Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Kesadaran hati!


__ADS_3

Suara riuh di luaran gedung besar itu tengah berkecamuk kembali beraktifitas. Mobil-mobil di tempat itu keluar masuk Loby rumah sakit karena keadaan darurat yang tadi terjadi.


Dokter dari luar dan semua dokter spesialis di datangkan. Mereka di utus untuk menangani Nona Muda Hatomo yang sudah sedari subuh tadi berada di dalam ruang Operasi.


"Sir! apa Mis Sandra ada mengidap penyakit berbahaya sebelumnya?" tanya Dokter Fang yang bermata sipit dari negri tirai bambu itu.


Tuan Hatomo menghela nafas. ia melempar pandangan pada Rusel yang belum juga beranjak dari depan pintu ruang Operasi, pria itu kekeh tak ingin pergi.


"Putriku tak mengidap penyakit apapun."


"Namun. yang kami temukan adalah, Mis Sandra kurang bisa menyeimbangkan hormon tubuhnya."


"Maksudmu?" tanya Tuan Hatomo dengan guratan rasa cemas terlihat kembali.


"Fisik dan hormonal miliknya sangat lemah. kami berusaha melakukan tindakan cepat mengantisipasi itu hanya saja, kami ragu karna mungkin Mis Sandra punya ganguan-ganguan lain secara emosional."


"Aku..."


"Ada apa?" tanya Rusel mendekat karna ia mendengar nama istrinya disebut. tanpa di pinta kaki itu melangkah seakan spontan tertarik.


"Prince!"


"Apa yang terjadi? mereka baik-baik saja-kan?" tanya Rusel dalam artian kata 'Mereka' yang sangat dalam.


"Mis Sandra masih belum stabil. kami masih berusaha menangani pendarahan di rahimnya. untuk sekarang kita hanya bisa berdoa, Prince!"


Rusel melemah. Ia terduduk di kursi di belakangnya dengan wajah pucat pasih dan dingin. Ia sungguh tak bisa tenang karna sedari tadi tak ada kejelasan.


"Apa Mis Sandra punya ganguan emosional?"


"Dia mudah pingsan!" jawab Rusel membuat Tuan Hatomo terdiam. tatapan pria itu terkesan kosong seakan baru tahu.


"Emosionalnya sangat labil. memang, dia selalu terlihat kuat tapi nyatanya.."


"Bukankah Erina yang.."


Tuan Hatomo terhenti bicara di kala tatapan netra kehijauan kelam Rusel tengah menghujamnya. Pria itu seakan membungkam dengan aura tak biasa.


"Kau pikir hanya dia yang sakit?" tanya Rusel mengintimidasi. Jelas ia merasakan bagaimana perasaan Sandra melihat ketidak adilan bahkan kemesraan orang-orang yang seharusnya memberinya perhatian malah melupakannya.


"Istriku tak pernah meminta tapi kalian seharusnya tahu HAKnya bagaimana? bahkan. dia mengemis perhatian di luar sana. dan kalian tak sadar itu." geram Rusel menggertakan giginya.

__ADS_1


Sorot mata benar-benar menyimpan kemarahan yang di mengerti oleh Tuan Hatomo.


"Kau mengaku sebagai ayahnya. kenapa kau biarkan Putrimu di injak oleh Keluargamu sendiri?!"


"Aku tahu." gumam Tuan Hatomo menunduk.


"Aku memang tak berguna. aku tak berhasil memberikan HAK anak-anakku pada semestinya." imbuhnya lagi penuh sesal. tergambar jelas di wajah sendu itu sebuah rasa bersalah yang besar.


"Kalian tak tahu isi hatinya. bagaimana? tak pernah mendengar, atau sekalipun mencoba mengerti. dia hanya butuh Cinta, dan kasih sayang." gumam Rusel berucap penuh kasih di kala membayangkan senyuman cantik di wajah konyol Rumput Liarnya.


Teringat saat ia mengacuhkan Sandra kala itu. wajah yang begitu keras dengan keangkuhan yang khas langsung berubah dengan tangisan dan rasa iba.


"Dia tak pernah menuntut banyak padaku. dia si konyol yang ingin mentraktir seorang Prince dengan hasil keringatnya sendiri. Cih." decah Rusel di ujung kalimatnya dengan senyum geli sedikit tertarik tak menyembunyikan rasa rindunya.


Tanpa di sadari. air mata wanita paruh baya yang tadi mengintip dari balik dinding samping itu turun.


Bahunya bergetar dengan isakan tertahan yang di cegat nafasnya sendiri.


