Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Melawan rencana musuh!


__ADS_3

Sorakan hebat di depan Kediaman Hatomo itu sedari semalam tak juga turun exsistensinya. Masyarakat benar-benar geram akan perlakuan Sandra terutama para orang yang dulu pernah di jahili wanita itu.


Tentu Kapten Juna dan bawahannya berusaha menahan Masa dan juga para Media yang tak bisa diam memanggil nama wanita itu. mereka sudah kelimpungan melempar gas air mata tapi kerumunan masih tetap menyempit.


"Tuan Hatomo!!! berikan pernyataan anda soal ini!!"


"Yah!!! dimana putrimu??"


Mereka terlihat tak sabaran terutama para Wartawan yang sampai memanjat beberapa pohon di luar Kediaman demi bisa mengambil gambar Kediaman yang tengah sunyi dengan Gerbang di tutup rapat.


"Serahkan dia ke kantor polisi!!!"


"Kalian jangan melindunginya!!"


"Yah!!"


"Sial!!" umpat Kapten Juna mendekati bawahannya Pak Yono yang tengah menahan keributan. sepertinya orang-orang dari Keluarga Karina dan Anju juga di selipkan disini.


"Kapten! kita tak bisa meredam ini terlalu lama."


"Kau benar. tapi, jika tak di tahan mereka bisa memanjat masuk." jawab Kapten Juna pusing sendiri.


Kondisi pagi ini benar-benar tak baik-baik saja. lulungan para Media ikut memantik api yang tengah berkobar di halaman Luar Kediaman Hatomo.


Tentu kericuhan itu membuat Erina yang sedari tadi terkurung di Kediamannya menjadi gelisah, ia takut jika Sandra akan tertangkap dan masuk penjara.


"Ma! bagaimana ini? Sandra juga tak pulang dari semalam. apa dia sudah tahu masalahnya?!"


"Erin! kau tenang saja, dia pasti baik-baik saja." jawab Nyonya Tantri mengusap lembut lengan Erina yang tengah duduk di ruang tamu luas mereka.


Bibik Iyem juga resah dan cemas memikirkan Sandra. ia melihat berita di Televisi yang menyiarkan tentang kasus itu dan Jasad Karina dan Anju masih di otopis pihak berwajib.


"Nyonya!!"


Pengawal Aidit masuk karna ada informasi penting yang akan di sampaikan.


"Ada apa?"


"Keluarga Wantara dan Banyuma datang ke Kediaman kita. Nyonya!"


"Apa?"


Nyonya Tantri terperanjat. untuk apa mereka datang kesini?! Suaminya tengah tak di rumah apalagi ini kasus sungguh berat.


"Mereka sudah masuk. Nyonya! dan Media juga sempat menerobos tapi sudah di halang aparat pengaman."


"Baiklah. biarkan mereka masuk."


Pengawal Aidit mengangguk melangkah pergi meninggalkan Nyonya Tantri yang langsung memijat pelipisnya pusing. sungguh Sandra membuat keributan sampai sebesar ini.


"Dia itu memang benar-benar. sampai kapan akan membuat hidup kita menjadi tak tenang begini?!"


"Ma! Sandra tak mungkin melakukan ini."


"Aku tahu. Erin! tapi, karna kecerobohannya kita semua jadi imbasnya. kau tak lihat mereka di luar sana tengah menghakimi Keluarga ini??" emosi Nyonya Tantri menggunung.


Namun. mereka segera rileks saat salah satu pengawal mengisyaratkan tamu itu sudah masuk. Dan benar saja, Tuan Wantara dan Tuan Banyuma sudah masuk dengan tatapan mata menghakimi.


"Nyonya Hatomo!"


"Selamat datang. Tuan!" sapa Nyonya Tantri tegas mempersilahkan mereka duduk. Erina hanya diam berdiri di samping kursi Mamanya yang menatap mereka semua dengan tajam.


"Nyonya! kami harap anda tahu maksud kedatangan kami kesini." ucap Tuan Wantara bersahabat.


