
Sedari tadi tatapan mata Erina benar-benar tak berpaling dari sosok kekar dan gagah yang tampak hanya fokus menatap kearah Sandra yang masih belum sadar jika sedari tadi netra elang itu terus memperhatikannya.
"A.. d..dia siapa?" lirih Erina memerah memeluk Nyonya Tantri yang diam sejenak melihat wajah Tuan Hatomo yang masih tak bergurat banyak.
"Ma! dia siapa?" lirih Erina semakin merasa gagal fokus tak bisa bersikap biasa.
"Erin!" panggil Tuan Hatomo datar.
"Iya. Pa!"
"Kembalilah ke kamarmu!" titah Tuan Hatomo tapi Erin diam. mencuri pandang pada Rusel yang segera melangkah mendekat membuatnya terasa gugup.
"Pesananmu!" Rusel mengangkat paper-bag ditangannya saat Sandra sudah berbalik melihatnya. Tatapan netra hitam legam itu terhenyak melihat Rusel sudah datang kesini.
"Kau?"
"Hm. makananmu!"
Rusel melewati Erina yang terdiam di kala langkah lebar Rusel tak menghampirinya sama sekali. pria itu seakan tak menganggap ia ada di pelupuk mata tajamnya.
"Apa pedas?" tanya Sandra berbinar.
"Tidak!"
Raut wajah Sandra berubah jengkel tapi wajah datar tampan itu hanya menatapnya tegas menundukkan ego Sandra yang mau tak mau menerimanya.
"Baiklah! kau beli berapa?"
"Hanya untukmu!"
Sandra manggut-manggut mengerti menatap Bibik Iyem yang segera mengambil mangkuk makanan dan kembali memberikan benda itu.
"Terimakasih, Bik!" mengambilnya.
"Sama-sama. Non!" jawab Bibik Iyem merasa enggan menatap Rusel yang seperi jelma'an pangeran saja. ia akui pria ini lebih terlihat sempurna dibanding Daniel mantan kekasih Nonanya.
"Kau mau?"
"Tidak!" tolak Rusel menarik Sandra ke meja makan di samping Erina yang memperhatikan interaksi mereka dengan tatapan kosong dan terkejut. begitu juga Nyonya Tantri yang keheranan.
"Kau makanlah. aku keluar sebentar!"
"Tapi, aku...."
"Dia siapa?" tanya Erina lagi menghentikan tangan Sandra yang ingin membuka Paper-bagnya.
"Memangnya kenapa?" tanya Sandra tak bersahabat. Erina mendekat berdiri di samping Rusel yang segera pindah ke belakang Sandra seraya beralih membukakan paper-bag itu.
"San! apa dia temanmu?"
"Menurutmu?" tanya Sandra menaikan alisnya sinis. Erina merasa kaku dan gugup sendiri melihat tampang serius dan tenang Rusel yang menuangkan bungkusan Ramen itu ke dalam mangkuk Sandra.
"Em.. aku yakin dia temanmu. mana mungkin kau berpaling dari Daniel. bukan?"
__ADS_1
"Erin!" lirih Nyonya Tantri menatap wajah Sandra yang bergurat semakin tak bisa di ajak bicara. Rusel hanya diam tak menyahut apapun dari perdebatan dua beradik ini.
"Daniel pasti juga akan kesini. San!"
"Bisa tidak kau jangan ikut campur urusanku?!" tanya Sandra mulai emosi ingin berdiri tapi Rusel menahan bahunya. Mata elang Rusel melihat jelas jika Nyonya Tantri tak suka dengan cara bicara Sandra.
"San! kenapa kau marah? biasanya kau selalu senang kalau menyangkut soal.."
"Erin!"
Tuan Hatomo menyela. pandangannya meneggaskan Erina agar diam jangan membahas itu di hadapan Sandra yang ingin sekali menyiramkan semangkuk ramen pamas ini ke wajah Erina.
"Pa! ada apa dengan kalian?" bingung Erina tak mengerti.
"Nak! sebaiknya kau istirahat, percuma kau bicara dengannya. bahasa apapun tak akan dia mengerti." tegas Nyonya Tantri mengiring Erina untuk kembali ke atas.
Erina sesekali melihat kebelakang merasa pria itu ada hubungan dengan Sandra.
"Ma! apa itu teman atau kekasihnya Sandra?"
"Erin! kau tahu Sandra itu bagaimana. bukan?" tanya Nyonya Tantri membuat Erina diam. memang benar jika Sandra itu banyak teman lelaki dan mungkin Rusel salah satunya.
