
Hari ini Tuan Hatomo dan Nyonya Tantri sudah pulang ke Kediaman mereka. Laporan dari berbagai pihak terus menghantui perjalanan mereka sampai pada surat dari Kampus Sandra yang meminta pertanggung jawaban atas perlakuan buruk Sandra selama di Kampusnya.
Ini benar-benar menyulut amarah Nyonya Tantri yang benar-benar marah sampai tak melewatkan waktu pagi ini untuk menelan wanita itu.
"Kau pikir ini baik. ha? apa tak bisa kau bertindak sewajarnya tanpa menyusahkan. kami???"
Sandra hanya diam tetap memakan asupan paginya. ia seakan tak mendengar omelan Nyonya Tantri yang tengah mengamuk di meja makan.
Tuan Hatomo yang sudah selesai makan hanya diam membiarkan istrinya meluapkan rasa marah itu.
"Kau memang tak tahu diri."
"Makananmu selalu enak. Bik!" sambar Sandra malah bicara yang lain. ia begitu bersemangat menyantap bebek panggangnya di temani segelas susu kedelai yang menjadi syarat utama di tepi piringnya.
Bibik Iyem yang melihat wajah kelam Nyonya Tantri tak punya keberanian mengangkat wajahnya. Hanya Sandra yang bisa menentang wanita ini.
"SANDRA!!!"
"Apa?" tanya Sandra menaikan alisnya. Nyonya Tantri mengambil nafas dalam agar tak jantungan berhadapan dengan bocah ini.
"Kau sadar apa yang kau lakukan ini. ha?"
"Sadar! kau lihat sendiri aku masih bernafas dan melihat." jawab Sandra lalu menyudahi acara makannya. ia sudah tak punya mood pagi ini.
"Apa hukumanmu memang tak cukup sampai kau masih seperti ini. ha?"
"Ma! katakan saja kau mau aku bagaimana. hm?"
Nyonya Tantri diam dengan pandangan benar-benar menajam. ntah sampai kapan lagi Sandra akan seperti ini.
"Percuma! apapun yang terjadi tak akan membuatmu sadar."
"Kalian sudah tahu. tapi kenapa masih melakukannya?" tanya Sandra mengelap mulutnya dengan serbet lalu berdiri dengan wajah cantik yang di tekuk masam.
"Kau tak malu pada Kakakmu. ha?"
"Tidak! bahkan aku bangga." jawab Sandra tersenyum kecut lalu melangkah pergi ke arah tangga kamarnya. ia harus pergi ke Kampus jam 8 ini karna ada kelas pagi.
"San!"
Sandra membuang muka saat melihat Erina baru turun dengan pakaian rapi dan anggun seperti biasa. tatapan wanita ini selalu saja melembut padanya.
"San! aku juga ingin ke Rumah Sakit, pergi bersamaku saja."
"Kau yakin?!" tanya Sandra menyeringai membuat Erina tercekat ia baru ingat jika Sandra pasti akan mengulang kejadian waktu itu.
"A..aku.."
"Ayo! aku sangat bahagia menerimanya."
"Tapi, tapi kau jangan membawa mobil seperti dulu lagi. San!" tegur Erina tapi Sandra malah terkekeh kecil bertopang dada angkuh.
"Siapa kau mau mengaturku?" desis Sandra tapi ia tersentak saat bahunya di tarik ke belakang. dan nyatanya itu Nyonya Tantri yang tengah membuat jarak antara dirinya dan Erina.
"Jangan mendekati Erina!"
"Ma!" lirih Erina lemah tak enak pada Sandra yang hanya diam biasa saja. rasanya hati itu sudah kebal walau masih terasa nyeri.
"Erin! kau pergilah sendiri, dia hanya akan membuatmu dalam masalah."
"Ma! Sandra tak di izinkan membawa mobil. lalu dia pergi dengan siapa?!"
