Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Berbaikan!


__ADS_3

Tubuh lemah wanita itu tengah terbujur diatas ranjang empuk berwarna pink itu. Wajahnya masih begitu pucat dengan handuk kecil yang tengah mengompres keningnya menstabilkan suhu tubuh.


Selang infus itu sudah tertancap ke punggung tangannya menandakan keadaannya kali ini termasuk membahayakan.


"Ehmm!"


Gumaman yang serak itu lolos dari sela kerongkongan keringnya. bibir yang meringis tapi mata masih terpejam.


Bibik Iyem yang sedari tadi menunggu di sofa sana langsung bangkit mendekati ranjang Nonanya.


"Non!"


"S.e..l!"


Lirih Sandra begitu tak bisa berkata banyak. matanya perlahan terbuka menatap sayu Bibik Iyem yang langsung lega saat manik hitam itu sudah terbuka.


"B...bik!" lirih Sandra berusaha bangkit tapi ia tak bisa. Tubuhnya terlalu lemah dengan kepala yang berdenyut pusing.


"Non! jangan banyak bergerak dulu."


"I..itu.."


Sandra menatap ke sekeliling tempat ini. ia samar-samar ingat kalau baru saja ia melihat wajah tampan dan tenang itu, rasanya begitu nyata bahkan ia bisa memeluknya.


"Ada apa. Nona?"


"S..Sel! kau...kau dimana?"


"Non! sebaiknya Nona istirahat, keadaan tubuh Nona masih.."


Sandra tak perduli ia menyibak paksa selimutnya lalu ingin mencabut selang infus yang ada di punggung tangannya.


"Hentikan!"


Suara itu membuat Sandra terhenti lalu melempar pandangan ke arah depan pintu sana. mata sayunya yang terlihat tak berdaya hanya bisa terpaku diam dengan mata berkaca-kaca.


"S..Sel!"


"Berbaringlah!"


Rusel mendekati ranjang Sandra yang tak tenang. kedua tangan wanita itu terangkat seperti biasa mengisyaratkan untuk memeluknya.


"S..Sel, hiks!" isak Sandra lansung memeluk pinggang kokoh itu. Rusel hanya diam membiarkan Sandra untuk meluapkan perasaanya sejenak.


"K..kau pulang, kau...kau kembali."


"Hm."


Sandra diam. suara Rusel terdengar sangat datar dan apa itu karna Rusel masih marah padanya? apa Rusel tak mau memaafkannya?!


"S..Sel!"


"Tubuhmu masih panas. berbaringlah lagi."


Sandra tak bergeming. ia enggan melepas pelukan dengan handuk kecil di atas keningnya sudah terlepas. matanya yang berkaca-kaca itu membuktikan penyesalan yang kuat.


"Berbaringlah!"


"M..maaf!"


"Kau..."

__ADS_1


"Maafkan aku. Maaf, hiks! maaf!"


Rusel memejamkan matanya mendengar suara isakan Sandra. sungguh rasa sesak itu selalu menghantui dadanya setiap mendengar tangis wanita ini.


"A..aku..aku tak mendengarkan ucapanmu. aku.."


"Berhentilah menangis." ucap Rusel menghapus air mata yang ada di pipi Sandra. ia beralih duduk di samping Sandra yang menatapnya dengan begitu lemah.


"Sel!"


"Hm?"


"K..kau marah?" tanya Sandra bergetar dengan pandangan seakan benar-benar takut. keberadaan Rusel begitu berarti baginya selayaknya ayah dan anak serta pria dan wanita.


"Bagaimana bisa aku marah pada RUMPUT LIAR. sepertimu. hm?" tanya Rusel menyelipkan anak rambut ke belakang teling Sandra yang tampak semakin terharu.


"K..kenapa kau pergi? aku...aku mencarimu."


"Benarkah?" tanya Rusel menyunggingkan senyum samar. Sandra menganggukinya.


"I..iya, aku .aku takut kalau mereka akan menyakitimu. apalagi mereka ingin membunuhmu. aku.."


"Bukankah kalau aku mati. itu lebih menyenagkan."


"Sel!!!" pekik Sandra langsung menyambar bibir Rusel mengigitnya agak kuat.


"Kau.."


"Jangan bicara begitu." tekan Sandra menggeleng tak terima. tatapan matanya berubah sangat tak rela.


"Bukankah kau tak membutuhkan aku?"


"Kau ini gila atau apa. ha? sudah jelas selama ini aku selalu menyusahkanmu!! dasar siluman!!" maki Sandra tapi air matanya masih keluar mengakui itu.