"Tapi, dia tampan dan sangat berwibawah." gumam Erina malu memeluk lengan Nyonya Tantri yang hanya diam tak menjawab sama sekali.
Mereka pergi diringi tatapan marah Sandra yang langsung mengumpati Erina.
"Dia dokter tapi penyakitan!"
"Seharusnya Papa tak perlu memintaku pulang hanya untuk dia!"
"Kau bisa tidak tenang sedikit saja?!" jengah Tuan Hatomo tak bisa sabar menghadapi Sandra yang selalu saja tempramen.
"Memangnya kenapa? aku salah?"
"Sepertinya hukuman perasingan itu terlalu ringan untukmu." jawab Tuan Hatomo lalu melangkah pergi menuju tangga utama.
"Lalu kau mau menghukum apa?? gantung diri??" teriak Sandra menggebrak mejanya membuat Bibik Iyem diam merasa Nonanya kembali membuat Kediaman ini rusuh. para pelayan yang melihat-pun saling pandang tak suka.
"Apa?? kalian tak suka?" ketus Sandra pada mereka yang segera berlari pergi tak mau di marahi lagi.
Melihat itu semua Rusel menghela nafas. ia tak heran jika tapi rasanya di Kediaman ini hanya Sandra-lah yang jadi bualan berbagai mulut.
"Mereka pasti membicarakan-ku? selalu saja mengumpat dari belakang. kalau di hadapanku semuanya pada diam. dasar!!"
"Makan Ramenmu, nanti dingin."
"Kau juga!"
Rusel hanya diam saat ia lagi-lagi jadi pelampiasan Sandra yang tengah berapi-api.
"Apa?"
"Kenapa kau memandangnya?"
__ADS_1
"Makan dulu. nanti lanjutkan omelanmu." ucap Rusel mendekatkan mangkuk Ramen itu. karna aromanya yang menggiurkan mau tak mau Sandra memekamnya tapi masih mengumpat di sela mulut yang penuh.
"Awas saja. mereka tak akan tenang tinggal disini." gumam Sandra seraya terus makan.
Rusel hanya diam duduk di kursi sampingnya seraya mengamati setiap lekuk bangunan mewah ini. Keluarga Hatomo memang tergolong kelas atas terbukti dengan semua furniture dan gaua klasik Moderennya yang mahal.
"Kau jangan terlalu melihatnya!"
"Kenapa?" tanya Rusel melihat rambut Sandra yang terurai menghalangi wanita itu makan.
"Kau tak akan sanggup membelinya!" ledek Sandra meremehkan. Rusel hanya mengangguk beralih mencempol rambutnya keatas membuat Bibik Iyem di belakang sana memerah.
"Hm. aku mengerti!"
"Tapi kau tenang saja, kalau aku sudah punya uang. aku akan beli yang bagus untukmu!" ucap Sandra menepuk paha Rusel yang hanya mengangguk saja tak banyak bicara.
"Satu lagi!"
"Apa?" tanya Rusel menyelipkan beberapa anak rambut ke telinga Sandra yang mengacungkan sumpitnya dengan tajam ke wajah Rusel.
"Kau jangan macam-macam!" tekan Sandra melotot. Rusel mengambil nafas dalam langsung menjentik lembut bibir bawah Sandra yang mengumpat.
"Kau..."
"Diamlah!"
"Tapi awas! 24 jam!" Sandra menunjuk dua matanya kearah Rusel yang menyeringit merasa agak geli, tiba-tiba saja sikap wanita ini jadi posesif.
"Hm. makanlah!"
"Ingat!"
"Iya. aku paham!"
Sandra kembali makan tapi ia ingin mengatakan lagi sampai Rusel membiarkannya saja sampai Sandra jengkel dan tak bicara lagi.
Rusel melihat dari pantulan mangkuk Sandra ada Erina yang menatap mereka dari atas sana. wanita itu seperti kebingungan dengan interaksinya bersama Sandra.
"Kau punya berapa Saudari?" tanya Rusel membuat Sandra meilirik dengan tajam tapi Rusel serius.
"Kenapa?"
"Kalau banyak aku mau tinggal diluar!"
Sandra diam sejenak. Delina belum pulang dan disini hanya ada Erina, dari pandangan pertama wanita itu ia tahu Erina punya rasa pada Rusel.
"Kau tidur di kamarku!"
Deg...
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1