Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Kisah sebenarnya!


__ADS_3

Pemaparan layar monitor dari arah mobil itu terlihat jelas. Bala bantuan dari arah Gerbang Istana membuat anggota penyerang dari dalam cukup terkejut. Jumlah mereka imbang hingga terlihat sedikit raut gentar diantara anak buahnya.


"Sial!!! mereka berhasil mengait bantuan." umpat Nyonya Loure yang duduk di kursi mobilnya. Ia di dampingi oleh Jarcol yang merupakan anggota baru di Aliansi penggabungan ini.


"Nyonya! apa yang akan anda lakukan?"


"Jangan mundur! ini sudah terlanjur." titah Nyonya Loure terus memantau monitor. mereka punya Dron untuk melihat bagaimana situasi di sana. walau jarak Kerajaan dari tempat ini tak begitu jauh.


Suara gemeriuh itu terdengar jelas dan ramai. Nyonya Loure terlihat tegang karna ia harus memutar rencana agar tak gagal.


"Lucas!!!"


pria yang di panggil itu terperanjat dari lamunanya. Netra coklat miliknya meringsek melihat layar monitor Momynya.


"Mom!"


"Hubungi anggota di daerah lain. kita tak bisa mundur."


Dengan patuh Lucas menyanggupi. Ia mengeluarkan ponselnya memanggil Aleno yang sudah di tugaskan ke daerah lain di sisi Dezon.


"Hello. Sir!"


"Dimana Aleno?"


Tanya Lucas menyeringit saat yang mengangkat panggilan ini adalah anggota yang lain.


"Kami tadi di hadang pasukan Istana! Tuan Aleno sempat membawa mereka ke arah lain."


"Dimana?"


"Kami tak tahu. Sir! sekarang kami tengah di kepung."


"Kauu..."


Tutt...


Sambungan mati. Lucas melempar pandangan kosong pada Nyonya Loure yang mengepal. Pria itu memang sangat tak bisa di andalkan.


"Mom! di sana juga tengah di serang."


"Tak berguna! dia hanya menghadapi separuh tapi sudah kabur. Cuih!" umpat Nyonya Loure berdecih jijik. Ia mengamati pertempuran ini. Anggota mereka mulai kewalahan karna Kerajaan Dezon mampu memutar keadaan dalam sekejap.


"Kita kalah jumlah. Nyonya!"


"Tak hanya itu." gumam Nyonya Loure merapatkan giginya geram. walau ia sudah memberi tahu jangan pernah berfikiran kosong dan ragu di sana tapi tetap saja, walaupun Raja Mikes atau Feliks tak turun tangan. Mereka tetap terdesak.


"Mereka membaca pergerakan dengan cepat. semua daerah yang di data Kerajaan lemah itu sudah di perketat."


"Mereka sangat cerdik. Nyonya." gumam Jarcol kagum tapi segera bergidik dikala pandangan menusuk Nyonya Loure seakan mencekiknya.


"Tak ada yang lebih cerdik dariku."


"Mom! apa tak sebaiknya kita mundur."


"Diamm!!!" bentakan Nyonya Loure membuat Lucas terbungkam rapat. Wajahnya kosong melihat ambisi besar di mata Momynya. Kenapa aku merasa aneh? Momy terlihat berbeda.


"Kerajaan itu harus di ambil alih. tak ada yang bisa memimpinnya!"


"Mom. kau mengatakan jika kita akan menghancurkan segalanya, lalu kenapa kau ingin me.."


"Apa yang kau tahu. ha?"


Lucas tertegun. lirikan netra tajam Momynya seakan menjadi berbeda. Ia mendapatkan sebuah hasrat besar dan ambisius yang Ekstrem di dalam sana.


"Sekarang. kau turun!"


"M..Mom!"


"Pergi ke sana dan masuk ke dalam Istana! kau serang dari dalam."


Titahnya tegas dan penuh tekanan. Mau tak mau Lucas mengangguk keluar dari mobil lalu masuk ke Mobil satunya. lucas melajukan benda itu menembus kegelapan yang mulai membayang di langit sana.


Ia memberi pesan pada beberapa anggota agar bersiap di tempat karna mereka akan melewati jalur belakang.


"Kami Siap. Tuan!!"


"5 menit." ujar Lucas memasang Earpiche-nya. Ia melesatkan Mobil diantara marka jalan dan segera menyalip ke area belakang yang sunyi. Lucas tahu seluk beluk Lingkungan luas Istana yang di kunci Dua gerbang jadi sulit untuk masuk ke Gerbang ke 2.


"Tuan!!"

__ADS_1


Anggota lainnya sudah menyalakan lampu batang di tangannya menghentikan Mobil Lucas tepat di balik beton tebal Istana.


