
Kaki Daniel mulai bertambah dingin saat berhadapan dengan sosok yang misterius di hadapannya ini. Tatapan manik hijau yang begitu tajam bak serigala yang menerkam kapan saja.
Ia duduk diatas kursi di dalam ruangan cukup luas dan nyaman. walau semuanya begitu aman tapi Daniel masih merasa terancam.
"Apa yang kau mau?" tanya Daniel meredam rasa gugupnya.
Rusel duduk dengan begitu berkharisma. satu kakinya bertopang angkuh dengan wajah tegas sempurna itu tetap datar dan tenang.
"Kau begitu memperdulikan istriku."
"Jelas. aku sangat mencintai Sandra dan aku tak akan membiarkannya terluka lagi." jawab Daniel percaya diri. semangat di matanya begitu membara tapi hanya di tatap tenang Rusel.
"Termasuk pada orang sepertimu." imbuhnya lagi.
"Terserah padamu. tapi, jika kau serius maka lakukan bagianmu."
Dahi Daniel mengkerut. wajahnya yang agak berisi tampak kebingungan tak tahu maksud Rusel apa padanya.
"Maksudmu apa?"
"Kau anak dari Keluarga Raharja. kalian bergerak di bidang Perusahan Telekomunikasi dengan pengaruh cukup besar disini. bukankah Perusahaanmu mulai terguncang karna dana?"
Daniel tercekat. kenapa Rusel bisa tahu keadaan Perusahaan Ayahnya setelah putus dari Sandra?! pria ini benar-benar berbahaya.
"Kau memanfaatkan istriku untuk memberi suntikan dana besar di kala itu. begitu juga perusahaan dua rekanmu, tapi. setelah kejadian itu Tuan Hatomo mencabut semua dananya sampai menuntut Perusahaan ayahmu dalam diam."
"K..kau .."
"Taktikmu sangat murahan."
Daniel langsung diam dengan kepala tertunduk malu. saat itu ia tak punya pilihan, dan kebetulan Karina dan Anju membawanya bekerja sama.
"Itu masa lalu."
"Kau harus menyebar kembali keburukan yang di lakukan dua rekanmu itu."
"Apa??" tanya Daniel syok. ia tak sekejam itu tapi Rusel tak pernah bisa mentolerirnya. Karina dan Anju begitu menekan Sandra dan mati-pun tak akan ia lepaskan.
"Publis semua rencana mereka dan buat masyarakat tahu kedok kalian selama ini."
"T..tapi itu.. itu tak mungkin, Papaku pasti akan me.."
"Kau tak perlu cemas. lakukan perintahku maka Perusahaanmu aman." tegas Rusel membuat pilihan buruk bagi Daniel. pasti nanti Sandra akan semakin benci padanya setelah tahu segalanya.
"Bagaimana bisa aku mengatakan kalau aku dan .."
"Kalian sengaja memperburuk citra istriku dengan terus mengiringnya ke arah yang negatif."
Sambung Rusel terselip intonasi geram. Matanya begitu menusuk keberanian Daniel yang menciut kecil.
"Kau benar. tapi, tak semuanya kami lakukan memperburuk Sandra. keluarganya sendiri yang membuat Sandra mudah terpengaruh."
"Orang tuanya!"
Daniel mengangguk tapi ia masih ingat dengan anggota keluarga lain yang setiap hari selalu menghasut Sandra agar melawan perintah orang tuanya.
"Sebenarnya Keluarga Hatomo itu banyak yang iri karna putri-putri mereka tumbuh dengan kelebihan masing-masing."
Daniel diam sejenak membayangkan anak-anak Tuan Hatomo yang selalu di jadikan contoh masyarakat.
"Erina si lemah lembut dan sangat ahli di bidang medis serta Delina yang selalu unggul menjalankan Militer Papanya. dan sekarang.. Sandra si cantik yang mempesona begitu membuat para pria ingin me.."
__ADS_1
Glek..
Daniel langsung tercekat kuat saat aura intimidasi Rusel seakan memotong lehernya. kenapa pria ini sangat menyeramkan? apa dia manusia?
"Berhenti memujinya!"
"A.. b..baik."
"Lanjutkan!" titah Rusel menganalisis cerita Daniel yang terkadang membuat hatinya panas dikala Sandra di kagumi banyak lelaki.
"Dan menurutku Paman Aryono adik dari Tuan Hatomo itu tak pernah bersahabat, dia memang memperhatikan Sandra tapi di balik itu dia benci karna anaknya masuk penjara tapi tak ada yang menolongnya."
"Penjara?"
"Iya. anaknya terjerat kasus pembunuhan dan penyalahgunaan obat-obatan. sampai sekarang masih belum keluar." jawab Daniel menceritakan apapun yang ia tahu selama ini.
Rusel begitu tenang dan halus dalam bergerak. pemikirannya sangat damai membuat Daniel yang diam-diam melihatnya tertelak kalah saing.
"Dia memang sangat tampan dan berkharisma. kenapa Sandra memilih saingan seperti ini?! aku tak bisa mengimbanginya."
Batin Daniel mengumpat kasar. dari segi fisik dan kharisma ia sudah tertelak jauh. memang benar-benar tidak tertolong.
"Kau lakukan apa yang ku perintahkan padamu!"
"A..b..baik. tapi..tapi kau.."
"Sel!"
Daniel meneggang di tempatnya saat suara halus dengan bumbu manja menggoda itu menyengat aliran darahnya.
Sosok cantik dengan tubuh semampai itu sudah terlihat di depan pintu ruangan. wajahnya di tekuk masam dengan bibir seksi yang mengerucut kesal.
"Kenapa kau mengunciku di dalam kamar?"
