Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Membuat ulah kembali?


__ADS_3

Tatapan kekhawatiran itu tak bisa lepas dari seorang wanita muda yang terbaring lemah diatas ranjang empuk kamarnya. tubuh tinggi dengan rambut bergelombang itu di pantau khusus karna selalu saja kambuh begini.


"Erina! kau seharusnya pedulikan juga kesehatanmu." ucap Nyonya Tantri duduk di samping Erina putri pertamanya.


"Ma! Erin hanya kelelahan, tak apa." jawab wanita dengan dagu agak terbelah itu. tampangnya terlihat dewasa dengan pipi cubby dan senyuman yang manis.


"Kau tak baik-baik saja. jika kau sudah Drop seperti ini pasti kau terlalu keras bekerja. jangan membohongi, Mama!" tegas Nyonya Tantri membuat Erina tersenyum menggenggam tangan Mamanya.


"Adikmu Delina masih ada tugas di Akademi miliknya. dia tak bisa datang sekarang untuk mengunjungimu." Tuan Hatomo menghela nafas mengucapkannya.


"Bagaimana dengan Sandra. Pa?"


Nyonya Tantri dan Tuan Hatomo diam. Apa mereka harus mengatakan soal Sandra? tapi Erina akan semakin terpikir oleh anak pembangkang satu itu. mau bagaimanapun Aib Sandra belum bisa mereka katakan sekarang.


"Kau tahu jika adikmu satu itu tak pernah tinggal di rumah. dia suka dunia luar, jika di tahan maka Kediaman ini bisa riuh karna suara kerasnya." jawab Nyonya Tantri mengamankan sejenak.


"Ma! Sandra masih muda dan kecil, dia belum mau diatur-atur dengan Keluarga kita."


"Tapi, kau dan Delina sudah dewasa sedari kalian remaja. pemikiran kalian sudah matang bahkan selalu membanggakan keluarga kita, hanya saja. Sandra tak mau mencontoh kalian." jelas Nyonya Tantri yang tak mengerti jalan pikiran Sandra bagaimana.


"Ma! aku ingin bertemu dengan Sandra." ucap Erina memelas membuat Tuan Hatomo dan Nyonya Tantri saling pandang.


"Nak! Sandra itu.."


"Dia akan pulang. dia pasti senang bertemu denganmu." sambar Nyonya Tantri memotong ucapan Tuan Hatomo yang diam.


"Benarkah?" Erina berbinar.


"Yah. kau begitu bekerja keras. jangan memikirkan Sandra karna dia juga akan kesini. hm?"


Erina mengangguk tak sabar bertemu adiknya satu itu. Walau Sandra tak pernah berhubungan baik dengannya dan Delina tapi, si cantik satu itu sangat ramai dan ceria.


"Kau istirahatlah!" Tuan Hatomo menatap Nyonya Tantri yang mengangguk kembali berdiri.


"Mama keluar dulu. tidur dengan nyenyak."


"Terimakasih. Ma, Pa!"


Keduanya keluar dari kamar Erina dan menutup pintu itu pelan terlihat sangat perhatian.


"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Tuan Hatomo pada Nyonya Tantri yang kembali berwajah tegas.

__ADS_1


"Suamiku! jika kita mengatakan Sandra tak akan datang, kondisi Erina mungkin akan lebih buruk dari ini."


"Tapi, kau menyakiti Sandra!" sambar Tuan Hatomo yang merasa tak enak hati. Ia membatalkan penjemputan malam tadi dan rasanya ini kurang adil.


"Suamiku! Sandra putri kita, dan Erina juga. Sandra baik-baik saja disana karna ada bawahanmu tapi, Erina.. dia tengah sakit. Sandra juga akan mengerti." jawab Nyonya Tantri dengan jawaban sama seperti dulu dimana Sandra membutuhkannya tapi Erina sakit.


Bibik Iyem yang mendengar dari arah samping merasa sangat iba mengingat Nona cantiknya. Ia tak menyangka hal seperti ini akan terjadi kembali.


"Non! Nona yang sabar, ya?!"gumam Bibik Iyem yang memang sudah dekat dengan Sandra sejak kecil.


.............


Pagi ini Anya dibuat heran dengan Sandra yang tak ada di dalam kamarnya. semalam Sandra tidur dengarnya dan sejak pagi sampai sekarang sudah tak terlihat batang hidung mancung barbie hidup itu.


