius bahkan mengancam.


"Kau jangan bercanda! ini tak lucu."


"Apa aku terlihat bercanda?"


Sandra diam menatap tak percaya Rusel yang selalu serius. apa maksudnya mengatakan itu? apa pria ini sudah gila atau bagaimana?!


Tahu akan kebingungan Sandra. Rusel segera memantapkan pandangannya memeggang kedua bahu wanita itu.


"Aku serius!"


"Apa aku begitu terlihat menyedihkan?" tanya Sandra dengan suara parau merasa Rusel hanya kasihan padanya.


"Kau..."


"Aku tak butuh rasa kasihanmu!" gumam Sandra menepis tangan Rusel lalu berdiri melangkah pergi membuat Rusel juga berdiri.


"Aku serius! tak ada rasa kasihan sedikit-pun padamu!!" ucap Rusel membuat langkah Sandra terhenti.


"Aku serius! aku ingin menikahimu!"


"K..kau ini bodoh atau apa. ha?!" Sandra berbalik menatap Rusel dengan pandangan sungguh merasa menyedihkan. Mata hitam bening itu terlihat jijik dengan dirinya sendiri.


"Aku hamil dan kau mau menikahiku?!"


"Memangnya kenapa?" tanya Rusel tak ada raut buruk tentangnya. Sandra memeggang perutnya yang semakin hari terasa lebih bertambah dari biasa. bahkan, ia mulai merasa aneh dengan sikapnya.


"Ka..kau tahu aku sudah di sentuh orang lain. tapi kau..." Sandra menggeleng mengusap air matanya sendiri.


"Kau itu masih lajang. cobalah berfikir yang positif, carilah wanita yang baik-baik di luar sana." sambung Sandra dengan suara bergetarnya. Ia merasa tak pantas bersandar dengan Rusel yang begitu menghormati kaum wanita.


"Kau tak buruk!"


"Aku bahkan menjijikan!!" teriak Sandra dengan rasa sesak didadanya. Ia tak mau menodai hidup Rusel dengan menanggung beban sepertinya. Ia tak sejahat itu.


"Sandra kau.."


"Berhentilah mengasihaniku! walau mati-pun aku lebih senang dari pada menodaimu!" gumam Sandra melangkah pergi.


"Kau bicara apa? ha!" geram Rusel langsung mengejar Sandra yang merasa sangat tak berguna dengan hidupnya saat ini. ada rasa senang saat Rusel mengatakan itu tapi ia tahu diri.

__ADS_1


"San!! Sandra!!"


"Lepas!!!" Sandra menepis tangan Rusel yang ingin mencengkal lengannya. Ia tetap melangkah menjauh membuat Rusel geram langsung menarik bahu Sandra kuat lalu merapatkan tubuh Sandra ke batang di sampingnya.


"Lepas!!!"


"Dengar!"


"Lepaskan aku!!"


"Dengarkan ucapanku!" geram Rusel membekap mulut Sandra yang tampak menahan isak tangisnya. mata bening itu berkaca-kaca menatap Rusel yang serius dan benar-benar tak bergurat lucu.


"Siapa yang kau harapkan untuk menikahimu?" tanya Rusel menekan pandangannya. Ia melepas bekapan itu membiarkan Sandra bicara.


"A..aku..."


"Apa kau tak memikirkan bayi itu?"


Bibir Sandra bergetar dengan air matanya kembali lolos. bahkan, ia tak pernah bisa tidur nyenyak memikirkan semua ini.


"Kau masih menganggapnya kutukan?" tanya Rusel membuat Sandra frustasi.


"A..aku..."


"Dia tak salah apapun. Sandra!"


"Lalu bagaimana dengan hidupku?" tanya Sandra membuat Rusel diam. manik elang itu terlihat memendam kekecewaan yang begitu besar terbukti dengan tangan Rusek berhenti mencengkram bahu Sandra.


"Apa aku harus melupakan kejadian itu? apa aku harus menganggapnya seakan tak terjadi, begitu?" tanya Sandra sudah muak dengan semua ini.


Rusel hanya diam terlihat membeku.


"Aku tak pernah sudi mengandung benih pria sialan itu!! tapi.. tapi mereka memaksaku melahirkannya!!!" bentak Sandra sampai mendorong bahu Rusel yang tak bergeming.


"Setiap aku melihat obat-obatan yang kau berikan. pikiranku tertuju padanya!! dia yang dulu menyatakan cinta tapi malah menghianatiku!! apa aku bisa menerimanya?? aku tak bisa Rusel!!!"


Rusel hanya diam. ia tak mengeluarkan sepatah-katapun dari bibirnya.


"Impianku hancur, pendidikan-ku putus dan semua temanku pergi. keluargaku bahkan tak perduli padaku. apa yang aku harapkan dari ini. ha?" tanya Sandra sungguh tak tahan berada di posisi ini. Ia tahu ini salahnya dan ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri.


"A..aku..." Sandra langsung melangkah pergi melewati Rusel yang hanya diam tak memandangnya sama sekali. rasa sakit itu langsung tertuju ke dada Rusel yang mendengar jelas penolakan Sandra akan bayi itu.


"Sial!!!"


Rusel meninju batang di hadapannya dengan kaut sampai tangannya berdarah. Rusel terus memukul batang keras itu meluapkan emosi dan gejolak membakar jiwanya.


"Kau brengsek!!! Sialan!!" umpat Rusel pada dirinya sendiri. ia tak perduli dengan punggung tangannya yang terluka menghantam kulit kayu yang tampak mengelupas bahkan hancur terus di tubruk kuat bongkeman keras itu.


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2