"Jangan pedulikan dia! dia saja tak pernah perduli padamu." ketus Nyonya Tantri tegas menatap muak Sandra yang hanya diam berusaha acuh.
"Ma! Sandra itu hanya.."
"Erin! kau harus menjaga kesehatanmu, karna nanti ada yang akan datang kesini."
Dahi mereka mengkerut bersamaan dengan Sandra yang terdiam. maksud Mamanya apa mengatakan ini?
"Maksudnya. Ma?"
"Nak! kau tenang saja, semuanya sudah di atur dengan baik."
__ADS_1
Erina diam tak bisa mengeluarkan suara. mulutnya terkunci seakan kaku untuk menyela.
"Pergilah! Mama yakin kau akan menyukainya."
"Baik. Ma!" jawab Erina tersenyum kaku lalu melangkah pergi. ia melirik Sandra dari ekor matanya tapi Sandra hanya diam merasa mulai tahu arahnya kemana.
"Dan kau!" tekan Nyonya Tantri menatap tegas Sandra.
"Jangan mengacaukan momen penting. Kakakmu!"
"Masa bodoh dengan itu." jawab Sandra lalu melangkah menaiki tangga. ia masih berfikir soal apa yang tengah di rencanakan Mamanya untuk Erina.
"Aku tak bisa diam saja." gumam Sandra menerawang serius. ia yakin Mamanya mulai akan mempertemukan Erina dengan banyak lelaki kelas atas lagi seperti dulu saat ingin memaksanya.
"Apa dia mau di jodohkan? tapi, apa Kak Delina tahu?"
"Tahu apa?"
Sandra langsung menatap Rusel yang baru saja keluar kamar karna tadi tengah mengerjakan urusannya. tentu Sandra tak mau menganggu hingga memilih turun ke bawah.
"Sel!"
"Ada apa?" berjalan mendekat menarik pinggang Sandra merapat kearahnya. Sandra agak segan bicara ini jadi ia mengalihkan ke arah lain.
"Apa tak masalah jika mereka tahu kau sudah menikah denganku?" tanya Sandra agak cemas.
Tak ada raut lain di visual datar Rusel yang selalu tampak tenang dalam segala hal. pembawaannya yang demikian menarik Sandra dalam kehangatan.
"Asalkan kau menerima."
"Sel! aku ingin mereka tahu kalau kau suamiku." jawab Sandra serius.
"Apa kau yakin mereka akan menerimaku?" tanya Rusel merapikan Dress Sandra yang begitu manis di pakai tubuh tinggi wanita ini.
"Sel! apa aku terlihat akan perduli?"
"Terserah! yang jelas aku tak mau banyak orang tahu soal ini."
Sandra diam menatap Rusel rumit. tapi, Rusel segera mengusap pipinya lembut dengan pandangan penuh kasih.
"K..kenapa?" tanya Sandra agak sesak.
"Aku ingin kau mendapatkan hakmu. dan sekarang belum saatnya, masih banyak yang harus kita urusi. bersama. hm?"
Sandra melihat kesungguhan di pandangan Rusel yang selalu membuatnya percaya dengan ucapan dan perbuatannya.
"Baiklah. aku menurut."
"Ini demi kebaikanmu dan anak kita! kita selesaikan satu-satu baru bisa melangkah lebih jauh."
"Iya. Sel! lagi pula aku masih Kuliah, ilmuku masih segini." Sandra menunjukan ujung jari kelingkingnya. Rusel mengangguk mengelus puncak kepalanya lembut.
"Ayo aku antar sekalian ke Kampusmu!"
"Tapi, tasku.."
"Sudah ku bawa!" menunjukan tangan sebelah kirinya.
Jawab Rusel menggenggam tangan Sandra mesra menuruni tangga. tentu Sandra yang sudah biasa itu semakin suka di manja begini sampai Bibik Iyem di bawah sana menggeleng melihatnya.
"Sel! nanti ada acara Kampus."
"Kapan?"