"Paman!! Bibik!!" panggil Sandra berlari ke luar dimana Paman Jo tengah menjemur tanaman obat di bawah sinaran mentari segar pagi ini.


Bibik Antika juga menjemur pakaian di samping rumah.


"Ada apa?" keduanya menyahut bersamaan.


"Dimana Sandra? dia tak ada di kamar!" Anya berlari keluar dengan wajah khawatirnya.


"Tadi dia keluar subuh-subuh sekali."


"Benarkah?" gumam Anya heran. Tak biasanya Sandra seperti itu, dulu saja Sandra malas keluar rumah.


"Baiklah. aku pergi mencarinya dulu!"


"Yahh!! pergilah dan jangan lupa beli bahan dapur di pasar!!"


"Iya, Biiik!!" jawab Anya seraya berlari ke arah jalan. Ia melewati beberapa peternak kerbau di jalam sana dan tak mungkin Sandra lewat sini jika ada Kerbau.


"Saaaan!!!" teriak Anya mencari-cari. Ia pergi ke arah rumah Sandra di dekat penginapan Asrama. setelah beberapa lama ia sampai. disini terlalu banyak orang yang mulai beraktifitas pagi apalagi hari ini ada pasar.


Anya melangkah ke arah pintu penginapan Sandra. Ia membuka benda itu hingga matanya terbelalak melihat kondisi kamar ini.


"Kenapa bisa sebersih ini?" gumam Anya heran melihat kamar yang sudah rapi dan begitu harum. lantainya yang kokoh dan ada lemari baru di dalam sana.


"Apa Sandra pulang membersihkan kamarnya? tapi, kenapa bisa secepat ini."


"Nona Sandra tadi keluar!"

__ADS_1


Anya tersentak mendengar suara Isami di belakang. Ia mengelus dadanya melihat wanita paruh baya ini.


"Isami! dimana Sandra?"


"Sepertinya Nona tengah berolahraga. pakaiannya seperti itu tadi!" jawab Isami lalu melangkah pergi membuat Anya segera pergi kearah jalan kembali.


Dimana wanita itu? jika Ketua tahu Sandra pergi sendirian bisa saja ia kena amuk nanti.


"Cih! dia itu memang sangat liar, susah sekali mengendalikannya." gumam Anya melangkah menuju perkebunan Teh. beberapa orang disana terlihat berbicara dengan serius apalagi Ibu-Ibu yang ingin pergi berkebun.


"Apa tak masalah anak-anak kita ikut dengan dia?"


"Tak masalah. lihat saja dia sangat cantik, mungkin gadis-gadis disini bisa ikut ketularan."


Perbincangan itu membuat pikiran Anya tertuju pada Sandra. Ia harus segera memberi tahu Ketua tentang masalah ini. Jangan sampai Sandra membuat onar besar lagi.


"Pasti Sandra ceroboh lagi." gumam Anya melanjutkan langkahnya menuju perkebunan. Tapi, untung saja di tengah perjalanan ia melihat ada anggota penjaga Desa tengah berbicara dengan seseorang seraya melihat perkebunan.


"Ketua! mungkin kita bisa memperluas tanah ini hingga membantu perekonomian warga." ucap Ednan melihat luasnya Kebun Teh ini bersama Rusel yang serius melihat segalanya.


"Hm. kita bisa membeli tanah yang ada di perbatasan perkebunan."


"Baik. Ketua!" jawab Ednan mencatat segalanya. Mereka kembali ingin melihat dimana saja sumber pangan yang perlu di perluaskan.


"Ketua!!!!"


Teriakan Anya melambaykan tangan dari arah jalan ke arah lereng perbukitan. Ednan heran melihat itu semua lalu menatap wajah datar Rusel yang agak khawatir.


"Kau lanjutkan pendataan!" ucap Rusel lalu melangkah melewati Ednan. Ia turun ke bawah mendekati Anya yang terlihat cemas dan resah.


"Ketua!"


"Katakan!" tegas Rusel mulai merasa ada yang terjadi pada Sandra.


"Sandra pergi pagi-pagi sekali. dia tak ada di penginapannya dan warga desa bilang ada yang membawa anak-anak gadis mereka pergi dan itu mungkin Sandra!!"


Rusel tersentak. apa yang ingin di lakukan wanita itu? tapi yang jelas setiap apa yang Sandra lakukan akan berakhir pertikaian.


"Dia memang benar-benar." gumam Rusel lalu berlari mencari rumput liar itu. selalu saja membuatnya cemas dan tak bisa tenang.


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2