Salah satu anggota yang baru datang terlihat basah kuyup langsung membungkuk memberi permintaan maaf pada Rusel yang diam.
Ntah apa yang di lakukan Bumil ini agar keluar dari kamarnya. namun, wajah Rusel mengeras di kala Daniel mencuri pandang pada paha mulus dan kaki jenjang putih istrinya.
Bugh...
"***!!" pekik Daniel hebat di kala kaki kokoh Rusel menendang meja di hadapannya sampai membentur dadanya yang kembali di timpa nyeri.
"Jaga matamu." geram Rusel lalu mengisyaratkan Sandra untuk mendekat.
Tentu Sandra terkejut melihat Daniel disini tapi ia berusaha tenang mendekati Rusel yang langsung mengulur tangan menggapai pinggang rampingnya.
"Kenapa dia disini?" suara ketus dan tak suka.
"Ingin meminta maaf." jawab Rusel menatap membunuh Daniel yang mengangguk cepat seraya mengelus dadanya yang nyeri.
"I..iya.."
"Cih! aku tak butuh."
"S..San! a..apa kau baik-baik saja?!" tanya Daniel masih berusaha menormalkan nafasnya. Sandra merotasikan matanya malas seraya duduk diatas paha kokoh Rusel yang membelit pinggangnya mesra.
"Tak penting."
"San! aku serius, a..apa dia tak mencelakaimu?" lirih Daniel takut-takut jika Rusel kembali menghantamnya. namun, Rusel terlihat lebih tenang membuka jaketnya untuk menutupi paha Sandra dari lirikan mata lelaki lain.
"Sel! kenapa kau mengurungku?!"
__ADS_1
"Hanya ingin kau istirahat." kilah Rusel merapikan rambut Sandra yang agak berantakan. sepertinya wanita ini baru bangun tidur.
"Kau ini benar-benar menyebalkan! karna kau aku jadi tak ikut acara Kampus." cerocos Sandra kesal bukan main dengan mengalungkan kedua tangannya ke leher kekar Rusel.
"Acaranya di tunda. Nona!"
"Ha?" tanya Sandra melebarkan mata indahnya. Simob mengangguk berdiri di belakang Rusel yang hanya diam masih dengan gestur tenangnya.
"Ada masalah sedikit hingga acaranya di Tunda. kau tenang saja, Nona! semuanya aman."
"Di tunda?!" gumam Sandra berfikir. tak biasanya acara besar seperti ini di tunda. itu terdengar aneh di telinganya.
Tahu akan otak nakal Sandra. Rusel segera mencari pengalihan lain.
"Kau lapar?" mengusap perut agak menonjol Sandra.
"Iya. kau ini kalau mengurungku seharusnya sediakan makanan. kau kan tahu aku suka makan."
"Susu kedelai?"
"Iya. itu enak, apalagi kalau minumnya dengan air es ssssss so good!" jawab Sandra ngiler sendiri menjilati bibirnya hingga basah menbuat Daniel menegguk ludahnya. ia belum pernah merasakan kelembutan benda itu.
Risih akan tatapan Daniel membuat Rusel segera menarik tengkuk Sandra melabuhkan ciuman hangat di sana.
Cup..
"Ehm." Mata Sandra spontan melebar akan serangan mendadak ini. bibirnya di hisap lembut bahkan Rusel menariknya beberapa senti mencicipi rasa manis delima merah milik istrinya.
Daniel menahan nafas. tiba-tiba saja dadanya terasa sakit di kala tautan bibir ini terlihat intim dan sangat mesra menusuk jiwanya.
"Seandainya itu aku."
Batin Daniel mengiba. hisapan syahdu yang Rusel berikan ke bibir Sandra membuat dirinya tertikam dengan kenyataan. Rusel seakan mengatakan SANDRA ADALAH MILIKKU dan jangan pernah mengusiknya.
"Sel!" lirih Sandra saat Rusel melepas tautan dalam itu. bibir keduanya sama-sama basah dengan sedikit bengkak di bagian bawah bibir Sandra yang di gigit Rusel tadi.
"Manis. aku suka teksturnya."
"Kenapa dengan Siluman ini?!"
Batin Sandra keheranan. tiba-tiba saja Rusel fulgar saat di depan semua orang disini, bahkan. Rusel sengaja menyibak sedikit bagian leher Sandra sampai membuat Daniel syok melihat tanda itu.
"K..kalian.."
"Apa?" sinis Sandra menaikan alisnya menukik tajam.
Itu tanda merah ke biruan hasil percintaan insan manusia yang di mabuk gairah. bekasnya begitu nyata di leher Sandra bahkan di dekat pipi wanita itu.
"S..San. apa kau.. kau sudah?"
"Sudah!" jawab Rusel tegas membelai pipi Sandra lembut membuat dahi Sandra menyeringit bertambah tak mengerti. maksudnya apa?
"Kalian bicara apa. aku tak mengerti."
"Tidak ada. ayo makan." ajak Rusel tak membiarkan Sandra turun dari pangkuannya. ia menggendong tubuh wanita itu ringan dan begitu jantan membawa sang istri keluar dari tatapan sendu Daniel yang kosong.
"Kau tak akan bisa mengalahkan. Ketua! apapun yang ia miliki tak akan lepas dengan mudah." tegas Simob tersenyum kecut melihat respon Daniel.
"Yah. apalagi Nona Sandra begitu cantik dan nyaris sempurna, kami saja mengagguminya." timpal Guren saling tos dengan Simob. keduanya dengan kejam melangkah pergi meninggalkan Daniel yang tersenyum nanar dan sangat kecewa.
"Cih. kau begitu cepat melupakan aku. San!"
__ADS_1
......
Vote and Like Sayang..