
Waktu terus bergulir. jam sudah menunjukan pukul 8 malam dimana semua kesunyian itu berkumpul di Kediaman megah ini. seperti biasa hanya ada para pelayan yang sibuk menyajikan makanan diatas meja besar itu.
Mereka menata menu lezat dan istimewa ini sesuai perintah Nyonya Tantri agar Erina memiliki nafsu makan yang meningkat. Erina memang tipe yang rapi dan selalu teratur.
"Apa semuanya sudah selesai?" tanya Nyonya Tantri yang turun dari tangga utama.
"Sudah. Nyonya!"
Bibik Iyem mengisyaratkan para pelayan untuk segera ke belakang mengambil susu yang biasa di minum Sandra.
"Siapkan nampan untuk Erina. dia tak bisa turun untuk makan!"
"Sudah. Nyonya! tinggal di bawa keatas." jawab Bibik Iyem menunjukan nampan berisi piring makanan diatas meja. Nyonya Tantri mengangguk lalu melangkah kembali keatas untuk memanggil Erina.
Ia berpapasan dengan Tuan Hatomo yang terlihat rapi karna ada urusan di luar.
"Suamiku!"
"Aku keluar! ada pertemuan penting di Cam!"
Nyonya Tantri mengangguk memandangi Tuan Hatomo yang turun berpakaian lengkap jasnya. Sepertinya ada masalah Team pemerintah mereka.
"Ma!"
"Erin!" gumam Nyonya Tantri saat Erina sudah berdiri di sampingnya. Wajah lembut wanita ini tampak lebih segar dengan Dress maron yang anggun di tubuh langsingnya.
"Kau sangat cantik!" puji Nyonya Tantri mengusap kepala Erina yang tersenyum malu memeggang lengannya.
"Ma! aku rasa keadaanku membaik."
"Baguslah kalau begitu, kau bilang ada Pertemuan spesialis besok. bukan?"
"Iya. Ma! mungkin akan banyak Forum nantinya." jawab Erina menghela nafas terlihat sudah biasa. Nyonya Tantri tersenyum kecil mengusap punggung Erina dengan hangat.
"Ingat. kau harus memperhatikan kesehatanmu. sudah cukup selama ini kau berusaha keras, jangan abaikan pesanku!"
"Iya. Ma! lagi pula aku tahu bagaimana cara menjaga diri." jawab Erina memeluk Mamanya dengan kedekatan yang tampak oleh netra hitam indah wanita di Koridor kanan sana.
Seberapa sakit dan sesak dada Sandra sekarang sudah terasa kebas. jangan di tanya ia baik-baik saja karna ia hanya akan selalu dalam keadaan buruk.
"San!"
Sandra segera membuang muka saat Erina memanggilnya. ia melangkah kearah tangga utama dibaluti Piyama tidur berwarna hitam yang kontras dengan kulit putihnya.
"San! apa kau mau turun ke bawah?"
"Biik!"
Sandra melewatinya seakan tak mendengar. Ia hanya fokus pada pandangan lurus ke bawah sana.
"Biiik!"
"Iya. Non?" Bibik Iyem mendekat.
"Makananku di bawa keluar. ya?"
__ADS_1
"Iya. Non!"
Sandra melangkah ke pintu samping dimana ada batas kaca yang memperlihatkan pemandangan indah Taman samping dengan penerangan lampu Neon yang cantik.
Langkah Sandra tertuju ke arah tempat santai di bawah pohon yang biasa ia duduki jika tengah sendiri.
"Apa kabar?" sapa Sandra pada bebangkuan di bawahan pohon ini. Ia duduk di sana menikmati keheningan malam gelap di sekitarnya.
"Non!" bibik Iyem datang membawakan nampan berisi makanan kesukaan Sandra. Ada Bebek panggang saos ikan serta kepiting rebus asap. semuanya tampak lezat.
"Terimakasih. Bik!"
"Iya. Non! makan yang banyak, Bibik lihat tubuh Nona kurusan." kelakar Bibik Iyem yang nyatanya Sandra tampak lebih gemoy dan berisi. tubuh montoknya yang tinggi memang sangat menggairahkan.
"Bik! apa aku gendut?" Sandra meraba pipi terusnya yang terasa agak mengembang.
"Tidak. Nona cantik dan semakin indah, sangat sempurna."
"Jelas! aku tak suka di bandingnya dengan Sapu Lidi di Kediaman ini."
Bibik Iyem hanya menggeleng saja. ia tahu apa yang di maksud Sapu Lidi oleh Sandra karna Erina memang termasuk kurus darinya.
"Makanlah. Non! nanti dingin."
"Baiklah. Bibik duduk disini temani aku." ajak Sandra menarik lengan Bibik Iyem untuk duduk di sampingnya.
Sandra sebenarnya ingin menanyakan sesuatu yang mengusiknya sedari sore tadi. apa lagi Rusel tak terlihat setelah ia bangun tadi.