"Seberapa butuh?" tanya Rusel menarik dagu Sandra mendekat hingga hidung mancung itu saling bersentuhan.


Tatapan matamu. dan semua ini aku sangat merindukannya.


Batin Sandra menelan visual sempurna ini untuk mengobati kesepian hidupnya.


"Hm?"


"K..kau mau apa?" lirih Sandra gugup saat sadar jika dadanya terlalu menempel ke dada Rusel yang tengah fokus memandangnya.


"Kau tak benci padaku?!"


"A.. aku.."


"Benci?" tanya Rusel dengan bibir perlahan menempel membuat Sandra mencengkram pinggangnya kuat menahan sengatan yang tiba-tiba menjalar di tubuhnya.


"A..aku benci tapi.."


"Tapi?"


Sandra langsung memejamkan matanya dengan rasa gugup terlihat sangat nyata. Rusel mengamati itu semua dengan desiran hangat muncul di hatinya.


"Tapi,..tapi kau .."


Mata Sandra spontan terbuka lebar saat bibirnya di bungkam Rusel yang mencumbunya lembut bahkan sangat hangat. kelembutan benda kenyal itu ********** penuh dengan kasih.


"J..jantungku!"

__ADS_1


Batin Sandra tak bisa mengontrol degupan jantung di dalam sana. ia tahu Rusel biasanya jarang mencium bibirnya jika tak dalam keadaan kesal atau marah.


Tapi, sekarang kenapa ciuman itu sangatlah lembut dan hangat?!


"Kau tak mau membalasnya?" lirih Rusel merapatkan tubuh Sandra tanpa jarak dengannya.


"A..aku..."


"Sudahlah!" Rusel menarik diri tapi Sandra malah menahan tengkuknya spontan mempertahankan posisi ini.


Bibir keduanya sudah saling menyesap dengan mata Rusel terpaku melihat Sandra terpejam beralih menikmati bibirnya. ada sebuah rasa yang tak bisa Rusel jabarkan saat ini.


"Kau membalasnya!"


Batin Rusel menarik sudut bibirnya kecil. Sandra mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh Rusel yang perlahan membaringkan tubuh Sandra kembali tapi pangutan itu semakin dalam.


"Ehmm!"


Rusel sedikit meremang saat tangan Sandra beralih membelai dadanya. kelihaian wanita ini dalam berciuman begitu mampu membuai Rusel yang sangat puas dan candu.


"Sel!"


"Jangan ke bawah!" serak Rusel menahan tangan Sandra agar tak menyentuh benda di bawah sana. Tatapan Sandra berdalih hampa tapi Rusel tersenyum kecil mengusap pipi lembut itu.


"Kau masih belum sehat. aku tak mau bertempur di setengah jalan."


"A..apanya?" lirih Sandra malu sendiri. Rusel mengulum senyum kecil lalu kembali membuat tautan kasih yang tengah bermekaran.


Tentu Sandra yang sudah tenang tak lagi memikirkan apapun. ia hanya ingin menikmati moment ini selagi bisa dan ia tak akan melupakannya.


"K..kau bilang tak ke bawah!"


"Ini di atas." jawab Rusel meremas dada Sandra yang tak bisa menolak. tapi, Rusel masih bisa menahan diri untuk menjaga anaknya di dalam sana.


"S..Sel!!"


"Diamlah. aku hanya memijat tubuhmu."


"Tapi, tanganmu!" gumam Sandra menekuk wajahnya yang semerah tomat. Rusel masa bodoh, ia mencium dengan lembut tapi tangannya berjelajah di dalam pakaian Sandra yang pasrah.


Pintu kamar itu sedikit terbuka hingga mata penuh iri itu sempat menatap dengan sendu. perlakuan lembut Rusel pada Sandra membuatnya ingin berada di posisi itu.


"S..Sel! jangan ke bawah, hiks!"


"Ini di atas."


"Apanya yang diatas?!" suara Sandra kesal tapi itu lebih pada bermanja. Rusel asik memijat perut dan beralih ke bokong memantik rasa kesal Sandra yang akhirnya cekikikan sendiri.


"Kau mulai nakal. ha?"


"Nakal? siapa?"


"Kau!" jawab Sandra cekikikan menahan tangan Rusel di belakang pinggangnya.


Suara datar Rusel yang biasa dingin malah terkesan sangat memanjakan Sandra.


Tentu siapa saja yang melihat itu tak akan mampu menahan rasa iri seperti sosok di belakang pintu ini.


"San! kenapa kau selalu memiliki segalanya."


......

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2