"Yah. masalah putrimu belum menuai titik terang. kami ingin anda dan Keluarga Nona Sandra bertanggung jawab atas peristiwa ini." timpal Tuan Banyuma tak segan sama sekali.


Dari raut wajah sedih palsu ini. Nyonya Tantri bisa menebak apa yang tengah ada di isi otak para Pembisnis yang sudah tak bisa naik ini lagi.


"Aku tak akan mengatakan putriku bersalah. keputusan hakim dan Kepolisian masih belum jelas dan.."


"Jadi, Nyonya pikir kematian putriku itu kecelakaan??" sambar Tuan Banyuma menggebrak keras.

__ADS_1


"Aku tak mengatakan itu." tegas Nyonya Tantri tak gentar.


"Nyonya! kami kehilangan putri yang sangat kami sayangi, dan kau sampai hati mengatakan ini."


"Apa masalahnya? aku tetap pada pendirianku selagi Putriku belum di nyatakan bersalah."


Kedua pria paruh baya ini saling pandang geram. nyatanya Nyonya Tantri yang terkenal sangat tegas dan disiplin ini memang benar-benar susah untuk di tekan.


"Nyonya! kami akan berlapang dada jika anda bersedia membayar ganti rugi."


"Ganti rugi?" tanya Nyonya Tantri lalu tertawa kecil dengan elegan membuat Erina hanya diam membisu.


"Hey! kalian sendiri menganggap putrimu barang. kau pikir aku sudi membeli barang?"


Wajah keduanya langsung kelap mendengar hinaan Nyonya Tantri. mereka kira Keluarga Hatomo akan menyogok dengan uang tapi nyatanya mereka masih belum gentar.


"Baik! kalau itu keinginan anda."


"Yah! itu keinginanku." tekan Nyonya Tantri angkuh dan keras kepala.


"Terimakasih atas sambutanmu. Nyonya! sampai jumpa di pengadilan." sarkas Tuan Wantara berdiri lalu melangkah pergi tanpa pamit sama sekali.


Sungguh Erina salut dengan ketegasan Mamanya yang turun ke Sandra. jiwa keduanya begitu keras dan tak mudah goyah.


"Ma!"


"Kau tenang saja. mereka sudah menunjukan apa yang sebenarnya terjadi." jawab Nyonya Tantri menghela nafas tenang.


Sementara di luar sana. Tuan Banyuma dan Wantara masuk ke mobilnya masing-masing. wajahnya membekas kesal dan amarah sekaligus.


Tentu mereka akan menghubungi kembali orang yang sudah memberi mereka uang agar selalu menekankan kasus ini lebih dalam.


"Hallo!" Tuan Wantara menahan kesal.


"Bagaimana? apa kau sudah mendapatkannya?"


"Tidak! dia menolak mentah-mentah." jawabnya dengan geram dan penuh emosi.


"Tuan! kami akan berusaha, kematian putriku akan membangun kembali nama Perusahaan."


Jawab Tuan Wantara begitu kejam. memang benar jika Perusahaannya tengah diambang kehancuran, ia harus memanfaatkan peristiwa ini untuk meraup untung bersama Tuan Banyuma.


........


Sementara di Hotel sana. Sandra memang tak menyadari situasinya bagaimana, ia masih tetap mengira bahwa di luar sana baik-baik saja bahkan sedamai biasa.


Ia tak di biarkan bermain ponsel. Sandra di sibukan untuk bermain kelinci-kelinci imut yang di siapkan Rusel di belakang hotel besar ini.


"Hey!! makan yang banyak. hm? biar cepat besar." ucap Sandra berjongkok mengelus bulu halus Kelinci berwarna putih terang berbulu lebat ini.


Ia tengah di pantau puluhan pasang mata yang tengah bersembunyi untuk mengamankannya.


Ia terlihat sangat bahagia dikerumuni puluhan Kelinci hingga rumput ini seperti kebun binatang yang indah.


"Nanti, kalau kau hamil kau harus mematuhi suami-mu, seperti aku." bisik Sandra lalu terkekeh geli. ia bicara seakan ia penurut padahal kerjanya selalu saja menyusahkan Siluman Tampan itu.


"Dan kau.."