"Tuan!"


"Bagaimana di dalam?" Lucas keluar seraya mengeluarkan pistol dari balik saku jaketnya. Dari sini ia bisa mendengar suara baku tembak dan pembacokan dengan jelas dan mengerikan.


"Keadaan masih belum stabil! mereka telah menutup semua akses ke Istana Utama. data Kerajaan yang kita dapatkan sudah tak berguna." jawab salah satu dari 5 pria itu.


Lucas hanya menghela nafas melangkah ke arah tempat pembuangan di belakang. Ia sering kesini untuk memantau keamanan dan ada satu lorong yang hanya di ketahui Lucas.


"Ikut aku!"


Mereka membuntuti dengan cepat. Lucas tak membuang waktu yang terus bergulir mengantarkan mereka ke balik semak-semak di bagian belakang Istana. Lucas menghidupkan senternya mengais beberapa rerumputan yang tertimbun salju hingga menemukan sebuah besi penghalang di atas permukaan tanah.


"Apa ini? Tuan!"


"Ini jalan pintas. memang agak menjijikan tapi ini cukup mempersingkat waktu." jelas Lucas yang di angguki mereka. Para anggotanya membuka benda besi itu hingga air di dalam sana sedikit meluap membawa aroma lumpur beku.


"Kami duluan!"


"Pergilah!"


Mereka masuk bergantian dengan Lucas yang melihat-lihat situasi. Saat semuanya sudah lolos barulah ia turun ke bawah dengan senter tetap menyala.


"Tuan!" suara mereka menggema dengan setengah betis terendam lumpur dan air yang begitu dingin. Sepertinya suhu di luar memang membekukan beberapa partikel cair disini.


"Jalan ke depan. kita hanya punya waktu singkat karna ini sangat dingin."


"Kami mengerti."


Mereka berlari kedepan dengan senter menyinari lorong yang cukup luas ini. Dinding-dinding besi gang ada di dalam tampak membeku dengan beberapa hewan melata bergerak di bawah air dingin ini.


"Cepat!!"


"Suhunya semakin dingin. kita bisa mati sia-sia."


Lucas tak memperdulikan keluhan anggotanya. Ia memotong lebih dulu meninggalkan mereka di belakang.


"Tuan!!"


"Beban!" geram Lucas sungguh tak menyangka. Sekutu yang mereka bawa bekerja sama begitu tak ada yang bisa di andalkan.


"Tuaan!!"


Lucas tak menghiraukannya. Ia menaiki tangga batu ke atas hingga dengan kuat Lucas mendorong tutup besi di atas yang tertimbun Salju.


"Siall!" umpat Lucas di kala ini sangat dingin. Ia memaksakan tangannya mendorong hingga barulah benda itu terlepas dengan udara beku yang mulai mengalun.


"Tunggu aku Mikes." geram Lucas keluar dari lorong dan langsung berlari ke arah Pintu belakang Istana. Ia memasang peledak di semua sisi Bangunan hang ia lewati. tentu ini di luar rencana dari Nyonya Loure.


"Aku akan membunuhmu sekarang juga." gumam Lucas terbakar emosi. Ia terus berlari sampai keheningan Istana memudahkan Lucas ke lantai atas menuju ruangan yang biasa Raja Mikes duduki.


Namun. saat tiba di sana Lucas tak menemukan siapapun. hanya ada sofa dan beberapa buku di atas mejanya.


"Dia melarikan diri."


"Aku disini!"


Degg...


Lucas terperanjat saat ada suara di belakangnya. Ia spontan berbalik mengacungkan pistol ke arah sosok ini.


"Kauu!!"


"Akhirnya kau pulang." suara datar dan begitu berkharisma. Sosok tinggi dengan manik kehijauan tajam membunuh itu mampu membius Lucas agar tenggelam dalam rasa takutnya.


"Kau pecundang!!" maki Lucas mendidih panas. terbukti dengan tatapannya terlihat menelan Raja Mikes hidup-hidup.


"Semua orang-orangmu berjuang di luar sana. tapi kau... kau bersembunyi di ketebalan diding Istana-mu ini." imbuh Lucas lagi merendahkan.


Tak ada raut amarah dari wajah tampan berkharisma milik sang raja. tatapannya bahkan terkesan begitu melukis seseorang pada diri Lucas.


"Branendt!"


"Jangan menyebut nama Ayahku dengan mulut kotormu!!" maki Lucas naik pitam. Ia sangat muak dengan semua ini bahkan ia tak tahan lagi.


"Kau sangat polos sepertinya."