"Ada apa. Non?" tanya Bibik Iyem merasa ada yang menjanggal di pikiran Sandra.
"Tuan Tampan itu?"
Sandra mengangguk serius. tiba-tiba saja Rusel tak ada di kamar dan ia cemas karna pria itu belum tahu betul wilayah disini.
"Tadi, Bibik memberikan kunci lemari Nona padanya!"
"K..kunci?" tanya Sandra tak ingat. Bibik Iyem mengangguk.
"Iya. Non! tadi Nona tidur, jadi Bibik berikan padanya. memangnya dia tak memberikannya?!"
Sandra diam. ia belum bertemu dengan Rusel sedari bangun tadi, seperti biasa pria itu menghilang tanpa sebab yang jelas.
"Aku belum bertemu dengannya. Bik!"
"Mungkin saja Tuan Tampan itu ada urusan di luar, soalnya tadi Bibik lihat dia tengah menelfon."
"M..menelfon?" tanya Sandra membuat Bibik Iyem mengangguk. maksudnya apa? bukankah Rusel tak punya ponsel? tapi...
"Mungkin saja itu dia pinjam dari Tetua! dia itu-kan Siluman Serba guna." gumam Sandra menepis dugaan yang tidak-tidak.
"Non!" lirih Bibik Iyem saat ia ingat jika Mantan Kekasih Sandra sering datang kesini untuk melihat apa Sandra sudah pulang atau belum? ia khawatir jika Daniel kesini maka akan menganggu Nonanya.
"Ada apa. Bik?"
"Sebenarnya semenjak Nona pergi. Tuan Daniel sering kesini."
__ADS_1
"Daniel?" tanya Sandra syok. ia terlihat tak percaya dengan ucapan Bibik Iyem barusan.
"Iya. Non! dia sepertinya sangat ingin bertemu Nona tapi Tuan dan Nyonya tak mengizinkannya."
"Benarkah? dia ingin menemuiku?" gumam Sandra lagi-lagi merasa ini begitu mimpi. pria itu begitu menjijikan sampai tak tahu rasa malu datang kesini.
Raut marah Sandra terlihat jelas dari mata elang Rusel yang baru saja pulang setelah mengurusi urusannya. ia mendengar semua pembicaraan Sandra yang sampai raut wajah wanita itu jadi tanda tanya di benaknya.
"Kenapa baru sekarang dia menemuiku?" geram Sandra mengepal. Rusel memejamkan matanya menahan perasaan marah tapi jujur ia tadi hanya meredakan emosinya.
"Setelah apa yang dia lakukan. dan seenaknya saja me.."
"Non!" lirih Bibik Iyem saat melihat Rusel yang ingin kembali masuk ke dalam Kediaman.
Sandra tersentak melihat Rusel yang sudah pulang tapi tak mendatanginya.
"Seel!!!" panggil Sandra membuat Rusel terhenti menghela nafas tenang.
"Sel! kau dari mana saja?" tanya Sandra melangkah mendekat. Rusel segera menormalkan raut wajahnya.
"Ada urusan di luar!"
"Kau ini sembarang keluar, kau belum paham betul Kediamanku bagaimana?!" jengkel Sandra berdiri di hadapan Rusel yang menatap wajahnya datar.
"Sel!" panggil Sandra saat merasakan tatapan Rusel ini agak berbeda.
"Ini!" Rusel mengeluarkan sesuatu dari jaketnya dan itu adalah kunci lemari yang di katakan Bibik Iyem tadi.
"Masih ada rupanya." gumam Sandra mengambilnya lalu menyimpan ke saku Piyamanya membuat Rusel membuang muka kearah lain.
"Di luar dingin. masuklah ke dalam."
"Temani aku di luar. ya?"
Rusel memandang Sandra dengan rumit. apa Sandra tak paham dengan situasinya sekarang? ia ingin sekali mengatakan jika ia tak suka nama pria itu di sebutkan oleh bibir istrinya sendiri.
"Sel! apa kau sakit?"
Sandra meletakan punggung tangannya kekening Rusel yang melihatnya tanpa berkedip.
"Tubuhmu tak panas. atau kau.." Rusel langsung memeluk Sandra yang tercekat dengan dekapan spontan ini. tubuhnya kaku tak bisa bergerak.
"S..Sel!" lirih Sandra merasa pelukan Rusel begitu kuat. ia mencengkram punggung kekar Rusel yang sungguh memendam perasaan yang tengah bergejolak.
"Sel!!" geraman Sandra menyadarkan Rusel yang segera melepas pelukan. ia terlihat merasa bersalah memeggang kedua bahu Sandra.
"Apa aku menyakitimu?"
"T..tidak, tapi ..tapi aku sulit bernafas karnamu." gumam Sandra mengambil nafas dalam. Rusel mengumpati dirinya yang terlalu memaksa seperti ini.
"Ayo. aku temani makan!"
.....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1