"San!!"


Deg...


Sandra tersentak saat mendengar suara yang tak asing di belakang sana. ia kembali berdiri membuat Dress selututnya kembali menjuntai indah.


"A..Anya!"


"San!!"


Sosok muda bersemangat itu langsung berhambur memeluk Sandra dari belakang. bocah berkepang ini tampak sangat bahagia memeluk tubuh seksi Sandra.


"A..Anya! kau..kau kesini?" antara syok dan tak percaya.

__ADS_1


"Yah! apa kau terkejut?"


Sandra melebarkan senyuman berbalik memeluk Anya yang juga tak kalah senang.


"Kenapa baru sekarang? aku sangat merindukanmu. bocah!"


"San! kau tambah cantik saja." puji Anya mengurai pelukan. ia menyentuh pipi mulus putih Sandra dengan kekaguman.


"Kau bisa saja. eh! kau kesini dengan siapa? apa paman dan bibik ikut?"


"Tidak. San! hanya aku, untung saja Ketua berbaik hati mengirim jemputan."


Sandra mengangguk masih tersenyum senang. tentu Anya yang sudah tahu apa yang terjadi langsung terasa nyeri di kala melihat binaran bahagia Sandra di kecam oleh manusia di luar sana.


"San! kau baik-baik saja-kan?"


"Yah! dan kau lihat ini!"


Sandra meletakan tangan Anya ke perutnya yang memang benar sudah lebih menonjol dan sangat menggemaskan. tentu bibir tipis Anya langsung merekah.


"Sudah lebih besar!!"


"Yah. dia tumbuh dengan baik." jawab Sandra merasa senang dan tak sabaran.


Anya asik mengusapnya karna ia agak asing menyentuh perut wanita hamil. Namun, tak lama berselang Anya membawa Sandra untuk beristirahat sejenak menyingkir dari area taman.


Sementara di dalam ruang kerja semalam. Rusel tampak intens melihat laporan dari anggota gelapnya yang sudah menyusun semua yang ia minta dengan matang.


Daniel juga sudah siap untuk mengirim semuanya di Kantor Ayahnya.


"Ketua! kapan anda menyebar ini?"


"Hubungkan aku dengan pria itu." titah Rusel memasang Earphone di telinganya. ia tengah di hadapkan dengan Laptop yang sudah ia otak-atik bersama Simob yang juga bekerja di sampingnya.


"Hallo!"


Suara Daniel terhubung. manik tajam kehijauan Rusel tak beralih dari kertas dan Laptopnya. foto-foto yang sudah tertera di layar sana tinggal ia input ke sosial media.


"Kau siap?"


"Yah! aku sudah menyiapkan segalanya."


Rusel menatap Simob yang mengangguk sudah menyiapkan beberapa orang untuk ikut merubah persepsi Publik. langkah awal ini di harapkan bisa memperbaiki citra Sandra.


"Hitungan 3 kau harus memasukannya bersama dengan rekan lain."


"Aku siap! ini demi Sandraku."


Wajah Rusel mengeras tapi ia berusaha tenang. kalau bukan karna istrinya sudah sedari tadi ia mencekik pria ini.


"1.."


Mereka sudah menyiapkan jarinya ke tombol yang akan memasukan semua data.


"2.."


Mata Rusel semakin menajam melihat kembali data-datanya. Simob juga tak kalah serius bersama para suruhan mereka.


"3.. masuk sekarang!"


Jari itu menekan tombol yang sama hingga rentetan angka dan tulisan itu mulai beralih layar ke media lain. Rusel sangat cekatan memblokir berbagai situs yang ingin menghalanginya dengan Guren yang lihai dalam IT telah mengunci program milik mereka.


"Yang bertugas menjadi akun palsu segera kerjakan sekarang. dan bawa dua hewan itu ke Markasku."


"Baik!"


Jawab para anggota bak kilat langsung pergi bergegas. Rusel mengambil nafas dalam berharap jika kali ini Sandra tak akan tahu bagaimana gejolak namanya di luar sana.


"Kau tenang saja. tak akan ku biarkan kau menangis lagi."


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2