"Kau jangan mempermainkan-ku. aku tak akan tertipu dengan semua ini. Bajingan!!" umpat Lucas dengan cepat melesatkan tembakan.

__ADS_1


Dorrr...


Matanya mengigil penuh kebencian melihat pelurunya susah melesat ke arah dada sebelah kanan Raja Mikes. Ia tak percaya jika pria ini hanya diam menerima serangannya.


"Apa...Apa yang kau rencanakan. haa???" suara Lucas frustasi. Ia tak mau di bodohi seperti Ayahnya. ia tak akan melepaskan pria ini.


Bukannya membalas. Raja Mikes hanya menipiskan senyuman, ia terlihat tak menyimpan emosi pada Lucas tak seperti biasanya.


"Kau pantas melakukan ini."


"Benar! aku sangat ingin membunuhmu. kau yang begitu kejam menghabisi Ayahku!!!" bentak Lucas kembali menembak dada yang sama bahkan sekarang bagian perut Raja Mikes yang tetap diam berdiri tegap walau darah sudah menetes di lantai sana.


"Sialan!!! kau pasti merencanakan tipuanmu!! kau ingin menghabisi aku dan Momyku!! tak cukup kau merampas kebahagiaan Momyku. ha??"


"Kebahagiaan yang mana?"


Lucas beralih menatap kearah pintu. Ia mengalihkan bidikan pistolnya ke arah sosok wanita elegan yang terlihat begitu tenang dengan gestur kepemimpinannya.


"Kau...Kau-pun sama!! kalian benar-benar iblis!!"


Ratu Bellarosa hanya diam. Ia tak gentar atau takut tapi lebih jijik, Loure begitu di butakan oleh hasratnya sampai memperalat anaknya sendiri.


"Kebahagiaan mana yang kau maksud?"


"Kau jangan pura-pura lupa. kau tahu segalanya!!" geram Lucas dengan mata mengigil menahan luapan amarah dan dendam. Tapi, Ratu Bellarosa melihat kekosongan dan bimbang di sana.


"Aku tahu segalanya. bahkan apapun yang tak kau tahu."


"Woww! kalian pasangan serasi, yang satu si penjilat dan yang satu wanita pendusta." makian Lucas hanga di jawab wajah datar kedua sepasang suami istri itu. ntah kenapa keduanya terlihat mengerikan jika sudah menunjukan kebekuan wataknya.


"Branendt akan menyesal mengakui kau sebagai putranya."


"Kau..."


"Kau buta dengan omong kosong Momymu!"


Lucas terdiam. ia seketika membayang pada ucapan Sandra kala itu. maksudnya apa? tak mungkin ia salah.


"Kau..kau jangan menipuku."


"Aku tak menipumu!" tegas Ratu Bellarosa begitu serius seperti biasa.


"K..kau..."


"Momymu yang sudah mengkhianati Ayahmu!"


"Jangan membual!!!"


"Aku tak membual." jawabnya dengan tenang. Lucas menggeleng tak terima itu semua.


"Saat tahu Loure mencintai Raja Mikes dan hanya menikah terpaksa dengannya demi sebuah jalan pintas ke arah Tahta. ia langsung mengambil keputusan besar."


Lucas tersentak hebat. tatapannya terlihat berada di ujung tanduk mencerminkan keadaan hatinya.


"T..tidak.."


"Saat dia tahu Momymu hanya memanfaatkannya. kala itu Loure tengah mengandungmu dengan rencana yang begitu besar. ia tahu jika Branendt adalah orang yang lugu hingga mengatakan jika dia senang jika Branendt mati di tangan orang yang dia cintai. maka ia akan berhenti melanjutkan rencananya. Branandt percaya itu hingga menusukan dirinya saat latihan pedang bersama Saudaranya."


Jelas Ratu Bellarosa ingat dengan pasti. Raja Mikes hanya diam tak merasakan lagi bagaimana kesakitan Istrinya. ntah Ratu Bella lupa atau mungkin rasa sakit itu sudah melampaui batasnya.


Lucas menjatuhkan pistolnya. Tatapan pria itu berubah kosong dengan dada berdebar memberontak di dalam sana.


"T..tidak.."


"Aku yakin kau bisa merasakannya."


Lucas dengan nanar menatap Ratu Bellarosa yang terlihat tak main-main. b..benarkah? a..apa selama ini Momynya juga melakukan hal sama padanya. bahkan, hari itu ia di perintahkan membunuh Rusel.


Di waktu yang sama. Rusel ternyata mendengar dan menyaksikan semua ini. ia berdiri tak jauh dari pintu menatap Lucas yang bersandar ke dinding sana.


"M..Momyku..."


"Dia ingin mengambil alih Kerajaan!"


Degg...


...


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2