
Pernyataan dari Nyonya Mira barusan membuat mereka semua terkejut bukan main termasuk Letkol Traniaga yang langsung menatap perut Sandra. para media sana juga tak menyangka dengan semua ini.
Cemas dan gugup. itu yang tengah di kendalikan oleh Sandra. tatapan semua orang begitu bertanya-tanya padanya bahkan ada yang dengan miris memandangnya.
"Selama ini keluarganya menutupi aib besar yang mencoreng nama Keluarga Hatomo. apa kalian masih ragu?"
Sandra diam masih duduk di posisinya. Dewan Pers yang sulit menerima ini-pun segera mendekati Sandra.
"Apa benar yang di katakan. Nyonya Mira?!"
"Nona!" lirih Letkol Traniaga mengisyaratkan Sandra untuk diam dan jangan bicara lagi.
"Ini sudah menyangkut masalah pribadi, tak ada hubungan apapun dengan kasus pembunuhan yang ingin di selesaikan." bantahnya keras.
"Maaf, tapi. aku hanya ingin kalian tahu bagaimana busuknya wanita ini." ucap Nyonya Mira memojokkan Sandra yang tak tahu harus bicara apa. semuanya akan terbongkar disini.
"Nona Sandra. berikan pembelaan-mu." Dewan Pers masih memberi waktu.
Tapi, Sandra tetap diam menatap Rusel yang terlihat juga bungkam ntah apa yang dia tunggu Sandra-pun tak mengerti.
"Nona Sandra! jika kau diam, berarti itu benar."
"San!" lirih Nyonya Ember masih tak percaya. ia menunggu jawaban dari Sandra yang masih bingung.
"Sekali lagi. Nona Sandra!"
"Dia tak akan bicara karna itu semua benar. kalau kalian tak percaya, coba peggang perutnya." Suara Nyonya Ayni membumbui suasana yang memanas.
Sandra menarik nafasnya dalam-dalam. kakinya mulai dingin dengan dobrskan jantung yang menggila, mungkin Rusel tak mau ini semua terpublikasi dan ia harus menutupinya.
"Nona Sandra! apa kau benar sedang ha..."
"Benar!"
Jawaban itu spontan membuat salah satu kamera Media meloncat dari tangannya begitu juga mata mereka melebar sungguh tak percaya.
Nyonya Mira dan Nyonya Ayni menyeringai licik melihat ini semua akan berpihak pada mereka.
"S..San!" Nyonya Ember menutup mulutnya syok. pantas saja saat berpelukan tadi ia merasakan tonjolan di perut Sandra dan tak biasanya wanita ini memakai Dress jika keluar.
"Aku memang hamil. lalu apa urusannya dengan kalian?"
"Jelas kami punya urusan. karna kau si pembuat malapetaka dan perempuan tak tahu malu di dunia ini." maki Nyonya Mira benar-benar merendahkan Sandra.
Sandra mencengkram kedua sisi Dressnya. ia merasa malu di tatap jijik para Media sana apalagi pasti Citranya bertambah rusak.
"Siapa ayah dari bayimu. Nona?"
"Siapa lagi kalau bukan Tuan Muda Raharja!" sambar Nyonya Mira semakin memperburuk keadaan. ia begitu bangga mendongakan wajah menatap semua orang yang ada di dalam ruangan ini.
Cih. kali ini kau tak akan lolos, semua keburukanmu sudah ku ketahui dan tak akan pernah ku lepaskan.
"Tuan Muda Raharja? berarti ayah dari bayimu adalah.."
"Dia sangat tak pantas."
Sandra langsung menatap Rusel yang sudah berdiri dari duduknya. tatapan manik kehijauan tajam itu mengambil perhatian semua orang untuk tertuju padanya.
"Kau pasti kekasih baru wanita menjijikan ini." desis Nyonya Ayni tak bisa menjaga etikanya.
Kepalan tangan Rusel sedari tadi terlihat benar-benar kuat memperlihatkan lilitan urat kemarahan yang berusaha ia tahan dikala Istrinya terus di maki seperti itu.
"S..Sel!" lirih Sandra terlihat sendu melihat Rusel melangkah naik ke atas panggung dengan begutu gagah dan berkharisma.
Team Penyidik SEPRA dan Kepala Dapartemen Pemerinta disini-pun saling pandang langsung berdiri spontan. Mereka tak tahu ketika Rusel naik kesini rasanya mereka terlalu kecil dan segan.
"Bukannya itu yang di akui sebagai kekasih Nona Sandra tadi?"
"Yah. kenapa dia memakai masker?"
Para media sana saling berbisik tapi Rusel hanya acuh seakan disini hanya ada Sandra yang harus ia tuju.
"Kenapa kau naik? mereka bisa menghakimimu." lirih Sandra bisa di dengar Nyonya Ember yang masih syok berat.
