Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Menyembunyikan hasil Judi!


__ADS_3

Aneh rasanya ketika melihat wanita dengan tubuh semakin menggoda itu terus menelfon sedari tadi. Dia yang biasa tak perduli dengan apa yang terjadi di manapun itu sekarang ntah kenapa berubah menjadi sosok super sibuk.


"Aku minta kau palsukan semua identitas Mobilku. jangan sampai dia tahu kalau itu hasil Judi. kau mengerti?"


"Aku mau melihat anakmu!"


Sandra menggeram. bukan itu yang ia bahas sekarang, bahkan. ia tak mau jika pria ini datang ke Kediamannya.


"Kau bicara melantur lagi. awas kau!"


"Sandra! katakan saja pada suamimu, aku tak mau dia menghabisiku setelah ini."


Decak kesal seseorang di seberang sana membuat Sandra mengumpat. ini sudah pukul 7 malam dan Rusel masih sibuk di ruang kerja Papanya.


"Ayolah. jika suamiku tahu kau mau taruh dimana wajahku. ha? dia sangat benci dengan semua kekotoran itu."


"Baiklah! tapi.."


"Terimakasih!"


Sandra segera mematikan sambungan. ia menghela nafas lega berpeggangan ke pagar Balkon. ponsel itu ia simpan didalam saku Dress santainya.


Udara agak dingin di luar sini ia hirup perlahan menghantarkan rileks di seluruh tubuhnya. rasa cemasnya akan barang-barang perjudian itu akhirnya terbebas begitu saja.


"Fyuhh! Leganya!"


"Apa?"


Deg...


Sandra terperanjat akan suara bariton berat yang sangat hafal di telinganya. shitt, kenapa dia ada di belakangku?"


"Lega. kenapa?"


"A.. itu.. Sel!"


Sandra berbalik menatap wajah tampan dengan tatapan elang tajam itu menyelidik ke arahnya. Ntahlah, pria ini selalu bisa membuat seorang Sandra ketar-ketir.


"Apa?"


"A.. itu.. emm.."


Cepatlah. kenapa otakku geger begini? tapi. mau ku sembunyikan-pun dia pasti juga akan tahu.


Cemas Sandra takut jika Rusel tahu akan perjudian kelamnya maka pria ini akan memarahinya dan menjual semua barang-barangnya.


"Ada sesuatu?"


"Ha?" tanya Sandra pura-pura tak mendengar. Ia semakin merapat ke pagar balkon di kala tubuh tinggi kekar dan gagah milik Rusel mendekat.


Rusel mengamati raut wajah Sandra. Wanita ini menelan ludahnya berat dan terus gelisah. jelas Rusel tak bisa di bohongi dan sudah hafal dengan gestur ini.


"Ada yang salah?"


"A..apanya?"


Tanya Sandra kikuk saat Rusel mengungkung tubuhnya dengan kedua tangan yang berada di dua sisi tubuh Sandra. dada bidang ini merapat mendesaknya seakan tak bisa di elakan lagi.


"Menelfon siapa?"


"Shitt!"


Batin Sandra mengumpat. ia berusaha tetap tenang tapi tak bisa bergerak sama sekali. ia seakan di kurung dalam kekuasaan pria ini.


"Ini.. a.. Sel! aku ..aku lupa memberi Asi putra kita. aku pergi dulu. Sayang!"

__ADS_1


Sandra ingin melangkah pergi tapi dengan sigap bak kilat Rusel menarik pinggang ramping seksi sampai membentur tubuhnya.


"S..Sel!" gumam Sandra gugup melihat tatapan elang manik kehijauan itu mengintimidasinya.


"Katakan!" tekan Rusel tak bersahabat. Sandra akhirnya melemah memeluk tubuh kekar ini dengan sendu, wajahnya di sembunyikan ke ceruk leher sang suami.


"Sel!"


"Hm."


"Janji jangan marah!" lirih Sandra menyentuh jakun jantan itu dengan jari lentiknya. Rusel tak bicara tapi terbukti menyanggupi dengan anggukan datarnya.


"Sel! aku tadi ..."


"Sandra!!" suara keras di luar kamar sana membuat suasana buyar. sepertinya itu suara Nyonya Tantri yang tadi tengah membawa Baby Ruslan.


"Sel!" gumam Sandra menatap Rusel yang menghela nafas berat melepaskan belitannya ke pinggang Sandra.


Wanita itu segera melangkah kembali masuk ke dalam kamarnya seraya membuka pintu yang mengunci suara Nyonya Tantri.


"Cucu Oma haus. hm? aus cayang!"


"Ma!" Sandra menarik pandangan Nyonya Tantri yang tadi tengah gemas pada Baby Ruslan yang enggan membuka mata dan selalu melengoskan pandangan. mungkin saja si kecil garang ini kehausan, pikirnya.


"San! ini anakmu sepertinya haus, lihat wajahnya di tekuk seperti itu."


"Dia merajuk. Ma!" gumam Sandra geli seraya perlahan mengambil alih si kecil ini dari dekapan Mamanya.