"Malam ini!"
Jawab Sandra mengingat-ingat. ia baru dapat Notif dari Groupnya kalau nanti malam adalah Ulang Tahun kampus. jadi semua Mahasiswa dan siswinya harus datang.
"Lalu?"
"Semuanya di wajibkan datang. tapi aku malas." gumam Sandra menyandarkan kepalanya ke bahu Rusel seraya terus berjalan.
Tentu acara itu sangat penting bagi kegiatan pendidikan Sandra yang tak boleh terhambat.
__ADS_1
"Kau lelah?"
"Tidak. Sel! tapi, nanti pasti akan membosankan." guman Sandra membayangkannya saja sudah membuatnya jengah. tapi, ia di tekan oleh undangan resmi dan disana nanti mereka akan di suruh menunjukan sampai mana prestasi yang telah di capai.
"Aku tak mau di uji di atas panggung panas itu lagi. aku tak mau di sorot terus."
Batin Sandra yang enggan. jujur saja ia tak punya siapapun teman disana.
"Sudahlah. nanti di pikirkan. lagi!"
"Emm... tapi.."
"Tapi?" tanya Rusel sudah mengiring Sandra turun ke halaman Kediaman yang luas.
Tentu sedari tadi Rusel tahu jika Nyonya Tantri tengah menatapnya dengan aneh dari belakang sana. Ia hanya sengaja memperlihatkan ini dengan jelas.
"Kalau si mata empat itu menemuiku lagi bagaimana? apa aku harus mengerjainya?!"
"Jangan coba-coba." tekan Rusel tak mau Sandra terluka. sudah cukup hari itu dan jangan sampai terulang.
"Tapi, Sel! aku harus mencari tahu."
"Ini bukan urusanmu. kau cukup hindari karna Guren juga akan selalu memantaumu." tegas Rusel serius membuat Sandra bungkam.
"Tapi.."
"Sandra!"
Suara Tuan Hatomo dari belakang sana membuat keduanya terdiam. Sandra berbalik menatap Papanya keheranan.
"Ada apa? Pa!"
"Aku ingin bicara dengannya!"
"Untuk apa?" tanya Sandra tapi Tuan Hatomo hanya diam. Rusel-pun mengerti lalu melepas genggamannya.
"Tunggu aku sebentar."
"Baiklah. tapi jangan lama."
Rusel mengangguk mendekati Tuan Hatomo yang melangkah masuk kembali ke dalam Kediaman. pria paruh baya ini pasti punya hal penting untuk di bicarakan.
Nyonya Tantri yang sedari tadi melihat Rusel segera menarik diri pergi karna suaminya meminta untuk tak menganggu.
"Apa ada masalah?" tanya Rusel berhenti di belakang Tuan Hatomo yang berdiri di Garden samping.
"Apa yang terjadi saat aku tak ada?"
Rusel diam. raut wajah Tuan Hatomo terlihat mengeras tapi ia tetap berdiri tegap tanpa ciut sama sekali.
"Sama seperti yang kau tahu!"
"Kau tahu apa yang akan terjadi?" Tuan Hatomo berbalik menatap kelam Rusel yang bungkam dengan ketenagan di dalam nyawanya.
"Tidak!"
Tegas Rusel seadanya. Tuan Hatomo benar-benar tak mengerti. selama ini ia mencoba menyelidiki Rusel tapi hasilnya selalu sama, pria ini hanya Ketua di Pegunungan Kulfun.
"Kau.."
"Tuan!!!"
Suara dari belakang sana masuk membuat percakapan mereka terjeda. Pengawal Aidit berlari mendekat tampak cemas.
"Tuan!"
"Ada apa?"
"Sekelompok orang misterius membakar rumah pembersih jalan di depan! dan.."
"Nona!!!"
Suara dari luar sana membuat Rusel langsung berlari menuju pintu utama. suara tembakan itu melengking menyerbu kaca Kediaman.
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..