"Aku tak terima di gantikan orang lain." jawab Rusel mengusap kepala Sandra lembut membuat mereka cukup melayang akan adengan ini.
"Anda siapa? jika tak berkepentingan silahkan kembali ke.."
"Aku suaminya!"
__ADS_1
Duarr...
Lagi-lagi kamera media sana terjatuh mendengar pernyataan baru yang lebih mengejutkan lagi. Sandra juga tersentak dikala mendengar suara tegas tenang khas Rusel yang mengatakannya.
"A..apa lagi ini?!" Nyonya Ember mengusap dadanya.
Sedangkan Nyonya Mira dan Nyonya Ayni tak lagi mampu bicara dengan tatapan kosong merebak naik. apa-apaan ini? bukankah Karina mengatakan kalau Sandra di hamili Daniel?
"Kau jangan memutar balikan fakta!"
"Aku mengerti."
Rusel berdiri menatap tegas mereka semua. sepertinya ia tak lagi bisa untuk menyembunyikan identitasnya karna kehormatan Sandra di pertaruhkan disini.
"Aku memang ayah dari anak itu dan kami sudah menikah beberapa bulan yang lalu."
"Buktinya?" Dewan Pers begitu penasaran.
Simob yang sudah menyiapkan segalanya langsung menaiki panggung membawa Dokumen dan surat-surat yang resmi di Negara ini.
"Ini buku nikah Ketuaku dengan Nona Sandra dan sudah di tandatangani kedua belah pihak."
"Berikan!" pinta Dewan Pers memeriksa Dokumen resmi yang di serahkan Simob. mereka saling melihat dan sesekali menatap Sandra dan Rusel yang terlihat serasi.
Sandra yang belum keluar dari rasa tak percayanya langsung memeggang lengan Rusel dengan mata berkaca-kaca. ia berniat memberi Rusel kejutan tapi nyatanya ia yang terkejut.
"S..Sel!"
"Aku bangga memilikimu." jawab Rusel mengusap puncak kepala Sandra yang langsung menahan rasa yang tak terjabarkan di dadanya.
Namun. ada yang aneh dari raut Dewan Pers dan Kepala Penyelidik SEPRA yang tadi melihat isi Dokumen itu. wajah yang memucat bahkan tangannya berkeringat dingin menatap Rusel yang tahu arti respon ini.
"J..jadi dia.."
"Kau Putra Mahkota Kerajaan Dezon?" tanya Kepala Penyelidik SEPRA syok langsung membungkuk diringi Dewan Pers yang hampir ingin pingsan.
Letkol Traniaga juga kembali terkejut mendengar semua itu. ia menatap Rusel dengan pandangan menyelidik hingga Rusel tak lagi ingin bersembunyi. ia segera melepas tali maskernya hingga mata Letkol Traniaga seakan meloncat keluar.
"Yang Mulia!!"
Mereka spontan membungkuk membuat Sandra kebingungan. Nyonya Ember juga tunduk sama seperti orang-orang di ruangan ini.
"Maafkan kami. Yang Mulia!"
Sandra langsung berdiri menatap bingung semuanya. maksudnya apa? kenapa mereka memanggil Rusel yang mulia?!
"Sel! kenapa semuanya jadi aneh begini?"
"Akan ku jelaskan nanti." jawab Rusel menggenggam tangan Sandra lembut. sekarang semuanya sudah terlanjur, ia harus cepat menyelesaikannya.
"Angkat wajah kalian!"
"Baik!" mereka spontan mengikuti titahan itu. Simob mengulum senyum melihat wajah cantik Sandra masih terbengong.
"Untuk kasus pembunuhan ini Istriku sama sekali tak bersalah. aku akan berikan semua buktinya ke Team penyidik dan siapa dalangnya."
"Y..Yang Mulia! kenapa anda tak mengatakan ini dari dulu? kami tak akan mempersulitnya." segan Dewan Pers membuat wajah tampan rupawan Rusel yang tengah di idamkan wanita disini mengeras.
"Apa karna itu kalian seenaknya?"
"Maaf. Yang Mulia! kami tak berani."
"Semua bukti sudah jelas, dan aku juga punya saksi kuat. Istriku tak bisa kalian proses seenaknya atau akan ku hancurkan hudup kalian detik ini juga."
"Maaf. Yang Mulia!"
Mereka menunduk tak berani menatap Rusel yang sudah menyiapkan segalanya. Wanita yang hari itu di suruh Karina dan Anju sudah ia kirim ke Team penyidik bersama dengan rekaman CCTV dari luar Rumah Sakit.
"Dan kau.."
"Y..Yang Mulia!" Nyonya Ayni dan Nyonya Mira langsung gemetar. sungguh mereka tak begitu kenal dengan penguasa langit Rusia ini tapi dari cara bicara dan auranya sudah jelas lebih mendominasi.