Sandra tak begitu fasih menggendong bayi hingga ia harus selalu di pantau oleh Rusel maupun yang lainnya.


"Peggang bagian kepalanya. anak seumuran ini masih belum kuat kau pegang begitu." ketus Nyonya Tantri kesal melihat Sandra yang masih saja kaku.


"Maaf, Ma! aku masih agak takut."


"Tak apa. cepat berikan dia Asi. nanti kau turun ke bawah. kita makan!"


"Baby. haus? hm! haus, sayang!"


Baby Ruslan terlihat menatap Sandra dengan lembut. ia tak pernah sekalipun bermasam muka di hadapan Momynya.


"Maafkan. Momy! kau pasti jengkel-kan? ayolah. jangan di tahan." gemas Sandra mengecup kilas pipi gembul halus itu membuat senyuman penuh pesona Baby Ruslan tertarik.


"Ouhh. Tampannya!"


Gusi merah dan lidah kecil itu membuat Sandra ingin mengecupnya. sangat manis dan menggemaskan.


Sandra masuk kembali ke dalam kamar. Ia melihat Rusel yang baru keluar dari Balkon menatapnya dengan pandangan datar tapi penuh perhatian.


"Berikan ponselmu!"


"Ha?"


Rusel tak menjawab. ia mendekati Sandra yang tadi menyelipkan ponselnya ke saku Dress santainya.


"S..Sel!"


"Berikan baby Asi!"


Rusel merogoh ponsel itu di saku Dress Sandra yang menelan ludahnya kasar. ia di dudukan Rusel ke atas ranjang dengan ponsel sudah beralih tangan.


Tak mau membuat putranya menunggu. Sandra segera membuka kancing atasannya mengeluarkan satu bongkahan daging kenyal yang begitu berisi dengan puncak ranum mengarah ke bibir merah Baby Ruslan yang dengan haus menyesapnya. tentu itu sangat menggairahkan tapi Rusel hanya menghela nafas.


Pakaian ini di desain khusus untuk Sandra sebagai Ibu menyusui agar lebih mudah.


"Sel!"

__ADS_1


"Hm."


Sibuk mengecek panggilan Sandra. matanya terpaku akan satu nomor tak di kenal yang baru beberapa menit tadi terhubung.


"Nomor siapa?"


"Ha?"


Sandra menelan ludahnya berat saat tatapan Rusel menekannya. ia jadi gusar dan tak menentu.


"Nomor Daniel!" lirih Sandra menunduk langsung membuat Rusel mengepal panas. bisa-bisanya wanita ini menghubungi pria itu.


"S..Sel!"


"Kenapa?" tanya Rusel ingin mendengar alasan Sandra. suaranya terkesan sangat dingin dengan jari bergerak memblokir nomor pria ini.


"Aku.. aku hanya.."


Tiba-tiba Baby Ruslan menggeliat karna tak nyaman dengan posisi ini. Melihat cara Sandra menyusui masih kaku, Rusel segera turun tangan.


"Sel!"


"Peggang bagian ini." Rusel mengarahkan tangan Sandra memeggang bongkahan daging kenyal putih itu agar tak terlalu menekan hidung mungil putranya.


Walau ia sangat berhasrat karna sudah lama berpuasa tak ingin menyakiti perut Sandra yang masih dalam keadaan rentan, Rusel berusaha menahannya.


Drett...


Ponsel Sandra lagi-lagi berbunyi membuat Rusel terdiam melempar tatapan membunuhnya pada Sandra yang menggeleng ngeri.


"I..itu Anya!"


Rusel mengangkatnya dengan exspresi yang benar-benar menakutkan.


"Anya! kenapa kau menelfon?" tanya Sandra mengantisipasi.


"Sandra!! kenapa Kontak-mu tak bisa ku hubungi. ha???"


Glek..


Sandra menelan ludahnya kasar melihat raut wajah Rusel semakin membeku. Ia juga tak tahu menahu soal Daniel yang tiba-tiba menelfon dengan Nomer Anya.


"Sandra!! dia mencabuliku, hiks!"


"kau jangan asal bicara. ha? aku tak sengaja!!"


Rusel segera mematikan sambungan ini dikala mendengar pertengkaran di seberang sana. ia melempar ponsel itu ke atas ranjang dengan wajah masih datar.


"S..Sel!"


Rusel tak menjawab. ia memilih diam membuat Sandra cemas, takut jika pria ini marah padanya.


"Sel! aku..."


"Persiapkan dirimu untuk Acara besok." tegas Rusel beralih mengecup kening Baby Ruslan lalu berlalu pergi membuat Sandra tertegun.


"D..Dia marah." gumam Sandra menatap sendu pintu kamar. tatapan Baby Ruslan terlihat tajam melihat pandangan Nanar Momynya.


"Mereka..mereka itu memang tak bisa di percaya! Rusel bisa salah paham, padahal aku hanya ingin melarikan Mobil-mobilku."


"Mobil hasil judi-mu?"


Darrr..


Mata Sandra membulat sempurna mendengar suara tegas perempuan yang begitu sangat ia kenal.

__ADS_1


........


Vote and Like Sayang..


__ADS_2