"S..Sandra." gumam Nyonya Tantri memejamkan matanya. Ia tak menyangka jika selama ini Sandra yang terlihat keras dan kuat itu ternyata menyimpan kesakitannya sendiri, ia sebagai ibu hanya bisa menambah luka anaknya.


"M..maafkan aku."


"M..Maa.." suara lirihan dari arah samping. Mata berair sembab Nyonya Tantri bergulir menatap sosok wanita yang tadi baru datang karna terkejut mendengar kabar tentang Sandra.


"Sandra akan baik-baik saja. dia wanita yang kuat." jawab Erina mengusap air mata Mamanya. tentu Nyonya Tantri tak tahu harus berbuat apa hingga ia hanya pasrah di pelukan Erina.


Tatapan mata wanita itu beralih pada sosok rupawan yang masih dalam kecemasannya. Rusel terlihat beberapa kali berdiri di depan pintu ruang Operasi dengan wajah teggang terlihat nyata.


"San! kenapa aku baru sadar sekarang?"


Batin Erina sesak melihat Rusel begitu mengkhawatirkan Sandra. Terlihat jelas jika pria itu begitu mencintai istrinya dan tak ada cela sedikit-pun bahkan walau sebutir debu terkecil di muka bumi ini.


Seandainya dulu aku sadar jika kau dan dia memang di takdirkan bersama, aku sangat bodoh dan rakus sampai mencoba merebutnya darimu.


Penyesalan Erina muncul. Simob yang melihatnya dari belakang sana seketika menghela nafas menenteng Paper-bag melewati Erina tanpa exspresi berlebih.


"Ketua!" ia mendekati Rusel yang tengah menghunuskan tatapan datar.


"Bersihkan dirimu dulu."


"Aku masih ingin disini." tegas Rusel tak bergeming menarik helaan nafas berat Simob yang beralih mendekat dan duduk di samping Rusel.

__ADS_1


Keduanya terlihat lebih seperti sepasang teman dari pada bawahan. Selain Sandra, hanya Simob dan Gurenlah yang berani seperti ini.


"Bersihkan dirimu dulu. Ketua! saat Nona sadar. kau bisa langsung berbicara dengannya. jika tubuhmu bau amis darah begini, Nona bisa mual. Ketua tahu sendiri jika Nona tak bisa mencium aroma menyengat. bukan?"


Ucapan Simob memaksa Rusel untuk berfikir. setelah beberapa lama menimbang-nimbang keputusannya. Rusel segera mengusap wajahnya kasar.


"Kabari aku secepatnya jika ada dokter."


"Baik. Ketua!" Simob memberikan Paper-bag di tangannya. Rusel mengambil benda itu ringan lalu melempar pandangan ke arah pintu ruang operasi seakan menetapkan bahwa ia akan cepat kembali.


"Kau jaga disini."


"Sedia. Ketua!"


Setelah meyakinkan diri. Rusel melangkah pergi ke arah ruangan ganti tak jauh dari sini, ia sempat melewati Erina yang ingin bicara tapi terhenti saat Rusel sama sekali tak menatapnya. Bahkan, pria itu seakan tak melihatnya sama sekali.


"Sudahlah. dia tengah tak tenang. aku tak ingin ada kekacauan lagi."


"Aku mengerti. Ma!" jawab Erina mengangguk.


Namun. mereka segera mendekat saat Dokter Nita, Dokter Fang dan Dokter Kemal sudah keluar.


Simob berdiri segera mendekati mereka bersama Tuan Hatomo.


"Bagaimana? apa yang terjadi?"


"Kami harus memindahkan Bayinya ke dalam Inkubator khusus." jawab Dokter Fang seadanya. Simob menyingkir dikala pintu terbuka memperlihatkan sebuah bangkar kecil yang di pasang berbagai alat dan kabel.


"Sandra! lalu Putriku bagaimana?" Tuan Hatomo cemas. Ia tak bisa melihat apa yang ada di dalam benda itu karna dikerumuni para suster yang segera sigap membawa bangkarnya.


"Mis Sandra masih di tangani. kami harap ini akan berangsur membaik."


Mereka hanya bisa diam membiarkan kembali pintu itu tertutup. Tuan Hatomo tak bisa membendung perasaannya hingga menyusul para suster yang tadi membawa buah cinta sang putri.


"Dia akan baik-baik saja." Erina bicara di samping Simob yang jelas juga mencemaskan Sandra.


Tetapi. pria itu sama sekali tak menjawab, ia bahkan mengacuhkan Erina yang di buat terasa nyeri. Apa sebegitu menjijikan ia hingga tak ada yang sudi menanggapinya?


"Erin!"


"A..aku tahu." gumam Erina hanya tersenyum saja.

__ADS_1


.....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2