
Perdebatan yang terjadi di Kantor Polantas tadi menghadirkan rasa kesal yang menggunung di wajah Sandra. Ia sekarang ada di dalam Taksi dimana Rusel duduk di sampingnya dengan hujaman tatapan dingin pria itu sedari tadi menganggunya.
"Apa??" ketus Sandra melirik jengkel Rusel yang masih berwajah datar bahkan tak bisa Sandra tepis kalau sekarang ia tengah gugup.
"Kau tahu apa yang kau lakukan tadi itu?!" suara Rusel terkesan menekan dan sangat kelam.
"Dia yang mulai duluan. kalau..."
Sandra langsung berhenti bicara saat raut wajah Rusel semakin mengeras seakan mengatakan untuk DIAM.
"Maaf!" lirih Sandra menunduk meremas jemarinya. hal yang selalu ia lakukan ketika sadar dan gugup.
"Kau bukan sendiri. kau sadar kau sedang hamil. ha?"
"Tapi..."
"Kau masih menjawab-ku." geram Rusel membuat Sandra menciut tak berani lagi bicara. ntah kenapa pria ini lebih menyeramkan dari Papanya?!
"Bagaimana kalau kau celaka bahkan, kau bisa mengorbankan orang lain."
"Maksudmu Erina?" lirih Sandra masih belum berani menatap wajah bergurat murka Rusel.
"Kau tak berfikir tentang pengendara lain di sekitarmu?! para pekerja jalanan sampai masyarakat disini. kau tak hanya membahayakan dirimu saja tapi juga orang lain." jelas Rusel penuh penekanan di setiap kata-katanya.
"Tapi kan aku.."
"Terserah kau saja." acuh Rusel mendorong Sandra menjauh darinya membuat Sandra tertegun dengan mata berkaca-kaca. perasaannya begitu sensitif kalau sudah Rusel yang menolaknya.
"K..kau marah?!" tanya Sandra bergetar merasa sesak dengan perlakuan Rusel barusan. wajah tampan pria itu tampak tak memperdulikannya bahkan Rusel asik kembali bermain ponsel.
Simob hanya diam duduk di samping supir Taksi yang sebenarnya adalah anggota Rusel. mereka membeli mobil ini agar Sandra tak curiga.
"S..Sel!" lirih Sandra ingin menyentuh paha Rusel namun di tepis pria itu membuat Sandra benar-benar merasa sakit.
"S..Sel!!"
"Aku turun di depan!"
"A..aku...aku ikut!" jawab Sandra saat mobil ini terhenti di tepi jalan yang sunyi. Rusel membuka pintu mobil lalu keluar dengan Sandra yang ingin ikut tapi pintu itu ia tutup.
"Bawa dia pulang ke Kediamannya!"
"T..tidak! aku..." Sandra berusaha membuka pintu tapi ia tak punya tenaga untuk itu.
"Buka!!!"
"Pergilah!"
Rusel melangkah pergi diringi dengan mobil yang bergerak pelan membuat Sandra histeris memukul kaca mobil.
"Buka!!!! aku mau turun!!"
"Nona! sebaiknya kau istirahat di kamarmu!"
"Buka!!"
Ancam Sandra menatap membunuh Simob yang tak bergerak di tempatnya. Sungguh sekarang Sandra di landa kecemasan yang kuat jika Rusel tak akan kembali karna sikapnya.
"Berhenti!!!!!"
"Percuma! ini perintah Ketua!"
"Aku mau turun!!! turunkan aku!!!" teriak Sandra sejadi-jadinya membuat telinga mereka mau pecah. Untung saja ada pesan masuk dan itu dari Rusel yang menyuruh mobil di hentikan.
"Hentikan mobilnya!!!!"
Simob mengisyaratkan anggota di sampingnya untuk menghentikan mobil dan membuka kuncian pintu. Sandra langsung keluar dari mobil.
"Kau...kau jangan pergi dulu!" Sandra mengejar Rusel yang melangkah ke tempat khusus pejalan kaki.
"Tunggu!!!"
__ADS_1
Mau tak mau Rusel berhenti karna khawatir Sandra jatuh. Ia berusaha bersikap acuh walau sejujurnya ia sendiri hanya ingin membuat Sandra mengerti.
"K..kau...kau mau membunuhku. ha??" Sandra ngos-ngosan berdiri di belakang Rusel yang hanya diam. untung saja disini tak ada orang yang lewat atau bisa dibilang di halangi.
"Sebaiknya kau pulang!"
"Maksudmu apa? kau mau keluar dan bebas begitu? memangnya kau.."
"Bisa tidak kau jangan menuduh sembarangan?!" jengah Rusel berbalik menatap tajam Sandra yang terdiam tak lagi mampu bicara.
"Kau harus kendalikan pikiran negatifmu. tak semua orang itu sama." sambung Rusel lagi memberi pemahaman. Sandra seakan-akan membandingkanya dengan Daniel yang selalu saja menganggu pikirannya.
"Makanya kau jangan mengiring pikiranku kesana."
"Kau tak mau mendengarkan aku?!" tanya Rusel tenang seakan akan memberi ancaman. Sandra menunduk mengecilkan egonya agar tak selalu tersulut apapun.
"Maaf!"
"Dulu juga kau minta maaf."
Sandra langsung memejamkan matanya mengambil nafas dalam lalu memandang Rusel dengan penuh penyesalan.
"Maafkan aku. aku janji akan mendengarkan-mu."
"Taruhannya?" tanya Rusel masih belum percaya. Sandra terdiam sejenak memikirkan apa yang akan ia taruhkan sekarang.
"Katakan!"