"Aku ingin mereka di hukum sesuai aturanku."
"M..maksud anda?" tanya Nyonya Ayni gugup pucat pasih.
"Simob!" panggil Rusel dan tentu kaki tangan setia Putra Mahkota itu maju ingin memberi satu hukuman yang tak akan terlupakan.
"Disini di luar prosedur hukum Negara. kami menjalankan hukuman daerah. serahkan dia 10 menit padaku." pinta Simob melenturkan tangannya.
__ADS_1
"Silahkan. Tuan!"
"K..kau mau apa?" gugup keduanya benar-benar takut jika nanti mereka akan di eksekusi. suaminya sudah tak pulang beberapa hari ini dan semuanya juga hancur.
"Kosongkan ruangan ini!" tegas Rusel langsung membuat mereka keluar termasuk para Media yang sudah tak mau mencari gara-gara.
Kapten Juna yang tadi sudah tahu siapa yang dulu ia lawan dan itulah penyebab jabatannya hampir tergeser.
"Keluarlah. atau kalian akan jadi tunawisma beberapa detik saja." guman Kapten Juna ikut keluar sehingga ruangan ini kosong menyisakan anggota Rusel yang menjaga pintu.
"Sel! kau mau apa?" tanya Sandra heran. ia masih belum mengerti dengan semua ini.
"Kau harus melihat sesuatu."
"Tapi..."
Plakk...
"Sel!!" pekik Sandra terkejut saat suara tamparan utu menggelegar dan ia spontan melebarkan mata melihat Simob dan Guren tengah menampar wajah dua wanita itu.
"T..Tuan!!!"
Jerit mereka keras tapi Simob dan Guren bukanlah orang biasa. mereka yang selalu melayangkan kaki dan tangan setiap ada yang ingin mengusik Ketuanya.
"Kau begitu pandai memaki Nonaku. rasakan kebinalan-mu sendiri."
Desis Guren semakin menamparnya kuat sampai bibir Nyonya Mira pecah menyemburkan darah.
Sandra menelan ludahnya kasar merasa ini terlalu menyeramkan. ia tahu berapa pukulan yang akan di layangkan Guren dan Simob sampai wanita itu diambang kematian.
"S..Sel! apa tak akan datang Karma jika memukuli orang tua?"
"Apa tak akan kena karma kalau melawan suamimu?" tanya Rusel lagi membuat Sandra ngeri tak mau disini.
"Ayo keluar! aku ingin bertanya padamu."
"Nanti saja, aku harus pergi mengurus masalah ini dulu." jawab Rusel membawa Sandra turun.
Tentu rasanya Sandra lelah seharian begini terus. tapi ia lega karna masalahnya sudah mulai merenggang.
"Jawab dulu pertanyaanku."
"Nanti saja." tegas Rusel
Sandra semakin di landa penasaran. apa Rusel tadi berbohong soal identitasnya? memang dari segi apapun Rusel lebih pada seorang Pangeran tapi mustahil ia menikah dengan seorang bangsawan.
"Sel! apa demi aku kau rela berbohong satu dunia?"
"Menurutmu itu kebohongan?" tanya Rusel menarik satu alisnya dengan wajah tetap datar. Sandra mengangguki itu dengan polosnya seakan tak percaya sama sekali.
"Tak mungkin aku menikahi seorang Putra Mahkota. aku ini tak cocok mendapatkan hal sebagus itu."
"Hm." gumam Rusel tak mau menyela. ia harus punya waktu intens untuk mengatakan ini pada Sandra.
"Baiklah. kau pergilah pulang lebih dulu, aku harus menemui mereka."
"Sel!" lirih Sandra menggeleng tapi Rusel mengecup kilas pelipisnya seraya mengiringnya keluar. di sana sudah ada Anya yang datang membawa mantel dan Paper-bag.
" Ketua!"
"Bawa istriku pulang."
"Tapi, kau cepat pulang-kan?" tanya Sandra masih tak rela. Rusel menghela nafas menangkup pipi Sandra yang mulai Chubby ini.
"Akan ku usahakan. ini mungkin agak lama karna aku juga harus mengurus soal penabrakanmu."
"Baiklah. cepat pulang."
"Hm. pergilah!" .
Ucap Rusel mendorong pelan Sandra ke arah Anya yang mengangguk dengan tatapan penekan Rusel yang selalu memerintahkan agar menjaga Sandra dengan baik.
"Cepat pulang!"
"Yah!"
"Janji!!" ucap Sandra yang di tarik pelan Anya untuk melangkah. Rusel tak pergi sebelum Sandra menghilang dari pengawasan mata tajamnya yang seakan menjadi kata cadangan bagi wanita itu.
"Sekarang. kau ingin sembunyi dimana?!" guman Rusel menatap jam di pergelangan tangannya. perkiraannya tepat sasaran sekarang tinggal mengepungnya saja.
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang..