Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Ancaman bagi Sandra!


__ADS_3

Zira terpongoh-pongoh mendekati Guru Ikana yang tengah berdiri di penginapannya. Wanita itu minum teh tepat di depan kamarnya dengan penerangan lampu dari luar yang cukup.


"Guru!"


Ikana menoleh dengan pandangan datar dan acuhnya. Ia tahu bagaimana Zira dan siapa anak ini.


"Kenapa?"


"Ada hal penting yang mau ku beritahu padamu. Guru!" jawab Zira dengan nafas terengah. Ia berlari dari arah rumahnya ke sini karna takut di lihat para penjaga.


"Itu tak penting." acuh Ikana meneguk santai tehnya. Ia begitu menikmati kesunyian malam ini dan tak ingin di ganggu.


"Guru! aku punya berita penting."


"Aku tak perduli." jawab Ikana tak berminat dan segera berdiri ingin kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Ketua Rusel baru saja pulang dengan wanita kota itu!"


Langkah Ikana terhenti mendengar ucapan Zira. Ia terdiam sejenak lalu berbalik menatap Zira yang sungguh berbinar.


"Maksudmu?"


"Guru! aku melihat mereka berdua tadi siang dan sangat dekat bahkan, wanita kota itu sangat berani memeluk Ketua Rusel! dan sekarang keduanya baru pulang dengan pakaian basah."


Raut wajah Ikana langsung berubah. rasa tak percaya dan tak masuk akal itu mulai menyeruk di sela benaknya.


"Kau jangan membual. aku kenal siapa Ketua Rusel dan bagaimana sikapnya." tegas Ikana tak percaya.


"Guru! aku bersumpah aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. wanita kota itu menggoda Ketua Rusel." hasut Zira terlihat serius membuat Ikana diam. apa benar? tapi tak mungkin sosok seperti Ketua Rusel bisa sedekat itu dengan wanita sembarangan.


"Kalau kau tak percaya. ayo lihat sendiri!"


Zira menarik lengan Ikana yang mengikuti langkah Zira ke arah penginapan Sandra. Rasa penasaran itu menyeruk sampai Ikana mempercepat langkahnya. setelah beberapa lama tibalah mereka di ujung koridor di depan.


"Ganti pakaianmu dan cepatlah tidur!"


"Siap!!!"


Ikana terkejut setengah mati melihat dua manusia yang berdiri berhadapan didepan pintu kamar. Rusel berdiri dengan pakaian lembab dengan jaketnya sudah di balutkan ke tubuh Sandra malam-malam begini.


"Besok ke sana lagi. ya?" pinta Sandra dengan wajah memohon memeggang lengan kekar Rusel membuat Ikana mengepal panas.


Rusel menggeleng menepuk puncak kepala Sandra remang dan mendorong wanita itu pelan masuk ke dalam kamar.


"Sudah untuk kali ini. kau tak mau pulang jika sudah ke sana."


"Tidak. aku tadi hanya terlalu bersemangat." jawab Sandra mengelak. padahal ia yang memaksa hingga pulang sampai langit sudah gelap.

__ADS_1


"Sudahlah. cepat ganti baju, jika kau masuk angin kau akan menyusahkanku."


"Cih! selamat malam." ucap Sandra memanyunkan bibirnya membentuk sebuah kecupan biasa ia lakukan ketika bersama temannya.


"Hm."


Sandra menutup pintu kamar dan barulah Rusel melangkah pergi ke arah penginapannya tempat laki-laki. semua itu tak luput dari mata Ikana yang berkobar amarah.


"Lihat. Guru! wanita kota itu sudah selangkah lebih maju darimu." bisik Zira memanas-manasi. Ia tahu jika Guru Ikana memiliki perasaan lebih pada Ketua Rusel sejak lama. tapi, ia tak punya keberanian untuk mengutarakannya.


"Tak hanya sekali ini saja. kau tahu?! sejak pertama dia datang. dia sudah mencoba menggoda Ketua Rusel." sambung Zira menyeringai membuat Ikana tak lagi mampu menahan rasa panasnya dan langsung pergi ke arah penginapan Rusel.


"Cih! Sandra-sandra, musuhmu ada dimana-mana. tak cukup aku tapi kami semua." gumam Zira merasa sangat senang. tinggal menunggu Guru Ikana bergerak menghandle Ketua Rusel dan ia akan menghurus soal Sandra.


.............


Ruangan kecil pria itu sangat rapi. semuanya tertata di tempat bahkan tak ada yang berantakan sama sekali seakan ini adalah kamar perempuan.


Sedari tadi memasuki kamar. wajah tampan mulus dengan rambut basah itu tak henti-hentinya tersenyum sendiri memeggang pipinya di didepan cermin di dinding.


"Dia itu benar-benar." gumam Rusel membayangkan tadi Sandra begitu bahagia bermain di dalam kolam sampai tak sadar mencium pipi Rusel yang langsung terperongoh.


Ini baru pertama kali ia di cium wanita dan rasanya begitu berbeda.


"Kesan pertamaku melihatmu itu sangat aneh. wanita yang sangat kasar, tapi.."


Tak mau menjadi gila. Rusel memilih melipat bajunya di dalam lemari, ia mengambil gelas dan mengisinya dengan air dari Teko di atas meja dan mulai membaca laporan dari Balai Desa siang ini.


"Permisi!"


Suara seseorang di depan pintu kamar. Rusel meletakan gelasnya lalu mengambil jaket menutupi lengan kekarnya ini dan barulah ia membuka pintu kamar.


"Hm."


"Ketua!"


Rusel diam sejenak menatap datar wajah merah Ikana yang melihat wajah tampan Rusel yang begitu mempesona dengan tampilan santai begini. Rambut basah pria itu juga sangat segar dan harum.


"Ada apa?"


"A.. itu, apa kau baru pulang. ketua?" tanya Ikana menatap tegas wajah Rusel yang telah membuatnya meleleh selama ini. Ikana berusaha tetap seperti biasa menyembunyikan rautnya.


"Kenapa kau kesini?" tanya Rusel tak menjawab. Ikana menghela nafas sudah tahu respon Rusel akan bagaimana.


"Saya kesini ingin mengingatkan kalau besok ada pelatihan Kuda dan Taijutsu. saya harap kau datang. ketua!"


"Hm. aku akan datang." jawab Rusel tegas dan datar. raut wajahnya juga terkesan formal membuat Ikana tak bisa mencari alasan lain.

__ADS_1


"Ada lagi?"


"Tidak. hanya itu."


Rusel mengangguk lalu menutup pintu kamarnya membuat Ikana membuang nafas kasar. Respon Rusel sangat berbeda dari yang ia lihat tadi.


"Siall!"


Umpat Ikana lalu melangkah pergi kembali ke arah penginapannya. Wajahnya begitu marah sampai suasana malam ini begitu dingin dan sangat menyeramkan.


Aura kelam dalam tubuhnya seakan mengisyaratkan alam untuk melampiaskan emosi itu pada suasana malam ini.


"Tak akan ku biarkan sama sekali." gumam Ikana melihat dari jauh penginapan Sandra. Ia menatap tajam bak lentara berkobar menyala-nyala menyimpan amarah besar.


Serangga itu mulai berdengung di telinganya. Kumbang hitam malam ini berterbangan ke arah penginapan Sandra dengan lalat-lalat pengganggu juga ikut menyerbu kesana.


Zira yang melihat itu dari tempat tadi sangat berjingkrak kegirangan. Ia tahu jika Guru Ikana memiliki satu kelebihan yang tak bisa di bantah sama sekali.


"Habis kau malam ini. Sandra." gumam Zira lalu melangkah pergi menunggu penyiksaan perlahan itu.


Guru Ikana sudah tak ada di tempatnya. Ntah kemana wanita itu menghilang siapapun tak akan tahu karna pergerakannya sangat cepat.


"Aaaaa!!!!"


Jeritan Sandra menggelegar kuat terdengar memecah malam. Bagaimana tidak? lampu di kamar ini di kelilingi serangga menjijikan berbau busuk itu dengan semua tenpat di kotori olehnya.


"Pergi!!! Pergi!!!"


Sandra mengibaskan selimutnya tapi kumbang hitam itu malah menyerangnya membuat Sandra berlari ke kamar mandi segera menutup pintu dengan rapat.


Jantungnya berdebar kencang mendengar suara seperti lebah di luar sana. Itu sangat mengerikan bagi orang awam sepertinya.


"Kenapa mereka ke kamarku?" gumam Sandra memucat. Suara dengungan nyaringnya begitu menyeramkan seakan menggerogoti kotoran. aroma busuknya juga tercium sampai kesini membuat Sandra muntah sejadi-jadinya.


"P..pergi!" gumam Sandra tak tahan dengan bau ini. tapi, jika ia keluar maka ia akan di kerumuni dan itu lebih parah lagi.


"Hoeeekmm!"


Sandra muntah sampai tubuhnya lemas tak mampu bernafas dengan normal. aroma menyengat itu terus mengocok perutnya apalagi ia sedang hamil dan ia begitu sensitif soal itu.


Lama kelamaan Sandra tak bisa berdiri lagi. Ia pingsan di lantai kamar mandi kekurangan udara yang masuk ke tenggorokannya.


"T..tolong!"


......


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2