"Aku mempertaruhkan diriku sendiri!" .
"Maksudmu?" tanya Rusel agak berekspektasi besar dengan taruhan Sandra kali ini.
"Jika aku melanggarnya maka kau bebas mau melakukan apapun padaku."
"Termasuk?" pancing Rusel tapi Sandra tampak berfikir sejenak.
"Terserah! aku milikmu!"
Tanpa sadar perkataan Sandra barusan membuat Rusel tertegun dengan tatapan mata melemah ke manik hitam ini. Sandra memang asal dalam mengucapkan kalimat tapi ntah mengapa ia menyukai taruhan ini.
"Eh. kita jalan-jalan sebentar."
"Ha?" Rusel tadi agak tak fokus di tarik Sandra ke arah taman didekat sini. langit mendung sana meneduhi dan seakan mendukung segalanya.
Sandra memeluk lengan kekar Rusel seraya wajah kembali cerah. ia menyandarkan kepalanya ke bahu sang suami yang sudah mengobrak-abrik jiwanya.
"Sel!"
"Hm."
"Kau masih marah?" tanya Sandra tapi Rusel menggeleng. ia sendiri juga tak bisa terlalu memaksakan kehendaknya.
"Memangnya kenapa?"
"Kau punya uang?"
Dahi Rusel menyeringit dengan pertanyaan Sandra. apa ia terlihat begitu miskin dan tak berdaya?!
Tahu akan respon aneh Rusel menarik kesadaran Sandra yang tak berniat merendahkan.
"Bukan itu maksudku. Sel!"
"Lalu?" menaikan alisnya sebelah.
"Mau itu!"
Sandra menunjuk tukang es krim jalanan yang tampak parkir didekat taman tak jauh dari mereka. pria tua yang terlihat menganggur.
"Ayo!"
"Kau benar ada uang?"
__ADS_1
"Sedikit!" jawab Rusel membuat Sandra berbinar melangkah penuh semangat ke sana.
"Paak!!" teriakan Sandra mengejutkan pria itu hampir jantungan karnanya.
"Eh.. kenapa, atuh?!"
"Mau nonton bioskop!" kelakar Sandra menyengir kuda mendapat usapan lembut di kepalanya oleh jemari kekar Rusel.
"Kalau nonton mah tidak ke sini atuh."
"Dia hanya bercanda." jawab Rusel membuat pria itu tersenyum ramah memandang mereka bersahabat.
"Pak! aku mau es coklat!" sambar Sandra sudah tak sabar melihat berbagai warna di dalam kotak sana.
"Berapa atuh?"
"Kau juga mau?" tanya Sandra pada Rusel yang menggeleng. ia tak suka hal yang manis-manis kecuali istrinya sendiri.
"Untukmu saja."
"Emm.. baiklah! satu saja, pak!"
Pria tua itu mengambilkanya lalu memberikan pada Sandra yang dengan berbinar mengambilnya. wajah Sandra begitu bahagia sampai pria tua itu salah tingkah.
"Ayo!"
"Kita duduk di sana!" menunjuk bangku taman.
"Hm."
Rusel mengiring Sandra pergi tapi tangannya memberikan lembaran merah berjumlah 3 lembar ke atas kotak es pria itu. Tentu bayaran Rusel membuat pria itu syok tapi tak bisa menyangganya karna Simob mengisyaratkan diam.
"Enak! kau mau coba?"
"Ha?"
Sandra mendudukan Rusel di atas bangku taman yang dipenuhi berbagai bunga segar. Ia menyodorkan Es Creamnya ke bibir Rusel yang terdiam.
"Mau?"
"Tidak!"
"Coba dulu!" paksa Sandra duduk di samping Rusel yang mau tak mau mencicipinya sedikit. lelehan coklat itu mengenai jempolnya sampai Sandra tersyok hebat langsung mengulum jempolnya.
Degg...
Rusel melebarkan matanya saat merasakan sensasi menyengat decapan bibir lembut manis bersahwat itu. jilatan lidah basah Sandra tanpa sadar membuat Rusel termenggu hebat merasakan gejolak hasrat kembali.
"Sayang coklatnya enak!" gumam Sandra masih menyesapnya santai lalu melepasnya karna sudah bersih. Ia menjilati bibirnya sendiri membuat Rusel menegguk ludahnya berat.
Bibirmu...
Fokus pandang Rusel tertuju ke bibir merah delima segar Sandra yang begitu memancing hasrat lekakinya. Ntah sampai kapan Sandra akan terus menganggapnya pria tak normal begini.
"Sel!" lirih Sandra merasa tatapan Rusel sangat dalam ke bibirnya.
"A..apa bibirku kotor?!" gumam Sandra ingin mengusap bibirnya tapi Rusel menarik dagu Sandra mendekat mengikis jarak yang ada.
Jantung Sandra mulai memberontak saat melihat wajah tampan Rusel sedekat ini. bibir sensual Rusel begitu terlihat sangat nikmat.
"K..kau..."
"Sedikit saja." lirih Rusel lalu menempelkan bibirnya lembut membuat Es Cream yang Sandra pegang jatuh karna syok dan gugup.
Ciuman yang lembut Rusel berikan bahkan gerakannya begitu memuja dan membuai Sandra untuk ikut. kehangatan yang ia hadirkan menarik hati Sandra untuk tergerak membalasnya.
"Ehmm!"
Sandra sedikit meremang beralih mencengkram punggang Rusel yang meneroboskan lidahnya mendecap rasa manis ini. mata keduanya terpejam saling mencumbu lembut.
Kenapa bibirmu membuatku tak ingin lepas?! ini sangat lembut dan menggairahkan.
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..